Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Papa Datang!
Alettha hanya tersenyum tipis, menggeleng tenang. "Tidak, suamiku. Insting seorang ibu tidak pernah berbohong. Instingku berkata orang yang datang ini sama sekali bukan ancaman."
Dengan berat hati dan kewaspadaan penuh, Nicolas akhirnya menuruti kemauan istrinya. Beberapa menit kemudian, pelayan menuntun utusan tersebut masuk ke area halaman belakang.
Begitu sosok dari Black Valley itu muncul di balik pilar pembatas, Deana yang sedang terduduk di rumput seketika menoleh. Matanya berbinar sempurna.
"Bibi Lastii!" pekik Deana riang. Gadis cilik itu langsung bangkit berdiri dan berlari kencang, lalu menghamburkan tubuhnya untuk memeluk erat kaki Lastri.
Vivian yang menyembunyikan identitasnya sebagai Arini, spontan berdiri dari kursi rotannya. Matanya melebar tak percaya melihat Lastri yang melangkah masuk ke mansion ini, bukannya Kayden Gilbert.
Jantung Vivian berdegup aneh. Ada rasa lega, tetapi juga ada secuil rasa kecewa yang menyelinap di hatinya.
“Kenapa bukan pria itu saja yang datang menjemput anaknya? Kenapa harus mengorbankan Lastri? Apa seorang 'Iblis Black Valley' yang agung itu mendadak jadi pengecut dan takut pada orang tuaku?” batin Vivian sinis.
Melihat kedekatan Deana dengan wanita asing tersebut, Nicolas dengan sigap melangkah maju. Ia menarik lembut tubuh Deana agar lepas dari dekapan Lastri, lalu menyembunyikan cucunya di balik punggung kekarnya.
Sepasang mata elang milik mantan penguasa mafia itu menatap Lastri dengan kilatan tajam yang mengintimidasi. Nicolas langsung melemparkan pertanyaan dengan suara berat yang menuntut jawaban jelas.
"Katakan apa tujuanmu berani menginjakkan kaki di rumahku?!" tanya Nicolas to the point.
Meskipun lututnya sudah terasa lemas luar biasa akibat tatapan mematikan Nicolas, Lastri mencoba menguatkan diri. Ia membungkuk hormat sesopan mungkin sebelum menjawab dengan suara bergetar namun jelas.
"Maaf atas kelancangan saya, Tuan Besar Marvis. Saya diutus ke sini karena... Tuan Kayden Gilbert menginginkan kedua anaknya untuk segera kembali pulang ke rumah kami."
Mendengar tuntutan itu, Nicolas menyunggingkan senyum sinis yang teramat dingin. Aura membunuh keluar dari tubuhnya saat ia melangkah satu kali lebih dekat ke arah Lastri.
"Jika aku menolak memberikan mereka kembali... tuanmu yang terhormat itu mau melakukan apa, hah?!" tanya Nicolas tajam, suaranya bagai petir yang siap menyambar di sore hari yang sunyi itu.
Sebelum Lastri sempat mengeluarkan sepatah kata pun untuk membela diri, Deana perlahan melangkah maju. Gadis cilik itu berdiri tegak di depan kakeknya, menatap lurus ke arah Lastri dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah serius—sebuah ekspresi yang sangat familier bagi siapa saja yang mengenal klan Marvis.
Dengan kedua tangan mungil yang bertumpu di pinggang, Deana bersuara dengan nada cadel namun sarat akan ketegasan.
"Bibi Lasti… Kalo Papa memang laki-laki sejati, suluh Papa datang ke sini sendili jemput Dea dan Baby El!"
Lastri tertegun, matanya melebar menatap keberanian nona mudanya.
Deana mendongakkan dagu kecilnya, memberikan ancaman yang tak terduga. "Kalo Papa ndak mau datang juga, Deana ndak mau pulang selamanya! Deana mau tinggal di sini saja sama Kakek dan Nenek!"
Mendengar tantangan berani yang keluar dari bibir mungil putrinya, Vivian yang berdiri tidak jauh dari sana spontan mengulas senyuman tipis. Rasa hangat dan bangga seketika membuncah di dalam dadanya, mengusir secuil rasa getir yang sempat mampir tadi.
