Safa adalah gadis cantik nan penurut yang tampaknya selalu dimusuhi takdir. Sejak kecil, ia tak pernah mencecap manisnya kasih sayang keluarga, bahkan dari ibunya sendiri. Kesalahan di masa lalu yang bukan kehendaknya membuat Safa dilabeli sebagai "anak pembawa sial" dan dibenci seumur hidup. Puncaknya, ia dipaksa menikah dengan seorang kakek demi menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris bangkrut.
Namun, kenyataan tak seburuk dugaannya. Sang kakek ternyata hanya perantara, ia mencarikan istri untuk cucu laki-lakinya yang bertemperamen kaku, cuek, dan dingin. Di rumah barunya, Safa yang terbiasa disisihkan justru mulai merasakan hangatnya kasih sayang dari keluarga sang suami yang memperlakukannya dengan sangat baik. Sayangnya, benteng es di hati suaminya sendiri tetap tak tergoyahkan.
Mampukah Safa memenangkan hati pria yang menikahinya hanya karena amanah sang kakek? Ataukah pernikahan "titipan" ini akan hancur dan berakhir dengan perceraian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uswatun Kh@, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Hari Pertama Magang
Pembagian tempat magang akhirnya diumumkan. Safa dan Farah hanya bisa pasrah saat menyadari mereka harus ditempatkan di lokasi yang berbeda. Kebersamaan mereka di kampus kini harus terjeda oleh tuntutan profesionalisme.
Pagi itu, semburat mentari mulai mengintip di cakrawala. Safa sibuk di dapur, menyiapkan bekal dan sarapan untuk suaminya. Di atas meja, tumis kangkung dan cah daging sudah tertata rapi, bersanding dengan segelas jus jeruk dan susu hangat. Meski perhatian kecil itu tetap ada, suasana di antara mereka justru semakin membeku.
Belakangan ini, Safa lebih banyak diam. Jika malam tiba, ia memilih menenggelamkan diri di depan layar laptop, sementara Arlan asyik dengan ponselnya. Arlan pun sering pulang larut malam, namun Safa enggan bertanya. Ia tak ingin memicu amarah pria itu, sadar sepenuhnya bahwa pernikahan ini hanyalah mandat dari sang kakek.
Langkah kaki Arlan terdengar menuruni tangga. Safa hanya melirik sekilas sebelum kembali fokus pada makanannya.
"Ini hari pertamamu magang, kan? Mau aku antar?" tanya Arlan memecah kesunyian.
"Tidak usah, Mas. Aku bisa berangkat sendiri," sahut Safa datar.
Arlan mengernyit. "Kenapa? Kalau Kakek tahu aku membiarkanmu berangkat sendiri, aku bisa kena omel."
"Mas tidak perlu khawatir. Kita sudah tidak serumah dengan Kakek, beliau tidak akan tahu," balas Safa dingin sembari bangkit membawa piring kotor ke wastafel.
Keputusan Arlan untuk pindah dari rumah kakek sebenarnya demi kenyamanan Safa, mengingat jarak ke kampus yang cukup jauh. Ia memilih sebuah rumah bergaya klasik minimalis di kompleks perumahan yang tenang dengan taman yang luas. Namun, rumah baru itu ternyata belum mampu menghangatkan hubungan mereka.
Safa menyampirkan tas dan meraih bekalnya. "Aku berangkat sekarang."
Lagi-lagi, Safa pergi tanpa mengecup tangan Arlan. Ritual yang perlahan menghilang itu meninggalkan rongga kosong di hati Arlan. Ia hanya bisa menatap punggung istrinya dengan bingung.
"Kenapa sikapnya berubah drastis?" gumamnya lirih.
🍃🍃🍃
Bus berhenti di halte terakhir. Safa turun dengan tergesa, lalu berjalan beberapa meter hingga langkahnya terhenti di depan sebuah gedung pencakar langit.
Sebuah logo besar bertuliskan "Kusuma Media Utama" terpampang gagah. Safa sempat merasa familiar dengan nama itu, namun ia segera menepis pikirannya dan melangkah masuk.
Suasana lobi begitu megah dan sibuk. Orang-orang berpakaian rapi hilir mudik dengan raut wajah penuh konsentrasi. Setelah mengurus administrasi di HRD dan mendapatkan kartu identitas sementara, Safa diantar menuju divisi editor, tempat yang sangat sesuai dengan jurusannya, Sastra.
Di sana, lima orang mahasiswa magang sudah berjejer rapi. Tiga laki-laki dan dua perempuan, termasuk Safa. Mereka saling melirik dalam diam, terpesona melihat kecanggihan ruang kerja di sekeliling mereka.
"Kalian tunggu di sini. Manajer akan segera datang," instruksi seorang staf.
Tak lama kemudian, suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar mendekat. Seorang wanita dengan gaya angkuh muncul. Begitu mata mereka bertemu, Safa membeku.
"Mbak Riana?" bisik Safa lirih.
