NovelToon NovelToon
Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Titik Nadir: Menyesal Setelah Kau Buang

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Fluffy Dream

Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.

Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Ketukan dari Masa Lalu

Semburat fajar mulai merayap naik, cahayanya menerobos di sela-sela gedung pencakar langit yang menjulang di kawasan hunian elite Jakarta Selatan. Di kantor pusat Nadir Label, ritme kerja mulai berdenyut. Aroma kopi arabica yang baru diseduh berpadu apik dengan wangi kain premium khas butik, menyelimuti setiap sudut ruangan berkonsep minimalis modern tersebut. Para karyawan tampak sibuk berlalu-lalang sambil memegang tablet, bersiap menyongsong peluncuran katalog musim gugur yang akan segera dikirim ke beberapa butik rekanan di Paris dan Milan.

Di lantai dua, tepat di balik pintu kaca buram dengan papan nama kuningan bertuliskan Chief Executive Officer, Andini Larasati tengah duduk dengan tenang. Jemari lentiknya bergerak lincah di atas papan ketik laptop, memeriksa kembali draf akhir laporan keuangan kuartal pertama. Di sisi perangkat kerjanya, sebuah bingkai perak mungil memajang senyum hangat Farhan yang sedang menggendong Baby Nadir di taman rumah mereka—pemandangan sederhana yang selalu menjadi pemantik semangat bagi Andini sebelum berjibaku dengan rutinitasnya.

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan pintu yang agak terburu-buru membuyarkan konsentrasi Andini. Ia mendongak, merapikan sedikit blazer putih gading yang dikenakannya, lalu berujar singkat, "Masuk."

Pintu terbuka, menampakkan Sarah yang melangkah masuk dengan raut wajah yang sulit diartikan. Ada guratan kecemasan yang tertahan di balik kacamata tipisnya. Ia mendekap papan klip dengan erat di depan dada.

"Assalamualaikum, Bu Andini. Maaf saya harus mengganggu waktu Ibu sebentar," tutur Sarah dengan nada bicara yang sengaja ia rendahkan.

"Waalaikumsalam, Sarah. Ada apa? Sepertinya ada hal yang sangat mendesak," tanya Andini sembari melipat separuh layar laptopnya, memberikan perhatian penuh kepada asisten kepercayaannya itu.

Sarah melangkah mendekat, sempat menoleh sekilas ke arah pintu luar sebelum akhirnya berbisik, "Di lobi lantai dasar, ada seseorang yang memaksa ingin bertemu dengan Ibu. Resepsionis sudah mencoba menolak karena dia tidak punya janji temu resmi, tapi pria itu tetap bersikeras dan tidak mau beranjak sebelum bertatap muka langsung dengan Ibu."

Andini mengernyitkan dahi. Dalam dunia bisnis yang ia geluti, tamu tanpa janji adalah hal yang lumrah, namun reaksi Sarah yang sampai harus menemuinya ke ruangan menandakan bahwa tamu ini bukan orang biasa. "Siapa dia, Sarah? Rekan bisnis atau perwakilan agensi?"

Sarah menelan ludah, tampak ragu sebelum akhirnya menyebutkan sebuah nama yang sudah lama tidak bergema di ruangan itu. "Nama yang dia sampaikan kepada resepsionis adalah Reno, Bu. Mantan suami Ibu."

Seketika, suasana di dalam ruangan terasa membeku. Jantung Andini sempat berdegup kencang sesaat—bukan karena sisa cinta, melainkan karena memori lama yang secara refleks terpanggil oleh nama tersebut. Namun, ketenangan jiwa yang telah ia bangun selama bertahun-tahun bersama Farhan segera mengambil alih kendali emosinya. Wajah Andini tetap tenang; tak ada kepanikan, apalagi amarah yang meluap.

"Reno?" Andini mengulang nama itu dengan nada datar, seolah hanya menyebut nama orang asing yang kebetulan berpapasan di jalan. "Untuk urusan apa dia ke sini?"

"Penampilannya sangat berantakan, Bu. Jauh dari kesan rapi seperti di foto-foto majalah bisnis dulu. Dia terus memohon dan bilang kalau ini urusan hidup dan mati terkait Ibu Ratna," tambah Sarah, menyampaikan informasi yang ia terima dari laporan petugas keamanan di lantai bawah.

Andini menyandarkan punggungnya pada kursi kerja. Ia teringat berita di televisi dua hari lalu tentang kebangkrutan total keluarga mantan suaminya itu. Kini, lelaki yang dulu tega mengusirnya dengan pakaian seadanya di tengah malam, pria yang dulu memandangnya dengan tatapan hina seolah dirinya adalah pembawa sial, justru berdiri di lobi kantornya sendiri untuk mengemis waktu.

Andini sadar, jika ia menolak pertemuan ini, Reno mungkin akan berbuat onar di lobi yang bisa memancing perhatian karyawan atau bahkan media. Lagipula, Andini yang sekarang bukanlah sosok lemah yang bersembunyi di balik tangisan. Ia adalah seorang ibu, istri dari keluarga Al-Fatih, dan pemilik sah Nadir Label.

"Sarah, minta petugas keamanan untuk mengawalnya naik melalui lift belakang. Jangan biarkan dia lewat lobi utama agar tidak memicu desas-desus di kalangan karyawan. Bawa dia ke ruang pertemuan sekunder di sebelah ruangan saya," perintah Andini dengan suara tegas dan penuh wibawa.

"Baik, Bu. Segera saya laksanakan," jawab Sarah yang langsung merasa tenang melihat ketegaran atasannya yang tidak goyah sedikit pun.

