Glegg
Arsa menelan ludahnya saat melihat tubuh Aurel yang hanya memakai lingerie tipis berwarna hitam, bahkan Arsa bisa melihat apa yang ada di dalamnya.
"Sayang boleh ya." Ucap Arsa memohon.
Aurel hanya mengangguk malu malu sambil menyilangkan tangannya, melihat anggukan Aurel, tanpa ragu lagi Arsa mulai mengeksplor setiap inchi tubuh istrinya.
"Emhhh, Arsa " Aurel mulai terbuai atas perlakuan Arsa, Arsa memperlakukannya sangat lembut, meski terkesan tidak sabaran namun Arsa berhasil menahan diri agar tidak menyakiti Aurel karena ini adalah pengalaman pertama mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara Tespek Agra Arum Berantem
" Bren*sek, liat aja tuh cewek, mentang mentang dia jadi pacar nya Arsa udah sok banget." Rani misuh misuh sambil susah payah membersihkan noda yang ada di baju nya.
" Tenang aja, lain kali lo pasti bisa balas dia Ran, lo bilang kan Arsa enggak akan bisa nyakitin lo." Ucap Juwita
Rani manggut manggut, memang selama ini Arsa hanya membiarkan nya saja, tak pernah menegur Rani saat dia selalu mengganggu dan menghalau cewek cewek yang mengejar Arsa, Arsa membiarkan Rani hanya untuk memanfaatkan nya, hal itu menguntungkan bagi Arsa, karena tak perlu capek capek mengusir nya, dan hanya membiarkan Rani berkeliaran di sekeliling nya, Namun hal itu membuat Rani besar kepala, ia mengira Arsa hanya dekat dengan nya saja.
Setelah Rani membersihkan baju nya, ketiga nya pun keluar dari toilet, sebelum mereka berjalan menjauh dari toilet, mereka melihat Aurelia Cs memasuki toilet, terlihat Aurel menutup mulut nya menahan sesuatu yang akan keluar dari mulut nya, Rani cs memutuskan berbalik arah dan memantau di dekat toilet apa yang terjadi.
" Hueekk, hueeek, hueeek ." Aurel mengeluarkan semua isi perut nya, Amel dengan cekatan memijit mijit tengkuk Aurel, sedangkan Arum sibuk mengolesi leher dan perut Aurel dengan minyak kayu putih, sementara Senna membantu membersihkan mulut Aurelia dengan tissu.
" Kamu masuk angin kali Rel, muntah nya banyak banget." Ucap Arum
" Kapan terakhir lo datang bulan?" Tanya Amel
" Gue lupa Mel, tapi kaya udah 2 bulan deh gue enggak datang bulan." Jawab Aurel
" Lo hamil kali Rel." Celetuk Senna
" Jangan jangan lo bener hamil, lo coba beli tes pack dulu deh, kalau garis dua berarti positif." Saran Amel
" Gitu ya, bisa minta tolong beliin dong." Pinta Aurel,
" Oke bentar, gue telpon Agr aja." Ucap Arum, kebetulan tadi Arsa sedang ada kelas jadi ia tak tahu kalau Aurel tak enak badan.
Arum kemudian menelphone Agra dan tak lama telepon nya tersambung.
[" Hallo sayang, gimana Aurelia ?"] Tanya Agra
" Aurel tak apa apa sayang, sayang bisa minta tolong enggak?"
[" Minta tolong apa yang?"]
" Ke apotex yuk beli obat" ajak Arum
[" Ya sudah ayo, aku tunggu kamu di parkiran ya,"]
" Hem" Arum kemudian mematikan telepon nya.
" Guys gue ke apotik dulu ya, tadi aku harus beli apa?" Pamit Arum.
" Test pack Ar" jawab Amel
" Test pack, oke" ucap Arum sambil bergumam dalam hati, test pack obat apaan ya?
Sementara itu Rani Cs yang menguping di luar toilet buru buru pergi karena Arum yang akan keluar dari toilet.
" Kalian denger, ini berita bagus, Aurel hamil." Ucap Maya dengan suara yang sedikit kencang.
" Suuuut, jangan kencang kencang ngomong nya." Ucap Rani
" Kenapa memang? bagus dong, biar seisi kampus denger kalau ada mahasiswi hamil di luar nikah, bakal heboh enggak si, pasti dia bakal di Do enggak tuh." Ucap Juwita.
" Lo bener, kampus ini kan melarang pergaulan bebas, apa lagi kalau sampai hamil, kecuali mereka sudah menikah beda cerita nya, karena kampus ini enggak melarang mahasiswa nya menikah" jelas Maya.
" Gimana cara kita up ke publik ni?" Tanya Juwita
" May, tadi lo udah sempat rekam kan?" Tanya Rani
" Udah si, tapi obrolan mereka enggak cukup kuat, Aurel bisa saja hanya masuk angin." Jawab Maya
" Tapi kan ada ucapan ucapan mereka yang ambigu enggak si, terus Aurel minta beli test pack segala, apa lagi, dia hamil atau enggak, yang jelas mereka sudah melanggar norma dan aturan kampus ini." Jelas Juwita
Rani tiba tiba diam, hati nya begitu sakit saat mengetahui kenyataan kalau Aurel dan Arsa sudah melakukan hal sejauh itu.
" Sia*an cewek ja*ang itu, liat aja, gue bakal hancurkan hidup nya, berani berani nya dia nyentuh Arsa." Ucap Rani dengan amarah yang membuncah.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, Raisa dan Lea mendengar percakapan mereka.
Keduanya hanya saling pandang.
