Ia masuk ke tubuh wanita yang ia anggap bodoh, dan memilih mengubah takdirnya, bukan mengulangnya
Dina, yatim piatu cerdas yang selalu diremehkan karena penampilan, meninggal dalam kecelakaan dan terbangun sebagai Belvina Laurent, sosialita cantik yang dulu ia anggap bodoh. Terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Alden Virel, pria dingin yang membencinya,
Dina dalam tubuh Belvina memutuskan berhenti mengejar cinta yang bukan miliknya.
Perubahannya membuat Alden gelisah, sementara Seraphina, wanita yang tampak lembut, perlahan menunjukkan sisi tersembunyi.
Dengan kecerdasan yang kini jadi senjata, Belvina mulai membalik keadaan, mengungkap kebohongan, dan membuktikan bahwa harga diri lebih berharga daripada cinta sepihak.
Namun semakin ia menjauh, semakin Alden tak mampu melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Istri Pajanganku Jadi Rebutan
Pria Asia itu juga tertegun. Lalu senyumnya melebar.
“Ah—saya tidak menyangka,” katanya kini dalam Mandarin, lebih lancar. “Nyonya bisa berbicara seperti ini.”
Belvina tersenyum kecil.
“Masih belajar,” jawabnya ringan. “Kadang masih berantakan.”
Pria itu mengangguk, tampak benar-benar terkesan.
“Bahasa ini tidak mudah,” katanya. “Bisa berbicara seperti itu sudah sangat baik.”
Beberapa orang di sekitar ikut memerhatikan. Ada yang tidak mengerti, tapi menangkap situasinya. Ada yang mengerti, dan jelas terkejut.
Di sisi lain—
Seraphina mengernyit tipis. Matanya tidak lepas dari Belvina.
Ini bukan sekadar perubahan penampilan. Ini… sesuatu yang lain.
Sementara itu, tangan Alden di pinggang Belvina tidak lagi sekadar menahan. Cengkeramannya menguat sedikit lagi. Lebih sadar sekarang. Lebih… sengaja.
Ia menatap ke depan. Namun pikirannya tidak.
Bahasa Mandarin?
Sejak kapan?
Dan yang lebih mengganggu, kenapa ia tidak tahu?
Belvina tetap berdiri di sana. Tenang. Seolah semua perhatian itu bukan sesuatu yang luar biasa. Namun tanpa ia sadari, malam itu, ia tidak lagi berdiri di samping Alden.
Ia mulai berdiri… sejajar.
Seraphina mendekat dengan langkah anggun. Senyumnya sempurna. Terlalu sempurna untuk sekadar kebetulan.
“Belvina,” sapanya lembut. “Aku hampir tidak mengenalimu.” Nada itu terdengar seperti pujian. Tapi ada jeda kecil di ujungnya.
Belvina memalingkan wajah perlahan. Ekspresinya tenang, hanya ada lengkung samar di bibirnya.
“Harusnya itu hal yang bagus, 'kan?”
Seraphina tertawa kecil. Ringan.
“Tentu saja.” Pandangannya menyapu dari atas ke bawah. Cepat. Terlatih. “Perubahan itu… menarik.”
Ia memberi jeda. Lalu menambahkan, seolah santai,
“Kamu jadi terlihat jauh lebih… cocok di tempat seperti ini.”
Kalimat itu licin. Implikasinya jelas: dulu tidak cocok.
Beberapa orang di sekitar mereka mulai diam. Mengamati.
Belvina tidak langsung menjawab. Ia mengambil gelas dari nampan pelayan. Mengangkatnya sedikit, lalu baru bicara—
“Berarti selama ini aku terlalu rendah untuk masuk ke lingkaranmu?”
Nada suaranya tidak tinggi. Bahkan terdengar ringan. Tapi tepat sasaran.
Seraphina tidak goyah. Bibirnya melengkung halus, seolah sudah dilatih.
