NovelToon NovelToon
ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

ZIKIR SIRRI SANG MUSAFIR ARJUNA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aksi / Mengubah Takdir / Horor
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Diusir dan dicoret dari Kartu Keluarga, Arjuna justru menemukan jalan rahasia para kekasih Tuhan. Menyamar sebagai pengemis dan orang gila, ia berkelana mencari Guru-Guru Gaib untuk mengukir takdir di atas Lontar Jagad. Di saat keluarganya hancur, akankah Arjuna kembali sebagai pahlawan, atau tetap menjadi debu yang tak terlihat namun menjaga semesta dengan zikirnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23: Macan Kembar Al-Hikam ​.

Langkah kaki Arjuna Wijaya yang masih tanpa alas kaki akhirnya menyentuh aspal perbatasan Sidoarjo. Di belakangnya, si kambing putih tanpa kacamata itu tetap setia mengekor. Aura Arjuna kini tidak lagi meledak-ledak seperti dulu, melainkan sangat tenang, sejuk, namun berwibawa—seperti samudera yang dalam namun permukaannya tenang.

​"Bismillah... kulo wangsul, Romo, Bunda. Mugi pondok niki tansah dipun jagi dening Gusti," bisik Arjuna saat melihat menara masjid Al-Hikam dari kejauhan.

(Bismillah... saya pulang, Romo, Bunda. Semoga pondok ini selalu dijaga oleh Tuhan.)

​Di depan gerbang Pondok Al-Hikam, suasana mencekam menyambutnya. Tiga buah alat berat ekskavator sudah terparkir angkuh. Puluhan preman berbaju hitam dengan ikat kepala merah tampak mengepung para santri yang bertahan di depan teras ndalem. Di barisan paling depan, berdiri seorang pengacara licin kiriman Mr. Richard yang memegang map merah berisi surat eksekusi tanah.

​"Cukup! Jangan banyak bicara! Kosongkan tempat ini dalam sepuluh menit atau kami ratakan dengan tanah!" teriak pengacara itu dengan sombongnya.

​Tiba-tiba, dari arah dalam rumah, muncullah Guntur. Ia mengenakan baju koko putih dan sarung hijau, dengan tasbih melilit di pergelangan tangannya. Wajahnya yang dulu beringas kini nampak bercahaya karena air wudhu dan taubatnya.

​"Langkah lari kowe nek wani nggugurake sak iji wae genteng pondok iki! (Langkah lari kamu kalau berani menjatuhkan satu saja genteng pondok ini!)" tantang Guntur dengan suara menggelegar.

​Para preman itu mulai merangsek maju. Guntur sudah bersiap memasang kuda-kuda silat keluarga Wijaya. Namun, sebelum bentrokan fisik terjadi, sebuah suara lembut namun bergetar hebat memecah suasana.

​"Assalamu'alaikum... sampun, Le. Atine dipun tenangaken dhisik."

(Assalamu'alaikum... sudah, Nak. Hatinya ditenangkan dulu.)

​Semua mata menoleh. Arjuna Wijaya berdiri di sana, di samping pohon beringin tua. Penampilannya yang kusam, rambut agak gondrong, tanpa alas kaki, dan membawa seekor kambing membuat para preman tertawa mengejek.

​"Hahaha! Siapa lagi ini? Gembel pengemis mau ikut campur?" ejek si pengacara.

​Arjuna hanya tersenyum tipis. Ia melangkah perlahan menuju kerumunan itu. Setiap kali kakinya menyentuh tanah, getaran gaib terasa merambat di bawah permukaan bumi. Melalui mata batinnya, Arjuna melihat "pagar ghaib" pondok yang hampir jebol kini kembali menguat berwarna keemasan mengikuti setiap langkahnya.

​Guntur yang melihat kakaknya langsung berlari dan bersimpuh di kaki Arjuna. "Mas Juna... matur nuwun sampun wangsul. Kulo sampun siap njogo pondok niki bareng Mas Juna," ucap Guntur penuh haru.

​Arjuna membantu adiknya berdiri dan merangkul bahunya. "Saiki kowe lan aku dudu musuh, Guntur. Kowe lan aku iku tameng Al-Hikam. Deloken mripatku, rasakno opo sing tak rasakno."

​Saat kedua bersaudara itu saling bertatapan, sebuah fenomena luar biasa terjadi di alam ruh. Muncul dua sosok harimau raksasa yang berdiri tegak di belakang mereka. Satu Macan Putih Kyai Loreng di belakang Arjuna, dan satu Macan Kumbang Hitam di belakang Guntur. Dua kekuatan besar Wijaya kini menyatu.

​Para preman yang tadinya beringas mendadak berhenti. Mereka merasa sesak napas yang luar biasa. Seolah-olah oksigen di sekitar pondok mendadak habis. Alat-alat berat yang mesinnya tadi menderu, tiba-tiba mati total secara serentak.

​"Mesinnya mati! Semua mesin nggak mau nyala!" teriak operator ekskavator dengan wajah pucat pasi.

​Arjuna melangkah maju menghadap pengacara Mr. Richard. Ia tidak memukul, ia hanya menyentuh map merah yang dipegang pria itu. Seketika, map itu terbakar menjadi abu tanpa ada api yang terlihat.

​"Balio menyang Jakarta. Kandhani bosmu, Mr. Richard. Nek dheweke pengen ngrusak Al-Hikam, dheweke dudu urusan karo menungso, nanging urusan karo Sing nggawe urip," ucap Arjuna dengan wibawa Sultan Musafir.

