NovelToon NovelToon
Young Master & Secret Wife

Young Master & Secret Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:440
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Theodore, sang Kakak, memberikan tantangan kepada Celestine untuk mencari calon suamimu sendiri dalam satu bulan, atau dia yang akan memilihkan.

Celestine setuju.

Baginya, pangeran-pangeran di ibu kota terlalu "lembut" karena dia ingin seseorang yang bau mesiu, darah, dan sihir kuat. Dia berangkat sebagai utusan diplomasi ke Kekaisaran Heavenorth, wilayah yang dikenal paling keras.

Demi menemukan pria impian yang memenuhi standar kejam namun ajaib nya, Putri Celestine melakukan perjalanan ke perbatasan Kekaisaran yang paling berbahaya, hanya untuk menemukan bahwa pria yang ia cari adalah seorang monster di medan perang dan penyihir dingin yang menjaga gerbang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 20 : Sumpah dibawah langit malam

Pagi setelah kemenangan atas Ironland, suasana di paviliun mawar terasa jauh lebih tenang. Tidak ada suara denting zirah atau desisan uap mesin yang mengganggu. Hanya ada suara kicauan burung alkimia yang hinggap di dahan pohon zaitun perak.

George duduk di bangku taman sambil mengasah pedang besarnya yang kini sudah dibersihkan dari sisa-sisa pertempuran kemarin.

"Kau benar-benar tidak ingin mengembalikan pedang itu ke gudang senjata?" tanya Celestine, yang baru saja datang membawa nampan berisi buah-buahan segar dan roti gandum hangat.

"Pedang ini menyelamatkan nyawaku kemarin, Celestine. Ada sesuatu tentang besi tua ini yang terasa lebih jujur daripada sihir mana pun yang pernah ku gunakan," jawab George sambil meletakkan batu asahannya.

"Sejujurnya aku terkejut melihatmu bertarung seperti itu. Seluruh bangsawan di tribun mengira kau akan kalah begitu kau tidak mengeluarkan esmu. Theodore bahkan hampir memerintahkan pengawal untuk menghentikan duel itu," ujar Celestine sambil duduk di samping George.

"Kepercayaan adalah senjata yang paling tajam, Celestine. Aku percaya pada analisismu tentang katup uap itu, dan aku percaya pada kekuatanku sendiri," sahut George pelan.

Celestine mengambil sebuah apel dan memotongnya dengan pisau kecil. "Ngomong-ngomong, Theodore ingin bicara denganmu secara pribadi siang ini. Dia tidak mengatakan tentang apa, tapi raut wajahnya terlihat sangat tenang. Terlalu tenang untuk ukuran seorang raja yang baru saja mendapatkan aliansi besar."

"Apakah ini soal masa depanku di sini?" tanya George.

"Mungkin. Atau mungkin soal masa depan kita berdua," jawab Celestine dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.

George berhenti mengasah pedangnya dan menatap mata Celestine. "Kita berdua?"

"Jangan berpura-pura bodoh, George. Seluruh Valley tahu bahwa sang Jenderal Pelindung Fajar dan Putri Matahari tidak bisa dipisahkan. Kau pikir kenapa rakyat begitu histeris kemarin? Mereka tidak hanya merayakan kemenangan militer. Mereka merayakan harapan baru untuk kerajaan ini," ujar Celestine sambil menyodorkan sepotong apel pada George.

George menerima apel itu, namun ia tetap diam. Ia merasa tanggung jawab yang ia pikul semakin besar. Menjadi seorang ksatria adalah satu hal, tapi menjadi simbol harapan bagi sebuah kerajaan adalah beban yang berbeda.

Beberapa jam kemudian, George melangkah menuju ruang kerja Theodore. Ruangan itu dipenuhi dengan peta-peta baru yang menunjukkan jalur dagang dari Ironland di Timur hingga Azure di Selatan. Theodore berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke arah pelabuhan udara.

"Masuklah, George. Aku sudah menunggumu," kata Theodore tanpa berbalik.

"Ada yang ingin kau sampaikan, Yang Mulia?" tanya George sambil membungkuk hormat.

