NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:35.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 11

Jalanan ibu kota malam itu tampak basah setelah diguyur hujan sejak sore. Lampu-lampu jalanan memantul di atas aspal, menciptakan pendaran cahaya yang temaram di sepanjang rute perjalanan pulang.

Di dalam kabin mobil yang senyap, Harsa menyandarkan punggungnya yang terasa kaku setelah seharian penuh menghadapi rapat-rapat melelahkan di kantor.

Matanya terpejam, mencoba mengusir penat yang bergelayut di kepalanya.

Pak Darto, sesekali melirik majikannya melalui kaca spion tengah. Ia tahu betul ritme kerja Harsa yang gila kerja, namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah pria muda itu.

Ada gurat kabut yang tak biasa di matanya.

Saat mobil mendekati area pertokoan yang cukup ramai, Harsa perlahan membuka matanya. Ia menegakkan posisi duduknya lalu melihat ke luar jendela.

“Darto, mampir dulu ke toko kue di depan itu. Aku mau membelikan cake kesukaan ibu. Beliau baru datang tadi siang, kan?”

“Iya, Tuan. Tadi siang Ibu sudah sampai di rumah,” jawab Pak Darto sambil memutar kemudi, mengarahkan moncong mobil menuju area parkir sebuah toko kue ternama yang bernuansa hangat. “Baik, Tuan, kita berhenti di sini.”

Harsa turun dari mobil dengan langkahnya yang tegap dan berwibawa. Mantel panjangnya bergerak tertiup angin malam yang dingin.

Begitu melangkah masuk ke dalam toko, aroma manis mentega, vanila, dan panggangan roti langsung menyergap indra penciumannya.

Pria itu berjalan perlahan di depan etalase kaca yang memajang berbagai jenis kue mewah dengan dekorasi yang cantik.

Matanya langsung tertuju pada sebuah classic cheese cake dengan taburan parutan keju tebal di atasnya.

Itu adalah kue kesukaan ibunya, Ratna. Tanpa berpikir panjang, Harsa menunjuk kue tersebut kepada pelayan toko.

“Tolong bungkus yang ini satu,” ujar Harsa pendek.

Namun, saat pelayan itu sedang menyiapkan pesanannya, pandangan mata Harsa tidak sengaja bergeser ke etalase di sebelahnya.

Di sana, sebuah kue tart berukuran sedang dengan lapisan krim putih bersih dan hiasan buah stroberi segar di atasnya tampak begitu mencolok. Strawberry fresh cream cake.

Harsa terpaku sejenak. Ingatannya mendadak berputar ke masa lalu, ke tahun pertama pernikahan mereka yang penuh tawa.

Dulu, hampir setiap minggu, Rania selalu mengirimkan pesan singkat berbunyi manis, mengingatkannya untuk membawa pulang kue stroberi itu.

Rania selalu memakannya dengan mata berbinar-binar penuh kebahagiaan, bahkan terkadang dengan manja menyuapinya sepotong kecil.

Namun, lambat laun, ingatan itu memudar bersama kesibukannya. Harsa mendadak tersadar akan sesuatu yang mengusik benaknya.

“Entah mulai sejak kapan Rania sudah tidak pernah lagi meminta dibelikan kue ini. Apa mingkin dia sudah bosan?” batin Harsa, alisnya bertaut dalam.

Harsa menggelengkan kepalanya pelan, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang mengganggu tersebut.

Alih-alih mengabaikannya, ia kembali menunjuk ke arah etalase.

“Tambahkan kue stroberi yang itu satu lagi. Bungkus terpisah.”

“Baik, Tuan. Mohon tunggu sebentar,” sahut pelayan itu dengan ramah.

Setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Harsa keluar membawa dua kotak kue berlogo emas. Ia kembali masuk ke dalam mobil dan meletakkan kotak-kotak tersebut di kursi sampingnya.

Mobil kembali melaju membelah malam, menuju ke kediaman mereka.

Di kursi kemudi, Pak Darto tampak gelisah. Pria paruh baya itu berulang kali mencuri pandang ke arah Harsa melalui kaca spion, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil dengan ragu.

Ada beban informasi yang sejak tadi siang mengganjal di dadanya dan terasa sangat salah jika ia simpan sendiri.

Harsa, yang dasarnya adalah pria yang sangat peka terhadap perubahan sekecil apa pun di sekitarnya, menyadari gelagat aneh sopirnya.

Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap lurus ke arah kaca spion tengah dengan pandangan matanya yang dingin namun menyelidik.

“Ada yang mau kamu katakan, Darto? Sejak tadi aku lihat kamu seperti tidak tenang menyetir,” tanya Harsa langsung.

Pak Darto tersentak kecil, ia menarik napas dalam-dalam untuk mengumpulkan keberanian.

Statusnya yang hanya seorang pekerja membuatnya harus berhati-hati, namun rasa ibanya pada Rania jauh lebih besar.

“Maaf sebelumnya, Tuan Harsa... jika saya lancang,” ucap Pak Darto dengan nada suara yang sangat berhati-hati. “Saya hanya ingin bertanya... apakah akhir-akhir ini Nona Rania sedang sakit?”

Mendengar pertanyaan yang tak terduga itu, sorot mata Harsa sedikit berubah, meski wajahnya tetap sedatar papan tulis.

“Maksudmu apa? Rania tidak mengatakan apa-apa padaku. Kenapa kamu bertanya seperti itu?”

Pak Darto menghela napas pendek, mengingat kejadian tadi siang saat ia menjemput ibu mertua majikannya.

“Begini, Tuan... tadi siang saat saya mengantar nona Rania, saya tidak sengaja melihat keadaannya. Wajah beliau pucat sekali. Dan yang membuat saya khawatir, saya sempat melihat hidungnya berdarah.”

