Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Tujuh Hari Neraka
Senyum cacat di bibir Fais tidak bertahan lama. Realita memukulnya lebih keras dari kepalan cincin besi preman sialan itu.
Menang hari ini bukan berarti hidup besok.
Teks biru menyala di retinanya. Menghitung mundur sisa napasnya. Tujuh hari. Ia punya tujuh hari neraka untuk memeras sisa nyawanya jadi uang sungguhan.
Atau ia dan keluarganya sungguh-sungguh akan jadi rongsokan jalanan.
Hari Pertama berlalu seperti mesin giling. Mesin giling gila yang meremukkan daging. Fais mengangkut sak semen seolah tidak ada hari esok. Bahunya mati rasa. Kulitnya mengelupas kasar bergesekan dengan serat karung.
Setiap kali ia nyaris tersandung tumpukan besi tajam, layar sistem berkedip.
[Peluang terhindar dari tetanus: 12 persen.]
Lalu kakinya secara refleks bergeser sendiri. Menghindar tipis. Menguras tenaga ototnya dari dalam. Memaksa sarafnya melintir di luar batas nalar.
Hari Kedua. Fais tidak pulang.
Ongkos angkot terlalu mahal untuk kantong yang bolong. Ia memilih gudang semen basah di ujung tapak proyek.
Malam itu dinginnya keparat. Menusuk pori-pori. Menggigit sumsum tulang punggungnya.
Fais meringkuk di atas tumpukan terpal robek. Tidak ada selimut. Hanya debu semen yang beterbangan masuk ke hidungnya.
Tenggorokannya gatal. Gatal parah seperti ada ribuan semut merah berbaris di saluran pernapasannya.
Ia terbatuk keras. Debu putih mengepul dari mulutnya.
Makan siangnya hanya separuh roti sisa kemarin. Perutnya melilit meronta minta diisi. Tapi ia menelan ludahnya sendiri.
'Simpan,' pikirnya. 'Simpan buat beli obat Bapak.'
Ia menatap atap seng yang berlubang. Bintang tidak kelihatan. Hanya gelap gulita yang menekan dadanya.
Sistem itu terus mengawasinya. Diam di sudut matanya. Mengukur seberapa dekat ia dengan maut malam ini.
Dada Fais sesak parah. Dingin ini bisa membunuhnya lambat-lambat jika ia tertidur pulas.
[Peluang hipotermia: 68 persen.]
Ia memaksa matanya tetap terbuka. Terbuka lebar menatap kekosongan. Menggosok telapak tangannya sampai kulitnya lecet berdarah. Panas gesekan itu satu-satunya pelindung nyawanya.
Ia tidak boleh tidur. Tidak boleh. Tidak boleh.
Hari Ketiga lewat seperti bayangan buram. Buram dan bau karat. Ia bekerja dalam kondisi setengah sadar. Hanya mesin organik yang bergerak memindahkan beban berat dari titik A ke titik B.
Lalu masuk Hari Keempat.
Siang itu matahari serasa berjarak satu jengkal dari ubun-ubun. Panasnya tidak masuk akal. Memanggang aspal sampai meleleh lengket di sol sepatunya.
Fais sedang mengangkat besi beton dari lantai satu ke lantai tiga. Tangga darurat itu licin oleh lumpur kering.
Napasnya memendek. Oksigen menolak masuk ke paru-parunya. Udara terasa tebal dan panas.
Langkahnya goyah. Dunia mendadak miring ke kiri.
Ia berpegangan erat pada pinggiran semen kasar. Perutnya bergejolak hebat. Rasa mual brutal menyerang langsung dari ulu hati.
Ia menunduk dalam. Tenggorokannya menolak menelan oksigen.
Huek.
Bukan makanan yang keluar. Makanan apa yang mau dimuntahkan? Lambungnya kosong melompong.
Hanya cairan lambung asam. Dan merah.
Ada bercak darah kecil bercampur cairan kuning itu. Jatuh menodai sepatu botnya yang berlubang. Bau amis seketika menyengat hidungnya.
Fais menatap ludah darah itu dengan mata setengah menganga. Ototnya robek dari dalam. Kelelahan ini mulai menggerogoti organ vitalnya tanpa ampun.
