NovelToon NovelToon
Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Pembalasan Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

​Diandra, seorang CEO tangguh, dikhianati oleh adik tirinya sendiri dan didorong dari lantai delapan hingga koma. Namun, maut belum menjemputnya. Jiwa Diandra terbangun di dalam tubuh Gia, seorang siswi SMA yang tewas setelah disiksa dan dibunuh oleh kekasihnya, Ferdian, beserta geng perundungnya.

​Terjebak dalam identitas baru yang rapuh, Diandra bersumpah akan menuntut balas. Ia tidak hanya akan menghancurkan Ferdian di sekolah, tapi juga merancang kejatuhan adik tirinya yang kini mengincar nyawa Pratama, suaminya sendiri.

​Tantangan terbesar Diandra bukan hanya kemiskinan Gia, melainkan meyakinkan Pratama bahwa jiwa istrinya ada di dalam tubuh gadis remaja tersebut. Di tengah skeptisisme sang suami, Diandra harus berpacu dengan waktu sebelum rencana pembunuhan berikutnya merenggut satu-satunya orang yang ia cintai.

​"Gia mungkin sudah mati, tapi Diandra baru saja dimulai."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Diandra membuka matanya, namun tidak ada lagi bau antiseptik, raungan sirene ambulans, ataupun rasa sakit yang menghantam dadanya.

Ia berada di sebuah ruang tanpa batas yang diselimuti kabut putih tipis yang tenang dan hangat.

Tempat ini terasa begitu damai, seolah-olah seluruh beban duniawi yang membelitnya telah diangkat.

Saat melangkah maju, Diandra melihat dua sosok sedang berdiri berdampingan tak jauh darinya.

Jantungnya berdesir hebat ketika mengenali siapa mereka.

Sosok pertama adalah Gia. Gadis remaja pemilik raga yang selama beberapa bulan terakhir ini ia pinjam.

Gia tampak sangat cantik, bersih dari noda jelaga maupun darah, mengenakan gaun putih polos dengan senyuman yang teramat tulus terukir di wajahnya.

Gia melangkah mendekat, lalu meraih kedua tangan Diandra.

"Kak Diandra..." ucap Gia, suaranya terdengar seperti alunan melodi yang menenangkan.

"Terima kasih. Terima kasih banyak karena Kakak sudah membantuku dan melindungiku selama ini, meskipun Ferdian sampai saat ini belum tertangkap."

Diandra menatap gadis itu dengan rasa bersalah yang mendalam.

"Gia, maafkan aku. Aku belum sempat menyeret Ferdian ke hadapan hukum untuk membayar apa yang dia lakukan padamu."

Gia menggelengkan kepalanya perlahan, senyumnya tidak pudar.

"Tidak apa-apa, Kak. Waktuku di dunia itu memang sudah habis sejak malam aku dipukul, diinjak-injak oleh Ferdian, dan dibuang ke sungai. Aku tahu takdirku memang hanya sampai di sana."

Gia menggenggam tangan Diandra lebih erat, memberikan kehangatan terakhir dari jiwanya.

"Tolong hiduplah dengan baik sebagai Diandra, Kak. Dan jika Kakak kembali nanti, tolong makamkan jasadku yang asli dengan layak. Ikhlaskan ragaku untuk sepenuhnya menjadi rumah barumu."

Diandra meraba dadanya yang mendadak sesak oleh rasa haru. Namun, sebelum ia sempat membalas ucapan Gia, matanya beralih pada sosok kedua yang berdiri di belakang gadis remaja itu.

Diandra terkejut bukan main. Napasnya tercekat dan dunianya serasa runtuh seketika.

"Mas Pratama?!"

Di sana, berdiri Pratama. Pria itu tidak lagi mengenakan jas mahal yang koyak ataupun perban yang berlumuran darah.

Ia berdiri tegap dengan kemeja putihnya, menatap Diandra dengan tatapan mata yang sangat teduh, namun sarat akan perpisahan.

