NovelToon NovelToon
Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Rahasia Sang Pengantin : Gadis Berniqab Dan Cassian Noir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:929
Nilai: 5
Nama Author: nurproject

Penerbangan dua belas jam menuju Kanada seharusnya menjadi awal hidup baru yang tenang bagi Aisya. Gadis sederhana yang hanya ingin mengejar mimpinya itu tidak pernah menyangka bahwa kursi economy class yang ia tempati akan membawanya masuk ke dalam pusaran hidup Cassian Noir.

​Cassian, pria dengan aura mengintimidasi dan tatapan setajam silet, duduk di sana bukan untuk berlibur. Ia sedang melarikan diri dari pengkhianatan di organisasinya. Pertemuan singkat di atas Samudra Atlantik itu bermula dari sebuah ketidaksengajaan—sebuah bantuan kecil dari Aisya yang justru membuat Cassian melihat sesuatu yang berbeda di balik niqab gadis itu: Ketulusan tanpa rasa takut.

​Namun, sebuah insiden di tengah penerbangan memaksa mereka untuk mendarat dalam situasi yang tidak terduga. Cassian yang terluka dan terpojok mengklaim Aisya sebagai "pengantinnya" demi menyelamatkan nyawa gadis itu dari musuh yang sudah menunggu di bandara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nurproject, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Mantel yang Tertinggal

​Keesokan harinya, Toronto terbangun dengan sisa-sisa badai yang menyisakan tumpukan salju setebal setengah meter. Namun, bagi Aisya, badai yang sesungguhnya baru saja mereda di dalam hatinya.

​Pagi itu, suasana di apartemen Paman Hamdan jauh lebih tenang. Paman Hamdan sudah bisa tersenyum meski masih harus banyak beristirahat di kamar, sementara Bibi Salma sibuk memasak sup hangat di dapur.

​Aisya berdiri di depan cermin kamarnya, menatap sebuah benda yang diletakkan rapi di atas tempat tidur: mantel wol tebal berbulu hangat milik Cassian Noir. Mantel itu terlalu besar untuk ukuran tubuh mungilnya, namun kehangatan yang ditinggalkannya semalam seolah masih membekas. Wangi maskulin khas kayu cedar yang samar dari kain mantel itu bahkan belum sepenuhnya hilang.

​"Aisya," panggil Bibi Salma dari ambang pintu kamar, membuat Aisya sedikit tersentak. "Pamanmu bilang, mantel Tuan Noir harus segera dikembalikan. Tidak sopan menyimpannya terlalu lama, apalagi itu barang berharga. Tapi Paman belum kuat untuk keluar rumah hari ini."

​Aisya membalikkan badan, jemarinya meremas ujung gamisnya. "Biar Aisya saja yang mengantarkannya ke kantor pusat, Bi. Sekalian Aisya ingin mengucapkan terima kasih secara resmi atas bantuan beliau semalam."

​Bibi Salma tampak ragu, teringat kejadian dengan pihak imigrasi semalam. Namun, mengingat Cassian sudah menempatkan beberapa personel keamanan dari perusahaannya di sekitar kompleks apartemen, Bibi Salma akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi hati-hati. Gunakan taksi saja, jalanan masih licin."

​Setelah membungkus mantel itu ke dalam wadah pakaian yang rapi dan bersih, Aisya berangkat menuju Downtown.

​Sesampainya di gedung megah Noir Enterprises, suasana lobi terasa sangat berbeda dari hari sebelumnya. Tidak ada lagi tatapan merendahkan atau bisikan sinis. Begitu Aisya melangkah masuk dengan pakaian longgar dan niqab hitamnya, resepsionis yang kemarin sempat acuh tak acuh kini langsung berdiri dan membungkuk hormat.

​"Selamat siang, Nona Aisya. Tuan Noir sudah berpesan bahwa jika Anda datang, Anda bisa langsung menuju lantai eksekutif. Lift khusus sudah disiapkan untuk Anda," ujar resepsionis itu dengan nada yang sangat ramah, bahkan cenderung gugup.

​Aisya hanya mengangguk sopan. "Terima kasih."

​Ia melangkah menuju lift eksklusif yang membawanya langsung ke lantai tertinggi. Ketika pintu lift terbuka, Kevin sudah menunggu di depan koridor dengan senyum profesionalnya yang rapi.

​"Selamat siang, Nona Aisya. Senang melihat Anda sudah pulih dari kejadian semalam," sapa Kevin hangat. "Tuan Noir sedang berada di ruangannya. Beliau baru saja menyelesaikan rapat internal yang... cukup menegangkan."

​Aisya mengerutkan kening di balik niqabnya. "Menegangkan? Apakah terjadi sesuatu, Kak Kevin?"

​Kevin terkekeh tipis, lalu memberi isyarat agar Aisya mengikutinya berjalan menuju pintu ganda kayu mahoni. "Mari saya antar ke dalam. Anda bisa melihatnya sendiri nanti."

​Kevin mengetuk pintu, lalu membukanya perlahan. "Tuan Noir, Nona Aisya sudah tiba."

​Aisya melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang didominasi dinding kaca tersebut. Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika melihat situasi di dalam ruangan.

​Di depan meja kerja Cassian, berdiri Julian Vance dengan wajah yang pucat pasi dan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Di samping Julian, dua orang pengacara korporat berseragam rapi sedang meletakkan tumpukan dokumen pemutusan hubungan kerja dan pembatalan kontrak sepihak.

