NovelToon NovelToon
Reality Bender

Reality Bender

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:274
Nilai: 5
Nama Author: Rendy_Tbr

Reality Bender – Sang Penguasa Kehampaan

"Di dunia di mana cahaya matahari adalah hukum, mampukah ketiadaan menjadi penyelamat?"
Dikhianati oleh kekaisaran yang ia bela dan diburu oleh takdir yang haus darah, Fang Han terbangun dengan kutukan yang mustahil: Inti Kehampaan. Kekuatan ini tidak hanya menghapus musuhnya, tetapi perlahan mengikis ingatan, emosi, dan kemanusiaannya sendiri. Setiap langkah menuju puncak kekuasaan adalah langkah menuju kegelapan abadi di mana ia terancam melupakan wajah orang-orang yang ia cintai.
Dari pelarian maut di Puncak Kun-Lun hingga menjadi tawanan di Benteng Obsidian yang mengerikan, Fang Han harus memilih: menjadi senjata pemusnah massal bagi musuhnya, atau menguasai Pedang Shatter-Fate untuk memutus rantai takdir dunia.
Ikuti perjalanan epik penuh pengorbanan, pengkhianatan politik, dan cinta yang melampaui dimensi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rendy_Tbr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENUJU KAKI PUNCAK MENANGIS

Sesosok pria dengan zirah yang terbuat dari potongan-potongan cermin muncul. Wajahnya tidak terlihat, tertutup oleh topeng cermin yang terus berubah-ubah memantulkan wajah Fang Han, Mu Chen, dan Si Penelan Cahaya secara bergantian.

"Aku adalah Kuang Jing, Sang Raja Cermin. Di sini, musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri. Apa pun yang kau lakukan padaku, akan kembali padamu dua kali lipat lebih kuat."

Fang Han tidak membuang waktu. Ia melesat maju, melancarkan pukulan yang dilapisi energi Nirwana Sunya ke arah dada Kuang Jing.

Brak!

Anehnya, tangan Fang Han menembus tubuh Kuang Jing seolah-olah pria itu hanyalah bayangan. Di saat yang sama, sebuah hantaman keras mendarat di punggung Fang Han, melemparnya hingga menabrak dinding kristal. Rasa sakitnya persis sama dengan kekuatan pukulannya sendiri.

"Sudah kubilang," suara Kuang Jing terdengar mengejek. "Aku adalah pantulan. Kau memukulku, berarti kau memukul bayanganmu sendiri. Dan bayanganmu tidak akan pernah memaafkanmu."

Mu Chen berteriak dari kejauhan. "Fang Han, jangan gunakan kekuatan fisik! Dia menggunakan hukum Refleksi Absolut. Dia memindahkan koordinat serangannya kembali ke titik asal melalui media cermin ini!"

Fang Han bangkit dengan susah payah, darah merembes dari mulutnya. Ia menatap ke segala arah. Ribuan pantulan dirinya menatapnya dengan pandangan yang sama dinginnya.

Kuang Jing melambaikan tangannya, dan ribuan bayangan Fang Han di dinding cermin mulai keluar. Mereka semua memiliki aura abu-abu yang sama, gerakan yang sama, dan niat membunuh yang sama dengan Fang Han.

"Bagaimana kau akan melawan ribuan dirimu sendiri, Fang Han?" tanya Kuang Jing.

Pertarungan menjadi sangat brutal. Fang Han dikepung oleh bayangannya sendiri. Setiap kali ia menangkis satu serangan, dua serangan lain mendarat di tubuhnya. Luka-lukanya semakin banyak. Mu Chen mencoba melemparkan bom gas pelumpuh, namun gas itu hanya memantul kembali dan hampir meracuni mereka sendiri.

"Tetua! Berikan aku petunjuk!" teriak Fang Han di tengah desingan serangan bayangannya.

Si Penelan Cahaya tetap berdiri tenang, meski beberapa bayangan mencoba menyerangnya (namun bayangan itu lewat begitu saja menembus tubuh sang pria tua).

