NovelToon NovelToon
Wasiat Terakhir Ibu

Wasiat Terakhir Ibu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dokter / Romansa
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yehppee

🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.

Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.

"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."

Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.

Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?


Yuk, cari jawabannya di sini 🍀

°°°°°°°°

Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 16. Segelas manis di Tarogong

Tepat pukul dua siang, mobil hitam milik Galang perlahan meninggalkan basement parkiran Ciplaz Garut. Suara mesin mobil terdengar halus, menyatu dengan riuh kendaraan akhir pekan yang memenuhi pusat kota. Dari balik kaca jendela, langit Garut tampak cerah meski udara siang masih menyisakan hawa dingin khas pegunungan.

Di kursi penumpang, Sekar duduk diam.

Kedua tangannya bertumpu di atas tote bag belanjaan yang sejak tadi dipeluk erat. Tatapannya lurus ke depan, tetapi pikirannya entah kemana. Pertemuan singkat beberapa menit lalu masih tertinggal jelas di kepalanya.

Arif.

Nama itu seperti debu lama yang kembali beterbangan setelah bertahun-tahun tersimpan rapi.

Sekar mengembuskan napas perlahan.

Ia tidak menyangka akan bertemu pria itu di Garut. Apalagi dalam keadaan seperti sekarang-- bersama Galang, laki-laki yang statusnya kini adalah suaminya.

Di sampingnya, Galang sesekali melirik tanpa berkata apa-apa. Jemarinya mengetuk pelan setir mobil. Sejak keluar dari basement tadi, ia menyadari perubahan ekspresi Sekar. Gadis itu mendadak lebih pendiam dari biasanya.

Terlalu diam.

Padahal tadi sebelum turun ke parkiran, Sekar masih sempat mengomentari diskon sabun cuci dan menertawakan tingkah seorang anak kecil yang menangis meminta es krim.

Sekarang suasana di antara mereka terasa berbeda.

Galang kembali melirik sekilas.

"Sekar?"

"Hmmm?"

"Kamu sakit?"

Sekar menggeleng pelan tanpa menoleh. "Nggak."

"Pusing?"

"Cuma capek aja."

Jawabnya singkat. Bahkan terlalu singkat.

Galang mengangguk kecil meski sebenarnya ia belum puas. Tangannya berpindah memutar kemudi ketika mobil memasuki jalanan menuju Tarogong. Gunung guntur tampak berdiri gagah di kejauhan, sebagian pucuknya tertutup kabut tipis.

Galang kembali teringat pria tadi.

Arif.

Teman lama dari Jakarta, kata Sekar.

Namun entah kenapa cara pria itu menatap Sekar terasa aneh. Terlalu lama. Terlalu mengenal.

Dan Sekar tampak terkejut ketika perempuan yang memeluk Sekar mengatakan kalau Arif sudah lama mencarinya.

Sebenarnya Galang ingin bertanya lebih jauh. Itu haknya, bukan? Ia suami Sekar. Wajar jika ia ingin tahu siapa laki-laki yang tiba-tiba muncul dan membuat istrinya murung sepanjang perjalanan pulang.

Tetapi di sisi lain, Galang sadar hubungan mereka belum sedekat itu.

Pernikahan ini bahkan belum genap berjalan lama. Sekar mungkin butuh ruang. Lagi pula Galang sendiri bukan tipe laki-laki yang suka memaksa orang bercerita.

Akhirnya ia memilih diam.

Sedangkan Sekar justru sibuk dengan pikirannya sendiri.

Ia tidak berniat menceritakan Arif kepada Galang.

Untuk apa?

Masa lalu itu sudah selesai.

Lagipula juga Sekar tidak pernah bertanya tentang Melisa-- nama perempuan yang beberapa kali muncul di ponsel Galang, perempuan yang menghubungi laki-laki itu hampir setiap saat dengan nada akrab.

