NovelToon NovelToon
Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Jalan Keabadian Penguasa Sembilan Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Mengubah Takdir
Popularitas:9.7k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Dikhianati oleh tunangannya sendiri demi merampas akar spiritual bawaannya, Lin Tian—sang jenius nomor satu dari Kota Daun Gugur—jatuh menjadi "sampah" yang dilumpuhkan dan dihina oleh klannya sendiri. Selama tiga tahun, ia menelan segala penderitaan dan penindasan dalam diam, bertahan hidup hanya demi mencari kebenaran tentang orang tuanya yang hilang dan membalas dendam pada mereka yang merampas masa depannya.
​Namun, roda takdir berputar ketika darahnya tanpa sengaja membangkitkan jiwa Kaisar Alkemis Surgawi yang tertidur di dalam liontin peninggalan ibunya, Mutiara Kekacauan Primordial.
​Mendapatkan warisan kuno dan merombak fisiknya menjadi Tubuh Pedang Kekacauan, Lin Tian kembali menapak jalan kultivasi yang kejam. Di dunia di mana hukum rimba berlaku mutlak dan kekuatan adalah satu-satunya kebenaran, Lin Tian harus menggunakan akal, taktik, dan kekuatan barunya untuk membelah segala rintangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kera Iblis Lengan Besi

​Hutan berdaun hitam di Reruntuhan Ribuan Siluman menyembunyikan segala bentuk cahaya, menciptakan labirin bayangan yang mematikan. Gravitasi tiga kali lipat yang menekan tempat ini membuat pergerakan setiap makhluk hidup menjadi lambat dan menguras tenaga. Namun, bagi Lin Tian, gravitasi ini hanyalah alat tambahan untuk meredam suara langkah kakinya.

​Ia melesat di antara batang-batang pohon raksasa layaknya hantu abu-abu. Matanya setajam elang, memindai jejak energi dan perubahan aliran udara. Raungan buas yang ia dengar sebelumnya kini semakin jelas, diiringi oleh fluktuasi Qi yang saling bertabrakan dengan hebat.

​Sekitar satu mil dari posisinya semula, Lin Tian tiba di sebuah area terbuka yang telah porak-poranda. Pepohonan raksasa bertumbangan dengan akar tercerabut, tanahnya berlubang akibat ledakan spiritual.

​Lin Tian bersembunyi di balik kanopi pohon yang rapat, sepenuhnya menahan napas dan menekan fluktuasi Dantiannya ke titik nol absolut. Logikanya memerintahkan untuk mengumpulkan informasi sebelum bertindak.

​Di tengah area terbuka tersebut, seekor monster mengerikan sedang mengamuk. Makhluk itu adalah Kera Iblis Lengan Besi, setinggi lima meter dengan otot-otot yang menonjol bagaikan bongkahan batu karang. Kedua lengan panjangnya tertutup oleh sisik alami berwarna hitam metalik yang memantulkan kilau besi. Fluktuasi energi liar yang memancar dari tubuh kera ini menandakan bahwa ia telah melangkah ke Tingkat 3 awal, setara dengan kultivator di alam Setengah Langkah Inti Emas.

​Pantas saja raungannya terdengar begitu mendominasi. Inti silumannya bernilai seratus poin penuh.

​Lawan dari Kera Iblis itu adalah sebuah kelompok yang terdiri dari lima kultivator muda. Dilihat dari jubah seragam sutra putih yang mereka kenakan, mereka berasal dari faksi elit di Ibukota Kekaisaran. Mereka semua berada di Tahap Pendirian Yayasan Tingkat 4 hingga 5, sebuah susunan tim yang secara matematis seharusnya mampu menaklukkan siluman tingkat tinggi jika dikoordinasikan dengan baik.

​"Tahan formasinya! Jangan biarkan dia keluar dari Jaring Angin Pembelah Logam!" teriak pemuda yang bertindak sebagai pemimpin kelompok. Ia mengayunkan pedangnya, mengalirkan Qi elemen angin untuk memperkuat dinding pusaran badai yang mengurung kera tersebut.

​Keempat rekannya menyuntikkan Qi mereka ke dalam susunan formasi, mencoba mencekik kera raksasa itu dengan bilah-bilah angin yang tajam.

​Dari tempat persembunyiannya, Lin Tian mengamati pertarungan itu dengan ekspresi datar yang sangat analitis.

