NovelToon NovelToon
Aku Ternyata Putra Kaisar Wanita Dinasti Zhou

Aku Ternyata Putra Kaisar Wanita Dinasti Zhou

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Sistem / Mengubah sejarah
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: RRS

Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Samudera yang Bergejolak dan Karunia Tak Terbatas

​16 Juli 700 Masehi

​Sinar matahari pagi di pesisir utara Jawa terasa hangat, namun angin laut mulai bertiup kencang, membawa aroma garam yang tajam. Di teluk tersembunyi yang masih sunyi, Superyacht 32 meter milik Yudi tampak seperti permata perak yang kontras dengan latar belakang hutan bakau yang hijau pekat. Yudi berdiri di tepi pantai, menatap ombak kecil yang menjilat ujung sepatunya.

​Perjalanannya di Mataram Kuno memberikan kesan tersendiri, namun kerinduannya pada cakrawala biru kembali memanggil. Galuh, sang budak yang kini lebih mirip pengawal pribadi, sibuk mengikat sisa-sisa perbekalan segar yang mereka beli dari pasar desa kemarin. Meskipun Galuh sudah terbiasa dengan kemewahan interior yacht, ia tetap menjaga kewaspadaannya. Crossbow modern tersampir di punggungnya, dan Combat Knife hitam legam terikat di paha kanannya.

​Saat Yudi bersiap untuk naik ke atas kapal, tiba-tiba sebuah sensasi dingin merayapi tengkuknya. Layar semi-transparan sistem yang sudah lama tidak ia hiraukan muncul secara mendadak di hadapannya.

​[Pemberitahuan: Deteksi Keberlangsungan Hidup Host...]

[Mengingat ambisi Host untuk mengarungi samudera tanpa batas, Sistem memberikan Hadiah Logistik Tambahan.]

​[Hadiah: Makanan dan Minuman Tanpa Batas (Infinity Consumables)]

Seluruh kompartemen penyimpanan pada kendaraan sipil maupun militer kini terhubung dengan gudang dimensi khusus. Host tidak akan pernah kekurangan bahan makanan segar, air minum murni, maupun hidangan mewah dari berbagai era. Persediaan otomatis terisi kembali saat digunakan.

​Yudi tertegun sejenak. Ia tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Tanpa batas? Jadi aku bahkan tidak perlu memikirkan berapa banyak karung beras yang harus kubawa lagi?"

​Ia melangkah masuk ke dalam dapur (galley) yacht. Saat ia membuka lemari pendingin, ia melihat deretan daging wagyu, buah-buahan segar yang seolah baru dipetik, dan botol-botol minuman yang tersusun rapi. Begitu ia mengambil satu botol, ruang kosong itu seketika terisi kembali oleh botol baru seolah-olah ditarik oleh sihir.

​"Galuh! Berhenti memuat barang-barang itu," teriak Yudi dari jendela kabin. "Buang saja atau berikan pada penduduk desa di sana. Kita sudah tidak membutuhkannya lagi."

​Galuh bingung, namun ia patuh. Ia menyerahkan beberapa karung umbi-umbian kepada petani lokal yang kebetulan lewat, lalu segera melompat naik ke dek belakang yacht. Dengan satu perintah mental, mesin yacht menderu halus. Getarannya hampir tak terasa, namun kekuatannya mendorong kapal itu membelah air dengan anggun.

​"Kita berangkat, Galuh. Tujuan kita: Jantung Srivijaya!"

​Di Belahan Laut Jawa yang Lain

​Di saat yang hampir bersamaan, armada besar Dinasti Zhou sedang meluncur dengan kecepatan penuh di bawah komando Maharani Wu Lin. Puluhan kapal kayu raksasa dengan layar merah bergambar naga emas membentuk formasi yang menakutkan bagi siapa pun yang melihatnya. Di tengah kapal induk, ketegangan terasa sangat kental.

​Maharani Wu Lin duduk di singgasana geladaknya, matanya sembab namun sorotnya tetap tajam. Di sampingnya, Yue Qing sedang memeriksa peta pelayaran dengan teliti.

​"Lapor, Yang Mulia!" seorang perwira pengintai berlutut dengan tergesa-gesa. "Di arah pukul dua, kami menemukan puing-puing. Sepertinya sebuah perahu kecil baru saja terbalik karena dihantam ombak besar."

​Wu Lin segera berdiri. "Apakah ada tanda-tanda kehidupan? Apakah itu putraku?"

​Hati sang Maharani selalu berdegup kencang setiap kali ada laporan tentang kapal karam. Dalam pikirannya yang kalut, ia selalu membayangkan Yudi sedang berjuang melawan maut di atas perahu kayu yang rapuh.

