NovelToon NovelToon
Suami Dadakan Untuk Cantika

Suami Dadakan Untuk Cantika

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Perjodohan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Cantika perempuan miskin dari desa ,karena salah paham warga hingga dipaksa menikah dengang pria yang baru ia kenal,dan Cantika tidak menyangka kalau suami dadakannya adalah CEO, bagaimana Cantika menjalankan rumah tangga dadakannya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cantika,dan persembunyian

Sementara itu, di dalam kamar mandi yang gelap dan sempit, Cantika duduk meringkuk di atas lantai marmer yang dingin. Ia bisa mendengar suara tawa manja seorang wanita dari luar. Ia bisa merasakan betapa berbedanya dunia wanita itu dengan dunianya.

"Ya, Allah,kenapa aku harus begini ?"suaranya lirih

Cantika memeluk lututnya sendiri. Ia sadar, di apartemen mewah ini, ia bukanlah seorang istri. Ia hanyalah sebuah aib yang harus disembunyikan rapat-rapat di balik pintu kamar mandi. Rasa sesak kembali memenuhi dadanya. Ia ingin berteriak, ingin pulang ke gubuknya yang reot tapi penuh kejujuran.

Di sini, di tengah kemewahan ini, segalanya terasa palsu. Dan Cantika baru saja menyadari bahwa penjara emas ini jauh lebih menyakitkan daripada kemiskinan yang pernah ia jalani.

"Baby,kamu pergi lama banget,aku kangen tau." viona berkata dengan suara manja

"Ya,Aku lagi ada urusan bisnis." jawab Arka lirih .

Arka terus mengobrol dengan Viona, tetapi matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar tamu dengan rasa cemas yang luar biasa. Ia terjebak di antara dua wanita, dua dunia, dan satu kebohongan besar yang siap meledak kapan saja. Satu langkah salah, maka runtuhlah menara gading yang selama ini ia bangun dengan susah payah.

Di balik pintu kamar mandi, Cantika menahan napasnya. Air mata mengalir pelan di pipinya tanpa suara. Ia tidak tahu berapa lama ia harus bersembunyi seperti ini. Yang ia tahu, malam ini adalah malam pertama dari sekian banyak malam yang akan penuh kepura-puraan.

Sementara Arka tersenyum pada Viona, hatinya dipenuhi kegelisahan. Ia bertanya-tanya berapa lama lagi ia bisa mempertahankan sandiwara ini sebelum semuanya hancur berantakan.

"Arka,Aku tidak mau barang menjijikan itu ada ditempat ini,apa kamu nggak risih,barang busuk ada disini?"

"Iya." jawab singkat Arka

Di kamar mandi, Cantika mendengar daster kesayangannya disebut sebagai barang sampah. Itu adalah daster yang ia beli dengan uang hasil jerih payahnya memetik cabai di kebun tetangga sebelum ia menikah dengan Arka. Daster itu adalah satu dari sedikit kenangan yang ia bawa dari kampung.

Ia memejamkan mata, membayangkan wajah ibunya di kampung. Ibunya yang melepasnya dengan penuh harap, mengira putrinya akan di bawa kesinggasana rumah tangga, Jika ibunya tahu bahwa saat ini anaknya sedang duduk di lantai kamar mandi, mendengarkan suaminya sendiri dihina dan menghina, pasti hati ibunya akan hancur.

Cantika merasa sangat kotor. Bukan karena lantai kamar mandi, tapi karena ia merasa telah mengkhianati dirinya sendiri dengan tetap tinggal di sini. Ia merasa seperti seorang pelakor di dalam pernikahannya sendiri.

Ia yang sah secara agama, tapi ia yang harus bersembunyi.dianggap tidak ada.

“Mas Arka,” bisiknya lirih, suaranya hampir tak terdengar. “Lepaskan aku kalau memang aku hanya beban.”

Namun suara itu hanya memantul di dinding keramik yang dingin. Tak ada yang mendengar, tak ada yang peduli.

Cantika tetap meringkuk di lantai marmer yang dingin, tubuhnya gemetar meski udara malam tidak terlalu sejuk. Air mata yang tadi hanya mengalir pelan kini menjadi banjir yang tak terbendung. Ia menutup mulut dengan kedua tangan agar isaknya tidak terdengar sampai ke ruang tamu. Setiap tarikan napas terasa seperti duri yang menusuk tenggorokan. Di luar, suara Viona masih mengalun manja, sementara Arka sesekali tertawa kecil. Tawa itu, yang dulu begitu ia rindukan, kini terasa seperti tamparan keras di wajahnya.