Lima menit berselang, Reno melangkah masuk ke ruang pertemuan sekunder dengan langkah ragu. Dua orang petugas keamanan bertubuh tegap berjaga di depan pintu, memastikan tidak ada tindakan nekat yang membahayakan CEO mereka.

Reno mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan mewah tersebut. Dinding-dindingnya dihiasi sketsa desain busana kelas dunia, sementara furniturnya memancarkan kemewahan yang fungsional. Saat matanya menangkap sosok wanita yang duduk di balik meja kaca besar, napas Reno seolah tertahan di tenggorokan.

Di hadapannya, duduk seorang Andini Larasati yang tampak begitu memukau. Kulit wajahnya bersih tanpa cela, tatapan matanya tajam namun menyejukkan, serta aura kepemimpinan yang terpancar dari caranya duduk tegak. Tidak ada lagi sisa-sisa wanita lemah berwajah kuyu yang dulu sering ia bentak. Andini di depannya kini adalah seorang ratu di atas takhtanya sendiri.

Reno tertunduk, menatap bayangannya sendiri pada permukaan meja kaca. Kemejanya kusut, sepatunya berdebu, dan tangannya bergetar. Perbedaan kasta di antara mereka kini telah berbalik seratus delapan puluh derajat.

"Silakan duduk, Reno," suara Andini terdengar jernih memecah keheningan. Ia bahkan tidak lagi menggunakan sapaan "Mas", sebuah batasan tegas yang menarik garis pembatas sangat tebal antara masa lalu dan masa kini.

Reno duduk di kursi kulit yang empuk, namun ia merasa seolah sedang duduk di atas bara api. Ia meremas kedua telapak tangannya sendiri, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang sudah runtuh.

"Andini... apa kabarmu?" tanya Reno dengan suara serau dan bergetar, sangat kontras dengan suaranya yang dulu selalu menggelegar penuh kesombongan.

"Seperti yang kamu lihat, saya sangat baik dan bahagia," jawab Andini lugas, tanpa basa-basi yang tidak perlu. "Saya tidak punya banyak waktu luang hari ini karena jadwal rapat yang padat. Jadi, langsung saja. Ada urusan apa kamu datang ke kantor saya?"

Reno menelan ludah yang terasa kering. Sambutan dingin Andini membuat rangkaian kata manis yang sudah ia susun sejak semalam mendadak menguap. Namun, bayangan ibunya yang terbaring lumpuh di atas kasur lantai di kontrakan sempit kembali membakar kenekatannya.

Reno memajukan tubuhnya, memasang wajah paling merana dan membiarkan matanya berkaca-kaca demi memancing iba dari wanita yang ia duga masih berhati lembut itu.

"Ndin... aku tahu aku tidak tahu diri datang ke sini setelah semua kesalahan besar yang kulakukan padamu," ujar Reno dengan suara yang sengaja dibuat bergetar menahan tangis. "Aku benar-benar menyesal, Ndin. Setiap malam aku dihantui rasa bersalah karena telah menyia-nyiakan wanita sebaik kamu. Aku sadar, hancurnya bisnisku saat ini adalah bentuk hukuman atas apa yang kulakukan padamu..."

Andini bergeming. Ia menyimak untaian penyesalan itu dengan ekspresi datar, seolah tengah menonton aktor yang sedang membacakan naskah drama murahan. Tak ada binar kesedihan atau rasa tersanjung sedikit pun melihat mantan suaminya bersujud meminta maaf.

Melihat Andini yang tak bereaksi, Reno semakin mendramatisasi keadaan. Ia bahkan sampai setengah berlutut di samping meja kerja Andini, menyatukan kedua tangannya di depan dada.

"Ndin, demi hubungan pernikahan kita bertahun-tahun yang lalu... aku memohon belas kasihanmu hari ini. Ibu... Ibu Ratna sekarang terkena serangan stroke parah karena syok rumah kami disita bank. Beliau lumpuh total di rumah kontrakan kecil, Ndin! Kami tidak punya uang sepeser pun untuk membeli obat atau membiayai terapi fisiknya. Rekeningku diblokir..."

Air mata Reno akhirnya menetes, membasahi pipinya yang kuyu. "Aku tidak meminta harta untuk diriku sendiri, Ndin. Aku rela hidup menderita. Tapi tolong, kasihanilah Ibu. Pinjamkan aku beberapa ratus juta untuk biaya pengobatan Ibu. Aku janji akan mencicilnya seumur hidup... Tolong, Ndin, hanya kamu satu-satunya harapan kami saat ini..."

Andini menatap pria yang bersujud di samping mejanya itu dengan pandangan mendalam. Di lubuk hatinya, terselip rasa miris—bukan karena kasihan pada kondisi Reno, melainkan miris melihat bagaimana kesombongan manusia bisa merendahkan derajat dirinya sedalam itu ketika harta duniawi dicabut oleh Sang Pencipta.

Andini menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu bangkit dari kursi kebesarannya. Ia melangkah satu langkah menjauh dari posisi Reno, menjaga jarak aman yang penuh wibawa formalitas.

"Reno, berdirilah. Jangan merendahkan dirimu lebih jauh lagi di ruangan ini," suara Andini mengalun pelan, namun mengandung kekuatan yang menekan ego Reno hingga ke dasar.

Reno mendongak dengan secercah harapan di matanya. Ia mengira isak tangisnya telah berhasil menyentuh sisi emosional Andini. Namun, kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir Andini Larasati seketika meruntuhkan seluruh harapan palsu tersebut, sekaligus menegaskan bahwa benteng pertahanan seorang ratu tak akan pernah bisa ditembus oleh manipulasi murahan dari masa lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!