[Peringatan: Kerusakan organ internal terdeteksi.]
[Peluang gagal ginjal akut: 14 persen.]
Angka itu terus berubah. Mengayun seperti pendulum tajam di atas lehernya.
Ia mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan. Menyapu sisa anyir yang menempel.
"Belum," gumamnya parau. "Belum boleh mati sekarang."
Ia mengangkat kembali besi beton itu. Bahunya menjerit ngeri. Sendi-sendinya berderit seperti pintu tua karatan yang dipaksa terbuka.
Tapi ia terus melangkah naik. Satu anak tangga. Dua anak tangga. Sambil menahan napas yang terasa ditarik paksa keluar dari dadanya.
Sistem memberi peluang kecil untuk selamat jika ia tidak salah pijak. Fais menyerahkan kendali keseimbangannya pada mesin sialan itu.
Lagi dan lagi. Mengorbankan sisa kewarasannya demi beberapa lembar rupiah kotor.
Hari Kelima. Ayahnya makin parah.
Fais pulang sebentar malam itu. Mencium bau pesing dan obat generik yang menyatu di udara rumah petaknya yang sempit.
Suara napas ayahnya terdengar seperti mesin rusak. Mengi kasar yang bikin dada Fais ikut berdenyut sesak tiap kali mendengarnya. Tarikan napas orang tua itu pendek-pendek, seolah dadanya ditimpa beton utuh.
Ibunya duduk bisu di sudut ranjang. Wajah keriputnya kusam. Matanya cekung parah. Tidak ada harapan di sana. Hanya sisa-sisa pasrah yang menunggu lonceng kematian.
Fais menaruh uang recehan hasil kuli di atas meja kayu lapuk. Jumlahnya tidak sampai sepersepuluh harga resep dokter sialan itu.
Ibunya hanya mengangguk pelan. Tidak memarahi. Tidak menangis. Air matanya sudah kering menempel di pipi bertahun-tahun lalu.
Hari Keenam. Puncak dari neraka.
Fais bangun dengan kepala yang terasa mau terbelah dua. Gatal di tenggorokannya makin gila. Setiap tarikan napas seperti menelan pecahan kaca tajam.
Ia hendak memakai jaket lusuhnya yang tergantung di paku dinding berjamur.
Matanya mendadak menangkap gerakan lambat di sudut dapur sempit mereka. Ibunya sedang membungkus sesuatu dengan potongan kain hitam kecil.
Sebuah cincin kuning kusam.
Fais diam kaku di ambang pintu. Napasnya tercekat hebat. Oksigen seolah disedot habis dari ruangan itu.
Itu cincin pernikahan ibunya. Satu-satunya barang berharga yang selamat dari gila-gilaan rentenir tahun lalu. Satu-satunya benda yang membuat ibunya merasa masih memiliki martabat.
"Ibu." Fais memanggil pelan. Suaranya serak. Hampir tidak terdengar.
Ibunya menoleh kaget. Tangannya gemetar menyembunyikan bungkusan kain itu ke balik daster kusamnya. Gerakannya gagap dan panik.
"Buat apa itu?" Fais bertanya. Padahal ia tahu. Tentu saja ia tahu.
Dunia ini memang dirancang untuk menertawakan mereka. Memaksa mereka memakan harga diri sendiri bulat-bulat cuma buat bertahan napas satu hari lagi.
"Tidak ada, Fais. Kamu berangkat sana. Mandor nanti marah." Suara ibunya datar. Coba menutupi getaran panik di ujung kalimatnya.
Fais melangkah maju. Kakinya berat seperti diikat batu kali raksasa.
"Jangan dijual." Fais menatap ibunya lurus-lurus. Suaranya kering.
"Bapakmu butuh tebus obat. Batuknya keluar darah lagi tadi subuh." Ibunya menunduk. Tidak berani menatap mata Fais. Memilih membuang muka ke arah kompor minyak yang sudah berkarat.
Hening. Sepi keparat yang bikin telinga Fais berdenging kencang.