"Cermin hanya bisa memantulkan apa yang ada, Han-er! Jika tidak ada apa-apa di depan cermin, apa yang akan ia pantulkan? Kau masih merasa dirimu 'ada'. Kau masih membawa beban identitasmu sebagai Fang Han, sebagai Li Jun, sebagai pelayan. Hapuslah dirimu! Menjadi kosonglah hingga cermin itu tidak menemukan apa pun untuk dipantulkan!"

Fang Han tertegun di tengah hujan pukulan. Kata-kata itu menghantam kesadarannya lebih keras daripada serangan musuh.

"Hapus diriku sendiri?"

Ia membiarkan dirinya dipukul berkali-kali tanpa membalas. Rasa sakitnya luar biasa, namun ia mulai memfokuskan pikirannya ke titik nol. Ia membayangkan dirinya bukan lagi manusia, bukan lagi pendekar, melainkan hanya ruang kosong yang dilintasi oleh waktu.

Perlahan, aura abu-abu di sekitar Fang Han bukan lagi keluar, melainkan menyusut masuk ke dalam jantungnya. Ia menutup matanya di tengah medan perang yang kacau itu.

"Aku... tidak ada," bisik Fang Han.

Seketika, ribuan bayangan yang tadinya menyerang Fang Han mulai memudar. Mereka kehilangan referensi untuk eksis. Cermin-cermin di sekitar mereka mulai retak karena tidak mampu memantulkan "ketiadaan".

Kuang Jing panik. "Apa yang kau lakukan?! Di mana kau?! Aku bisa melihatmu, tapi energimu menghilang!"

Fang Han membuka matanya. Kini, bukan hanya pupilnya yang abu-abu, tapi seluruh matanya seolah-olah menjadi jendela menuju ruang angkasa yang hampa. Ia melangkah perlahan ke arah Kuang Jing. Setiap langkahnya membuat lantai kristal hancur menjadi debu halus.

Kuang Jing mencoba menyerang dengan belati cermin, namun belati itu melewati tubuh Fang Han tanpa efek apa pun. Fang Han benar-benar telah memasuki kondisi Nirwana Sunya Tingkat Kedua: Wujud Tanpa Bayang.

"Cerminmu indah," ucap Fang Han, suaranya terdengar seperti bisikan dari dimensi lain. "Tapi ia tidak bisa memantulkan kehampaan sejati."

Fang Han meletakkan telapak tangannya di topeng cermin Kuang Jing.

Suara gemuruh terdengar saat seluruh labirin kaca itu meledak hancur berkeping-keping. Zirah cermin Kuang Jing hancur, menyingkap sesosok pria kurus yang ketakutan di bawahnya. Kuang Jing jatuh tersungkur, matanya kosong. Seluruh kekuatannya untuk memantulkan serangan telah dihapus selamanya oleh kontak langsung dengan energi kehampaan Fang Han.

Mu Chen berlari mendekati Fang Han yang berdiri diam di tengah reruntuhan kristal. Ia melihat tangan Fang Han mulai sedikit transparan, seolah-olah ia mulai memudar dari dunia ini.

"Fang Han! Kembali! Tarik energimu!" teriak Mu Chen panik.

Fang Han tersentak, ia menarik napas panjang dan aura abu-abunya menghilang. Tubuhnya kembali menjadi padat, namun ia jatuh berlutut karena kelelahan yang luar biasa. Keringat dingin mengucur deras.

"Kau hampir saja menghilang selamanya, Nak," ucap Si Penelan Cahaya dengan nada serius. "Kekuatan itu... jangan terlalu sering menggunakannya. Jika kau terbiasa menjadi 'tidak ada', suatu hari kau tidak akan bisa kembali menjadi 'ada'."

Fang Han mendongak, menatap Mu Chen. "Apakah kau... tidak apa-apa?"

