SMA Pertiwi dan STM Rajawali bagaikan langit dan bumi yang dipaksa berdampingan. Hanya terpisah oleh satu tembok tinggi, Pertiwi adalah istana bagi putri-putri konglomerat yang dipimpin oleh Roseanna Vallerian, sang Ratu Es yang perfeksionis. Sementara di sebelahnya, Rajawali adalah medan perang bagi Fattah Maverick, legenda jalanan yang memimpin pasukannya dengan kepalan tangan dan loyalitas tanpa batas.
Selama tiga tahun, "Perjanjian Batas" menjaga gencatan senjata di antara mereka: Jangan sentuh wilayah kami, dan kami tidak akan menyentuh kalian.
Namun, kedamaian itu hancur dalam semalam. Serangkaian teror misterius menghantam kedua sekolah. Mobil-mobil mewah siswi Pertiwi dirusak dengan lambang Rajawali, dan markas Rajawali dibakar oleh sosok berseragam Pertiwi. Fitnah menyebar lebih cepat dari api. Tawuran pecah di perbatasan, dan kedua sekolah terancam ditutup permanen oleh Dinas Pendidikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeraphinSky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: RAMBUT BARU, TUKSEDO, DAN TEORI PROBABILITAS CINTA
Sabtu Malam, Pukul 19.00 WIB
Grand Ballroom Hotel Mulia Senayan (Prom Night SMA Pertiwi)
Malam ini, SMA Pertiwi bukan lagi sekolah, tapi kerajaan kecil.
Lampu kristal raksasa menggantung di langit-langit. Karpet merah digelar dari lobi sampai panggung. Siswa-siswi datang dengan gaun malam seharga motor dan jas branded seharga ginjal.
Di puncak tangga lobi, Roseanna Vallerian berdiri menunggu.
Dia memakai gaun velvet merah marun (Maroon) dengan belahan kaki tinggi. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan sirkam berlian. Aura Ratu-nya membuat adik kelas otomatis menunduk hormat.
"Rose," bisik Raisa (memakai jumpsuit putih maskulin yang elegan). "Pasangan kita mana? Satpam udah mau nutup gerbang lho."
"Sabar," jawab Roseanna tenang, meski tangannya meremas clutch tasnya. "Mereka lagi proses styling terakhir sama tim Aqeela."
Tiba-tiba, suara yang sangat kontras memecah keheningan lobi hotel bintang lima itu.
BREEEMMM! TENG-TENG-TENG!
Suara knalpot RX King yang nyaring dan "khas jalanan" menggema, membuat tamu-tamu VIP hotel menoleh kaget. Lima motor berjejer parkir di samping Lamborghini.
Para pengendara turun. Mereka melepas helm.
Dan saat itulah, keajaiban Shampoo Sultan Aqeela terbukti nyata.
Fattah Maverick turun. Rambut cepaknya sudah tumbuh agak panjang dan disisir rapi ke belakang (slick back) pakai pomade mahal. Dia memakai tuksedo hitam slim fit dengan dasi kupu-kupu yang sengaja dia lepas ikatannya. Gantengnya ugal-ugalan.
Harry turun. Rambut "botak toge"-nya sudah berubah jadi Undercut Curly yang stylish. Dia pakai jas biru elektrik yang nyentrik.
Mohan turun. Rambutnya cepak rapi. Dia memakai jas ukuran custom XXXL yang membuatnya terlihat seperti Bodyguard Mafia Rusia.
Oliver turun. Rambutnya klimis belah pinggir. Dia memakai kacamata baru dengan frame emas dan jas abu-abu cerdas.
Dan... Ilham.
Ilham membuka helmnya. Kepala botak licin legendaris itu... SUDAH HILANG.
Kini, tumbuh rambut tipis tapi merata (Buzz Cut gaya militer) di kepalanya. Dia mengusap rambut barunya dengan bangga, lalu merapikan jas hitamnya.
"Gila..." bisik siswi Pertiwi yang lewat. "Itu Ilham anak STM sebelah? Kok jadi mirip Zayn Malik versi lokal?"
Fattah memimpin pasukannya masuk. Langkah mereka tegap, sepatu pantofel beradu dengan lantai marmer.
Fattah berhenti di depan tangga, mendongak menatap Roseanna.
"Maaf telat, Tuan Putri," kata Fattah, menyisir rambut barunya dengan jari. "Nungguin rambut Ilham kering lama banget. Dia norak, baru punya rambut lagi soalnya."
Roseanna menahan tawa, lalu menuruni tangga dengan anggun.