Tangan Harsa yang sedang bertumpu di atas lututnya mendadak mencengkeram kain celananya sendiri. Jantungnya memberikan denyutan aneh yang tidak nyaman.

“Hidungnya berdarah? Kamu yakin tidak salah lihat?” tanya Harsa lagi, suaranya kini terdengar lebih tajam dan menuntut, meskipun ia berusaha keras menyembunyikan kepanikannya dibalik nada dinginnya.

“Saya yakin sekali, Tuan,” jawab Pak Darto dengan anggukan mantap.

“Nona Rania buru-buru menyekanya dengan tisu dan meminta saya untuk tidak menceritakannya kepada siapa pun, termasuk Tuan. Tapi sebagai orang yang sudah lama ikut Tuan, saya merasa tidak tenang. Tubuh nona Rania juga terlihat semakin kurus dari hari ke hari. Kalau boleh saya memberi saran, coba Tuan bawa nona Rania ke rumah sakit untuk periksa secara keseluruhan.”

Harsa terdiam seribu bahasa. Ia memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil, menatap rintik air yang mengalir di kaca.

Kata-kata Darto seperti palu yang menghantam kesadarannya. Ia mulai mengingat-ingat beberapa minggu terakhir ini. Memang benar, setiap kali ia pulang malam, Rania selalu menyambutnya dengan senyuman, namun wajah istrinya itu tampak semakin lesu.

Kulitnya yang biasanya cerah kini terlihat putih pucat.

Selama ini, Harsa terlalu menutup mata karena mengira istrinya hanya kelelahan mengurus rumah tangga, atau mungkin tertekan karena masalah Wulan dan Gavin.

Ia tidak pernah mengira bahwa ada sesuatu yang lebih serius yang sedang terjadi pada kesehatan Rania.

“Tuan Harsa?” panggil Pak Darto lirih karena tidak mendapat respons.

Harsa menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan untuk menguasai kembali emosinya yang sempat bergejolak.

Ego dan sikap dinginnya kembali mengambil alih, namun di dalam lubuk hatinya, ada rasa bersalah yang mulai menggerogoti.

“Baiklah. Besok aku akan meluangkan waktu untuk mengajaknya ke dokter,” jawab Harsa.

“Terima kasih atas informasinya, Darto. Kamu sudah melakukan hal yang benar dengan memberi tahu aku.”

“Sama-sama, Tuan. Saya hanya berharap nona Rania baik-baik saja,” sahut Pak Darto, merasa lega karena tugas moralnya telah selesai.

Harsa melirik ke arah kotak kue stroberi di sampingnya. Sesuatu di dalam dadanya mendadak terasa sesak, seolah-olah ia sedang berkejaran dengan waktu yang tidak ia ketahui batasnya.

1
evi carolin
Wulan goblok , Harsa bersiaplah kamu akan peringatan keras dr CEO ,duh pengennya kena pecat deh Krn kelakuan Wulan sendiri biar tambah pusing dan beban
evi carolin
semoga semua fasilitas yg dinikmati mereka selama sdh siap dicopot oleh Rania kalau dia sdh pergi ,Gedeg aq liat kelakuan mereka terlebih mertua ga tau diri
evi carolin
siap siap aja si ibu ya kalau nikmat jabatan anakmu dicopot ....
Al Fatih
Jangan2 itu Gavin yaa,, duh si Wulan rahasia gelapnya banyak bngt
Mita Paramita
Thor cepet bongkar kebusukan Wulan jadi gemes liat tingkah gak tau diri Wulan 🤣🤣🤣
deeRa
Coba tolong jedotin kepala nya Harsa😌
Yessi Kalila
rasanya pengin banget nendang pelakor yg bernama Wulan.... 😄😄😄
vj'z tri
yang kaya itu Rania woi Rania 🤧🤧
tinie
mirip Gavin yaa
tinie
waah bisa jadi sampai disana malah ketemu sama wulan
ollyooliver
wahhhh....jeng..jeng..jengggggggg. harsa..harsa, kesalahanmu mmng gk fatal amat, gk selingkuh, gak adu kokop atas bawah. tapi bayaran satu tahun menyakiti rania..bener" dibayar fatal..ah mantap.🤤
tinie
dalam mimpi mu
mana ada menejer memecat seorang ceo🤣🤣🤣

gilaaa
ollyooliver
oalahhh..
tinie
wanita tak tau diri
ollyooliver
waduhhhh...gavin kaliii anaknya
ollyooliver
beruntung? ketiban sial itu rania😌
ollyooliver
tenang aja..dia begini bukan karna dia mau, atau karema rasa bersalahnya pd rania.. tapi karena mertuanya. tenang aj, nanti balik kesetelan awal. rania gk ada apa"nya dibandingkan dirimu..harsa aja ,mudah berpaling😌
ollyooliver
sikapnya berubaah karna ancaman pasti, kalau gk..mana mau dia beginiin wulan tersayangnya. ttp ya rania bukan prioritas. kalaupun nanti jadi prioritas...cuman dua jawabannya. satu...karena keluarga rania tau harsa perlakukan wulan bagaimama terutama aditya. kedua, kalau jadi mantan istri..baru deh ngejar" rania tapi ttp saja bukan karnaa cinta atau pun perasaannya. kasihan dan rasa bersalha, menyesal tentu. dan semuanya gk ada perbuatan yg tulis dri hati harsa..karena dia bertindak selalu karema alasan lain...bukan karena RANIANYA😌
ollyooliver
penasaran deh, apa yg dikatakan aditya
MamDeyh
Up lg Kak
Senja: kak nita sebelah ya tadi, typo😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!