"Kenapa kamu ada di sini, Mas?!" jerit Diandra, air matanya langsung tumpah di alam bawah sadar itu.

Kesadaran mengerikan menghantam benaknya: jika Pratama ada di tempat ini, artinya alat kejut jantung di ambulans tadi gagal, dan suaminya telah melintasi batas antara hidup dan mati.

Diandra berlari sekuat tenaga menembus kabut putih, menghambur ke pelukan Pratama.

Ia mencengkeram erat kemeja putih suaminya, menangis histeris seolah tak ingin melepaskan pria itu ke dalam keabadian.

"Tidak, Mas! Kamu tidak boleh ada di sini! Kembali, Mas!" mohon Diandra di sela tangisnya. Ia mendongak, menatap netra teduh Pratama dengan tatapan penuh keputusasaan.

"Perjuangan kita belum selesai. Mita masih berkeliaran, Ferdian belum membayar air mata Gia, dan aku tidak bisa hidup di dunia itu tanpamu! Jangan menyerah, Mas Pratama!"

Pratama tidak tampak panik. Pria itu justru tersenyum dengan sangat tulus—sebuah senyuman paling damai yang belum pernah Diandra lihat selama ini.

Ia mengangkat tangan tegapnya, menyentuh lembut pipi Diandra, menghapus air mata yang membasahi raga spiritual istrinya.

"Aku tidak pernah menyerah, Sayang," bisik Pratama, suaranya bergema lembut, menenangkan badai di dalam dada Diandra.

"Di mana pun kamu berada, di raga mana pun jiwamu menetap, aku akan selalu menemukan jalan untuk pulang ke pelukanmu. Sekarang, kembalilah."

Sebelum Diandra sempat mencerna kalimat itu, sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan mendadak turun dari langit-langit alam bawah sadar, memancar dengan daya tarik yang begitu kuat.

Cahaya itu menarik paksa jiwa Diandra, memisahkannya secara perlahan dari dekapan Pratama.

Diandra mengulurkan tangannya yang kian menjauh.

Di sudut lain, ia melihat jiwa Gia berdiri berdampingan dengan Pratama.

Gadis remaja itu tersenyum manis, lalu melambaikan tangannya perlahan sebagai tanda perpisahan terakhir.

Gia telah merelakan segalanya, bersiap melangkah menuju kedamaian yang hakiki.

Detak Jantung yang Kembali

JEDUG!!

"Satu kali lagi! Shock!"

Di dalam realitas ambulans yang berguncang hebat, petugas medis menghantamkan lempeng defibrillator ke dada Pratama untuk terakhir kalinya, tepat beberapa detik sebelum roda ambulans berhenti total di lobi darurat rumah sakit. Tubuh Pratama tersentak kasar.

Keheningan mencekam sempat merayap selama tiga detik yang terasa seperti keabadian. Diko menahan napasnya, air mata sudah menggenang di sudut matanya.

Bip...

Bip... bip...

Monitor EKG yang semula menampilkan garis lurus mendadak berbunyi.

Grafik digital itu mulai meliuk kembali, membentuk gelombang lambat namun konstan.

Pratama berhasil diselamatkan dari ambang kematian.

"Denyut nadi kembali! Pasien bernapas!" seru dokter lega.

Pintu ambulans dibuka paksa dari luar. Brankar Pratama langsung didorong dengan kecepatan penuh menerobos koridor, menuju ruang operasi darurat demi menangani infeksi luka bakar dan syok sistemik yang dideritanya. Namun, tim dokter segera menyatakan bahwa akibat trauma neurogenik yang teramat hebat, Pratama jatuh ke dalam kondisi koma dalam yang belum bisa diprediksi kapan ia akan sadarkan diri.

