Lin Fan, seorang pemuda dari Clan Lin yang hampir punah, dilahirkan dengan meridian tertutup—cacat bawaan yang membuatnya dijuluki "Sampah Klan" selama 16 tahun. Dihina oleh tunangannya, dicampakkan oleh kerabat, dan dipaksa bekerja sebagai pelayan, Lin Fan hidup dalam bayang-bayang rasa malu.
Namun, nasib berubah ketika ia secara tidak sengaja menemukan sebuah Manik Giok Hitam berdarah di reruntuhan kuno keluarganya. Manik itu tidak memberinya kekuatan instan, melainkan kemampuan terlarang: "Pemurnian Mutlak". Ia bisa mengubah limbah qi menjadi esensi murni, menyempurnakan pil sampah menjadi obat dewa, dan melihat kelemahan setiap teknik musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Takindomaru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Dansa di Ujung Pedang
Hujan deras mengguyur Kota Qingyun, mengubah jalanan menjadi sungai lumpur kecil. Bagi Lin Fan, hujan ini adalah berkah. Suara gemericik air menutupi langkah kakinya yang ringan, dan kabut tipis yang naik dari tanah basah membatasi jarak pandang para penjaga Clan Zhao.
Lin Fan bergerak seperti hantu di antara atap-atap rumah warga. Ia menghindari jalan utama yang dijaga ketat oleh pasukan bersenjata lengkap Clan Zhao. Matanya yang tajam memindai setiap patroli, menghitung interval waktu, dan mencari celah terkecil untuk menerobos.
Tujuannya: Rumah Teh Golden Leaf, markas bisnis Tuan Guo, Kepala Guild Pedagang.
Bangunan itu megah, berlantai tiga, dengan arsitektur kayu jati yang kokoh dan dihiasi lentera merah yang kini padam karena cuaca buruk. Di sekelilingnya, pagar tinggi dikelilingi oleh beberapa penjaga pribadi Tuan Guo—bukan preman biasa, tapi kultivator bayaran yang waspada.
Lin Fan bersembunyi di atas pohon besar di seberang jalan, mengamati pola patroli. Ada empat penjaga di gerbang depan, dua di sisi samping, dan kemungkinan besar lebih banyak lagi di dalam. Masuk melalui depan atau samping adalah bunuh diri.
Tapi Lin Fan memperhatikan satu hal: Atap Rumah Teh Golden Leaf memiliki sistem ventilasi udara yang rumit, mirip dengan gudang obat Clan Lin. Dan di sudut belakang bangunan, terdapat sebuah cerobong asap dapur yang cukup besar untuk dilewati orang dewasa jika mereka cukup kurus dan fleksibel.
"Masuk lewat dapur," gumam Lin Fan. "Kotor, berisiko, tapi tak terduga."
Ia menunggu hingga petir menyambar, menciptakan kilatan cahaya putih yang menyilaukan dan suara guntur yang menggelegar. Dalam sepersekian detik kegelapan total setelah kilatan itu, Lin Fan melompat dari pohon, melayang melintasi jalan, dan mendarat dengan senyal di atap belakang Rumah Teh Golden Leaf.
Tidak ada alarm. Tidak ada teriakan.
Ia merayap menuju cerobong asap. Bau masakan semalam masih tersisa, bercampur dengan aroma arang dingin. Lin Fan menurunkan dirinya ke dalam cerobong, menggunakan Teknik Napas Besi untuk mencengkeram dinding batu bata yang licin akibat jelaga.
Setelah turun lima meter, ia mencapai ruang abu di dasar cerobong. Dengan hati-hati, ia mendorong kisi-kisi besi yang longgar dan merangkak keluar ke dalam dapur besar yang gelap.
Dapur itu sepi. Para koki sudah pulang. Hanya ada sisa-sisa peralatan masak yang berserakan.
Lin Fan berdiri, membersihkan jelaga dari bajunya sebisa mungkin. Sekarang, bagian tersulit: Menanam bukti.
Ia tidak bisa sekadar melemparkan sobekan kertas ledger itu sembarangan. Itu akan terlihat seperti penipuan murahan. Dia perlu membuatnya terlihat seolah-olah surat itu jatuh dari saku seseorang yang sedang bertemu dengan Tuan Guo secara rahasia.