Dunia terasa sempit. Siapa sangka, orang yang akan menjadi mentor sekaligus atasannya selama tiga bulan ke depan adalah kakaknya sendiri.
Namun, alih-alih merasa beruntung, nyali Safa justru menciut. Ia tahu persis bagaimana tabiat Riana.
Riana memperkenalkan diri secara profesional di depan pemagang lain, menebar senyum tipis yang tampak meyakinkan.
"Di sini saya bertanggung jawab memantau progres kalian. Jangan sungkan bertanya," ucapnya tegas.
Namun, begitu perkenalan selesai dan pemagang lain mulai menuju meja masing-masing, Riana mencegat Safa.
"Eh, kau! Ikut aku. Ada tugas untukmu," perintahnya ketus.
Di dalam ruangan pribadi, Riana duduk di sofa dengan kaki menyilang. "Wah, siapa ini? Mbak gak menyangka kau bisa magang di sini. Aku kira kau hanya dijadikan pajangan oleh lelaki tua itu," ejeknya tajam.
Safa hanya menunduk, enggan memicu keributan di hari pertama. Sikap diamnya justru membuat Riana semakin jengkel. Ia pun menyodorkan setumpuk berkas tebal yang sangat berat. "Bawa ini ke tempat fotokopi di bawah, lalu antar ke Divisi Jurnalis di lantai sepuluh. Sekarang!"
Safa menerima tumpukan kertas itu hingga pandangannya tertutup. Saat ia tertatih keluar, seorang rekan magang bernama Fajrin menawarkan bantuan.
"Mau aku bantu? Kebetulan tugasku sudah selesai," tawarnya tulus.
"Tidak usah, terima kasih. Ini tugasku," tolak Safa lembut, tak ingin orang lain ikut terkena amarah kakaknya.
Keringat mulai membasahi pelipis di balik jilbabnya saat ia menyelesaikan tugas fotokopi. Dengan tenaga yang tersisa, ia bergegas menuju lift untuk mengantar berkas ke lantai sepuluh.
Sesaat sebelum pintu lift tertutup, Safa berteriak, "Tunggu!"
Seseorang di dalam menekan tombol agar pintu terbuka kembali. Safa masuk dengan napas tersengal.
"Terima kasih," ucapnya tanpa melihat siapa orang di hadapannya.
Pria di dalam lift itu memiringkan wajah, menatap Safa dengan saksama. "Safa?"
Safa tersentak. Suara itu terasa sangat akrab di telinganya.
Safa mendongak. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat melihat sosok pria jangkung dengan setelan jas abu-abu gelap yang berdiri di hadapannya.
"Mas Dimas?" bisik Safa, nyaris tak terdengar.
Pria itu adalah Dimas, kekasih Riana. Namun bagi Safa, Dimas adalah sumber kecanggungan yang luar biasa.
Masih teringat jelas di ingatannya, beberapa bulan lalu sebelum pernikahan Safa dengan Arlan terjadi, Dimas pernah menemuinya secara sembunyi-sembunyi dan menyatakan perasaan yang tidak seharusnya.
"Kamu ... sedang apa di sini, Safa?" tanya Dimas. Tatapannya yang semula dingin berubah menjadi lembut, namun ada binar obsesif yang sulit disembunyikan.
"Aku ... aku sedang magang di sini, Mas," jawab Safa gugup, sambil mengeratkan pelukannya pada tumpukan berkas yang berat.
Dimas melangkah satu langkah lebih dekat.
"Jadi kamu magang di Kusuma Media? Kenapa Riana tidak cerita?" Ia kemudian melihat tumpukan kertas di tangan Safa. "Ini terlalu berat untukmu. Sini, biarkan aku bantu."
"Tidak usah, Mas. Aku bisa sendiri," Safa menghindar, berusaha menjaga jarak.
"Safa, jangan keras kepala. Wajahmu pucat dan berkeringat," tangan Dimas terulur, mencoba meraih berkas tersebut, namun jemarinya sengaja menyentuh punggung tangan Safa.
Safa tersentak dan menarik tangannya dengan cepat, membuat beberapa lembar kertas jatuh ke lantai lift. Saat mereka berdua membungkuk untuk mengambilnya, pintu lift berdenting terbuka di lantai sepuluh.
"Dimas?"
Suara melengking itu membuat keduanya mematung.
Riana berdiri di depan pintu lift dengan tangan bersedekap dan mata menyipit tajam.
Safa segera menarik tangannya menjauh. Ia tak ingin berurusan dengan mereka lagi.
Namun, saat ia hendak pergi Dimas justru menghentikannya. "Safa, tunggu! Kau mau kemana?"
"Maaf Mas Dimas. Aku gak mau berurusan denganmu ataupun dengan Mbak Riana. Aku capek dituduh jadi pelakor," ketus Safa sambil melirik tajam ke arah sang kakak.
"Apa, pelakor? Siapa, Riana yang menuduhmu?" sergah Dimas.