Fais mengepalkan tangannya kuat-kuat. Kuku-kukunya menancap dalam masuk ke telapak. Rasa perih itu tidak seberapa dibanding rasa muak di dadanya.
Ia benci kenyataan ini. Ia sangat benci ketidakberdayaan ini.
Tapi ia tidak bisa menahan ibunya. Ia tidak punya hak. Jika cincin itu tidak masuk pegadaian hari ini, ayahnya mungkin tidak akan bernapas besok pagi.
Peluang. Probabilitas. Angka. Semuanya terasa seperti lelucon anjing yang dilempar dari langit.
Fais membalikkan badan tanpa sepatah kata lagi. Keluar dari rumah petak itu dengan dada hancur.
Di luar, udara pagi terasa sedingin es balok. Menusuk kasar masuk ke sela-sela rusuknya. Mengingatkan bahwa ia hanya sekrup kecil berkarat yang kebetulan belum dibuang ke tempat sampah.
Hari itu di proyek, Fais bekerja seperti orang kesurupan setan.
Ia mematikan saraf lelahnya. Ia mengabaikan darah yang sesekali merembes turun dari lubang hidungnya karena tekanan darah yang melonjak drastis.
Ia nyaris tertimpa balok kayu raksasa yang putus dari tali crane.
[Peringatan: Trauma kranial beruntun terdeteksi.]
[Peluang selamat: 8 persen.]
Tubuhnya ditarik mundur dengan paksaan kasar sistem. Melenting ke belakang. Otot betisnya robek kecil karena gerakan mendadak itu. Rasa panas menjalar di kakinya.
Tapi ia selamat. Lolos dari maut. Lagi. Lolos lagi.
Tujuh hari ini ia bukan manusia utuh. Ia adalah serangga yang disuruh menari di atas ujung pisau berdarah.
Sistem sialan ini terus memberinya peluang. Kecil. Sangat kecil. Tapi angka nol koma sekian persen itu terbukti jauh lebih baik daripada nol absolut dari realita dunia nyata.
Hari Ketujuh.
Fais menyeret kakinya keluar dari gerbang seng area proyek saat langit perlahan menggelap.
Tulangnya serasa hancur jadi serbuk kapur. Tidak ada satu pun sendi di tubuhnya yang tidak berteriak minta ampun.
Keringat dingin membasahi punggung bajunya yang robek. Gatal di dadanya mulai reda, digantikan rasa kebas mati rasa yang jauh lebih menakutkan.
Napasnya memburu pendek-pendek. Paru-parunya menolak mengembang penuh.
Ia menyandar pelan pada tiang listrik beton di pinggir jalan raya. Menatap sorot lampu kendaraan yang berlalu-lalang dengan pandangan kabur dan berbayang.
Semuanya mendadak terasa seperti ilusi. Orang-orang di dalam mobil bagus itu. Lampu jalan yang menyala terang menyilaukan. Semua itu bukan dunianya.
Dunianya adalah aspal kotor. Bau got menguap. Dan angka-angka biru yang terus menyiksa retinanya tanpa henti.
Tenggorokannya kering kerontang. Ia merogoh saku celananya dengan jari gemetar.
Ada beberapa lembar uang kotor bergumpal di sana. Gaji yang akhirnya cair setelah ia menahan marah nyaris gila berhadapan dengan mandor babi itu sore tadi.
Ia berhasil. Ia tidak mati hari ini. Ayahnya bisa dapat obat besok pagi. Ibunya mungkin... entahlah.
Pandangannya mulai menggelap tebal. Titik-titik hitam menari liar di pinggiran matanya. Rasa sakit di kepalanya mengambil alih seluruh sarafnya.
Tubuhnya perlahan merosot turun. Punggungnya bergesekan kasar dengan tiang beton dingin itu. Sensasi beku aspal menyentuh kulit lengannya yang lecet terbuka.
Waktu seakan tertahan di kerongkongan. Suara klakson jalanan meredup menjadi dengung panjang.
Di tengah kesadaran yang menipis parah, layar biru itu kembali berkedip terang menutupi seluruh pandangannya.
Menghalau gelap malam.
[Hari Ketujuh berhasil dilewati.]
[Quest selesai.]