Lin Fan mengingat layout lantai dua Rumah Teh Golden Leaf dari deskripsi Lin Yue dulu. Ruang pertemuan pribadi Tuan Guo berada di ujung koridor timur, menghadap ke taman belakang.
Lin Fan menyusup keluar dari dapur, melewati lorong-lorong gelap. Ia menghindari ruangan yang masih menyala lampunya. Dengan pendengaran yang telah diasah, ia bisa mendengar napas para penjaga yang berjaga di lantai dasar.
Ia naik ke lantai dua melalui tangga pelayanan di belakang. Di sana, suasana lebih sunyi. Hanya satu penjaga yang berjaga di dekat pintu ruang pertemuan Tuan Guo. Penjaga itu tampak mengantuk, bersandar pada dinding, matanya setengah tertutup.
Lin Fan tidak membunuhnya. Membunuh akan menimbulkan keributan. Sebaliknya, ia mengambil sebuah kerikil kecil dan melemparkannya ke arah vas bunga di ujung koridor sebelah barat.
Keting!
Suara pecahan keramik terdengar tajam.
Penjaga itu langsung terjaga, panik. "Siapa di sana?!"
Dia berlari ke arah suara, meninggalkan posnya kosong selama beberapa detik.
Itu kesempatan Lin Fan. Ia melesat ke pintu ruang pertemuan, membuka kunci dengan alat pengungkit sederhana, masuk, dan menutup pintu kembali.
Ruang itu mewah, berbau dupa mahal. Di meja besar di tengah, terdapat tumpukan dokumen. Lin Fan tidak punya waktu untuk membaca semuanya. Ia mencari tempat yang strategis.
Di sudut meja, terdapat sebuah asbak perunggu berat. Lin Fan mengambil sobekan kertas ledger yang berisi inisial "M" dan transaksi mencurigakan. Ia melipatnya menjadi kecil, lalu menyelipkannya di bawah kaki asbak tersebut, sehingga hanya ujung kertas yang sedikit terlihat, seolah-olah kertas itu terjepit saat asbak diletakkan terburu-buru.
Selain itu, ia mengambil pena bulu dari meja dan menulis cepat di selembar kertas kosong lain dengan tinta yang ada di sana. Tulisannya sengaja dibuat agak berbeda dari tulisan tangannya sendiri, meniru gaya tulisan tergesa-gesa:
"Pembayaran tahap akhir untuk 'masalah' Zhao Feng. Pastikan tidak ada saksi. - M"
Ia meletakkan catatan palsu ini di atas tumpukan dokumen penting Tuan Guo, tepat di tempat yang paling mudah dilihat jika seseorang membuka laci atau memeriksa meja dengan kasar.
Tugas selesai.
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar di luar pintu. Penjaga itu kembali, dan kali ini, dia tidak sendirian. Ada suara Tuan Guo sendiri, terdengar lelah dan marah.
"Aku bilang aku tidak ingin diganggu!" suara Tuan Guo menggeram.
"Maaf, Tuan," suara penjaga itu gemetar. "Ada suara pecahan..."
"Pecahan apa? Mungkin tikus. Pergi! Aku ingin tidur!"
Pintu terbuka. Cahaya dari lorong masuk ke dalam ruangan.
Lin Fan panik. Tidak ada tempat bersembunyi di dalam ruangan yang minim furnitur ini kecuali di bawah meja. Tapi jika Tuan Guo mendekat ke meja, dia akan ketahuan.
Dengan insting bertahan hidup yang tajam, Lin Fan melihat jendela kaca di sisi ruangan. Jendela itu mengarah ke taman belakang, dan di luar ada pohon besar yang cabangnya menyentuh balkon kecil.
Lin Fan tidak ragu. Ia membuka jendela dengan perlahan, lalu melompat keluar ke balkon, bergelantungan di tepiannya, dan melepaskan pegangannya tepat saat angin kencang bertiup.
Ia jatuh bebas selama dua detik sebelum tangannya mencengkeram dahan pohon besar di taman. Tubuhnya terhempas ke daun-daun basah, menyerap sebagian benturan.
Dari dalam kamar, ia mendengar Tuan Guo masuk.
"Hmm?" suara Tuan Guo terdengar bingung. "Jendelanya terbuka? Siapa yang lupa menutupnya?"