Sekar sadar dirinya tidak punya hak untuk cemburu. Pernikahan mereka terjadi terlalu cepat. Bisa jadi memang ada perempuan lain di hidup Galang sebelum dirinya datang.

Karena itu Sekar memilih menyimpan kisah Arif sendiri.

🪷🪷🪷

Mobil melambat ketika memasuki kawasan alun-alun Tarogong. Siang mulai bergeser menuju sore. Beberapa pedagang kaki lima tampak ramai, sementara anak-anak kecil berlarian di sekitar taman.

Galang memecah keheningan.

"Mau minum dulu?"

Sekar menikah pelan.

Galang menunjuk deretan stand minuman di dekat alun-alun. "Haus gak?"

Sejujurnya Sekar ingin langsung pulang. Namun mendengar suara Galang yang terdengar hati-hati, ia akhirnya mengangguk kecil.

Mobil diparkir di tepi jalan.

Tak lama kemudian Galang turun membeli minuman di salah satu gerai minuman favorit anak muda Garut dekat alun-alun Tarogong. Ia kembali beberapa menit kemudian membawa dua cup besar dingin di tangannya.

"Ini buat kamu," ucap Galang sambil menyerahkan minuman berwarna creamy kecokelatan.

Sekar menerimanya perlahan.

"Brown sugar fresh milk?"

Galang mengangguk. "Katanya enak."

Sekar menatap cup itu beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum tipis untuk pertama kalinya sejak dari basement.

"Makasih."

Mereka memilih duduk di bangku taman sisi alun-alun yang agak teduh. Angin Garut berembus pelan membawa aroma rumput dan gorengan dari pedagang sekitar.

Sekar menyesap minumannya perlahan.

Dingin dan manis. Dan entah kenapa cukup membantu meredakan sesak di dadanya tadi.

Ia memejamkan mata sebentar, membiarkan tubuhnya sedikit rileks.

Galang memperhatikan dari samping tanpa sadar. Wajah Sekar sudah tidak sepucat tadi.

Gadis itu memang masih diam, tetapi setidaknya napasnya terlihat lebih tenang.

"Kamu yakin nggak sakit?" tanya Galang lagi.

Sekar menggeleng pelan. "Cuma capek aja," Sekar meraba tumitnya, "udah lama gak jalan muter-muter, jadinya agak pegel."

Galang mengangguk kecil.

Ia sebenarnya tahu jawaban itu belum sepenuhnya jujur. Tetapi ia tidak melanjutkan pertanyaan lagi.

Mungkin nanti.

Mungkin saat Sekar sudah merasa nyaman.

Beberapa detik berlalu tanpa percakapan. Namun anehnya keheningan itu tidak terasa terlalu canggung. Mereka duduk berdampingan sambil memandangi lalu lalang orang di sekitar alun-alun.

Sekar melirik Galang diam-diam.

Laki-laki itu masih mengenakan kaus abu-abu gelap dengan jam tangan hitam di pergelangan tangannya. Sederhana. Tidak banyak bicara. Tetapi sejak tadi terus memperhatikannya dengan caranya sendiri.

Tanpa sadar hati Sekar terasa hangat sedikit.

Galang memang bukan Arif.

Galang tidak pandai mengumbar kata manis.

Namun laki-laki itu selalu hadir dengan tindakan-tindakan kecil yang diam-diam menenangkan.

Membawa belanjaan.

Membelikan minuman.

Menunggu tanpa memaksa.

Sekar menunduk pelan menatap cup di tangannya.

Mungkin, begini rasanya di perlakukan dengan tenang. Bukan cinta yang menggebu-gebu, melainkan seseorang yang tetap tinggal meski suasana sedang tidak baik-baik saja.

Ponselnya bergetar pelan.

Sekar langsung melihat layar.

Pukul dua lewat dua puluh lima menit.

Ia spontan teringat sesuatu lalu menoleh ke arah Galang.