Mu Chen menghela napas lega. "Aku yang seharusnya bertanya padamu. Kau baru saja menghancurkan hukum ruang dan refleksi. Aku mulai berpikir bahwa mencari Bunga Hati Langit bersamamu mungkin bukan lagi misi bunuh diri, tapi sebuah legenda yang sedang ditulis."

Fang Han memaksakan diri untuk berdiri, meski kakinya gemetar hebat. "Kita harus terus berjalan. Paman... waktunya tinggal sedikit lagi."

Mereka bertiga melanjutkan perjalanan keluar dari pusat Lembah Seribu Racun. Di kejauhan, Gunung Puncak Menangis berdiri dengan gagahnya. Kilatan petir merah menyambar-nyambar di puncaknya, menciptakan suara gemuruh yang terdengar seperti tangisan ribuan jiwa.

Mu Chen membuka tas obatnya yang sempat ia selamatkan dari sangkar tulang. Ia mengeluarkan beberapa pil berwarna biru jernih.

"Makan ini," kata Mu Chen sambil memberikannya pada Fang Han dan Si Penelan Cahaya.

"Ini adalah pil Pembersih Jalur. Energi kehampaanmu sangat merusak organ dalammu sendiri. Pil ini akan membantu melapisi dinding lambung dan meridianmu agar tidak hancur saat kau memanggil kekuatan itu lagi."

Fang Han menelan pil itu, merasakan sensasi dingin yang menenangkan luka-lukanya.

"Mu Chen, ceritakan padaku tentang Bunga Hati Langit," pinta Fang Han saat mereka berjalan mendaki lereng gunung yang terjal.

Mu Chen menatap ke arah puncak dengan raut wajah serius.

"Bunga itu unik. Ia tidak tumbuh di tanah. Ia tumbuh di atas 'titik temu' antara petir dan udara dingin yang ekstrem. Masalahnya bukan hanya lingkungannya, tapi penjaganya. Ada seekor Naga Tulang Langit yang mendiami puncak itu. Naga itu buta, tapi ia bisa merasakan getaran energi terkecil sekalipun."

Si Penelan Cahaya menyela dengan suara berat.

"Dan naga itu... ia memakan emosi manusia. Jika kau mendaki dengan penuh amarah atau ketakutan, kau akan menjadi santapan lezat baginya sebelum kau sempat melihat bunganya."

Fang Han mengepalkan tinjunya. "Aku sudah membuang rasa takutku di Lembah Seribu Racun tadi. Jika naga itu ingin memakan emosiku, dia hanya akan menemukan kehampaan."

Konflik Terakhir Episode: Sang Penjaga Gerbang Gunung

Saat mereka tiba di pintu masuk pendakian utama, jalan mereka tertutup oleh sesosok makhluk yang aneh. Itu adalah seorang pria bertubuh sangat kurus dengan tangan yang sangat panjang hingga menyentuh tanah. Pria itu memakai penutup mata hitam, dan di tangannya ia memegang sebuah suling yang terbuat dari tulang manusia.

"Siapa lagi ini?" geram Fang Han, energinya mulai bangkit kembali meski masih lemah.

"Dia adalah Sang Penjaga Ambang, Yin Chi," bisik Mu Chen dengan wajah pucat. "Kekuatannya adalah Manipulasi Gravitasi. Siapa pun yang mendekat akan merasa berat tubuhnya meningkat seribu kali lipat."

Yin Chi meniup sulingnya. Suara yang dihasilkan sangat rendah, hampir tidak terdengar oleh telinga manusia, namun efeknya seketika terasa.

Bruk!

Mu Chen langsung terjerembap ke tanah, wajahnya mencium debu. Bahkan Si Penelan Cahaya tampak sedikit membungkuk, menahan tekanan yang luar biasa besar

1
BlueHeaven
Cover novelnya mirip putra pria solo😭
Rendy Tbr: Hihihi.. 😄 Waahhh.. Mantap donk.. 👌
total 1 replies
anggita
visual gambarnya oke👌
Rendy Tbr: Terima kasih ka 👌😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!