​Melihat keajaiban itu, para preman dan pengacara itu lari tunggang langgang. Suara takbir "Allahu Akbar!" menggema dari mulut para santri. Bunda Siti Khotijah keluar dengan air mata mengalir deras, memeluk kedua putranya. Keluarga Wijaya telah kembali utuh.

​Namun, di saku kemeja Arjuna, cermin perunggu tua itu kembali bergetar. Arjuna tahu, Mr. Richard tidak akan menyerah. Musuh sesungguhnya kini sedang menyiapkan serangan terakhir yang melibatkan pengadilan negara dan kekuatan politik besar di Jakarta.

​"Perjuangan kito nembe dimulai, Guntur. Jogoen batinmu, ojo nganti amarahmu ngrusak donga kito," bisik Arjuna sambil menatap langit Sidoarjo yang kembali cerah.

Malam itu, pendopo Pondok Al-Hikam terasa sangat berbeda. Keheningan yang menyelimuti bukan lagi keheningan yang mencekam, melainkan ketenangan yang dalam. Arjuna duduk bersila di lantai kayu, masih dengan baju kusamnya. Di depannya, Guntur duduk dengan kepala tertunduk, penuh penyesalan atas segala kekacauan yang pernah ia buat.

​"Mas... sepurane kulo. Goro-goro kulo, sertifikat tanah pondok niki saged dipindah tangan dumateng Mr. Richard," bisik Guntur pelan.

(Mas... maafkan saya. Gara-gara saya, sertifikat tanah pondok ini bisa pindah tangan ke Mr. Richard.)

​Arjuna menatap adiknya dengan kasih sayang. Ia mengeluarkan sebuah benda dari tas kumalnya—cermin perunggu tua pemberian Syekh Jangkung. "Guntur, tanah iki dudu duweku, dudu duwemu, lan dudu duwe Mr. Richard. Tanah iki titipane Gusti kanggo syiar ilmu. Sopo sing wani ngrusak titipan-Mu, moko dheweke urusan karo sing nggawe bumi."

​Tiba-tiba, suara sirine mobil polisi terdengar mendekat ke gerbang pondok. Beberapa pria berpakaian rapi dengan rompi bertuliskan "Penyidik" masuk didampingi oleh pengacara Mr. Richard yang tadi kabur, namun kini membawa surat perintah resmi dari pengadilan Jakarta.

​"Saudara Arjuna Wijaya! Kami memiliki perintah untuk menyegel tempat ini atas dugaan tindak pidana pencucian uang yang dilakukan oleh keluarga Wijaya melalui yayasan Al-Hikam!" seru kepala penyidik itu dengan tegas.

​Guntur hendak berdiri dan melawan, namun tangan Arjuna menahan bahunya. Arjuna bangkit berdiri dengan sangat tenang. Ia tidak terlihat takut sedikit pun.

​"Monggo, Pak. Menawi niku pancen tugas panjenengan, kulo mboten badhe ngalangi. Nanging, sakderenge panjenengan nyegel, mangga dipun pirsani rumiyin berkas niki," ucap Arjuna sambil mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua yang nampak sangat kuno namun masih utuh.

​Pengacara Mr. Richard tertawa mengejek. "Halah! Berkas apa itu? Sertifikat tanah ini sudah sah atas nama perusahaan Mr. Richard di Jakarta!"

​Arjuna membuka amplop itu. Isinya bukan sertifikat tanah modern, melainkan sebuah maklumat kuno dengan stempel Kesultanan Mataram dan tanda tangan dari pejabat zaman kolonial yang menyatakan bahwa tanah Al-Hikam adalah Tanah Perdikan (tanah suci yang bebas pajak dan tidak bisa diperjualbelikan sampai hari kiamat).

​"Tanah niki sampun dikunci dening para leluhur. Mboten saged dipun gantos namine, mboten saged dipun dol, lan mboten saged dipun sita dening negara menopo mawon," jelas Arjuna dengan suara yang berwibawa.

​Kepala penyidik itu memeriksa dokumen tersebut dengan teliti. Tangannya mendadak gemetar saat melihat stempel yang seolah-olah mengeluarkan cahaya redup. Secara ajaib, saat pengacara Mr. Richard mencoba merampas dokumen itu, tangannya terasa tersengat listrik hingga ia berteriak kesakitan.

​"Ini... ini dokumen asli. Kami tidak punya wewenang untuk menyegel tanah perdikan yang sudah terdaftar di cagar budaya internasional," ucap kepala penyidik itu dengan wajah pucat. Ia segera memerintahkan anak buahnya untuk mundur.

​Di Jakarta, Mr. Richard yang melihat kegagalan ini melalui sambungan telepon langsung membanting gelas kristalnya. "Sialan! Arjuna itu bukan lagi manusia biasa! Dia membawa kekuatan masa lalu!"

​Arjuna menatap langit malam Sidoarjo. Ia tahu, Mr. Richard akan menggunakan kartu terakhirnya: Fitnah. Besok, media-media besar akan memberitakan bahwa Pondok Al-Hikam adalah sarang aliran sesat untuk menghancurkan nama baik keluarga Wijaya.

​"Guntur... siapno santri-santri. Besok kito dudu perang nganggo keris utawa otot, nanging perang nganggo akhlak. Biarkan dunya weruh, sopo sejatine penjaga Al-Hikam," perintah Arjuna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!