Perasaan Raisa bercampur aduk, antara senang karena Aurel bakal hancur jika kasus ini up, tapi di lain sisi ia kesal karena fakta Arsa sudah pernah tidur dengan Aurel.
" Raisa, Raisa... lo denger kan tadi?" Tanya Lea
" Gue enggak budeg kali Le" jawab Raisa ketus
" Terus bagaimana, lo masih mau sama Arsa?" Lea bertanya seakan akan Raisa yang menentukan kalau Arsa bakal jadi milik nya atau tidak.
" Lantas kenapa kalau Arsa pernah tidur dengan Aurel, toh di jaman sekarang hal itu sudah tabu?" Sepertinya Raisa tak peduli bagaimana gaya pacaran Arsa dan Aurel, tujuan nya tak akan berubah.
Sementara itu Arum dan Agra sudah berada di dalam Apotex.
" Selamat siang, ada yang bisa saya bantu dek?" Sapa seorang Apoteker wanita yang berjaga siang itu.
" Siang Kak, ada test pack?" Tanya Arum tanpa rasa malu.
Agra langsung mendelik saat mendengar apa yang akan di beli oleh kekasih nya.
" Sayang, kamu enggak salah ngomong?" Bisik Agra
" Enggak sayang, bener kok, kata Amel aku harus beli test pack buat periksa kehamilan."
Ucap Arum polos
Agra semakin malu saat melihat Apoteker yang menatap mereka dengan tatapan tak dapat di artikan.
" Adek adek, jadi kalian mau beli apa?" Tanya Apoteker tersebut.
" Test pack Kak" ucap Arum tanpa ragu ragu
Apoteker itu geleng geleng kepala saat mengambil beberapa test pack, " ada beberapa pilihan, mau pilih yang mana?"
" Bedanya apa Kak?" Arum memang tau kalau test pack adalah alat test kehamilan, namun yang belum ia tahu, gadis yang belum menikah membeli alat itu dengan pacar nya, pasti akan menimbulkan pertanyaan.
" Yang warna merah ini lebih sensitif dan akurat, kalau yang biru ini yang biasa." Jawab Apoteker itu singkat.
" Sayang pilih yang mana?" Lagi lagi Arum membuat Agra mendelik,
" Yang ini saja, berapa Kak" Agra cepat cepat memilih test pack berwarna merah, lalu mengeluarkan uang seratus ribuan.
" Ini hanya 25 ribu" apoteker itu pun mengambil uang dari Agra dan memberikan kembalian nya, beserta kantong plastik kecil transparant untuk membawa test pack tersebut.
Rasa nya Agra ingin cepat menghilang dari sana, karena pandangan aneh orang orang di dalam antrian, menjelaskan pada mereka pun tak ada guna nya.
" Ayo sayang kita pergi, makasih Kak" setelah mengucapkan itu, Agra menggandeng tangan Arum dan mengabaikan semua pandangan dan bisikan bisikan orang orang yang ada di sana.
" Anak jaman sekarang, enggak ada tau malu nya ck ck ck" ucap salah satu customer di sana
" Masih muda sudah membeli test pack buat apa coba?" kata yang lain nya.
" Pergaulan anak jaman sekarang memang miris ya." celetuk Customer lainnya lagi.
Agra menulikan telinga nya atas celetukan celetukan itu, sesampai nya di luar Apotek Arum yang merasa heran dengan Agra yang sejak tadi berperilaku aneh.
" Sayang, kenapa si, kok kamu aneh banget dari tadi?" Tanya Arum
" Kamu yang aneh, kenapa enggak bilang kalau mau beli benda itu." Agra menunjuk kantong plastik kecil yang di bawa Arum.
" ini? memang nya kenapa?"
Arum mengangkat tinggi tinggi kantong plastik kecil yang berisi test pack tersebut.
Agra menengok ke kanan dan kiri kemudian merebut itu dari Arum, " Masukan ke tas mu sayang" Agra memasukan benda tersebut kedalam tas Arum dan Arum membiarkan begitu saja.
" Memang kenapa si yang, ada yang salah sama benda ini?" Arum masih penasaran
Agra memijit pelipis nya, masa hal kaya gini aja Arum tak mengerti, menjelaskan nya pun percuma.
" Lain kali kalau mau beli sesuatu kasih tau dulu, tau kamu mau membeli ini aku enggak akan masuk kedalam." ucap Agra masih kesal.
" Kamu tuh, dari tadi cuma ngomong hal yang enggak jelas, terus jadi kesal gitu, memang salah aku dimana? sekarang kamu malah nyesel udah temenin aku, kalau enggak ikhlas lain kali enggak usah mau kalau aku ajak." Setelah berbicara seperti itu Arum pergi meninggalkan Agra dengan kekesalan nya.
" Sayang, bukan gitu maksud aku." Agra berusaha mengejar Arum, namun Arum berlari cepat menuju jalan, sesampainya di depan jalan Arum berniat menyetop angkutan umum, namun secara bersamaan Bara yang lewat berhenti di depan Arum, Bara tak melihat Agra karena tertutup oleh pohon besar.
" Lo ngapain Ar disini?" Motor Bara tepat berhenti di depan Arum.
Arum melihat Agra yang mengejar nya, lalu dengan spontan ia naik ke motor Bara, "Ayo Bar jalan, anterin gue ke kampus, cepet ya"
Bara tak berbicara apa apa, dia hanya menjalankan motor nya sesuai permintaan Arum.
Sementara Agra yang melihat Arum naik ke motor Bara semakin kesal, ia berusaha menghentikan namun sudah terlambat.
Semangat 💪💪