hidup ini seringkali begitu kejam dan Mestrius. ada yang lah dalam kemewahan, ada yang tumbuh dalam hangatan kasih sayang. namun, takdir berkata lain bagiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Komiatun Atun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN" BAB 26: LIBUR SEKOLAH, TAPI TANGAN DA
"SATU-SATUNYA BUNGA DI TENGAH HUTAN"
BAB 26: LIBUR SEKOLAH, TAPI TANGAN DAN HATI TAK PERNAH BERHENTI
Waktu berjalan terus, dan tibalah saat aku naik kelas ke jenjang yang lebih tinggi. Seperti biasa, setelah kenaikan kelas, ada masa libur sekolah yang cukup panjang, sekitar kurang lebih dua bulan lamanya. Bagi anak-anak lain, liburan adalah waktu untuk bersenang-senang, bermain, atau istirahat sepuasnya di rumah. Tapi bagiku, Ria, libur sekolah bukan berarti libur berbuat baik atau libur bekerja. Justru di saat-saat seperti inilah aku punya waktu lebih banyak untuk membantu meringankan beban Bunda dan mencari sedikit rezeki tambahan buat kebutuhan rumah.
Walaupun ketiga Abangku — Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah — sudah berulang kali melarang aku bekerja berat dan menyuruhku istirahat saja di rumah, aku tetap diam-diam pergi membantu Bu Rini. Aku tidak tega melihat Bu Rini sendirian, apalagi aku tahu beliau hidupnya pun sederhana, dan hatiku tak sanggup melihat orang yang sudah sangat baik kepadaku itu kesusahan sendirian. Bagiku, kebaikan yang pernah diberikan orang kepadaku itu tak boleh aku lupakan seumur hidup.
Setiap sore, aku selalu ada di musala kecil dekat rumah, tempat Bu Rini biasa mengajari anak-anak kecil mengaji. Dimas, Bagas, dan Fajar pun selalu ikut bersamaku, mereka duduk rapi jadi murid Bu Rini. Di situlah aku membantu, duduk di samping Bu Rini, membimbing anak-anak yang masih kecil, yang baru mulai mengenal huruf Alif Ba Ta, yang masih terbata-bata membaca ayat-ayat pendek Al-Qur'an.
Sebenarnya... ada satu rahasia besar yang hanya aku dan Tuhan saja yang tahu. Aku, Ria, anak yang sering dikatai miskin dan gembel itu, sebenarnya sudah tamat mengaji atau sudah hatam Al-Qur'an berkali-kali. Tapi tidak ada seorang pun yang tahu, tidak Bunda, tidak ketiga Abangku, tidak Bu Rini, dan tidak siapa pun. Aku sengaja menyimpannya rapat-rapat. Bagiku, ilmu itu titipan Tuhan, bukan untuk disombongkan atau dipamerkan. Aku cukup bahagia dan bangga bisa menurunkan ilmu yang aku punya itu ke anak-anak kecil yang belum bisa membaca Al-Qur'an dengan lancar. Aku ajari mereka pelan-pelan, sabar sekali, sepenuh hati, persis seperti aku dulu diajari.
Suatu sore yang cerah, kami sedang asyik mengaji. Tiba-tiba Bu Rini masuk dengan senyum paling lebar dan ramah, suaranya terdengar ceria memecah keheningan.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab kami semua serentak.
Bu Rini menatapku sambil tertawa kecil, matanya berbinar kagum.
"Subhanallah... Ada bidadari nih yang rela bantu Ibu mengajari anak-anak mengaji sampai lurus begini. Heeeeyy... Ria ya ampun, Ibu jadi enak sekali kerjanya dibantu kamu terus. Pintar sekali tangan dan mulutmu ini sabar banget ngadepin mereka yang masih kecil-kecil!"
Aku hanya tersenyum malu sambil menunduk, merapikan ujung hijabku.
"Aih, Ibu bisa saja memuji Ria. Itu bukan apa-apa kok Bu... Daripada Ria di rumah cuma diam saja, tidak ada kerjaan, mending Ria bantu Ibu di sini. Lagian kan enak juga, sekalian Ria bisa baca-baca dan ingat-ingat lagi ayat suci Al-Qur'an."
Bu Rini mengelus kepalaku dengan lembut. Beliau memang orang yang sangat baik. Suami Bu Rini bekerja di kota, di tempat orang-orang biasa pergi ke pasar. Biasanya suaminya itu baru pulang ke desa seminggu sekali. Walaupun hidup sederhana, mereka berdua sangat dermawan dan ramah sama siapa saja, tidak memandang kaya atau miskin. Sering kali, Bu Rini memberikan aku baju-baju bekas milik anak perempuannya yang usianya hanya beda satu tahun dariku. Bajunya masih bagus, bersih, dan layak pakai. Bagi orang lain mungkin itu hal biasa, tapi bagiku itu sangat berharga sekali.
Prinsip hidupku sederhana saja: Kalau orang suka sama aku, Alhamdulillah aku bersyukur. Kalau orang tidak suka atau benci, tak masalah sama sekali. Yang paling penting, aku bisa bekerja halal, aku bisa bantu ekonomi Bunda, dan kalau ada lebih sedikit dari kebutuhanku, aku sisihkan buat keperluan rumah. Itu saja.
