NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu bulanan

Saat itu, bel pulang sekolah telah berbunyi. Lily dengan malasnya berjalan menuju parkiran mobil sekolah. Lalu masuk kedalam mobil dengan terus-menerus menggerutu. Ya, karena ulah bodyguardnya itu yang tidak mengizinkannya untuk mengunjungi perpustakaan besar di kota.

"Bang! Nyetirnya agak kebutan dikit napa! Pelan banget si!" Ketusnya sembari memalingkan wajah pada luar kaca mobil. Lalu tanpa bicara, sang bodyguard yang menyetir pun langsung menancapkan gas mobilnya kencang hingga Lily terguncang hebat.

"Oi gak gini juga kali!" Lily terus-menerus merutuki bodyguardnya yang rada-rada nyebelin itu.

Tak lama kemudian, Lily pun tiba dihalaman rumahnya. Ia menatap bodyguard yang membukakan pintu mobil untuknya dengan tegap. Sedangkan penampilan Lily sendiri sudah tidak karuan lagi. Rambutnya berantakan dan bajunya nampak kusut.

"Apa yang terjadi?" Tanya Zevan menghampiri kedatangan mereka.

"Kak! Aku gak mau bodyguard! Liat! Aku sangat tertekan kak!" Rengeknya sembari menghentakan kakinya pelan ke tanah.

Zevan memandangi Lily dengan ragu. Namun akhirnya ia pun mengangguk setuju.

"Oke, kalian semua boleh pergi" Ujar Zevan yang langsung dipatuhi ketiga bodyguard itu.

"Aku malu! Diketawain satu sekolahan! Diomongin anak manja lah! Aku gak suka!" Marahnya lagi.

"Oke, maafin gue. Sekarang lo buruan makan siang, gue udah masak"

"Hah?! Kak Zevan bisa masak?! Emang kak Zevan gak kuliah ya?" Heranya.

"Libur dulu"

Selalu saja dingin. Kenapa logat bicara Zevan seperti orang yang terpaksa bicara? Seakan itu mengeluarkan banyak energi.

"Kak, um... Bisa..."

Drrtt

Drttt

Drtt

Handphone Zevan bergetar. Lalu ia pun mengangkatnya dan memberi isyarat kepada Lily untuk diam dulu.

"Ya, hallo?" Zevan berjalan menjauh dari Lily. Siapa itu, pikir Lily kepo. Tak biasanya Zevan mendapat panggilan. Apa mungkin dari Seyra? Tokoh protagonis utama perempuan?

"Apa? Tadi mau ngomong apa?" Tanya Zevan dengan masih sibuk mengetik pesan diponselnya.

"Gak jadi" Lily pun berjalan menuju kamarnya.

"Ya, ada apa lagi?" Zevan menerima panggilan lagi. Entah kenapa Lily kesal, malah jadi bad mood mau ngurusin akun tik toknya yang kena hack itu.

"Ck!! Ini gimana yaa padahal sayang banget udah banyak followers nya!! Mana banyak endors masuk belum di urusin lagi" Lily membanting handphonenya ke kasur.

"Hah! Enaknya ngapain ya?" Pikirnya termenung sembari merebahkan tubuhnya keranjang. Ia menatap langit-langit kamarnya yang polos.

"AHA!! Hias kamar!" Riangnya lalu beranjak dan membuka laci meja samping ranjangnya.

"Gunting ada... Pita ada... Lemnya ada... Kapas juga ada... Okei siap! Tinggal buat yey!" Lily mengeluarkan semua barang yang ia temukan dilacinya.

"Eh kalo sambil ngevlog fyp gak yaa" Pikirnya. Memang cita-cita Dayna yang dulu adalah menjadi influencer. Seorang vloger YouTube dan tik tokers berkelas.

"Lily" Zevan membuka pintu kamarnya tanpa permisi.

"Ish kak! Kalo mau masuk kamar orang ketuk dulu napa!" Kesalnya pada tingkah laku Zevan yang tidak pernah berubah.

"Up to me" Ujarnya tak peduli. Ia berjalan masuk kedalam dan duduk disampingnya melihat apa yang akan dilakukan Lily.