“Bagus, putriku... Kali ini, tunjukkan pada dunia dan kepada Kayden Gilbert, bahwa kamu adalah cucu kandung dari klan Marvis! Darah penguasa mengalir di tubuhmu, dan kamu tidak akan pernah luluh atau tunduk semudah itu.”
Nicolas yang berdiri di belakang cucunya pun sempat terkesima sejenak sebelum akhirnya menyeringai puas. Ia menatap Lastri dengan pandangan meremehkan yang semakin kentara.
"Kamu dengar sendiri apa kata cucuku, kan?" sahut Nicolas dengan suara beratnya yang menggelegar, mendukung penuh ucapan Deana.
"Pulang dan sampaikan pesan berharga dari putri kecilnya itu pada tuanmu yang pengecut itu. Jika dia menginginkan darah dagingnya kembali, suruh dia seret kakinya sendiri ke rumah ini!"
Lastri hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah. Misi yang dikira sederhana ini sekarang resmi berubah menjadi pesan begitu berat. Apakah Kayden akan setuju?
…
Satu jam kemudian.
Matahari mulai menggelincir ke barat, memancarkan semburat warna jingga di langit. Di teras depan mansion yang megah, Deana tampak duduk manis di atas undakan anak tangga. Dagunya ditopang dengan kedua tangan kecilnya, sepasang mata bulatnya terus menatap lurus ke arah gerbang utama dengan penuh harap. Ia sedang menunggu sang Ayah datang menemuinya.
“Sudah jam lima sole, napa Papa belum datang juga? Apa Papa sudah lupa sama Deana…?”
“Papa pasti lagi sibuk jagain Mamanya Baby El, makanya Papa nda peduli lagi sama Deana.”
"Seandainya Mama Dea masih hidup, Papa pasti nda sepelti ini. Mama... Maapin Deana sudah bikin Papa susah..."
"Tapi Dea janji, bikin Papa belubah jadi Papa baik."
Di sampingnya, Vivian berdiri sembari menimang pelan Baby Elvano yang mulai mengantuk. Tatapan Vivian sesekali melembut menatap Deana, namun dalam hati ia juga dipenuhi kecamuk rasa penasaran yang sama.
Saat ini, halaman depan terasa cukup lengang. Alettha baru saja dibawa masuk ke dalam untuk diperiksa kembali kondisinya oleh dokter pribadi atas paksaan Nicolas. Pasalnya, sejak tadi Alettha terlalu bersemangat dan tidak sabar untuk terus memeluk dan melihat cucunya, hingga membuat Nicolas khawatir kesehatan istrinya kembali drop.
Tiiiiinnn!
Suara klakson mobil memecah keheningan sore itu. Sebuah mobil sedan hitam mewah terlihat melaju mulus memasuki halaman, bergerak memutari air mancur besar yang berada tepat di tengah halaman depan.
Melihat kedatangan mobil itu, Deana berseru riang dan langsung meloncat bangkit berdiri.
"Papa datang! Papa—"
Kalimatnya mendadak terputus. Tubuh mungilnya mematung di tempat. Sorot matanya yang tadinya berbinar riang langsung meredup kecewa begitu melihat sosok yang melangkah keluar dari dalam mobil setelah pintu kemudi terbuka.
Pria itu sama sekali bukan Kayden Gilbert.
Pria bertubuh tegap itu mengenakan setelan formal yang rapi dan memancarkan aura kharismatik yang berbeda. Tak sendirian, pria itu membukakan pintu penumpang belakang dan menuntun seorang bocah laki-laki yang tampan, bocah yang usianya terlihat setahun lebih tua dari Deana.
Di teras, Vivian yang ikut menyaksikan kedatangan tamu itu seketika napasnya tercekat di tenggorokan, dan tangannya yang sedang menimang Baby Elvano mendadak berhenti. Sepasang matanya menatap lurus tanpa berkedip pada wajah pria itu yang sudah sangat lama tidak ia lihat.
Arsen... Arsen Willson? Kenapa dia bisa ada di sini?!
—🌹
Lanjut?
Jangan lupa like, komen, vote, supaya author semangat nulisnya sampai tamat...