Di dalam ambulans yang kini mendadak sunyi, Diko masih mendekap raga remaja Gia. Dokter kedua segera memeriksa pupil mata dan denyut nadi gadis itu setelah stimulan terakhir disuntikkan.

Dokter itu menggelengkan kepalanya dengan wajah lesu, lalu menatap Diko.

"Raga pasien tidak merespons, Pak. Fungsi otaknya berhenti total. Kami kehilangan dia."

Diko terpaku.

Ia tidak tahu bahwa sesuai dengan wasiat yang diucapkan di alam bawah sadar beberapa saat lalu, jiwa Diandra telah sepenuhnya keluar dan meninggalkan raga Gia yang kini telah mengembuskan napas terakhirnya sebagai jasad yang damai.

Jiwa Diandra kini melayang di ambang hampa, ditarik oleh takdir mistis yang tidak bisa ia lawan.

Rumah pinjamannya telah runtuh, sementara suaminya terbaring koma.

Diandra harus kembali, namun pertanyaan besar kini membentang di hadapannya: ke mana jiwanya akan berlabuh jika raga Gia telah mati, sementara tubuh aslinya masih membeku di ruang bawah tanah.

Jauh di bawah tanah, di dalam sebuah ruang medis privat berspesifikasi tinggi yang dirahasiakan dari publik, jasad asli Diandra telah terbaring membeku selama lima tahun terakhir.

Ruangan bernuansa putih steril itu dijaga ketat oleh sistem keamanan berlapis dan tim dokter spesialis yang disumpah untuk menjaga rahasia terbesar Pratama Group.

Suasana yang biasanya hening itu mendadak pecah oleh kepanikan.

Bunyi alarm dari mesin pemantau tanda-tanda vital melengking nyaring, membelah ruangan.

"Dokter! Grafik EKG Ibu Diandra sempat datar total selama hampir tiga menit!" seru seorang perawat dengan wajah pucat, tangannya gemetar di atas papan kendali medis.

"Siapkan epinefrin! Lakukan—"

Bip! Bip! Bip-bip-bip!

Belum sempat dokter menyelesaikan perintahnya, monitor itu tiba-tiba melonjak drastis.

Grafik yang semula mati suri mendadak bergerak liar, memancarkan gelombang elektrik yang sangat kuat dan bertenaga.

Sinyal kehidupan itu kembali dengan daya dobrak yang luar biasa, seolah-olah ada sebuah entitas besar yang baru saja menghentak masuk ke dalam raga yang telah lama kosong tersebut.

Hahh!

Keajaiban medis terjadi. Setelah beberapa waktu membeku tanpa tanda-tanda kehidupan, dada Diandra tiba-tiba naik ke atas.

Ia menarik napas panjang pertamanya dengan rakus, memenuhi paru-parunya yang kaku dengan pasokan oksigen murni.

Bersamaan dengan helaan napas yang berat itu, jemari tangannya yang pucat perlahan bergerak.

Detik berikutnya, kelopak mata dari jasad asli Diandra bergetar, lalu terbuka perlahan.

Setelah diselimuti kegelapan koma, sepasang mata aslinya yang jernih dan sarat akan ketajaman itu akhirnya kembali melihat cahaya dunia.

Jiwa Diandra telah pulang ke rumahnya yang sesungguhnya.

Tidak lama kemudian, pintu baja ruang bawah tanah bergeser terbuka.

Tuan Bayu melangkah masuk dengan tubuh yang tampak jauh lebih tua dan lelah setelah melewati malam yang penuh darah di kantor dan gudang logistik.

Namun, begitu kakinya melangkah mendekati ranjang, pria tua itu seketika mematung.

Langkahnya terhenti, dan seluruh persendiannya terasa melosot runtuh.

Ia melihat putrinya—Diandra yang asli—sedang bersandar lemah pada ranjang medis yang telah dinaikkan, menatapnya dengan kesadaran penuh.

"Pa... Papa..."

