Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 21.
Tiga hari setelah rumor mulai dimainkan, istana perlahan berubah aneh. Beberapa pelayan mulai berbisik saat Evelyn lewat, mereka langsung diam begitu menyadari keberadaan sang ratu.
Tatapan Clara berubah curiga, bahkan Kasim Bernard beberapa kali memergoki pelayan asing berkeliaran di sekitar paviliun ratu. Seseorang sedang menyebarkan sesuatu, dan dilakukan sangat rapi.
Pagi itu, Evelyn duduk membaca laporan saat Clara masuk dengan wajah tidak tenang.
“Ratu.”
“Ada apa?”
Clara terlihat ragu sesaat sebelum akhirnya bicara. “Rumor mulai menyebar lebih luas.”
“Kali ini tentang apa?” Evelyn mengangkat kepala perlahan.
Clara menarik napas. “Mereka bilang... Raja Alexander diam-diam masih sering menemui Selir Sophia.”
Tatapan Evelyn tidak berubah, Clara tetap melanjutkan. “Dan katanya… Yang Mulia Raja hanya mendekati Anda untuk menjaga dukungan keluarga Lancaster.”
Kalimat itu cukup berbahaya, karena terdengar masuk akal. Alexander memang seorang raja. Dan dalam politik, tidak ada hubungan yang benar-benar murni.
Namun Evelyn justru tersenyum tipis. “William mulai bermain psikologis.”
Clara mengernyit. “Anda tidak marah?”
“Kalau aku marah hanya karena rumor…” Evelyn menutup laporannya pelan. “Aku sudah mati sejak lama.”
Jawaban itu membuat Clara sedikit tenang.
Namun sebenarnya, Evelyn tetap berpikir. Karena satu hal memang benar, ia tidak pernah benar-benar tahu isi kepala Alexander. Raja itu terlalu pandai menyembunyikan dirinya.
Di paviliun Sophia.
Wanita itu sedang duduk di depan cermin, wajahnya tenang. Sangat berbeda dibanding sebelumnya. Karena kali ini, ia tidak diperintahkan membunuh. Ia diperintahkan menghancurkan perlahan.
“Selir Sophia.” Seorang pelayan masuk membungkuk.
“Apa Raja datang malam ini?” tanya Sophia pelan.
Pelayan itu menggeleng, namun Sophia justru tersenyum kecil. Ia berdiri perlahan, tatapannya berubah licik.
“Kalau begitu… buat semua orang percaya sebaliknya.”
Malam harinya, Raja Alexander kembali datang ke paviliun ratu. Begitu masuk, ia langsung merasa suasana berbeda. Evelyn duduk dekat jendela sambil membaca buku, namun wanita itu terlalu pendiam.
Alexander mendekat perlahan. “Kau terlihat sedang berpikir keras.”
“Yang Mulia.”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku menjadi penghalang politik…” Tatapannya akhirnya terangkat, ia menatap dalam-dalam pada Alexander. “Apa Anda akan menyingkirkanku?”
Alexander langsung memahami sesuatu. “Apa ada rumor?”
Evelyn tidak mengiyakan dan juga tak membantah.
Alexander tertawa kecil, kali ini terdengar dingin. “William benar-benar mulai putus asa.”
Ia duduk tepat di depan Evelyn. “Apa kau percaya?”
Evelyn menyandarkan tubuh pelan. “Aku percaya... semua orang punya kepentingan sendiri.”
Jawaban wanita itu jujur, Alexander menyukainya. Pria itu memperhatikan Evelyn beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan. “Kalau aku hanya ingin dukungan keluarga Lancaster, aku tidak perlu datang ke sini setiap malam.”
Jantung Evelyn berdetak sedikit lebih pelan.
“Dan aku... tidak perlu membiarkanmu ikut terlalu jauh dalam urusan kerajaan.”
Itu benar, Alexander sudah memberi Evelyn terlalu banyak ruang dan banyak kepercayaan yang diberikan.
Untuk sesaat, suasana menjadi sunyi.
Alexander tiba-tiba mengulurkan tangan, menarik buku dari pangkuan Evelyn.
“Yang Mulia—”
“Kau terlalu banyak berpikir.” Alexander menutup buku itu lalu meletakkannya jauh. “Dan aku tidak suka... ada orang yang mencoba mengendalikan pikiranmu.”
Nada suaranya rendah, dan terdengar berbahaya.
Evelyn memperhatikan pria itu diam-diam. “Kenapa?”
Alexander sedikit membungkuk mendekat. “Karena kau adalah... milikku.”
Kalimat itu membuat udara seolah berhenti sesaat, tatapan Evelyn langsung berubah. Dan Alexander sadar, ia baru saja mengatakan sesuatu yang terlalu jujur. Namun, ia tidak menarik kembali kata-katanya.
Hening panjang memenuhi ruangan.
Lalu tiba-tiba, Kasim Bernard masuk tergesa dari luar.
“Yang Mulia!” Bernard segera membungkuk cepat. “Ada masalah di wilayah utara.”
Suasana langsung berubah serius.
“Apa lagi?” tanya Alexander dingin.
“Keluarga pendukung William mulai saling menyerang.”
Evelyn langsung berdiri. “Cepat sekali.”
Bernard mengangguk. “Rumor soal kekurangan suplai benar-benar membuat mereka panik, beberapa bangsawan mulai menjual aset diam-diam.”
Tatapan Evelyn berubah tajam, retakan mulai muncul dan tepat seperti yang ia inginkan... William mulai kehilangan kendali atas orang-orangnya sendiri.
Namun Kasim Bernard belum selesai. “Ada satu hal lagi.”
“Katakan.” Alexander menyipitkan mata
Bernard menarik napas pelan. “Pangeran William mulai menghubungi beberapa komandan militer secara diam-diam.”
Kali ini, bahkan Alexander tidak lagi tersenyum. Karena itu berarti, William mulai bergerak menuju sesuatu yang jauh lebih besar.
Pemberontakan.
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili