NovelToon NovelToon
Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Peluru, Cinta, Dan Kerupuk Kaleng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
​Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ailen Menjadi Bodyguard atau Beban Keluarga?

Pasca insiden dengan Si Penatua dari Dewan Bayangan, Leon Vancort memutuskan bahwa Ailen memerlukan pelatihan intensif. Jika gadis ini bersikeras ingin menjadi "Menteri Pertahanan Hati" Leon, maka dia harus setidaknya tahu perbedaan antara granat asap dan parfum semprot. Masalahnya, bagi Ailen, garis pemisah antara menjadi pelindung yang tangguh dan menjadi beban keluarga yang menguras tabungan hanyalah setipis kulit martabak.

​Pagi itu, di fasilitas pelatihan privat bawah tanah Vancort, Marco berdiri di depan papan tulis dengan wajah yang lebih suram dari biasanya. Di depannya, Ailen duduk di atas bola yoga, memantul-mantul dengan semangat sambil mengenakan baju training warna pink neon yang membuat mata Marco sakit.

​"Hari ini, Nona Ailen, kita akan belajar tentang pengawalan jarak dekat," ujar Marco serius. "Tugas seorang bodyguard bukan hanya berkelahi, tapi menjadi tameng hidup bagi Tuan Leon."

​Ailen berhenti memantul. "Jadi tameng hidup? Berarti kalau ada yang nembak, saya harus bilang 'Halo peluru, silakan masuk ke perut saya' gitu, Mas?"

​Marco menghela napas. "Secara teknis, iya. Tapi idealnya Anda menghalau ancaman sebelum peluru itu meluncur."

​"Oh, gampang itu mah! Saya kan punya indra ketujuh," sahut Ailen bangga.

​"Indra ketujuh? Maksud Anda intuisi tajam?"

​"Bukan, Indra ketujuh itu kalau saya udah mulai ngerasa laper, biasanya suasana hati semua orang di sekitar saya jadi buruk. Itu tanda-tanda bahaya paling akurat!"

​Leon, yang mengamati dari ruang kaca di atas, hanya bisa menumpukan dagu di tangannya. Ia mulai meragukan keputusannya. Apakah ia sedang melatih seorang pembunuh bayaran atau sedang mengasuh anak TK yang kelebihan gula?

Latihan pertama adalah simulasi di sebuah replika lobi hotel. Marco menempatkan beberapa boneka manekin yang berpakaian seperti tamu hotel. Di antara mereka, ada satu manekin yang menyembunyikan senjata tajam.

​"Nona Ailen, silakan masuk ke lobi bersama Tuan Leon. Identifikasi siapa yang mencurigakan dalam waktu sepuluh detik," perintah Marco melalui pengeras suara.

​Leon berjalan masuk dengan gaya elegan, tangan kirinya digandeng oleh Ailen. Ailen memutar matanya ke sekeliling dengan sangat cepat.

​"Waktu habis! Siapa ancamannya, Ailen?" tanya Leon.

​Ailen menunjuk ke arah manekin di pojok kiri. "Itu, Mas! Dia mencurigakan banget!"

​Leon mengangkat alis. "Kenapa dia? Dia hanya memakai jas pelayan."

​"Bukan soal jasnya, Mas! Liat tuh, dia pakai sepatu pantofel tapi kaus kakinya warna kuning polkadot. Orang yang selera fesyennya seberantakan itu pasti punya niat jahat untuk merusak pemandangan dunia! Dia pasti membawa bom kimia di kantongnya!"

​Marco memijat pelipisnya. "Nona, yang membawa pisau adalah manekin di sebelah kanan yang sedang memegang koran."

​"Halah, Mas Marco. Orang baca koran di zaman sekarang itu justru pahlawan literasi! Harusnya kita dukung, bukan dicurigai. Mas Marco ini sentimen banget sama hobi baca ya?" balas Ailen telak.

​Leon hanya bisa berbisik, "Satu-nol untuk Ailen. Marco, lanjutkan ke sesi berikutnya sebelum aku kehilangan kewibawaan."

Sesi kedua adalah pertarungan tangan kosong. Marco memanggil dua anggota tim Alpha yang bertubuh seperti lemari jati untuk menyerang Ailen secara simulasi.

​"Gunakan teknik melumpuhkan, Nona. Jangan bunuh mereka," instruksi Marco.

​Kedua penjaga itu maju. Ailen bukannya memasang kuda-kuda karate, ia justru melakukan gerakan yang disebutnya "Posisi Menunggu Tukang Bakso". Ia berdiri santai, satu tangan di pinggang, tangan lainnya seolah-olah sedang memegang mangkuk imaginasi.

​Saat penjaga pertama mencoba mencengkeram bahunya, Ailen melakukan gerakan slide di antara kaki penjaga itu, lalu—bukannya memukul—ia justru mengikat tali sepatu kedua penjaga itu satu sama lain dengan kecepatan tangan yang luar biasa.

​"Hiyat! Simpul Mati Jomblo!" teriak Ailen.

​Kedua penjaga itu mencoba berbalik untuk mengejar Ailen, namun karena kaki mereka terikat satu sama lain, mereka jatuh terjungkal dengan suara gedebuk yang sangat keras.

​"Nona! Saya bilang bela diri, bukan sabotase alas kaki!" protes Marco.

​"Mas Marco, denger ya. Dalam perang, yang paling penting itu bikin musuh malu. Kalau mereka jatuh gara-gara tali sepatu, mental mereka jatuh. Kalau mental jatuh, mau pegang pistol juga gemeteran," jelas Ailen sambil melakukan pose kemenangan ala Sailor Moon.

​Leon dari atas mulai tersenyum tipis. Gila, tapi masuk akal, batinnya.

Untuk ujian akhir hari itu, Leon memutuskan untuk membawa Ailen ke sebuah supermarket kelas atas. Tujuannya adalah melihat bagaimana Ailen menjaga Leon di tengah kerumunan orang asli. Marco dan tim Alpha mengikuti dari jarak jauh, menyamar sebagai pembeli biasa.

​"Anggap ini misi sungguhan, Ailen. Jangan sampai ada yang mendekatiku lebih dari satu meter tanpa izinmu," kata Leon tegas.

​"Siap, Bos Besar! Zona steril aktif!" Ailen memakai kacamata hitam yang terlalu besar untuk wajahnya, membuatnya tampak seperti lalat raksasa yang modis.

​Awalnya, semuanya berjalan lancar. Ailen berjalan di depan Leon dengan wajah yang dibuat-buat garang. Namun, masalah dimulai ketika mereka melewati rak promo beli satu gratis satu.

​"Mas! Berhenti!" teriak Ailen tiba-tiba sambil merentangkan tangannya di depan dada Leon.

​Leon waspada, tangannya langsung meraba senjata di balik jasnya. "Ada apa? Musuh di arah jam dua?"

​"Bukan Mas! Itu! Deterjen cair aroma lavender! Beli satu gratis satu! Ini ancaman serius buat dompet kita kalau kita nggak beli sekarang! Ini namanya penghematan strategis!" Ailen langsung melupakan tugasnya sebagai bodyguard dan sibuk memasukkan lima botol deterjen ke dalam keranjang.

​"Ailen! Kau sedang bertugas!" desis Leon.

​"Sambil menyelam minum air, Mas! Sambil jaga nyawa Mas, saya juga jaga kebersihan baju Mas!" sahut Ailen tanpa rasa bersalah.

​Kekacauan memuncak saat seorang pria asing mendekat ke arah Leon untuk menanyakan letak rak bumbu dapur. Ailen yang sedang memegang botol deterjen raksasa langsung beraksi. Ia melompat ke depan pria itu dan melakukan gerakan "Cakar Kucing Histeris".

​"JANGAN MENDEKAT! SAYA TAHU KAMU MAU MINTA NOMOR HP MAS SAYA KAN?! ATAU KAMU MAU NYOPET GINJALNYA?!" teriak Ailen sangat kencang hingga seluruh pengunjung supermarket menoleh.

​Pria malang itu ketakutan dan lari terbirit-birit.

​"Ailen, dia hanya ingin bertanya letak garam..." ucap Leon sambil menutupi wajahnya dengan tangan.

​"Nggak bisa, Mas! Taktik musuh itu bermacam-macam. Bisa jadi garam itu adalah racun bubuk yang mau ditaburin ke mata Mas! Saya harus preventif!" Ailen kembali waspada, kali ini ia menggunakan botol deterjen sebagai alat pemukul imaginasi.

Setelah kembali ke mansion, Marco memberikan evaluasi akhir kepada Leon di ruang kerja.

​"Jadi, bagaimana menurutmu, Marco? Apakah dia siap menjadi pengawal?" tanya Leon.

​Marco terdiam cukup lama, menatap catatan di tangannya. "Secara teknis, Nona Ailen memiliki kemampuan motorik yang jenius dan cara berpikir yang tidak bisa diprediksi oleh algoritma keamanan mana pun di dunia. Dia berhasil melumpuhkan tim Alpha dengan tali sepatu dan mengusir 'ancaman' di supermarket dengan teriakan histeris."

​Marco menarik napas panjang. "Namun, secara finansial dan reputasi... dia adalah beban keluarga tingkat tinggi. Dalam satu jam di supermarket, dia menghabiskan tiga juta rupiah untuk barang-barang promo yang tidak kita butuhkan, merusak citra Anda sebagai mafia yang dingin, dan hampir membuat kita dituntut oleh manajemen supermarket karena kegaduhan."

​Leon bersandar di kursinya, menatap Ailen yang sedang berada di halaman luar, mencoba mencuci mobil limousin miliknya menggunakan deterjen lavender yang tadi ia beli, sambil bernyanyi lagu dangdut dengan volume penuh.

​"Dia bukan bodyguard konvensional, Marco," kata Leon pelan. "Dia adalah perisai yang unik. Musuh-musuhku terbiasa dengan kekerasan, tapi mereka tidak akan siap menghadapi kegilaan Ailen. Bagaimana kau bisa menembak seseorang yang sedang menawarkanmu deterjen promo atau menertawakan tali sepatumu yang terikat?"

​"Jadi, Anda akan tetap menjadikannya pengawal?"

​"Tidak," jawab Leon. "Aku akan menjadikannya... Anomali Pertahanan. Dia tidak akan mengikuti protokol. Biarkan dia menjadi dirinya sendiri. Karena di dunia yang penuh dengan rencana jahat yang terorganisir, satu-satunya hal yang tidak bisa dikalahkan adalah kekacauan yang murni."

​Tiba-tiba, terdengar suara BRAK! dari luar. Ailen rupanya tidak sengaja menyenggol tuas rem tangan mobil limousin saat sedang asyik berjoget, dan mobil mewah itu perlahan meluncur menabrak air mancur di tengah taman.

​"MAS LEON! MOBILNYA MAU MANDI DI KOLAM!" teriak Ailen panik.

​Leon menatap Marco. Marco menatap Leon.

​"Mungkin lebih banyak 'beban' daripada 'bodyguard' untuk hari ini, Tuan," bisik Marco.

​Leon tertawa, sebuah tawa yang pasrah namun penuh kasih. Ia berdiri dan berjalan keluar untuk menyelamatkan mobilnya—dan tentu saja, menyelamatkan gadis semprulnya dari kemarahan air mancur.

​"Ailen! Berhenti mencoba menahan mobil itu dengan sandal jepitmu!" teriak Leon.

​"BISA MAS! INI SANDAL JEPIT SUPER!"

​Malam itu, Leon menyadari satu hal: memiliki Ailen sebagai pelindung mungkin akan membuatnya kehilangan banyak uang dan reputasi, tapi itu adalah harga yang kecil untuk membayar hidup yang tidak lagi membosankan. Karena pada akhirnya, Ailen bukan sekadar pengawal bagi tubuhnya, melainkan pelindung bagi kewarasannya di tengah dunia yang gila.

1
Riska Baelah
ap pun msalh ny slalu berakhir dng manis🤣😄🤣😄🤭👍
kya martabak komplit👍👍👍
Riska Baelah
suka bnget sama leon mna bos kaya, sabar lg ngadepin si aelin kekasih semprul ny😄🤣😄🤭👍👍👍👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄😄😄🤣🤭
Riska Baelah
ya gak d kenyataan gak d dunia novel yg nma ny perempuan, klu liat diskon gak akan thannnn🤣😄🤣😄🤣🤭
Riska Baelah
swettt😍😍😍😍
Riska Baelah
sempat2 ny leon ailen ciuman d tengah perang yaaa🤣😄🤣😄🤭
Riska Baelah
😍😍😍😍😍
Riska Baelah
lnjut👍👍👍👍
Riska Baelah
😍😍😍😍😍😍
Riska Baelah
kk ini ya bisa bnget buat kata2"
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍
Riska Baelah
gimana cara ny mati sambil ketawa😄🤣😄🤣🤭 ad2 aj kk ini👍
Riska Baelah
🤣😄🤣😄🤣🤭👍
Riska Baelah
kk, ap ini kisah ank ny karin sama vittorio,,yg d sebelah
Riska Baelah: kirain, soal ny blum rela jg klu vittorio d tamatin🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!