“Aku tidak pernah bilang begitu.”
“Benar.” Belvina mengangguk kecil. “Kamu tidak perlu bilang. Semua orang sudah paham.”
Obrolan di lingkar itu terpotong sesaat. Halus. Tapi terasa.
Alden di sampingnya tidak ikut campur. Namun perhatiannya jelas berpindah.
Seraphina memiringkan kepala sedikit. Masih tersenyum.
“Kalau begitu, aku senang kamu akhirnya bisa… menyesuaikan diri.”
Sorot Belvina mengarah padanya beberapa detik.
Lalu—
“Menyesuaikan?” ulangnya dengan nada lebih rendah. Ia mengangkat bahu ringan. “Aku tidak merasa harus menyesuaikan diri dengan siapa pun.”
Ia memberi ruang sebelum melanjutkan.
“Aku hanya berhenti mencoba menyenangkan orang yang tidak peduli.”
Kalimat itu tidak diarahkan.
Tapi semua orang tahu, itu sampai ke siapa.
Alden tidak bergerak. Tapi jari di pinggang Belvina mengencang sedikit.
Seraphina menangkap itu. Di momen itu, senyumnya tidak seutuh tadi. Namun ia belum selesai.
Seraphina melangkah setengah mendekat.
“Ngomong-ngomong,” katanya santai, “aku dengar kamu sekarang banyak belajar hal baru?”
Nadanya ringan. Tapi jelas menyentil.
“Bahasa, misalnya?”
Beberapa orang langsung tertarik. Ini bukan lagi basa-basi.
Belvina menoleh sedikit. Tidak kaget.
“Sedikit.”
Sudut bibir Seraphina terangkat sedikit.
“Menarik.” Ia melirik ke pria China tadi. “Kebetulan Mr. Liang cukup perfeksionis soal bahasa. Aku penasaran… seberapa jauh kemampuanmu.”
Itu bukan ajakan. Itu ujian terbuka.
Lingkaran itu makin hening. Semua menunggu.
Belvina menyesap minumannya sedikit. Baru kemudian, dengan sangat tenang, ia beralih ke bahasa Mandarin. Lancar. Tidak berlebihan. Tapi cukup jelas.
“Kalau hanya untuk percakapan ringan, seharusnya tidak jadi masalah.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan nada ringan:
“Tapi kalau terlalu formal, saya mungkin masih perlu belajar.”
Pria itu langsung tersenyum lebar. Jelas terkesan.
Beberapa orang ikut bereaksi. Tapi cukup.
Dan saat Belvina kembali ke bahasa Inggris—
“Aku tidak terlalu suka diuji di tempat seperti ini,” katanya santai. “Tapi… aku bisa mengerti kenapa kamu penasaran.”
Langsung. Halus. Tapi balik menekan.
Jempol Alden kembali bergerak di sisi pinggangnya. Kali ini… sengaja.
Di titik ini ia menyadari, bukan orang lain yang ia waspadai. Tapi wanita di sampingnya sendiri.
Seraphina tersenyum. Tetap tenang. Terlalu tenang.
“Senang melihatmu berkembang,” ucapnya ringan, seolah tidak ada yang terjadi.
Tidak ada nada kalah. Tidak juga tersinggung.
Ia menoleh ke orang lain, menyapa, lalu perlahan menjauh.
Namun saat punggungnya berbalik, senyumnya menghilang tipis. Bukan marah. Lebih ke arah… menghitung ulang.
Seorang pria mulai mengajak Alden bicara soal bisnis. Topik berat. Serius.
Dan di saat itu, Belvina tidak berdiri di sampingnya seperti pajangan. Ia akhirnya melepaskan diri dari lingkar percakapan itu dengan alasan sederhana.
“Aku ke sana sebentar,” ucapnya ringan, menunjuk ke arah meja dessert. Tanpa menunggu izin.
Alden melirik sekilas. Tidak menahan. Tapi juga tidak benar-benar melepas.
