"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 15. Habibah Sakit
Ledakan emosi yang terlalu hebat malam itu akhirnya menuntut bayaran dari tubuh paruh baya Habibah. Gabungan antara kurang tidur, debaran jantung yang terlalu intens, serta rasa bersalah yang berkecamuk membuat daya tahan tubuhnya ambruk.
Pagi harinya, Habibah tidak kuat bangkit dari ranjang. Tubuhnya demam tinggi, dan kepalanya terasa sangat pening hingga pandangannya berputar.
Kondisi ini tentu saja langsung membuat rumah kontrakan geger, terutama Rayhan.
"Ibu, badannya panas sekali ini. Pokoknya hari ini Rayhan tidak usah masuk kantor, Rayhan mau izin saja untuk jaga Ibu dan antar ke dokter," ujar Rayhan panik sambil menempelkan telapak tangannya ke dahi Habibah yang terasa membakar. Ia sudah siap meraba saku celananya untuk mengambil ponsel dan menghubungi atasannya.
Mendengar itu, Habibah yang wajahnya tampak sangat pucat langsung membuka matanya dengan susah payah. Dengan sisa tenaga yang dimiliki, jemarinya yang lemas bergerak menahan pergelangan tangan anak laki-lakinya.
"Jangan, Ray... Jangan izin," bisik Habibah, suaranya terdengar sangat lirih dan serak.
"Tapi Ibu sakit parah begini, mana bisa Rayhan tinggal ke kantor?" protes Rayhan, gurat kecemasan tercetak jelas di wajahnya.
Habibah menggelengkan kepalanya perlahan di atas bantal. "Dua bulan lagi kamu dan Ameera mau menikah, Ray. Kamu sudah pasti akan mengambil cuti panjang beberapa minggu untuk urusan pernikahan dan setelahnya. Kalau sekarang kamu sering izin lagi, bagaimana penilaian performa kerjamu di kantor? Jangan sampai posisi atau karirmu terganggu hanya karena Ibu cuma masuk angin biasa."
"Tapi, Bu..."
"Turuti kata Ibu, Ray," potong Habibah, tatapannya menyiratkan permohonan seorang ibu yang tidak ingin menjadi beban bagi masa depan anaknya. "Ibu cuma butuh minum obat penurun panas dan istirahat tidur seharian. Kamu harus tetap berangkat kerja. Begitu juga dengan Ameera."
Melihat ibunya begitu keras kepala, Rayhan akhirnya keluar dari kamar dengan wajah lesu. Di ruang tengah, ia langsung dihampiri oleh Ameera dan Imam yang sejak tadi menunggu dengan cemas.
"Gimana keadaan Tante Bibah, Yang?" tanya Ameera langsung memegang lengan Rayhan.
"Demamnya tinggi, Meer. Tapi Ibu melarang keras aku izin kantor. Katanya sayang jatah cuti nikah kita dua bulan lagi," keluh Rayhan sambil mengusap wajahnya yang frustrasi. "Aku jadi bingung."
Imam, yang sejak tadi berdiri diam mematung dengan kemeja kerjanya yang sudah rapi, merasakan dadanya seperti diremas kuat. Ia tahu betul... ia adalah penyebab utama dibalik tumbangnya fisik Habibah. Pembicaraan mereka semalam telah menghantam batin wanita itu terlalu keras. Ada rasa bersalah yang teramat sangat berkecamuk di dalam hati Imam.
Imam berdehem, mencoba menetralkan suaranya agar terdengar seperti seorang calon besan yang bijaksana dan solutif.
"Rayhan, Ameera... dengarkan kata Ibu," buka Imam, suaranya terdengar berwibawa namun tetap tenang. "Apa yang dikatakan Jeng Habibah itu benar. Karier dan jatah cutimu menjelang pernikahan dua bulan lagi harus dijaga baik-baik. Jangan sampai tidak stabil sekarang."
Rayhan menatap Imam dengan bingung. "Tapi kalau Rayhan dan Ameera kerja, Ibu sendirian di rumah ini, Om? Siapa yang menjaga dan menyuapi obat?"