“Kenapa harus aku yang disembunyikan, Mas?” gumamnya dalam hati. “Aku yang dinikahi dengan ijab kabul di hadapan Allah, tapi aku yang harus duduk di lantai kamar mandi seperti pencuri.” Pikirannya melayang kembali ke hari pernikahan mereka di rumah pak RT, Arka memandangnya dengan mata penuh janji. “Walaupun pernikahan kita dadakan,tapi aku akan membahagiakan mu ,” katanya saat itu. Kata-kata manis yang kini hancur menjadi debu. Satu-satunya yang tersisa hanyalah kebohongan besar yang ia bangun untuk mempertahankan citra di mata dunia.

Cantika mengusap air mata dengan punggung tangan, tapi air mata baru langsung menggantinya. Ia teringat tangan ibunya yang kasar karena kerja keras di sawah. Dulu, sebelum ia ikut Arka ke kota, ibunya memeluknya erat dan berpesan, “Jaga diri, Nak. Jangan sampai hina diri sendiri.” Kini, Cantika merasa telah mengkhianati pesan itu. Ia tetap tinggal di apartemen ini meski tahu dirinya hanya menjadi rahasia kotor. Rasa bersalah itu lebih menyakitkan daripada lantai dingin yang menusuk tulang punggungnya.

Dari balik pintu, terdengar lagi suara Viona. “Sayang, besok kita ke mal ya? Aku mau beli tas baru.”

Arka menjawab lembut, “Boleh, apa pun untuk kamu.” Kata-kata itu menusuk hati Cantika lebih dalam. Dulu, Arka pernah berjanji akan membelikan Cantika baju baru yang indah. Janji itu tak pernah terwujud.

Yang ada hanyalah daster usang yang kini dihina sebagai “barang busuk”. Cantika memeluk lututnya lebih erat, membayangkan bagaimana daster itu dulu menjadi pelindung tubuhnya saat hujan deras di kebun cabai. Setiap helai benangnya menyimpan cerita perjuangan. Kini, daster itu hanya menjadi bukti betapa rendahnya ia di mata suaminya.

Rasa sesak di dada semakin menjadi. Cantika merasa seperti burung yang sayapnya dipotong. Ia ingin lari, ingin pulang ke gubuk reyot di kampung. Di sana, meski tak ada AC dan lantai marmer, ada kehangatan keluarga. Ada ibu yang selalu menunggu dengan senyum, adik-adik yang bermain riang di halaman tanah. Di sini, kemewahan hanya menjadi penjara emas yang membuatnya merasa semakin kecil dan tak berharga. Ia yang sah secara agama justru diperlakukan lebih rendah daripada wanita yang bukan siapa-siapa di mata hukum.

“Mas Arka … aku lelah,” bisiknya lagi, suaranya pecah. “Aku bukan barang yang bisa kamu simpan di sudut gelap. Aku manusia, Mas. Aku punya hati yang bisa sakit.” Namun bisikan itu tetap tak terdengar.

Di luar, Arka dan Viona terus berbincang tentang rencana liburan ke Bali. Cantika membayangkan dirinya duduk sendirian di kamar mandi setiap kali tamu datang atau Viona menginap. Berapa lama lagi ia harus menahan napas? Berapa lama lagi ia harus menjadi hantu di rumah tangganya sendiri?

Air mata Cantika menetes ke lantai marmer, membentuk genangan kecil yang mencerminkan wajahnya yang pucat. Ia merasa sangat kotor, bukan karena debu atau keringat, melainkan karena telah membiarkan harga dirinya diinjak-injak demi cinta yang ternyata rapuh. pernikahan yang dulu ia kira akan menyelamatkannya dari kemiskinan, kini justru menenggelamkannya ke dalam lautan kesedihan yang lebih dalam. Ia yang dulu kuat memetik cabai dari pagi hingga sore, kini merasa lemah hanya karena mendengar suara suaminya memanggil wanita lain dengan kata sayang.

Cantika menarik napas panjang, mencoba menenangkan dada yang bergemuruh. Namun semakin ia mencoba, semakin dalam luka itu menganga. Di tengah kegelapan kamar mandi yang sempit, hatinya menangis tanpa suara, sementara dunia di luar terus berputar dengan tawa palsu yang tak pernah menyentuh jiwanya yang hancur.

1
Bu Dewi
lanjut kak
MayAyunda: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!