​"Taktik yang masuk akal, tapi kalkulasi eksekusinya sangat bodoh," gumam Lin Tian dalam hati. "Formasi elemen angin mengandalkan pengeroyokan dan tekanan berkelanjutan. Namun, sisik Kera Iblis Lengan Besi memiliki resistensi fisik yang melampaui baja spiritual. Tanpa elemen kompresi api atau petir untuk melunakkan sisik itu, angin hanya akan menggelitiknya dan menguras Qi mereka hingga habis."

​Prediksi rasional Lin Tian terbukti benar dalam hitungan detik.

​Kera Iblis itu awalnya terdiam, membiarkan bilah-bilah angin menggores sisik besinya dan hanya meninggalkan percikan api kecil. Namun, saat kera itu menyadari bahwa serangan tersebut tidak mampu menembus pertahanannya, kesabarannya habis.

​ROAAAR!

​Kera itu mengangkat kedua lengan besinya tinggi-tinggi, mengumpulkan aura merah darah yang pekat, lalu menghantamkannya ke tanah dengan kekuatan penuh.

​BUM!

​Gelombang kejut seismik meledak. Tanah terbelah, memuntahkan pilar-pilar batu yang langsung menghancurkan simpul formasi Jaring Angin dari bawah. Formasi itu hancur berantakan, menciptakan serangan balik energi yang membuat kelima kultivator muda itu memuntahkan darah secara serempak.

​Melihat celah tersebut, Kera Iblis tidak menyia-nyiakannya. Siluman ini memiliki insting membunuh yang telah diasah oleh hukum rimba mutlak. Dengan satu lompatan yang menentang gravitasi berat dimensi ini, kera itu mendarat tepat di depan salah satu kultivator.

​Sebelum pemuda itu sempat berteriak, tangan besi kera tersebut menyapu secara horizontal, merobek tubuh kultivator itu menjadi dua bagian seolah sedang menyobek selembar perkamen tua. Hujan darah dan organ dalam mengguyur tanah.

​"Kakak Ketiga!" jerit salah satu kultivator perempuan di kelompok itu dengan histeris. Akal sehatnya hancur melihat rekannya tewas secara brutal.

​"Lari! Formasinya hancur! Kita tidak bisa menahannya!" Pemimpin kelompok yang tadinya arogan kini berbalik dengan wajah pucat pasi, menggunakan sisa Qi-nya untuk melarikan diri, sepenuhnya meninggalkan rekan-rekan setimnya.

​Kehancuran moral itu menjadi awal dari pembantaian sepihak. Dalam waktu kurang dari tiga tarikan napas, kera itu mengejar dan menghancurkan kepala kultivator kedua dan ketiga dengan pukulan mematikan. Hanya pemimpin kelompok dan kultivator perempuan itu yang berhasil melarikan diri ke dalam hutan menggunakan jimat pelarian spasial tingkat rendah.

​Kera Iblis itu memukul dadanya sendiri, mengaum merayakan kemenangannya. Meskipun menang, monster itu tidak luput dari cedera. Mata kirinya berdarah akibat tebasan pedang angin yang nekat, dan napasnya sedikit memburu akibat menguras stamina untuk menghancurkan formasi.

​Di balik pepohonan, Lin Tian tidak merasa kasihan sedikit pun pada para kultivator elit yang tewas. Di medan perang, kebodohan dan kepanikan adalah dosa yang dibayar dengan nyawa. Kini, fokus Lin Tian sepenuhnya terkunci pada Kera Iblis yang sedang lengah tersebut.

​"Pertahanannya tidak tertembus di bagian lengan dan dada, tapi hancurnya formasi membuat sendi bahunya kehilangan sedikit stabilitas," Lin Tian menganalisa titik lemah musuhnya. Ia mencabut sebilah pedang biasa yang ia ambil dari penjaga gerbang klan, lalu mengalirkan Qi Primordial yang padat hingga bilah besi murahan itu memancarkan kilau abu-abu sedingin es abadi.

​Lin Tian tidak melompat keluar sambil berteriak heroik. Ia menggunakan taktik pembunuh murni.

​Berpadu dengan bayangan pohon, Lin Tian melesat lurus ke arah punggung Kera Iblis itu dengan kecepatan supersonik. Langkah kakinya selaras dengan frekuensi angin, tidak menghasilkan suara decitan tanah sedikit pun.

​Kera itu, yang sedang menunduk untuk memakan mayat kultivator, tiba-tiba merasakan bulu kuduknya meremang. Insting liarnya mendeteksi bahaya yang jauh lebih mengerikan dari sekadar tusukan pedang angin. Kera itu berputar, mengayunkan punggung tangan besinya secara instingtif ke arah belakang.

​Namun, yang menghantam tangan besi itu bukanlah tubuh Lin Tian.