Imam menarik napas dalam-dalam, memantapkan hatinya. Ini adalah kesempatan yang ia cari, sekaligus ujian terbesar bagi kewarasannya.
"Kebetulan, jadwal Papa hari ini hanya memantau progres proyek lewat sistem online dari rumah. Papa bisa mengerjakannya di ruang tengah," ujar Imam, melirik ke arah Ameera lalu kembali menatap Rayhan. "Biar Papa yang tinggal di rumah untuk menjaga Jeng Habibah. Papa yang akan pastikan dia minum obat dan makan bubur siang nanti. Kalian berdua... berangkatlah kerja dengan tenang."
Deg.
Rayhan dan Ameera saling berpandangan. Bagi mereka, tawaran Imam terdengar sangat mulia dan menunjukkan betapa hangatnya hubungan calon keluarga baru ini.
"Wah, apa Papa tidak merepotkan? Papa beneran bisa santai kerja dari rumah hari ini?" tanya Ameera memastikan.
"Bisa, Meer. Urusan kantor Papa sudah aman," bohong Imam demi menenangkan anak-anaknya. Padahal, ia rela menunda beberapa agenda penting demi bisa berada di dekat Habibah yang sedang tak berdaya.
"Kalau begitu... Rayhan titip Ibu ya, Om. Terima kasih banyak," ujar Rayhan tulus, merasa sangat lega karena ibunya ditinggal bersama orang yang dewasa dan bisa diandalkan.
Setelah berpamitan dan memberikan instruksi letak obat-obatan, Rayhan dan Ameera pun bergegas berangkat kerja, meninggalkan rumah kontrakan dua lantai itu kembali ke dalam keheningan.
Kini, hanya ada Imam di ruang tengah, dan Habibah yang terbaring lemas di dalam kamar sebelah kanan. Sandiwara di depan anak-anak telah selesai untuk hari ini, dan Imam perlahan melangkah menuju pintu kamar Habibah dengan jantung yang mulai berdegup kencang karena cemas sekaligus rindu.
*
*
Setelah deru mobil Rayhan perlahan menghilang di ujung jalan komplek, suasana rumah kontrakan itu seketika berubah menjadi sunyi senyap. Hanya ada suara detak jarum jam dinding dan helaan napas Imam yang terasa berat di ruang tengah.
Imam melepaskan kancing lengan kemeja kerjanya, menggulungnya hingga ke siku, lalu meletakkan ponselnya di atas meja sofa. Ia melangkah menuju dapur untuk menyiapkan air hangat dan mengompres Habibah, sebuah tindakan spontan yang murni lahir dari rasa cemas yang mendalam.
Tok... tok... tok...
Imam mengetuk pintu kamar sebelah kanan dengan sangat pelan, seolah takut ketukannya akan memperparah sakit kepala wanita di dalam sana.
"Bah... ini aku," bisik Imam parau.
Tidak ada jawaban, hanya terdengar suara lenguhan lirih yang sarat akan rasa sakit. Tanpa pikir panjang lagi, Imam memutar handle pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar Habibah untuk pertama kalinya.
Kamar itu tampak rapi, namun suasananya terasa pengap oleh hawa panas tubuh Habibah. Di atas ranjang, Habibah berbaring miring, meringkuk di balik selimut tebalnya. Wajahnya yang biasa tampak tegar kini terlihat begitu rapuh. Pipinya merona merah karena demam tinggi, sementara bibirnya kering dan pucat.
Imam mendekat, duduk di tepi ranjang dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak mengejutkannya. Ia meletakkan baskom kecil berisi air hangat di atas meja nakas.
Secara refleks, Imam mengulurkan tangannya, menempelkan punggung tangannya ke dahi Habibah. Deg. Kulit Habibah terasa begitu panas, membakar jemari Imam.
Sentuhan itu membuat Habibah membuka matanya yang sayu dengan susah payah. Begitu menyadari bahwa pria yang duduk di tepi ranjangnya adalah Imam, bukan Rayhan, mata Habibah langsung melebar panik. Ia mencoba menggeser tubuhnya mundur, namun kepalanya yang mendadak berputar hebat membuatnya mengerang lemas.
