Hidup seorang wanita hancur dalam satu malam setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan orang terdekatnya. Dalam kondisi patah hati dan mabuk berat, dia tidak sengaja menghabiskan malam yang penuh gairah dengan seorang pria asing di dalam kamar hotel mewah. Pria itu ternyata adalah seorang CEO muda terkaya yang terkenal sangat dingin, kejam, dan berkuasa di dunia bisnis.
Keesokan paginya, wanita itu kabur karena panik dan memilih menghilang tanpa jejak. Enam tahun kemudian, dia terpaksa kembali ke ibu kota demi menghidupi anak kembar hasil dari malam itu. Tanpa diduga, anak kembarnya malah tidak sengaja bertemu dengan sang CEO karena wajah mereka yang sangat mirip.
Sang CEO yang selama ini terobsesi mencari wanita misterius dari masa lalunya langsung bergerak cepat. Begitu tahu kebenarannya, dia langsung menjerat wanita itu masuk ke dalam hidupnya kembali melalui pernikahan paksa demi hak asuh anak. Dari sinilah hubungan mereka yang penuh gengsi, rahasia, dan ketegangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abil_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gelar Baru, Lembaran Baru
Matahari sore perlahan tenggelam di balik perbukitan elite, meninggalkan semburat warna jingga dan keunguan yang indah di langit Jakarta. Di halaman belakang mansion, tawa riang Kiana dan seruan tegas dari instruktur bela diri Kenji perlahan mereda seiring datangnya senja.
Xavier masih setia mendekap bahu Eli, membiarkan wanita itu bersandar pada dada bidangnya yang kokoh. Keheningan di antara mereka kali ini tidak lagi terasa mencekam atau penuh intimidasi, melainkan sebuah ketenangan mutlak yang sangat dinantikan Eli selama enam tahun terakhir.
"Ibu! Papa!"
Suara cempreng Kiana memecah keheningan. Bocah kecil itu berlari menghambur ke arah bangku taman, diikuti oleh Kenji yang berjalan di belakangnya sambil menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil.
Jantung Eli sempat berdesir halus mendengarkan Kiana memanggil Xavier dengan sebutan 'Papa' secara alami. Tampaknya, kemewahan waktu, perhatian, dan rasa aman yang diberikan Xavier dalam beberapa hari ini berhasil meruntuhkan dinding pertahanan putri kecilnya dengan sangat cepat.
Xavier merentangkan satu tangannya yang bebas, menangkap tubuh mungil Kiana dan mengangkatnya ke atas pangkuannya tanpa canggung. "Bagaimana mainnya hari ini, Tuan Putri? Menyenangkan?" tanya Xavier, senyuman hangat terukir di wajah tegasnya.
"Seru sekali, Papa! Kiana suka taman ini! Besok Kiana mau main ayunan lagi!" seru Kiana penuh semangat, tangan kecilnya dengan berani menyentuh rahang tegas Xavier yang biasanya membuat orang dewasa gemetar ketakutan.
Xavier kemudian mengalihkan pandangannya pada Kenji yang kini berdiri di depan mereka. "Bagaimana latihanmu, Kenji? Instruktur bilang kamu punya bakat alami."
Kenji diam sejenak, menatap Xavier dengan mata elangnya yang cerdas. Bocah itu tidak langsung menjawab, melainkan melirik ibunya terlebih dahulu. Setelah melihat anggukan penuh kasih dari Eli, Kenji kembali menatap Xavier.
"Latihannya melelahkan, tapi aku suka," jawab Kenji datar, namun ada kilatan tekad yang kuat di matanya. Dia maju satu langkah, menatap lurus ke dalam mata Xavier. "Aku akan menjadi lebih kuat darimu, agar suatu hari nanti aku yang melindungi Ibu dan Kiana, bukan kamu lagi."
Mendengar tantangan terbuka dari putranya yang baru berusia lima tahun, Xavier bukannya marah, justru tertawa lepas. Suara tawa baritonnya yang renyah menggema di taman mawar itu, membuat para pelayan yang berjaga di kejauhan tertegun heran. Belum pernah mereka melihat Tuan Besar mereka tertawa sebahagia ini.
"Aku akan menunggu hari itu, Kenji Arisatya," sahut Xavier dengan binar bangga yang pekat. "Tapi sampai hari itu tiba, akulah penguasa di sini, dan akulah yang bertanggung jawab penuh atas keselamatan kalian."
Xavier berdiri sambil menggendong Kiana di satu lengannya, sementara tangan satunya bergerak menggandeng erat jemari Eli. Dia melirik Kenji, memberi isyarat agar putra sulungnya itu berjalan di sisi mereka. "Ayo masuk. Udara malam mulai dingin, dan koki sudah menyiapkan makan malam spesial untuk merayakan hari pertama kita sebagai keluarga yang utuh."
Malam harinya, setelah makan malam yang penuh kehangatan selesai dan anak-anak sudah tertidur pulas di kamar mereka, Eli berdiri di balkon kamar utama. Angin malam berhembus lembut, memainkan ujung gaun tidur sutranya. Dia menatap hamparan lampu kota Jakarta yang berkilauan di kejauhan.
Sebuah pelukan hangat tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. Aroma parfum wood and amber yang pekat langsung mengurung indra penciuman Eli. Xavier menyandarkan dagunya di pundak Eli, mengecup leher jenjang istrinya dengan lembut dan posesif.
"Masih memikirkan sepasang tikus itu?" bisik Xavier rendah di telinga Eli.
Eli menggeleng pelan, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada kehangatan tubuh suaminya. "Tidak. Bagi mereka, hukum sudah berjalan. Aku hanya... masih merasa semua ini seperti mimpi. Beberapa hari lalu aku hanyalah seorang ibu tunggal di kontrakan sempit, dan sekarang aku berdiri di sini sebagai..."
"Sebagai Nyonya Arisatya. Wanita tertinggi di rumah ini, dan satu-satunya pemilik hatiku," potong Xavier mutlak. Pria itu membalikkan tubuh Eli agar menghadapnya, menatap lekat-lekat mata cantik istrinya di bawah temaram cahaya bulan.
Xavier meraih tangan kanan Eli, mengecup jari manis yang dihiasi cincin berlian raksasa itu dengan penuh takzim. "Sangkarmu mungkin emas, Eli. Aturanku mungkin ketat. Tapi aku berjanji, di dalam sangkar inilah kamu dan anak-anak kita akan mendapatkan kebahagiaan mutlak yang tidak akan pernah bisa diusik oleh siapa pun lagi seumur hidupmu."
Eli menatap ketulusan yang membara di sepasang mata elang Xavier. Seluruh keraguan yang tersisa di dalam hatinya seketika sirna. Dia mengulurkan kedua lengannya, mengalungkannya di leher kokoh Xavier, lalu berjinjit untuk mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir suaminya—sebuah ciuman yang menjadi tanda bahwa dia telah sepenuhnya menerima takdirnya di dalam sangkar emas sang serigala penguasa.