"Dimaafkan," Roseanna menerima uluran tangan Fattah. "Rambut lo... lumayan. Nggak malu-maluin buat gue gandeng."
Fattah menyeringai. "Lo juga. Cantik. Tapi kayaknya gaun lo keberatan, butuh gue pegangin?"
"Modus," Roseanna mencubit lengan Fattah, tapi dia menggandengnya erat.
DI DALAM BALLROOM - COUPLE MOMENTS
Pesta dimulai. Musik Jazz mengalun.
Oliver & Naura (The Brains)
Pasangan paling underrated ini duduk di meja pojok yang sepi, jauh dari ribut-ribut dance floor. Mereka tidak berdansa, mereka... menganalisis.
Oliver membuka laptop kecilnya (dia bawa laptop ke Prom, dasar nerd).
Naura memegang tabletnya.
"Berdasarkan perhitungan gue," kata Oliver serius, membetulkan letak kacamatanya. "Probabilitas Harry kesandung karpet merah itu 85% karena sepatu dia kegedean satu nomor."
Naura mengangguk setuju, mengetuk layar tabletnya. "Dan probabilitas Aqeela ngejatuhin kue ke gaunnya itu 90%. Gue udah siapin stain remover di tas."
Oliver menatap Naura. Malam ini Naura cantik banget pake dress biru tua dan kacamata frameless.
"Nau," panggil Oliver kaku.
"Ya, Ver?"
"Menurut teori sosiologi, interaksi kita selama ini masuk kategori platonic symbiosis," kata Oliver gugup. "Tapi... gue mau ngajuin hipotesis baru."
"Hipotesis apa?"
Oliver menelan ludah. "Bahwa... gue suka sama lo. Secara romantis. Bukan secara akademis."
Naura terdiam. Dia meletakkan tabletnya. Pipinya memerah.
"Hipotesis diterima," jawab Naura sambil senyum malu-malu. "Perlu pembuktian empiris nggak? Kayak... dansa?"
Oliver menutup laptopnya. "Ayo. Gue udah pelajari tutorial Waltz semalem. Efisiensi gerakan 98%."
Mereka berdua berjalan kaku ke lantai dansa. Pasangan paling awkward tapi paling smart.
Harry & Aqeela (The Creators)
Aqeela (pake gaun pink penuh kristal Swarovski) sedang membelai-belai rambut baru Harry.
"Ya ampun Harry! Masterpiece aku!" pekik Aqeela bangga. "Rambut kamu lembut banget! Ini berkat Shampoo Caviar seharga 5 juta itu!"
Harry nyengir sambil ngaca di sendok perak. "Iya Neng. Kepala Harry jadi anget sekarang, nggak masuk angin lagi. Keren kan? Udah kayak Justin Bieber belum?"
"Udah! Kamu Justin Bieber versi Kearifan Lokal!" Aqeela menepuk tangan. "Ayo kita makan Chocolate Fountain! Aku mau liat rambut kamu kena angin AC!"
Mohan & Raisa (The Strongest Couple)
Mohan berdiri kaku di dekat pilar. Dia takut gerak.
"Mohan, napas dong," kata Raisa (yang malam ini kelihatan sangat karismatik).
"Takut, Sa," bisik Mohan. "Jas ini sempit di ketek. Kalau Mohan angkat tangan dikit, KREK, sobek pasti. Nanti disuruh ganti rugi."
Raisa tertawa, lalu menggandeng lengan raksasa Mohan.
"Nggak apa-apa sobek, nanti gue jahit. Atau gue beli pabrik jasnya," canda Raisa. "Yuk, temenin gue dansa. Lo diem aja jadi tiang, gue yang muter-muter."
Mohan tersenyum malu. "Oke. Mohan jadi tiang yang kuat buat Raisa."
Ilham & Lia (The Transformation)
Lia duduk di kursi VIP, memakai gaun hitam backless yang elegan. Dia menatap gelas mocktail-nya dengan bosan.
Tiba-tiba, ada bayangan menutupi cahayanya.
Ilham berdiri di depannya. Dengan rambut cepak barunya (Buzz Cut), Ilham terlihat lebih tajam, lebih dewasa, dan... lebih berbahaya.
"Ngapain liat-liat?" tanya Lia ketus. "Kangen sama kepala botak lo?"
Ilham menyentuh rambut barunya sambil nyengir.
"Sori ya, panggilan 'Botak' udah nggak valid," kata Ilham percaya diri. "Sekarang panggil gue: Mas Ilham yang Ganteng."
Lia mendengus, berusaha menahan senyum. Dia harus mengakui, Ilham dengan rambut itu... upgrade-nya parah banget.