"M-Mas Imam... kenapa di sini? Rayhan mana?" bisik Habibah terbata-bata, suaranya nyaris habis.
"Rayhan dan Ameera sudah berangkat kerja, Bah. Aku yang menyuruh mereka pergi," ujar Imam lembut, suaranya menenangkan. Ia mengambil selembar kain handuk kecil, mencelupkannya ke air hangat, lalu memerasnya dengan cekatan. "Jangan banyak bergerak dulu. Badanmu panas sekali."
"Tapi, Mas... tidak pantas kita begini, nanti kalau…."
"Tidak ada siapa-siapa di rumah ini, Bah. Hanya ada aku yang sedang merawat wanita yang sedang sakit," potong Imam dengan nada tegas namun sarat akan kelembutan.
Imam memajukan tubuhnya sedikit, lalu dengan sangat perlahan dan hati-hati, ia meletakkan kompresan hangat itu di atas dahi Habibah. Sentuhan kain hangat dan tatapan mata Imam yang begitu dalam seketika mengunci seluruh penolakan Habibah. Wanita itu mendadak kehilangan semua tenaganya, membiarkan dirinya dirawat oleh cinta pertamanya.
*
*
Pukul dua belas siang, Imam kembali masuk ke kamar membawa semangkuk bubur ayam instan hangat yang sengaja ia buat di dapur, lengkap dengan segelas air putih dan sebutir obat penurun panas.
"Ayo bangun sebentar, Bah. Perutmu harus diisi makanan sebelum minum obat," ajak Imam, membantu menyandarkan bantal di kepala ranjang agar Habibah bisa duduk agak tegak.
Habibah menurut karena tubuhnya memang sudah terlalu lemas untuk berdebat. Saat ia hendak meraih mangkuk bubur dari tangan Imam, Imam justru menarik mangkuk itu menjauh.
"Biar aku suapi. Tanganmu bergetar begitu, nanti makanannya tumpah," ujar Imam. Ia meniup sesendok bubur hangat dengan sabar, lalu mengarahkannya ke bibir Habibah.
Air mata Habibah mendadak merebak di sudut kelopak matanya melihat perhatian yang begitu tulus ini. Dengan hati yang bergemuruh hebat, ia membuka mulutnya, menerima suapan demi suapan dari Imam. Rasa hangat bubur itu mengalir ke perutnya, namun rasa hangat di hatinya jauh lebih membakar.
"Kenapa menangis? Masih sangat pusing?" tanya Imam cemas, jemarinya secara refleks terulur mengusap setitik air mata yang lolos ke pipi Habibah.
Habibah menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku sakit bukan karena pusing, Mas..." lirih Habibah, menatap mata Imam dengan tatapan yang sarat akan luka. "Aku sakit karena dihantam rasa bersalah. Semalaman aku memikirkan ucapanmu di ruang tengah. Aku merasa... kita berdua sedang mengkhianati anak-anak kita dengan memelihara perasaan ini di dalam rumah mereka."
Imam tertegun. Ia meletakkan mangkuk bubur ke meja nakas, lalu menatap Habibah dengan helaan napas yang berat.
"Kalau ada yang harus disalahkan, salahkan aku, Bah. Aku yang memulai semuanya semalam," ucap Imam parau, menggenggam telapak tangan Habibah yang terasa panas dan lemas. Kali ini, Habibah tidak menarik tangannya. "Tapi jujur, melihatmu tak berdaya seperti ini... membuatku sadar satu hal. Aku tidak peduli pada tembok atau aturan apapun lagi. Tugasku hari ini hanya ingin memastikan kamu sembuh. Perasaan kita... biarlah itu jadi urusan nanti setelah kamu sehat."
Di dalam kamar kontrakan yang sunyi itu, di sela-sela suapan bubur dan usapan kompres hangat, Habibah hanya bisa pasrah. Rasa lemas di tubuhnya akibat demam perlahan melebur dengan rasa lemas di dadanya akibat debaran cinta lama yang kini dirawat kembali oleh sang pemilik hati dengan begitu indahnya.
*****