Sore itu aku mengajar dengan sabar sekali. Anak-anak yang baru mulai belajar, yang masih pelan, yang masih salah sebut huruf, aku bantu satu per satu. Mulai dari mengajari bentuk huruf Alif, Ba, Ta, sampai melatih bacaan ayat-ayat pendek dengan suara yang lembut dan perlahan. Aku tidak pernah marah, tidak pernah membentak, aku ingat betul rasanya saat aku masih kecil belajar mengaji dulu, aku pun pernah susah dan salah juga.
Jam lima sore tepat, pengajian selesai. Kami semua berjalan pulang beriringan. Aku berjalan di tengah, diapit Dimas, Bagas, dan si kecil Fajar. Kami mengobrol santai sambil menikmati angin sore yang sejuk.
"Kak... Ria..." panggil Bagas sambil berjalan mendekat.
"Iya kenapa Dik?" jawabku lembut.
"Nanti malam Kakak mau gak bantu kami lagi? Mau ajari kami baca surat pendek lagi nanti? Kakak kan enak diajarinya, sabar banget," kata Bagas antusias.
Dimas langsung menyahut dengan nada sedikit mengejek Bagas. "Nah kan... makanya jadi orang tuh belajar yang pintar kayak Kak Ria. Jangan pintarnya cuma main bola sama lari-larian sama teman saja kayak kamu tuh, dasar!"
Bagas langsung kesal dan cemberut mendengar itu. "Apa sih kamu Dimas! Memangnya kamu sendiri pintar?! Sama saja saja kamu!"
Akhirnya mereka berdua saling kejar-kejaran di jalanan tanah itu, tertawa dan bersorak heboh. Aku hanya tersenyum geleng-geleng kepala, sementara Fajar tetap berjalan tenang di sampingku, memegang ujung bajuku erat-erat.
Sesampainya di depan rumah kami yang sederhana dan berukuran kecil itu, aku mengucapkan salam dengan lantang.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab suara-suara dari dalam.
Di beranda rumah, Bunda sedang duduk istirahat. Di samping beliau, ada Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah yang baru saja pulang bekerja keras di kebun kopi. Keringat masih mengucur di wajah mereka, tapi mereka tampak lega bisa beristirahat sejenak.
"Udah pulang ya Dik? Pulang dari mengaji ya?" tanya Bang Hamza santai, mengira aku baru saja selesai belajar mengaji seperti anak-anak lain.
Belum sempat aku membuka mulut untuk menjawab, Fajar yang berjalan di sebelahku langsung menyahut dengan suara keras dan lantang, polos apa adanya.
"Gak kok Bang! Kak Ria itu gak mengaji! Justru Kak Ria yang ngajari kami semua belajar mengaji di sana! Kakak bantu Ibu Rini ngajar anak-anak kecil lho!"
Bang Hamza, Bang Arefin, dan Bang Ardiansyah serentak terdiam, saling pandang satu sama lain dengan wajah bingung tak mengerti. Alis mereka terangkat tinggi, heran mendengar ucapan itu.
"Hah? Apa maksudnya Fajar? Maksudnya apa Dik Ria ngajar?" tanya Bang Ardiansyah penasaran.
"Iya Bang... bener kata Fajar," tambah Dimas yang baru sampai sambil napas-napas habis kejar-kejaran tadi. "Kak Ria itu yang ngajarin kami baca Al-Qur'an, yang benerin kalau kami salah baca, yang sabar banget. Ibu Rini cuma duduk, Kak Ria yang sibuk keliling bantu kami semua."
Mereka makin bingung dan kaget. Selama ini yang mereka tahu, aku cuma anak yang rajin bersih-bersih rumah Bu Rini, mencuci piring, atau bantu-bantu ringan. Mereka sama sekali tidak tahu kalau aku duduk di sana bukan cuma sebagai pembantu, tapi sebagai pengajar juga.
Aku berdiri diam, menunduk malu, bingung mau jawab apa. Aku sama sekali tidak bermaksud pamer atau minta dipuji. Aku memang sengaja diam saja, aku memang sengaja tidak cerita apa-apa. Bagiku, pandai sekolah, pandai mengaji, atau punya ilmu lebih itu bukan untuk dibanggakan atau diumbar ke orang lain, apalagi sama Abang-abangku. Aku simpan saja diam-diam, aku kerjakan dengan ikhlas, itu sudah cukup bagiku.
Belum sempat aku buka mulut untuk menjelaskan, Bagas dan Dimas datang berlari-lari mendekati beranda sambil berteriak heboh.
"Kak! Tolongin dong Bang Bagas ngejar-ngejar aku terus nih!"
"Dasar Dimas mulutnya suka nyerocos aja!" seru Bagas masih kesal.
Bunda menggeleng-geleng sambil tersenyum tipis, napasnya menghela pelan.
"Astaghfirullah ya Allah... Kalian ini ya, selalu saja begitu kelakuannya kalau sedang bersama. Gak ada diamnya sebentar pun," kata Bunda lembut.
Aku hanya tersenyum kecil, lalu masuk ke dalam rumah untuk mengganti bajuku. Di dalam hati aku berbisik: Biarlah mereka tahu pelan-pelan saja... Aku tidak mau dianggap hebat, aku tidak mau dianggap pintar. Biarpun aku sudah hatam Al-Qur'an, biarpun aku juara sekolah, biarpun aku bisa mengajar... aku tetaplah Ria. Ria yang sederhana, Ria yang miskin, Ria yang diam, dan Ria yang bekerja sekuat tenaga demi Bunda dan demi keluarga ini.
Kehebatan itu tidak perlu diteriakkan, cukup dibuktikan dengan perbuatan dan kesabaran diam... Itulah prinsipku, dan itu yang akan terus aku pegang sampai kapan pun.