Belvina berjalan menjauh. Langkahnya tetap tenang. Anggun. Di meja hidangan, ia berhenti. Matanya menyapu deretan kue kecil yang tersusun rapi.
“Aku ini mahasiswa, bukan figuran di hidup orang,” gumamnya lirih. “Mana mungkin bisa kau bodohi.”
Nada itu nyaris tak terdengar. Tapi cukup untuk menguatkan dirinya sendiri. Ia mengambil satu piring kecil.
“Mind if I join you?”
Suara asing, hangat.
Belvina menoleh.
Seorang pria berdiri di sampingnya. Tinggi, berpenampilan santai tapi tetap rapi. Wajahnya terbuka, senyumnya mudah.
“Of course,” jawab Belvina ringan.
Percakapan dalam bahasa inggris itu mengalir… berbeda.
Tidak kaku. Tidak penuh perhitungan seperti di lingkar bisnis tadi.
Pria itu, Daniel, tidak berbicara seperti sedang menilai. Tidak juga seperti ingin menjatuhkan kesan.
Ia benar-benar… berbicara.
Tertawa kecil saat Belvina melontarkan komentar singkat. Memberi ruang saat ia menjawab. Tidak memotong. Tidak mendominasi.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Belvina merasa dilihat… sebagai dirinya.
Bukan sebagai “istri seseorang”.
Senyumnya berubah. Lebih lepas. Tanpa ia sadari.
Dari kejauhan—
Alden melihat. Awalnya sekilas. Lalu lebih lama. Tangannya yang tadi memegang gelas berhenti di udara. Tidak diminum. Tidak juga diturunkan. Ia mengenali pria itu.
Daniel.
Bukan sekadar tamu. Investor. Jaringan luas. Dan… bukan tipe yang mendekati orang tanpa alasan.
Sorot Alden berubah tipis. Bukan marah. Lebih ke arah… memperhitungkan ulang.
Dan yang lebih mengganggu, cara Belvina berdiri di sana. Relaks. Nyaman. Seolah tidak ada beban. Seolah… ia memang seharusnya berada di sana.
Bukan di sisinya.
Jari Alden mengetuk pelan permukaan gelas. Sekali. Dua kali. Lalu ia bergerak.
Tidak terburu. Tidak mencolok. Langkahnya tetap tenang. Terukur. Namun langsung menuju satu arah.
“— kamu ternyata enak diajak bicara.”
Daniel tersenyum, sedikit memiringkan kepala.
Belvina mengangkat bahu kecil. “Aku juga kaget.”
Nada suaranya ringan.
“Biasanya orang lebih tertarik ngobrol dengan suamiku.”
“Mungkin mereka berbicara dengan orang yang salah.”
Belvina terkekeh kecil. Namun sebelum ia sempat membalas, sebuah kehadiran berhenti di sampingnya.
Tanpa suara. Tanpa pengumuman. Tapi cukup untuk mengubah atmosfer.
“Daniel.”
Suara Alden masuk, tenang. Terkontrol.
Daniel menoleh, lalu tersenyum lebih lebar.
“Alden.”
Jabat tangan terjadi. Singkat. Tegas. Dua orang yang sama-sama tahu posisi masing-masing.
“Aku tidak tahu kalian sudah saling kenal,” lanjut Alden santai.
Nada suaranya halus. Tapi ada garis tipis di dalamnya.
“Baru saja,” jawab Daniel. “Dan aku harus bilang… aku mungkin terlambat.”
Alis Alden bergerak sedikit.
“Terlambat?”ulangnya pelan.
Daniel tersenyum santai.
“Untuk mengenal istrimu… sebelum pria lain melakukannya.”
...✨"Dulu ia tak dianggap. Kini satu ballroom membicarakannya. Dan pria yang paling sering mengabaikannya… justru jadi orang pertama yang tak bisa mengalihkan pandangan."✨...
.
To be continued
Putramu kalah telak🤭