Rania ditinggal kabur pacarnya, Rangga. keluarganya malak sibuk nyariin jodoh agar Rania bisa melupakan masalalunya.
Muak, Rania ngeluarin kriteria gila duda keren umur 30-an, dan yang paling penting ukuran 18 cm.
Keluarga syok, tapi berhenti ganggu.
Beberapa waktu kemudian, seorang pria bernama Alfino duduk di teras rumahnya. Tinggi, kekar, wangi. Duda 33 tahun tepat sesuai pesanan.
Rania mulai lupa Rangga. Tapi masa lalu kembali. Rangga muncul
Dilema pun terjadi Antara durian 18 cm dan cinta pertama dan Rania harus milih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilight, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pesan masuk
Malam itu jam sudah menunjukkan pukul setengah dua. Rumah Rania sunyi. Hanya suara jangkrik di semak belakang rumah yang bunyinya
kriiiik...
kriiiik...
kriiiik...
kayak orang yang lagi nguping pembicaraan rahasia. Sesekali ada suara motor lewat dari jalan raya, brem... brem... terus menghilang, ninggalin Rania masih terjaga di atas kasurnya.
Rania tidak bisa tidur. Bukan. Matanya sudah pejam berkali-kali. Tiap kali dia tutup mata, yang muncul bukan mimpi. Tapi liontin. Kotak hitam. Tulisan tangan Rangga. Dan kalimat yang terngiang-ngiang kayak lagu yang diputer berulang-ulang di kepalanya.
“Aku telah menepati janji.”
Rania berguling ke kanan.
“Sekali lagi minta maaf.”
Berguling ke kiri.
“Rangga.”
Melempar selimut, duduk rebah lagi lalu ulang lagi.
”AARRGHH! GILA!” Teriaknya kecil, tertahan, ditelan bantal supaya tidak kedengaran ke kamar sebelah. Tapi suara itu masih cukup keras untuk membuat pintu kamarnya sedikit bergetar.
Kreek...
Perlahan, pintu kamar terbuka.
Ibu masih pakai daster lusuh, rambutnya diikat asal kayak sapu ijuk, matanya sayu tapi waspada. Tidak ada senyum di wajahnya. Yang ada cuma kerutan dahi yang dalam kayak peta jalur kereta api.
“Rania, ibu tahu kamu belum tidur," kata Ibu pelan dari balik pintu.
Rania diem matanya dialihkan ke langit-langit. “Iya, Bu," ujarnya lirih.
Ibu masuk ke kamar, langkah kakinya pelan dia duduk di tepi kasur. Tangannya meraba kening Rania, meraba pipinya, meraba tangan.
“Kamu demam? Badanmu panas, Nak," tanya Ibu, nada suaranya.
“Gak demam, Bu kepalaku yang panas," jawab Rania pelan.
“Kenapa?” tanya Ibu lembut.
Rania diem bibirnya bergerak-gerak kayak mau bicara tapi ditahan. Ibu tidak buru-buru dia hanya duduk di samping, kadang mengelus rambut Rania.
Dari balik pintu, terdengar suara batuk kecil. Batuk palsu. Batuk yang dibuat-buat kayak orang yang mau bilang aku juga di sini tanpa harus minta izin masuk.
”Ehem... ehem...”
Ibu menoleh, pintu sedikit terbuka lebih lebar. Bapak berdiri di balik kusem wajahnya tegang. Matanya cemas da memegang gagang pintu, jari-jarinya sedikit memutih karena terlalu kuat menggenggam.
“Rania,” kata Bapak pelan.
“Bapak ikut dengar, bapak dengar dari tadi kamu gelisah. Ada apa?”
Tanyanya hati-hati.
Rania tidak bisa menghindar lagi dia sudah terkepung. Bukan seperti orang lagi diserang, tapi seperti orang yang dikepung kasih sayang dan itu bikin dia semakin susah.
Keluar juga air matanya.
Pelan-pelan awalnya hanya genangan di sudut mata lalu netes. Lalu ngalir kayak aliran sungai kecil yang nyari jalan ke laut.
“Bu... Pa...” suaranya pecah.
Ibu langsung merengkuh dipeluknya Rania kayak dulu waktu kecil, waktu Rania jatuh dari sepeda, waktu Rania demam tinggi, waktu Rania pertama kali patah hati karena Rangga.
“Sudah, sudah... cerita sama Ibu sama Bapak Ibu,” ujar Ibu lembut.
Rania terisak sebentar lalu dia mengusap hidungnya dengan tangan.
“Bu... Pa... paket sore tadi... paket yang dikira dari Mas Alfino...” katanya terbata.
“Iya,” Ibu mengangguk cepat. “Itu dari siapa?” tanyanya.
Rania menarik napas dalam bikin dadanya naik turun kayak ombak lagi pasang.
”Dari Rangga, ujarnya pelan.
Nama itu melayang di udara berat tenggelam. Kayak batu yang dijatuhkan ke kolam.
Ibu terdiam bapak terdiam, keduanya diam membatu.