Theodore berbalik dan tersenyum. "Hentikan formalitas itu, George. Saat ini aku bicara padamu bukan sebagai raja, tapi sebagai seorang kakak yang berutang budi pada pria yang menyelamatkan adiknya."

"Kau tidak berutang apa pun padaku, Theodore," sahut George.

"Dunia sedang bergerak, George. Ironland sudah tunduk, Azure sudah menjadi kawan, dan Utara sudah memberikan pengampunan padamu. Sekarang saatnya bagi Valley untuk memiliki stabilitas yang permanen. Aku ingin menawarkan posisi yang lebih dari sekadar jenderal," ujar Theodore sambil berjalan mendekati mejanya.

"Maksudmu?" tanya George dengan kening berkerut.

"Aku ingin kau menjadi Pangeran Konsort Valley. Aku ingin kau menikahi Celestine dan memimpin kerajaan ini bersamanya saat aku memutuskan untuk turun takhta nanti," kata Theodore dengan suara mantap.

George tertegun. Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi. "Menikah? Menjadi penguasa? Aku adalah seorang ksatria yang diasingkan, Theodore. Aku memiliki darah es yang dianggap kutukan oleh banyak orang."

"Kutukan itu sudah berubah menjadi berkat, George. Rakyat mencintaimu. Pasukan menghormatimu. Dan yang paling penting, adikku mencintaimu lebih dari nyawanya sendiri. Apakah kau akan membiarkan keraguanmu menghalangi kebahagiaan yang sudah ada di depan mata?" tanya Theodore.

"Aku butuh waktu untuk bicara dengan Celestine," jawab George pelan.

"Tentu saja. Keputusan ada di tangan kalian berdua. Tapi ingatlah, George, waktu tidak akan menunggu siapa pun. Ancaman baru akan selalu datang, dan Valley butuh fondasi yang tidak bisa digoyahkan," ujar Theodore.

George keluar dari ruangan itu dengan perasaan campur aduk. Ia menemukan Celestine sedang berdiri di balkon istana, memandang matahari yang mulai terbenam.

"Dia sudah mengatakannya padamu, bukan?" tanya Celestine tanpa menoleh.

"Kau sudah tahu?" tanya George sambil berdiri di sampingnya.

"Theodore tidak bisa menyimpan rahasia dariku. Dia sudah membicarakan hal ini sejak kita kembali dari Utara. Dia ingin aku aman, dan dia tahu hanya kau yang bisa menjagaku," jawab Celestine sambil menatap George.

"Bagaimana denganmu, Celestine? Apakah kau menginginkan ini karena perintah Theodore atau karena keinginanmu sendiri?" tanya George dengan nada serius.

Celestine berbalik dan memegang tangan kristal George. "George, aku sudah memilihmu sejak hari pertama aku melihatmu di tengah badai salju. Aku tidak butuh gelar pangeran atau upacara megah untuk mencintaimu. Tapi jika itu cara untuk memastikan kita tetap bersama selamanya, maka aku akan menerimanya dengan senang hati."

George menatap tangan kristalnya yang kini memancarkan cahaya emas yang lembut, sebuah tanda penyatuan mana mereka yang semakin kuat. "Aku tidak pernah membayangkan akan memiliki rumah seperti ini, Celestine. Di Utara, hidup adalah tentang bertahan. Di sini, hidup adalah tentang mencintai."

"Maka berhentilah bertahan, George. Mulailah hidup bersamaku," sahut Celestine.

George tersenyum, sebuah senyuman paling tulus yang pernah ia tunjukkan. "Jika itu maumu, maka aku akan memberikan sumpahku di sini. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan menjadi perisaimu, dan kau akan menjadi cahayaku."

Celestine memeluk George dengan erat. "Aku akan memegang sumpah itu, Jenderal."

................

Malam itu, berita tentang rencana pertunangan mereka menyebar ke seluruh penjuru Valley seperti api yang tertiup angin. Rakyat mulai menghiasi jalanan dengan lampu-lampu hias dan bendera berwarna emas dan biru. Kegembiraan yang belum pernah terjadi sebelumnya menyelimuti kerajaan.