​Kapal induk Zhou melambat saat mendekati puing-puing tersebut. Di antara pecahan kayu yang terapung, terlihat seorang pria muda sedang berpegangan pada sebilah papan. Rambutnya basah kuyup, wajahnya pucat karena kedinginan.

​"Angkat dia!" perintah Wu Lin dengan suara bergetar.

​Para prajurit segera menurunkan jaring dan mengangkat pemuda itu ke atas geladak. Wu Lin berlari mendekat, diikuti oleh Yue Qing yang tangan kanannya diam-diam meraba gagang kipas bajanya—senjata rahasianya. Namun, begitu wajah pemuda itu terlihat jelas di bawah sinar matahari, bahu Wu Lin merosot lemas.

​Pemuda itu bukan Yudi. Wajahnya kasar, kulitnya gelap karena terbakar matahari pesisir, dan ia jelas seorang nelayan lokal yang malang.

​"Bukan dia..." bisik Wu Lin kecewa. "Berikan dia makanan dan turunkan dia di pelabuhan terdekat."

​Yue Qing menatap pemuda malang itu dengan iba, namun pikirannya segera kembali pada tugas rahasianya. Ia memberikan instruksi singkat kepada bawahannya melalui isyarat tangan. Shadow Phoenix harus bekerja lebih keras. Jika pangeran benar-benar berada di lautan ini, mereka seharusnya sudah menemukan jejaknya.

​"Yang Mulia," Yue Qing mendekati Wu Lin dan menyentuh bahunya dengan lembut. "Lautan ini luas, namun berkat agama Hindu yang menyatukan kita dengan kerajaan-kerajaan di selatan, semua mata akan menjadi mata kita. Jika Pangeran ada di Nusantara, ia tidak akan bisa bersembunyi selamanya."

​Wu Lin mengangguk lemah. "Lanjutkan perjalanan ke Srivijaya. Raja Srivijaya berhutang banyak pada Dinasti Zhou. Aku akan meminta bantuannya untuk mengaduk setiap jengkal lautnya."

​18 Juli 700 Masehi

​Jauh di depan armada Zhou, Superyacht Yudi sedang membelah Selat Karimata menuju perairan Sumatera. Kecepatan yacht itu mencapai 35 knot, jauh melampaui kapal layar mana pun di abad ke-8. Di dalam ruang kemudi yang sejuk oleh AC, Yudi duduk santai di kursi kulit kapten sambil menikmati segelas jus jeruk dingin yang disediakan sistem secara cuma-cuma.

​Galuh berdiri di dek luar, menatap laut lepas dengan kagum. Ia tidak pernah membayangkan ada kapal yang bisa bergerak tanpa layar, bahkan melawan arah angin sekalipun. Di pinggangnya, Combat Knife hitam itu memberikan rasa aman yang baru.

​"Tuan," Galuh masuk ke ruang kemudi dengan wajah penuh hormat. "Lautan di depan mulai terlihat berbeda. Warna airnya lebih gelap dan banyak kapal dagang kecil di kejauhan."

​Yudi melirik layar radar sipil yang terpasang di dasbor. Titik-titik kuning mulai bermunculan di radar. "Itu artinya kita sudah memasuki wilayah pengaruh Srivijaya. Kerajaan maritim terbesar di zaman ini."

​Yudi menyesuaikan setelan kacamata hitamnya. Ia tidak berniat menyembunyikan kapalnya. Jika ia ingin mencari tahu tentang ibunya, atau sekadar ingin dikenal, ia harus menunjukkan kekuatannya. Srivijaya adalah tempat yang tepat untuk itu.

​"Siapkan senjatamu, Galuh. Bukan untuk menyerang, tapi untuk berjaga-jaga. Kita tidak tahu bagaimana sambutan 'polisi laut' Srivijaya saat melihat istana terapung kita," perintah Yudi.

​Kapal mewah itu terus melaju, meninggalkan buih putih panjang yang memotong arus sejarah. Di satu sisi, sebuah armada kekaisaran kuno sedang mencari dengan penuh air mata, sementara di sisi lain, seorang pemuda dari masa depan datang membawa teknologi yang akan meruntuhkan segala logika yang ada di dunia tahun 700 Masehi.

​Dua kekuatan besar sedang menuju titik yang sama: Srivijaya. Dan ketika mereka bertemu, dunia takkan pernah sama lagi.

1
anggita
ikut dukung like👍, iklan☝☝aja, moga novelnya lancar.
Aisyah Suyuti
good
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semua kedua itu thor
Fajar Fathur rizky
update yang banyak thor bikin mcnya membuat Kekaisaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!