"Ngapain kak? Sanaa aku mau bikin hiasan kamar! Jangan ganggu hus!" Usirnya karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan Zevan.

"Pengen disini" Ucapnya datar lalu bermain ponsel.

"Kak Zevan punya akun tik tok gak?" Tanya Lily yang berhasil membuat Zevan menatapnya tajam.

"Lo bikin akun tik tok?!"

"Eh... E-engga kok! Aku... Cuman nanya kak Zevan aja hehe" Lily merasa sedikit takut saat melihat reaksi Zevan yang terlihat marah.

"Jangan sampe lu bikin ulah lagi, jangan kasih informasi apapun di sosmed, semuanya harus palsu" Ujarnya sembari terus mengetik sesuatu diponselnya.

"Kak Zevan lagi wa-an ya?"

"Hah? Wa? Gue gak punya wa" Jawabnya santai.

"Terus kak Zevan ga main sosmed? Aplikasi BBM? Facebook?" Kepo Lily lalu melihatnya.

"Gue gak punya aplikasi begitu. Lo tau kan gue kalo hubungin lo kalo ga sms ya telpfon langsung? Gue adanya Telegram" Zevan menjauhkan ponselnya dari Lily yang hendak mengintip isi ponselnya.

"Pemain tele toh" Cibirnya dengan memajukan bibirnya. Ia pun mengalihkan pandangannya pada gunting dan bahan-bahan lainya.

"Kak, cariin tur-turial hiasan kamar dong, please!" Ucap Lily sambil memohon dengan kedua tangannya memegang pada lengan kekar Zevan. Matanya berkedip-kedip manja dan bibirnya melengkung membentuk senyuman yang manis.

"Ck, ngomongnya yang bener dulu" Ketus Zevan yang langsung memalingkan wajahnya dari Lily karena merasa gemas sendiri.

"Isss! Itu lho kak kayak apa yaa, humm... aku lupa! Itu lhoo kak..."

"Tutorial! Bukan tur-turial" Zevan pun memberikan ponselnya yang sudah menayangkan vidio tutorialnya.

"Nah cakep! Kak Zevan peka bet dah! Mantap!" Lily tersenyum lebar dan mengacungkan jari jempolnya pada Zevan.

"Hp kamu mana?" Tanya Zevan yang membuat Lily langsung terdiam.

"Hp aku... Um, ah! Lagi dicas hehe" Jawabnya sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.

"Gue mau ada urusan dulu, jangan keluar kalo bukan untuk hal penting oke!"

"Siap kak tenang aja!" Jawab Lily dengan sedikit tidak memperhatikannya.

"Oke, gue harap lo gak lupa pada apa yang akan terjadi sama lo jika ngelanggar ucapan gue" Ujarnya kemudian pergi.

Lily sedikit tidak mengerti dengan apa yang dibicarakannya. Namun ia memilih mengangkat bahunya tidak peduli dan melanjutkan menonton.

Beberapa jam kemudian

"Duh kok perut Lily sakit banget ya? Kayak mules-mules gitu, aduh aduh! Kok kayak ada yang keluar dari... " Lily segera berlari menuju kamar mandinya.

"AAA DARAH!" Teriaknya dari dalam kamar mandi.

•••••

Dengan wajah menahan sakit, seorang gadis cantik dengan tampilan seadanya berjalan pelan dari lorong ke lorong disebuah supermarket besar. Ia jadi bingung sendiri untuk mencari barang yang ia butuhkan. Emosinya menjadi tidak stabil. Seperti ingin marah tapi entah kenapa. Ditambah lagi perutnya yang semakin lama semakin sakit. Rasanya ia ingin menangis saat itu juga.

"Ah itu dia!" Lega nya saat melihat benda yang ia butuhkan. Ia pun segera berjalan menuju tempat itu.

"Ih kok tinggi-tinggi, sih?!" Ia menggerutu kesal saat mendapati benda yang dicarinya berada dirak kedua paling atas. Ini si mamang tukang nyimpenin barangnya sengaja atau gimana si?! Udah tau cewek kan gak tinggi-tinggi kayak cowok?! Mau sambil modus kali ya?! Geramnya lalu memikirkan cara mendapatkan benda itu.