"Kita pulang aja, yuk."

Galang mengangkat satu alisnya, "kenapa?"

"Nanti A Galang gak bisa istirahat." Sekar mematikan layar ponselnya. "Kan nanti harus ke rumah sakit buat shift malam, aku gak sengaja liat memo di atas buku tebal tadi, nanti malam ada tiga jadwal operasi."

Beberapa detik Galang terdiam.

Ada sesuatu yang terasa aneh di dadanya setiap kali Sekar mengkhawatirkan hal-hal kecil tentang dirinya.

Hangat.

Dan tanpa sadar membuat lelahnya sedikit berkurang.

Galang akhirnya berdiri sambil mengambil cup minuman mereka yang hampir habis.

"Ayo."

Sekar ikut bangkit.

mereka berjalan berdampingan menuju mobil. Langkah mereka pelan menyusuri sisi alun-alun Tarogong yang mulai ramai oleh pengunjung sore.

"Aku aja yang nyetir. A Galang istirahat aja," tawar Sekar.

Galang menatap gadis itu. Sekar tersenyum, amat manis. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya, pura-pura memperhatikan jalan yang ramai kendaraan.

"Memangnya kamu ingat jalannya?" tanya Galang.

"Coba aja, nanti kan kalau A Galang lagi sibuk gak bisa selalu antar aku buat beli kebutuhan rumah. Sekalian sambil hafalin jalan," jawab Sekar.

Galang menyodorkan kunci mobil kepada istrinya.

"Baiklah." Jawabnya pasrah.

Dan untuk pertama kalinya sejak pertemuan tak terduga di basement tadi, Sekar merasa dadanya sedikit lebih ringan.

🪷🪷🪷

Hallo 👋

Salam kenal, aku dari Jawa Barat

kalian darimana aja nih? Jawab di kolom komentar ya, biar Yehppee tahu sampe mana Sekar dan Galang hehehe

Jangan lupa like dan vote juga ya😁

Eh-eh, follow Yehppee ya

Bersambung....

1
Gemuruh riuh
kiw, mulai ada rasa nih
Gemuruh riuh
awas aja kalo tiba-tiba jadi asing
Gemuruh riuh
cie cie 🤭
Gemuruh riuh
yu Galang Pepet terus istrimu! jangan sampe di ambil mantan nya😭
Gemuruh riuh
cie cie mulai gombal, pasti di ajarin Ardi nih🤣🤭
Gemuruh riuh
ah baru aja mau gosip🤣
Gemuruh riuh
Ardi ini tipe rusuh banget 🤭
Gemuruh riuh
iya sih rata-rata kenapa ya suka padanya kapan hamil, seolah pertanyaan itu tuh udah biasa
Gemuruh riuh
waduh 😲
Gemuruh riuh
Galang berantem yuk🫵
Gemuruh riuh
Bu Dian ini tipe tetangga kalau nurunin kulkas langsung kepanasan
Gemuruh riuh
nih orang blak-blakan banget 😭🤣
Alia Chans
Jleb😯😯
falea sezi
lanjut bkin cerai aja dah laki. bloon bgt dikira istrimu g ada yg suka apa
falea sezi
istrimu di gondol pebinor kapok lu lang😒 jd suami cuek bgt🤣 arif uda siap tuh nrima janda mu🤣
falea sezi
🤣kampret di prank
falea sezi
😍 ganteng amat dokternya aduhh
🍀 YEHPPEE 🍀: silahkan di pilih kak😁
total 1 replies
Gemuruh riuh
ih Galang jahat banget mulutmu! awas aja nanti-nanti nelen ludah sendiri
Gemuruh riuh
wkwkwkw teh Emi lucu nih, jangan sampe Sekar satu circle sama teh emi🤣
Gemuruh riuh
Jangan-jangan Sekar putus sama dokter Arif gara-gara milih nikah sama Galang ya???
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!