NovelToon NovelToon
Mei Yang Terakhir

Mei Yang Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Gadis Amnesia
Popularitas:868
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Pada suatu malam di bulan Mei, hidup Andra hancur dalam satu detik, kecelakaan itu tidak merenggut nyawa istrinya.Tapi merenggut sesuatu yang jauh lebih kejam—seluruh ingatan Meisyah tentang dirinya.

Bagi Mei waktu berhenti di tahun 2020.
Sebelum Andra ada sebelum mereka jatuh cinta, sebelum mereka menikah diam-diam di apartemen kecil yang bahkan keluarganya tidak pernah mengakui.

Sekarang, Andra hanyalah pria asing yang mengaku sebagai suaminya.Dan di dunia yang tidak lagi mengingat mereka,ada satu orang yang justru terasa familiar bagi Meisyah—

Fero.

Pria yang dulu dipilih keluarganya, pria yang seharusnya menjadi masa depan Meisyah… sebelum Andra datang dan mengubah segalanya.

Dipaksa hidup bersama orang yang tidak ia kenal, Mei mencoba memahami dirinya sendiri melalui foto, diary, dan seorang suami yang mencintainya dengan kesabaran menyakitkan.

Apakah cinta yang pernah mereka bangun akan kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Diary Yang Terbuka

Malam di rumah sakit terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu putih menyala tanpa bayangan, dingin, tidak berubah — seperti waktu yang dipaksa berhenti di tempat yang salah.

Mei duduk di tepi ranjang, sendirian.

Hari ini terlalu banyak terlalu cepat. Kata "suami" itu masih menggantung di udara, berat, tak terlihat, tak terjangkau. Dan dia — belum siap mempercayai apapun yang tidak bisa ia rasakan dengan kulitnya sendiri.

Pintu terbuka pelan. Ibunya masuk, tidak banyak bicara meletakkan sesuatu di meja kecil di samping tempat tidur sebuah buku diary.

"Ini… milik Mei," katanya pelan.

"Milik aku, Ma?"

"Mama menemukan di apartemen saat membersihkannya ruangan mu."

Apartemen. Kata itu masih asing, hidup yang bukan miliknya, ruangan yang pernah ia huni tapi tidak pernah ia hidupi. Mama tidak menunggu lama keluar, " Istirahat dulu sayang, mama mau membeli sesuatu di market."

Ia mengangguk kecil.

Pintu tertutup sunyi kembali menyergap menunggu sesuatu untuk dibuka.

Mei tidak langsung menyentuhnya. Ada rasa ragu, mengubah sesuatu yang belum sempat ia pahami seperti membuka kotak yang mungkin berisi hantu — atau harta yang tidak bisa ia pegang.

Perlahan, ia meraih membuka.

Halaman pertama tulisan tangan, miring tidak rapi seperti ditulis terburu-buru, atau ditulis dalam keadaan yang tidak bisa ditunda.

"Kalau suatu hari aku lupa… tolong ingatkan aku, bahwa aku masih mencintainya."

Gadis itu membeku. Jantungnya berdetak lebih cepat — bukan karena takut, tapi karena dikenali. Kalimat itu bukan ditulis untuknya tapi olehnya sendiri. Dan entah kenapa, terasa seperti pesan dari orang asing tiba-tiba mengenalinya lebih baik dari pada dirinya sendiri.

"…aku nulis ini?" bisiknya.

Tidak ada yang menjawab hanya suara AC berdengung, dan bayangan diary di tangannya terasa semakin berat.

Ia membalik halaman.

Entry 1

Hari ini aku ke panti lagi. Kapten rebutan sama Anya cuma buat duduk di sampingnya. Aneh ya… dia orang baru, bukan siapa-siapa buat mereka. Tapi mereka selalu menunggu, bermain bola, kejar kejaran .

Mei tercenung sesaat, Kapten, Anya. Nama itu — terasa hangat, sisa api di tungku yang sudah lama padam, bukan hanya ingatan, tapi jejak yang tergambar, tapi warnanya kabur tidak jelas, tidak bisa dipegang, tapi nyata di suatu tempat tidak bisa di jangkau.

Ia lanjut membaca.

Entry 2

Dia gak banyak bicara. Tapi kalau aku cerita… dia gak pernah motong mendengar kan dengan baik, sampai tengah malam bercerita Pak De bakso didepan panti, musik jazz dan kelakuan lucu anak anak panti. Dan entah kenapa… itu sangat membahagiakan.

Mei mengerutkan keningnya, perasaan aneh itu muncul kembali — sama seperti kemarin, saat melihatnya di sudut ruangan, jantungnya berdetak lebih cepat tanpa izin. Ia menekan dadanya pelan, mencari sumbernya, mencari penjelasan

"…apa sih ini…"

Hanya denyut nadi yang sama, ,seolah berkata tanpa memberitahu apa."