Langkah kaki Tuan Guo mendekati jendela. Lin Fan menahan napasnya, menempelkan tubuhnya erat-erat pada batang pohon, berharap kegelapan dan hujan menyembunyikannya.
Tuan Guo mengintip ke luar, menatap kegelapan taman. Hujan deras membuat jarak pandang menjadi nol. Dia menghela napas, menganggapnya hanya angin, lalu menutup jendela dan menguncinya dari dalam.
Lin Fan menghela napas lega. Dia selamat. Untuk saat ini.
Ia turun dari pohon, mendarat di tanah basah taman, dan segera menghilang ke dalam kegelapan malam, kembali menuju tempat persembunyiannya di kuil tua.
Keesokan paginya, Kota Qingyun bangun dengan kabar yang mengejutkan.
Pasukan Clan Zhao, yang sedang melakukan penggeledahan intensif di distrik pusat, menerima tipuan anonim (yang dikirimkan Lin Fan melalui anak jalanan upahan dengan beberapa koin tembaga) bahwa ada dokumen mencurigakan di Rumah Teh Golden Leaf.
Tanpa pikir panjang, dan didorong oleh kemarahan buta atas kematian Zhao Feng, pemimpin pasukan Clan Zhao mendobrak masuk ke Rumah Teh Golden Leaf. Mereka mengabaikan protes Tuan Guo yang marah.
Di ruang pertemuan, di bawah asbak perunggu, mereka menemukan sobekan ledger. Dan di atas meja, catatan palsu bertanda "M".
Wajah pemimpin pasukan Clan Zhao berubah merah padam. "Tuan Guo... kau berani bermain di belakang punggung kami? Kau menyewa pembunuh untuk membunuh Tuan Muda Zhao?!"
Tuan Guo, yang baru saja bangun tidur dan belum memahami situasi, terpaku. "Apa? Apa yang kalian bicarakan? Itu bukan tulisanku! Ini jebakan!"
"Jebakan?" tertawa pemimpin pasukan Zhao dengan sinis. "Bukti ada di tangan kami. Tangkap dia! Bawa ke markas kami! Patriark Zhao akan memutuskan hukumannya!"
Pertengkaran hebat terjadi di depan umum. Warga kota berkumpul, menonton dengan ngeri. Dua kekuatan terbesar di Kota Qingyun, Clan Zhao dan Guild Pedagang, kini saling tuduh.
Di kejauhan, dari balik reruntuhan kuil tua, Lin Fan menyaksikan kekacauan itu dengan mata dingin.
Api konflik telah dinyalakan. Sekarang, tinggal menunggu ledakannya.
Clan Zhao akan sibuk berperang dengan Guild Pedagang. Penjagaan di gerbang kota akan longgar karena sebagian pasukan ditarik untuk menghadapi potensi kerusuhan atau serangan balasan dari anak buah Tuan Guo.
Itu adalah celah tunggal Lin Fan untuk kabur dari Kota Qingyun.
Tapi sebelum dia pergi, ada satu hal terakhir yang harus ia lakukan. Ia harus menemui Lin Yue sekali lagi. Bukan untuk membawa gadis itu bersamanya—itu terlalu berbahaya—tapi untuk memberikan peringatan dan sesuatu yang penting.
Lin Fan menulis surat singkat di sepotong kain:
"Jangan cari aku. Jangan percaya siapa pun. Jika kau dalam bahaya, gunakan pil racun yang kuberikan padamu dulu. Aku akan kembali suatu hari nanti. - LF"
Ia mengikat surat itu pada kaki seekor merpati pos kecil yang ia tangkap di pasar pagi hari, lalu melepaskannya ke arah kediaman Clan Lin. Merpati itu akan menemukan jalan pulang.
Lin Fan memandang langit yang mulai cerah. Badai politik sedang berkecamuk di kota, tapi badai di hatinya telah tenang.
Dia siap untuk langkah berikutnya. Keluar dari kota. Menuju dunia yang lebih luas. Menuju kekuatan sejati.
"Minggir, Zhao. Minggir, Guo," bisik Lin Fan. "Aku punya jalur sendiri."
Ia mengumpulkan barang-barangnya, memastikan Manik Giok stabil, dan mempersiapkan diri untuk perjalanan malam ini.