Rania lanjut. “Dia... dia kirim liontin bentuk hati. Persis kayak desain yang dulu aku pernah gambarkan ke dia. Waktu kita masih pacaran dia ingat, Bu. Dia ingat setelah sekian lama dia ingat janjinya.”
Ibu belum bisa bicara mulutnya masih terkunci.
Bapak yang membuka suara. “Rania, kamu mau... kamu mau kembali ke dia?”
Pertanyaan itu singkat tapi bobotnya kayak gunung yang dipindah ke pundak.
Rania menggeleng pelan tapi tegas.
“Bukan, Pa. Bukan mau kembali. Tapi aku... bingung. Aku kaget aku gak tahu kenapa dia baru ingat sekarang. Kenapa dia baru menepati janji sekarang. Padahal aku sudah belajar untuk melupakannya.”
Ibu akhirnya angkat suara nadanya tinggi.
”Kurang ajar anak itu! Sudah pergi tanpa pamit, sudah bikin kamu nangis berbulan-bulan, eh sekarang ngirim hadiah. Pikirannya apa sih? Mau nyiksa kamu lagi? Mau buka luka lama?”
Rania tidak menjawab dia hanya diam.
Bapak juga diam tapi di matanya, ada sesuatu. Bukan sekadar cemas ada rasa takut. Ada rasa khawatir ada rasa bersalah yang coba disembunyikan.
Ibu belum selesai ngomel. “Pak, dengar nih anak kita diganggu lagi sama mantannya yang dulu juga bikin kiamat di rumah ini jangan-jangan dia mau balik lagi.”
“Ibu, tenang," ucapnya
“Masa sih tenang? Anak kita stress! Badan panas! Mata sembab! Ini kalau dibiarin, bisa-bisa dia masuk angin gila lagi kayak dulu!”
Rania menarik tangan ibunya. “Bu, aku gak separah dulu. Aku cuma... bingung.”
“Bingung kenapa?” potong bapak.
“Bingung kenapa dia ngirim itu. Bingung apa maksudnya. Bingung apakah ini awal dari... sesuatu," ujarnya lirih.
Bapak tidak menjawab matanya menerawang ke luar jendela. Bulan bersinar di balik awan tipis. Tapi sinarnya kelabu, kayak tidak tega mau menyinari bumi.
Rania terus bicara. “Aku belum cerita ke Mas Alfino. Aku belum tahu harus bilang apa.”
“Jangan cerita dulu,” saran ibu. “Kamu butuh waktu memilah hatimu sendiri. Nanti kalau sudah tenang, baru cerita," katanya.
Rania mengangguk.
Breeet. Breeet.
Ponsel Bapak bergetar.
Suaranya kecil, tapi nyaring di tengah keheningan malam semua menoleh.
Bapak segera mengambil ponsel dari saku celananya. Matanya menatap layar. Dan tiba-tiba... wajahnya berubah.
Pucat.
Kayak tembok yang habis diplester. Kayak kertas yang baru keluar dari mesin foto kopi.
Breeet. Breeet.
Pesan masuk lagi.
Ibu curiga. “Pak, dari siapa? Jam segini masih ada yang WA?”
Bapak tidak menjawab matanya tidak berkedip. Rahangnya mengeras jari-jarinya menggenggam ponsel kayak takut jatuh.
Rania juga mulai penasaran. “Pa, ada apa?”
Bapak terdiam beberapa saat lalu dia menghela napas panjang. Napas yang terasa berat, kayak orang yang baru diguyur air dingin di pagi buta.
Dia membaca pesan itu sekali lagi. Lalu pelan-pelan, dengan suara parau, dia membacakan.
”Aku akan datang sesuai persyaratan yang telah kita sepakati. Aku akan datang kembali.”
Ibu membelalak Rania ikut membelalak.
Serentak mereka bertanya.
”Dari siapa?”
Bapak tidak menjawab. Dia hanya menatap layar ponselnya. Pesan itu tidak mencantumkan nama. Hanya nomor yang tidak tersimpan.
Tapi Bapak tahu itu nomor dari siapa dan apa maksud dari pesannya. Bapak mengelap keringat di dahinya, dingin. Padahal kamar tidak ber-AC. Padahal malam tidak terlalu dingin.
“Pak,” suara Ibu mulai meninggi. “Itu dari... dari siapa?”
Bapak mendekap ponselnya. Lalu dia mematikan layar. “Tidak, Bu. Salah nomor pasti salah nomor.”
“Salah nomor kok nyebut persyaratan? Persyaratan apaan?” ujarnya curiga.
“Bukan, Bu. Ini...”
“BAPAK!” potong Rania. “Itu dari Rangga, kan?”
Nama itu keluar dari mulut Rania tajam kayak belati yang baru diasah.
Bapak diam.
Rania lanjut. “Pa, jujur sama aku. Papa tahu sesuatu, kan? Papa tahu tentang Rangga. Tentang kenapa dia pergi. Tentang... semua ini.”
Bapak masih diam.
Tapi diamnya lebih mengerikan dari ribuan kata.
Malam itu berubah menjadi sunyi. Sunyi yang tidak nyaman. Sunyi yang menusuk tulang.
Dan di luar, suara jangkrik tiba-tiba berhenti. Kayak mereka juga ikut nguping.