"Rambut doang baru, otak tetep 2G," cibir Lia.
"Biarin 2G, yang penting sinyalnya kuat ke hati lo," Ilham mengulurkan tangan. "Ayo dansa. Gue mau pamer rambut baru ke satu sekolah."
Lia menatap tangan itu. Biasanya dia nolak. Tapi malam ini... Ilham kelihatan beda.
Lia berdiri, menerima tangan Ilham.
"Awas lo nginjek gaun gue. Gue botakin lagi lo pas tidur," ancam Lia.
"Sadis amat, Nyonya," Ilham membimbing Lia ke lantai dansa.
Saat mereka berdansa, Ilham berbisik.
"Li, gue udah daftar les Bahasa Inggris."
Lia mendongak kaget. "Buat apa?"
"Buat persiapan," Ilham menatap mata Lia serius. "Kan gue mau bikin pesawat ke London. Masa Insinyur nggak bisa bahasa Inggris?"
Pipi Lia memerah. Dia menyembunyikan wajahnya di bahu jas Ilham.
"Good. Jangan bikin malu gue nanti di sana," gumam Lia pelan.
MOMEN PUNCAK: ROSEANNA & FATTAH
Lantai dansa menepi. Sorotan lampu fokus ke tengah.
Roseanna dan Fattah berdansa Slow Waltz.
Fattah memegang pinggang ramping Roseanna dengan hormat tapi posesif. Roseanna meletakkan tangannya di bahu tegap Fattah.
"Rambut lo..." Roseanna menyentuh sedikit rambut Fattah di bagian belakang leher. "Aqeela beneran ajaib ya."
"Gue lebih suka cepak sebenernya, lebih adem," kata Fattah. "Tapi Aqeela ngancem bakal bakar bengkel gue kalau gue cukur lagi sebelum Prom."
Roseanna tertawa renyah. Tawa yang jarang dia keluarkan di depan umum.
"Fattah," panggil Roseanna pelan.
"Hm?"
"Semua orang liatin kita," bisik Roseanna. "Anak Pertiwi, anak Rajawali yang nyusup lewat jendela, guru-guru..."
"Biarin," jawab Fattah santai. "Biar mereka tau. Ratu Pertiwi udah ada yang punya. Dan yang punya itu anak bengkel yang baunya oli campur parfum mahal."
Roseanna tersenyum haru. "Lo bukan anak bengkel biasa, Fattah. Lo Raja gue."
Musik mencapai klimaks. Fattah memutar tubuh Roseanna, lalu menangkapnya kembali dalam pelukan yang erat.
"Abis ini kita cabut yuk?" ajak Fattah.
"Kemana? Acaranya belum selesai."
"Ke tempat di mana kita nggak perlu pake topeng," kata Fattah. "Gue laper. Makanan di sini porsinya seuprit. Gue pengen Sate Taichan Senayan."
Mata Roseanna berbinar. "Sate Taichan? Yang pedes banget itu?"
"Iya. Berani nggak?"
Roseanna menantang balik. "Siapa takut. Ayo."
THE ESCAPE
Saat MC mengumumkan pemenang Prom King & Queen (Yang jelas mereka menang), Roseanna dan Fattah sudah tidak ada di tempat.
Mereka berlari kecil keluar lobi hotel, bergandengan tangan, tertawa lepas.
Di parkiran VIP, di antara mobil-mobil mewah, motor RX King Fattah menunggu dengan gagah.
Fattah naik, menyalakan mesin. BREEEMMM!
Roseanna mengangkat gaun mahalnya tinggi-tinggi (nggak peduli lagi soal anggun-anggunan), lalu naik ke boncengan. Dia memeluk pinggang Fattah erat.
"Pegangan, Tuan Putri! Kita terbang!"
Motor itu melesat keluar hotel, meninggalkan kemewahan di belakang.
Di belakang mereka, motor-motor lain menyusul.
Ilham (dengan rambut barunya) membonceng Lia (yang ngomel-ngomel takut rambutnya kusut).
Raisa membonceng Mohan (karena Mohan nggak bisa nyetir pake jas sempit).
Oliver membonceng Naura (sambil ngomongin aerodinamika motor).
Harry dan Aqeela... naik Porsche Aqeela, tapi buka atap (convertible) sambil teriak-teriak.
Malam itu, Jakarta menjadi saksi.
Bahwa cinta, persahabatan, dan masa depan tidak mengenal batas sekolah atau status sosial.
Savage Royalty telah lulus. Dan dunia nyata sudah menunggu mereka.