"Ah tau lah! Bodo amat kalo raknya roboh!" Ia pun hendak menggoyang-goyangkan raknya.

"Eh-eh lo ngapain!" Seseorang menahan tangannya yang sedang mengayun rak. Gadis cantik itu mengerjap, aroma mint tiba-tiba semerbak menyengat ke hidungnya. Ia pun menoleh cepat kebelakang.

"Austin?!" Kagetnya saat mendapati jarak mereka sangat dekat, bahkan nyaris tidak berjarak. Austin tersenyum kecil melihat wajah gadis cantik didepannya yang telah memerah seperti kepiting rebus.

"Lo ngapain sih goyangin raknya? Mau ambil itu, ya?" Tanya Austin dengan jahil. Gadis itu memukul bahunya refleks.

"Ish sembarangan!"

"Tapi bener kan? Sini gue ambilin" Austin pun meraih benda itu dan menyerahkannya pada gadis didepannya yang tertunduk malu.

"Ini, kurang?" Austin semakin menggodanya.

"Udah, makasi kak!" Gadis itu pun segera pergi meninggalkan Austin yang masih terdiam.

"Eh ucapan makasihnya gak diterima!" Austin berlari menyusulnya.

"Lily! Gue mau kita dinner malam ini!" Teriaknya membuat langkah Lily terhenti. Lantas ia menoleh ke belakang dengan bingung. Dinner? Bukankah pertemuan mereka baru satu kali? Cukup aneh cara Austin dalam mendekatinya ini. Dia tertarik pada pandangan pertama atau sebenarnya ada sesuatu yang dia inginkannya darinya?

"Dinner sama aku kak? Emangnya kita ada hubungan apa ya? Maaf ya kak, aku bukannya gimana-gimana... Tapi, kita baru ngobrol satu kali dan itu waktu aku di hukum. Aku ngerasa kita belum seakrab itu buat dinner" Jawabnya membuat Austin tersenyum miring. Gadis di depannya ini jadi berbeda. Bukannya dulu dia yang mengejar-ngejar perhatiannya? Kenapa sekarang dia nampak tak peduli?

"Oh yah?" Austin menatap Lily seolah sedang mengejek. Dia menyadari bahwa Lily mungkin tidak sepolos dugaannya.

"Aku pamit duluan ya kak!" Lily pun melanjutkan perjalanannya.

"Gue gamau tau ya! Nanti jam 8 malem gue bakalan dateng ke rumah lo! Jangan lupa siap-siap!" Teriaknya yang sama sekali tak di hiraukan Lily. Ia tertawa pelan saat melihat sang gadis melenggang pergi meninggalkannya begitu saja. Bisa-bisanya dia mengabaikan laki-laki terpopuler di sekolahnya itu.

'Apaan banget si Austin itu... Sok kegantengan pula! Nyari gara-gara mulu' Batin Lily dengan kesal karena merasa perutnya semakin sakit.

Sesampainya di rumah, Lily di sambut oleh Zevan dengan muka masam. Ia berdiri di bibir pintu rumahnya dan berekspresi seolah meminta sebuah penjelasan.

"Kak, aku udah beli pembalut. Ini sakit banget perut aku. Aku mau ke toilet dulu" Jelasnya yang membuat sang empu menaikan satu alisnya bingung. Pembalut? Apa adiknya ini sedang pms?

"Lo sih gak makan. Tadi udah di bilangin makan juga. Kan jadi sakit perut" Kesalnya karena masakannya di anggurin.

"Oh, aku lupa kak. Nanti aku makan kok! Sekarang aku pengen sendiri dulu ya!" Ujarnya lalu buru-buru naik ke kamarnya yang berada di lantai atas sambil memegangi perutnya yang sakit.

Di bawah, Zevan hanya membuang nafasnya kasar. Kenapa mengurus anak kelinci sulit sekali baginya di bandingkan membunuh seekor serigala?

•••••••

Beberapa saat kemudian, terlihat Zevan menaiki tangga menuju ke kamar Lily dengan nampan yang berisi nasi dan lauk pauknya. Tak butuh mengetuk pintu, ia masuk ke dalamnya begitu saja.