​Sementara itu, Cassian duduk tegap di kursi kebesarannya. Ia tidak mengenakan mantel, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung hingga seikut. Tangannya yang besar sedang memainkan sebuah pena mewah, sementara sepasang matanya menatap Julian dengan pandangan yang begitu dingin dan menusuk—seolah sedang melihat seonggok sampah yang mengganggu pemandangan kantornya.

​Ketegangan di dalam ruangan luas itu terasa begitu pekat, kontras dengan kehangatan ruangan yang dihasilkan oleh pemanas dinding.

​Julian Vance berdiri mematung. Wajahnya yang biasa dipenuhi keangkuhan kini tampak pias, matanya menatap kosong ke arah surat pemecatan dan pembatalan kontrak sepihak yang tergeletak di atas meja marmer. Dengan reputasi buruk yang sengaja Cassian sebarkan ke seluruh jaringan korporat malam ini, karier Julian di dunia bisnis Kanada bisa dipastikan telah hancur total.

​"Tuan Noir, saya mohon... ini semua hanya salah paham," suara Julian bergetar, mencoba mencari celah pembelaan diri. "Saya hanya mengkhawatirkan keamanan gedung Anda—"

​"Lukas sudah mengantarmu ke pintu keluar?" sela Cassian dingin, mengabaikan seluruh kalimat Julian seolah pria itu hanya angin lalu. Ia bahkan tidak memandang Julian, jemarinya beralih mengambil cangkir kopi hitamnya. "Bawa dia keluar, Lukas. Kehadirannya merusak kualitas udara di ruanganku."

​"Baik, Tuan Noir," Pak Lukas melangkah maju, meletakkan tangannya yang besar di bahu Julian dengan tekanan yang tidak bisa dibantah, memaksa pria itu untuk berbalik dan melangkah keluar dari ruangan dengan kepala tertunduk lesu.

​Saat melewati Aisya di dekat pintu, Julian sempat melirik dengan tatapan penuh dendam yang tertahan, namun ketakutannya pada Cassian membuatnya tidak berani mengucapkan sepatah kata pun. Pintu ganda kayu mahoni itu akhirnya tertutup rapat, menyisakan keheningan yang bersahaja di antara Aisya dan Cassian.

​Kevin dengan sigap merapikan dokumen-dokumen di meja sebelum berpamitan dengan sopan. "Saya akan mengurus sisa administrasinya di bawah, Tuan Noir. Nona Aisya, silakan." Kevin melangkah keluar, menutup pintu dengan bunyi klik yang halus, memastikan batasan privasi di antara mereka tetap terjaga namun tetap profesional.

​Aisya menarik napas dalam-dalam di balik niqabnya, mencoba menguasai kegugupan yang mendadak menyerang. Ia melangkah beberapa tindak mendekati meja kerja Cassian, lalu meletakkan wadah pakaian pelindung yang dibawanya dengan sangat hati-hati di atas sofa kulit.

​"Tuan Noir..." panggil Aisya lembut. "Saya datang untuk mengembalikan mantel Anda yang tertinggal semalam. Bibi Salma sudah membersihkannya dengan baik. Dan... saya ingin berterima kasih lagi secara resmi atas apa yang Anda lakukan di lobi apartemen saya."

​Cassian meletakkan cangkir kopinya, lalu menyandarkan tubuh tegapnya pada kursi kebesaran. Sepasang matanya mengunci pandangan pada sosok Aisya yang berdiri dengan jarak aman di dekat sofa.

​"Kuharap pemecatan Julian cukup untuk membayar rasa bersalahmu karena telah menyusupkan dokumen berhargaku ke tengah badai kemarin, Aisya," ujar Cassian dengan nada datar khasnya, namun ada kilatan kepuasan yang tipis di sana.

​Aisya tertegun sejenak, lalu binar matanya melengkung, mengisyaratkan senyuman di balik kain penutup wajahnya. "Alhamdulillah, dokumennya selamat, Tuan. Tapi mengenai Julian... saya tidak menyangka Anda akan mengambil tindakan sejauh ini."

​"Aku tidak suka milikku atau orang di sekitarku diganggu oleh pihak luar karena alasan pribadi yang bodoh," sahut Cassian mutlak. Ia lalu mengetuk pelan map kulit hitam di atas mejanya—dokumen penting yang sempat kotor karena tumpahan kopi Aisya dulu, yang kemarin lusa diperjuangkan Aisya di tengah badai demi mendapatkan tanda tangan ulang. "Dokumen ini sudah bersih dan resmi ditandatangani. Urusan tumpahan kopi dan hutang tanggung jawabmu padaku sudah lunas hari ini."

​Aisya mengembuskan napas lega yang teramat sangat. Beban besar yang menggelayuti pundaknya sejak insiden kecerobohan itu akhirnya terangkat sepenuhnya. "Terima kasih banyak atas kemurahan hati Anda, Tuan Noir."

​"Sekarang," Cassian kembali membuka laptopnya, beralih ke mode formalnya yang sibuk, "mulai hari Senin, fokuslah pada perkuliahanmu di Universitas Toronto. Jangan membuat masalah lagi, dan jangan biarkan dirimu terjebak badai konyol seperti kemarin."

​Meskipun kata-katanya terdengar seperti perintah yang tegas, Aisya tahu ada perhatian tersembunyi di sana. Ia mengangguk hormat, lalu melangkah mundur untuk pamit. Badai es Toronto mungkin sangat membekukan, namun di dalam ruangan tertinggi ini, dinding es seorang Cassian Noir perlahan-lahan menunjukkan retakan yang menghangatkan takdirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!