Keesokan paginya, Theodore mengumumkan secara resmi di alun-alun kota. "Hadirin sekalian! Hari ini adalah hari bersejarah bagi Valley. Persatuan antara matahari dan es abadi akan segera diresmikan! Jenderal George Augustine akan menjadi bagian dari keluarga kerajaan kita!"

Sorak sorai rakyat membahana, memecah langit pagi. George berdiri di samping Celestine di atas balkon istana. Ia mengenakan jubah kebesaran yang baru, namun pedang besi tuanya tetap terikat di pinggangnya, sebuah pengingat akan asal-usulnya.

"Apakah kau siap menghadapi semua perhatian ini, George?" tanya Celestine sambil melambaikan tangan pada rakyat.

"Selama kau ada di sampingku, aku siap menghadapi apa pun," jawab George.

Pertemuan delegasi dari berbagai kerajaan tetangga mulai berdatangan, bukan untuk menantang, tapi untuk memberikan penghormatan. Valley telah berubah dari sekadar kerajaan kaya menjadi pusat kekuatan baru yang disegani.

Di tengah keramaian itu, Master Eldric mendekati George. "Jenderal, ada sesuatu yang harus kau lihat di laboratorium. Kristal esmu... ia mulai bereaksi dengan batu bara hitam yang kita ambil dari zirah Kross kemarin."

"Apakah ada masalah?" tanya George.

"Bukan masalah, Jenderal. Tapi penemuan baru. Sepertinya energi matahari dalam kristalmu bisa memurnikan batu bara hitam itu menjadi sumber energi yang tidak akan pernah habis. Kita baru saja menemukan cara untuk membuat Valley mandiri sepenuhnya dari sumber daya luar," ujar Eldric dengan mata berbinar.

George menatap Celestine, dan mereka berdua tersenyum. "Sepertinya bab baru kita akan sangat sibuk, Celestine," kata George.

"Aku tidak keberatan, George. Selama kita menulisnya bersama," jawab Celestine.

Setelah pengumuman besar di alun-alun, suasana istana berubah menjadi pesta yang tak kunjung usai. Namun bagi George, kemeriahan itu terasa jauh di luar jangkauan indranya saat ia duduk berdua dengan Celestine di atap Menara Alkimia, tempat tertinggi yang bisa mereka jangkau untuk melihat seluruh gemerlap kota.

"Kau terlihat sangat tenang untuk seseorang yang baru saja dinobatkan sebagai calon penguasa sebuah kerajaan," ujar Celestine sambil menyandarkan kepalanya di bahu zirah George.

"Aku hanya masih mencoba mencerna semua ini, Celestine. Dari seorang buronan di pegunungan salju menjadi pangeran di lembah emas. Jika ini adalah mimpi, aku harap tidak ada yang membangunkanku," sahut George pelan.

"Ini bukan mimpi, George. Lihatlah ke bawah. Orang-orang itu merayakan kehadiranmu karena kau memberi mereka rasa aman yang tidak bisa dibeli dengan emas mana pun," kata Celestine.

George menatap tangan kristalnya. Pola emas di dalamnya berdenyut lebih terang malam ini, seolah merespons kebahagiaan yang dirasakan orang-orang di bawah sana. "Celestine, apakah kau benar-benar yakin aku orang yang tepat untuk memimpin mereka? Aku adalah seorang prajurit, bukan politisi."

"Itulah alasan kenapa kau sangat tepat. Rakyat lelah dengan politisi yang hanya bicara soal angka. Mereka butuh seseorang yang tahu rasanya berkorban di garis depan. Dan kau tidak akan memimpin sendirian. Kita akan melakukannya bersama," jawab Celestine dengan nada meyakinkan.

Tiba-tiba, langkah kaki berat terdengar dari tangga menara. Theodore muncul dengan wajah yang sedikit memerah karena terlalu banyak meminum madu fermentasi saat perjamuan bawah.

"Ah, kalian di sini! Aku sudah mencarimu ke mana-mana, George!" seru Theodore sambil tertawa kecil.

"Ada apa lagi, Theodore? Bukankah perayaan resminya sudah selesai?" tanya George sambil berdiri.