"Ih kak! Kebiasaan deh!! Kan aku udah bilang kalo mau masuk kamar tuh ketuk dulu!!" Kesalnya yang ternyata sedang mau memakai baju. Ia menutupi tubuhnya dengan baju yang hendak dipakainya.

Bukannya merasa bersalah, Zevan malah dengan santainya duduk di sofa kamar Lily. Ia dengan tidak tahu malunya memperhatikan Lily yang sedang menutupi tubuhnya dengan sehelai kaos putih pendek yang belum dipakainya.

"Kak! Ih!! Keluar ga! Nanti bintitan tuh mata, jadi jelek deh"

Seolah tak menghiraukan ucapan Lily, Zevan malah semakin sengaja menatap Lily dengan lebih intens. Di dalam pikirannya, ia tak menyangka telah hidup bersama dengan orang yang di bencinya dahulu hingga ia sekarang gadis itu punya rasa malu. Biasanya Lily tidak tahu malu.

"Pake aja" Ucapnya yang membuat Lily membulatkan matanya. Apa katanya?! Pake aja?! Kakaknya ini pasti sedang tidak waras! Tanpa pikir panjang Lily melemparkan bantal padanya dengan cukup keras hingga bantal itu mengenai wajah Zevan dengan sempurna.

"Ops...." Lily menutup mulutnya tak percaya karena lemparannya akan setepat sasaran itu. Niatnya hanya melempar bantal itu ke hadapannya saja.

"Hm...." Terdengar geraman nafas dari Zevan begitu berat. Sepertinya dia akan mengamuk, pikir Lily yang mulai takut. Kakaknya ini tak di sangka begitu mesum.

"Eh...." Lily memundurkan tubuhnya panik saat Zevan beranjak dari duduknya dan berjalan pelan ke arahnya. Ia memundurkan tubuhnya hingga mendekat ke pojokan dinding karena Zevan terus mendekat. Meskipun Lily tahu Zevan kakaknya, tapi status mereka adalah saudara tiri.

"Heh? Lo gak sepolos itu rupanya" Katanya sambil tersenyum mengejek saat melihat sikap panik Lily.

'Ini tuh bukannya kagak polos lagi ege! Tapi waspada!' Batin Lily dengan terdiam tidak ingin merespon dulu.

Zevan semakin mendekatinya dan ia pun diam berdiri dihadapan Lily yang masih memakai tanktop dan rok pendek.

"Tadi ngobrol sama siapa di supermarket?" Tanyanya sambil menyentuh dagu Lily dan menatapnya tajam. Entah mengapa Zevan melakukan hal itu. Mungkin agar terlihat keren?

"Hah? Apa?" Lily gelagapan karena merasa terpojok. Ia tidak nyaman dengan posisinya yang saat ini. Tatapan Zevan begitu menusuk hingga rasanya sampai ke ulu hatinya.

"Lo tau sendiri kan? Gue lebih suka anjing yang penurut" Katanya lagi sambil mengusapkan jari telunjuknya ke pipi bulat nan halus bagai porceline Lily.

'Anjing? Makasudnya dia nganggap aku sebagai peliharaannya atau bagaimana?!' Batinnya kesal bercampur sakit hati. Sedingin itu kah hati Zevan?

"Kalo lo ga nurut sama gue, lo tau sendiri kan akibatnya?" Ucapnya sambil tersenyum manis dengan tangan yang berada di leher Lily. Ia akan membunuhnya maksudnya? Apa hidup Lily hanya untuk menjadi bonekanya orang biadab ini?! Pikir Lily merasa sedih.

"Jangan keluar lagi, atau tanggung konsekuensinya" Zevan pun pergi meninggalkan Lily yang masih diam mematung. Zevan sedikit melirik ke arah Lily memperhatikan reaksi sang empu yang terlihat sedang tertekan.

'Bagaimana rasanya? Tersiksa bukan?' Batinnya dengan hati yang senang karena kini perasaan buruknya karena melihat gadis itu mengobrol dengan pemuda lain akhirnya hilang.

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!