Suara itu sangat lemah, parau, dan kering karena pita suaranya telah lama tidak digunakan.

Namun, Tuan Bayu tahu persis itu adalah nada suara putrinya yang asli, bukan lagi suara cempreng remaja milik Gia.

"Di-Diandra? Kamu bangun, Nak?!" Tuan Bayu menangis histeris.

Pria tua yang biasanya tegap memimpin korporasi itu kini berlutut di samping ranjang, menggenggam tangan Diandra dan menangis sesenggukan.

Antara tidak percaya dan rasa syukur yang luar biasa, air matanya membanjiri punggung tangan sang putri.

"Ini benar-benar kamu? Tuhan, keajaiban apa ini..."

Diandra merasakan matanya memanas, namun ia tidak punya waktu untuk merayakan kesembuhannya.

Ingatannya tentang kejadian di dalam ambulans beberapa saat lalu masih melekat sangat kuat.

Rasa sakit spiritual yang ia rasakan saat melepas Pratama masih membekas di dadanya.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Diandra mencengkeram balik tangan ayahnya.

"Pa, di mana Mas Pratama? Bagaimana kondisinya?"

Tuan Bayu menghentikan tangisnya. Ia mendongak, menatap mata putrinya dengan gurat kesedihan yang mendalam.

Ia menghela napas berat sebelum menjawab, "Suamimu, Pratama berhasil diselamatkan dari gudang itu, Diandra. Tapi lukanya terlalu parah. Dia mengalami syok hebat. Saat ini, suamimu masih belum sadarkan diri di ruang ICU rumah sakit atas. Dokter bilang... dia koma."

Deg.

Mendengar kenyataan pahit itu, Diandra memejamkan matanya rapat-rapat.

Air mata mengalir deras melewati pipinya yang tirus. Ia mengangkat kedua tangannya yang masih lemas untuk menutup wajahnya, meratapi takdir kejam yang kini berbalik menyiksa suaminya.

Pratama telah menunggunya selama lima tahun dalam kesetiaan, dan kini, saat dirinya terbangun, justru suaminya yang terbaring tak berdaya.

Namun, Diandra bukanlah wanita yang lemah. Ia menurunkan tangannya, menatap sang ayah dengan sorot mata yang penuh tekad mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

"Pa, antarkan aku ke rumah sakit. Sekarang," pinta Diandra, suaranya bergetar namun terdengar sangat tegas.

"Aku harus berada di sampingnya. Aku yang akan menunggunya bangun, seperti dia menungguku selama ini."

Tuan Bayu menatap kondisi fisik Diandra yang masih sangat rapuh dan kaku akibat atrofi otot selama koma.

Dokter di belakangnya sempat menggelengkan kepala, memberi isyarat bahwa ini terlalu berisiko.

Namun, melihat binar mata Diandra yang tidak bisa dibantah, Tuan Bayu akhirnya mengabaikan semua protokol medis.

Papa menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"Baik, Nak. Papa akan membawamu kepadanya."

Dengan hati-hati dan penuh kasih sayang, Tuan Bayu membopong tubuh putrinya yang baru saja sadarkan diri itu dari atas ranjang medis.

Bersama tim dokter yang bergegas menyiapkan kursi roda darurat, mereka membawa Diandra keluar dari ruang bawah tanah, bersiap menuju rumah sakit utama tempat Pratama sedang bertaruh nyawa.

Perang melawan Mita dan Ferdian mungkin belum usai, namun kini, Diandra akan menghadapinya dengan identitasnya yang asli.

1
Anne Soraya
lanjut
Tian Selli
lanjutannya mana ya
Tian Selli: judul nya apa?
total 2 replies
cici
seru kali smpek yg baca ikut panik tiap episode
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
my name is pho: iya kak 🥰
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjuttt
Asra
waah, makin menarik aja, next kak🙌💖
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Asra
semangat n ditunggu up nya lagi kak
my name is pho: siap kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!