"Secara resmi, ya. Tapi secara pribadi, ada satu hal lagi yang ingin kuberikan padamu. Ini adalah tradisi kuno keluarga Valley sebelum sebuah pertunangan diumumkan," sahut Theodore sambil mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dari balik jubahnya.

Theodore membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin yang terbuat dari campuran emas murni dan kristal laut dalam yang belum pernah George lihat sebelumnya.

"Cincin ini disebut Mata Hari Terbenam. Ia memiliki kemampuan untuk menyimpan mana dari dua orang yang berbeda dan menyatukannya dalam satu frekuensi yang harmonis. Celestine sudah memiliki pasangannya. Sekarang cincin ini adalah milikmu, George," kata Theodore dengan nada serius.

George menerima cincin itu. Saat ia menyentuhnya, ia merasakan aliran hangat yang sangat familiar. "Ini... ini adalah mana milik Celestine?"

"Benar, George. Aku sudah menuangkan manaku ke dalamnya selama bertahun-tahun sebagai bagian dari ritual kedewasaan putri kerajaan. Sekarang mana itu akan menjagamu sebagaimana kau menjagaku," ujar Celestine sambil menunjukkan cincin serupa di jari manisnya.

George perlahan mengenakan cincin itu di jari tangan manusianya. Seketika, cahaya emas terpancar kuat, menyatu dengan pendaran platinum dari tangan kristalnya. Rasa sakit sisa pertarungan dengan Kross kemarin yang masih terasa di sendinya mendadak hilang sepenuhnya.

"Terima kasih, Theodore. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi," sahut George tulus.

"Jangan berterima kasih padaku. Cukup pastikan adikku selalu tersenyum seperti itu. Oh, dan satu lagi, George. Besok pagi delegasi dari Utara akan tiba. Ayahmu tidak datang, tapi dia mengirimkan adik laki-lakimu sebagai perwakilan," kata Theodore.

"Adikku? Maksudmu Julian?" tanya George dengan nada terkejut.

"Benar. Sepertinya Marquess ingin memastikan bahwa hubungan ini benar-benar resmi. Dia membawa hadiah berupa benih mawar salju yang hanya tumbuh di puncak utara. Sepertinya dia ingin tamanmu di sini memiliki sedikit nuansa rumah lama," ujar Theodore.

George terdiam. Bayangan Julian, adiknya yang selalu ia lindungi saat mereka masih kecil, muncul di benaknya. "Jadi ayah benar-benar sudah melepaskanku."

"Dia tidak melepaskanmu, George. Dia memberimu sayap untuk terbang ke tempat yang lebih baik," jawab Celestine lembut sambil menggenggam tangan George.

Malam semakin larut, namun percakapan mereka bertiga terus berlanjut. Mereka membicarakan rencana pembangunan akademi, sistem pertahanan baru, hingga bagaimana mawar salju dari Utara bisa tumbuh di tanah hangat Valley.

George menatap langit yang kini mulai menunjukkan semburat fajar di kejauhan. "Babak baru hidupku benar-benar dimulai hari ini, ya," bisiknya.

"Bukan babak baru, George. Ini adalah buku yang sama, tapi sekarang kita yang memegang penanya," jawab Celestine.

Theodore menepuk bahu George satu kali lagi sebelum turun kembali ke istana. "Selamat beristirahat, calon saudaraku. Besok akan menjadi hari yang sangat panjang untuk menyambut adikmu."

George dan Celestine tetap di atas menara, menatap matahari yang perlahan terbit, menyinari seluruh lembah dengan warna emas yang abadi. Es di dalam diri George kini tidak lagi terasa dingin yang membekukan, melainkan es yang menyimpan kehangatan mentari.

"Aku mencintaimu, Celestine," ujar George tiba-tiba.

"Aku tahu, George. Dan aku juga mencintaimu," sahut Celestine sambil tersenyum manis.

Di bawah mereka, Kerajaan Valley mulai terbangun untuk menyambut hari pertama di bawah perlindungan sang Jenderal Pelindung Fajar dan Putri Matahari, yang kini telah benar-benar bersatu dalam jiwa dan raga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!