Halaman berikutnya.

Entry 3

Hari ini hujan. Kami terjebak makan bakso di warung Pakde. Dia bercerita banyak membuat ku tertawa… tidak punya beban.

Hujan.

Satu detik — kilatan kecil sensasi. Dingin di pundak. Bau tanah basah. Suara tetesan di seng. Tawa — bukan tawa yang ia kenal sekarang, tapi tawa yang lebih muda, lebih bebas, lebih hidup.

Hangat.

Lalu hilang seperti mimpi yang terbangun sebelum sempat diingat, nama di ujung lidah yang tidak mau keluar.

Mei langsung menutup matanya. Kepalanya berdenyut, protes. Tubuhnya menolak sesuatu yang pikirannya belum siap untuk menerima.

"Kenapa…?"

Ia menarik napas pelan melanjutkan membaca — bukan karena ingin tahu, tapi karena tidak bisa berhenti

Entry 4

Dia nekat kerumah, Mama gak suka, Papa ragu. Fero bilang dia bisa kasih aku segalanya, harta dan kedudukan. Tapi aku… malah memilihnya dengan tekad dan cinta yang tulus.

Saskia menelan ludah. Nama itu lagi. Fero. Yang tadi pagi datang dengan jas abu-abu dan senyum terukur. Mamanya mengangguk setuju.Dunia mengatakan pilihan yang benar.

Ia menatap cincin di jarinya. "…jadi ini… benar dari dia?"

 

Ia membuka halaman berikutnya. Tangannya mulai gemetar — tidak banyak, hanya sedikit, cukup untuk membuat huruf-huruf di mata bergoyang.

Entry 5

Dia gak pernah bilang akan selalu ada. Tapi dia selalu datang memberiku penguatan. Dan aku mulai sadar… bahwa aku gak butuh orang yang sempurna. Aku cuma butuh orang yang tidak pergi disaat luka, membimbing, melindungi walau hanya di sebuah apartemen sempit, dapur kecil, ruang tamu hanya untuk dua orang."

Mei menutup buku itu cepat, tangannya seperti terbakar, terkena aliran listrik, panas untuk dipegang tapi terlalu berharga untuk dilepaskan.

Sunyi. Napasnya tidak stabil. Dadanya sesak penuh oleh kenangan dan cerita yang mengisi ruang di antara tulang-tulangnya.

"…kalau ini aku…"

Ia menatap tangannya. Cincin itu. Diary itu. Bukti-bukti yang berteriak "Kamu pernah mencintai!" sementara hatinya berbisik "Aku tidak merasa apa-apa."

"…kenapa aku gak merasa apa-apa?"

Pertanyaan itu jatuh. Tidak ada jawaban. Tidak ada yang bisa menjawab. Tidak ada yang berani menjawab. Karena jawabannya mungkin terlalu sederhana: butuh waktu, dan waktu adalah sesuatu yang tidak bisa dipaksa.

----

Dari luar, terdengar suara samar anak anak kecil tertawa ringan tanpa beban seperti dunia yang menertawai dirinya sendiri

Ia melangkah ke arah jendela kamar sedikit terbuka. Dari celah itu — suara itu masuk. Untuk sesaat — dadanya terasa hangat tanpa alasan. Seolah ada bagian dari dirinya yang masih bisa merasa normal., hidup, meski bagian lain sudah mati rasa.

Di halaman rumah sakit — beberapa anak kecil bermain dunia sederhana, tidak punya cincin yang tidak bisa dijelaskan, tidak punya diary yang menulis sendiri, dan tidak punya suami seperti orang lain.

Namun matanya tercekat di kejauhan — seorang pria berdiri disana, ia tidak tahu persis karena hanya bayangan gelap dari malam, lebih diam dan sunyi, dari seharusnya.

Tapi — ia tahu entah bagaimana, entah dari mana, tubuhnya tahu sebelum pikirannya sempat bertanya. Tangannya tanpa sadar menggenggam diary itu lebih erat.

 Ia mulai takut dengan dirinya sendiri, mungkin dia pernah sangat mencintai seseorang yang kini terasa asing. Dan yang lebih menakutkan — dia menunggu, sementara di sini, bukti cintanya tidak bisa ia rasakan apapun.

Meisyah menutup jendela perlahan. Tapi tidak menutup mata. Tidak bisa. Karena di luar sana, di kejauhan, ada seseorang yang mungkin sedang menunggu kehancurannya. Atau mungkin — sedang menunggu kebangkitannya.

Dan entah yang mana, keduanya sama-sama menakutkan.

 

1
Wawan
Hadir
Ddie: terimakasih banyak ya mas
total 1 replies
Ddie
Mengapa kamu tidak mengingatku, Mei ? Aku adalah suamimu..bukan orang lain mencintai karena harta benda
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!