​Lin Tian memiringkan tubuhnya, meluncur di bawah tanah layaknya ular menyusuri rumput. Menghindari ayunan lengan raksasa itu dengan selisih satu inci, ia menggunakan kaki kanannya sebagai poros, memutar tubuhnya ke atas tepat di titik buta sang Kera Iblis—di sisi mata kirinya yang terluka dan berdarah.

​Kera itu mengaum marah, mencoba menarik lengannya kembali untuk menghancurkan manusia mungil di dekat wajahnya. Terlambat.

​Mata Lin Tian berkilat tanpa ampun.

​"Seni Pedang Ilusi Pemutus Bayangan: Titik Absolut."

​Ujung pedang yang diselimuti oleh Kekacauan murni menusuk tepat ke dalam rongga mata kiri kera tersebut yang sudah terbuka. Tidak ada resistensi dari sisik besi di sana. Pedang itu menembus lurus tanpa hambatan, merobek saraf optik, dan menancap dalam-dalam menembus otak sang Kera Iblis.

​Crassh!

​Qi Primordial yang korosif meledak di dalam tengkorak monster tersebut, seketika menghancurkan jaringan otak dan memadamkan vitalitas nyawanya secara instan.

​Mata kanan Kera Iblis yang masih utuh membelalak lebar, lalu kehilangan cahayanya. Tubuh raksasa seberat dua ton itu kaku sejenak sebelum akhirnya ambruk ke depan, menimbulkan suara debuman keras yang menggetarkan tanah.

​Hanya butuh satu serangan. Eksekusi yang sangat masuk akal, tanpa ada gerakan yang terbuang sia-sia, memanfaatkan kelelahan dan celah cedera dari sang target.

​Lin Tian dengan tenang menarik pedangnya, mengibaskan darah kental yang menempel, lalu menyarungkannya kembali. Ia berjalan ke arah mayat Kera Iblis itu, menggunakan dua jarinya untuk membelah dadanya dan menarik sebuah inti siluman berwarna merah menyala yang besarnya seukuran kepalan tangan orang dewasa.

​Saat inti Tingkat 3 awal itu bersentuhan dengan token hitam di pinggangnya, pelat logam itu berdengung. Angka merah di atasnya berubah drastis dari '0' menjadi '100'.

​"Efisiensi yang memuaskan," gumam Lin Tian, menyerap sedikit sisa energi dari inti tersebut sebelum menyimpannya ke dalam Cincin Naga Hitam.

​Ia juga mengumpulkan cincin penyimpanan dari tiga mayat kultivator elit tadi. Meskipun mereka tewas konyol, mereka tetaplah bangsawan yang membawa logistik pil penyembuh dan peta yang mungkin berguna.

​Tepat saat Lin Tian hendak meninggalkan area pembantaian itu untuk mencari tempat memurnikan inti siluman, indra spiritualnya yang tajam menangkap fluktuasi aneh.

​Ada seseorang yang memperhatikannya. Fluktuasi ini berbeda; ia disembunyikan dengan teknik siluman yang sangat tinggi, menyatu sempurna dengan aura pepohonan mati di sekitarnya. Jika bukan karena resonansi mutlak dari Tubuh Pedang Kekacauan yang sangat sensitif terhadap perubahan molekul energi, Lin Tian pasti tidak akan menyadarinya.

​Tanpa menoleh atau mengubah ritme langkahnya, Lin Tian secara logis menghitung arah datangnya tatapan tersebut. Jam enam, berjarak dua ratus meter. Bersembunyi di atas pohon pinus hitam.

​"Kualitas pesertanya mulai meningkat," pikir Lin Tian. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia telah menyadari kehadiran penguntit itu. Sebaliknya, ia dengan sengaja berjalan lambat menuju area yang lebih gelap, berpura-pura sedang memeriksa peta jarahan, merancang jebakan psikologis untuk memancing penguntit tersebut keluar dari sarangnya.

1
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayooooo naikkan kekuatan bantaaaaaaaiiiiii 👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
hehehehe akhir nya bisa lebih kuat ada kesempatan 😄👍
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
ayoooo terus kuat
Eko ☠️⃝🖌️M⃤♬⃝❤️
cerita diawal dan alur ceritanya bagus👍👍
yos helmi
💪💪💪👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍😍😍😍💪💪💪💪
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍💪💪💪
yos helmi
💪💪💪💪💪💪💪💪🙏
yos helmi
😍😍😍👍👍👍👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍👍👍👍🤣🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣3🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍👍👍💪💪
yos helmi
💪💪💪💪🤣🤣🤣👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣🤣👍👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!