Nyx Morrigan, gadis yang terbuang dari keluarga konglomerat Beckham, Di usia ke-19 tahun Pelariannya membawanya bertemu Knox Lambert Riccardo, mahasiswa teknik sekaligus petarung jalanan.
Di bawah atap apartemen mewah Knox, rahasia Nyx perlahan terkuak, mengubah hubungan menjadi ikatan emosional yang intens.
Saat identitas asli Nyx terungkap, Knox justru menjadi pelindung utama dari kekejaman Dari keluarga nya.
Ketegangan memuncak ketika nama "Morrigan" ternyata menyimpan rahasia darah yang lebih besar dari sekadar skandal keluarga Beckham.
Di tengah konflik identitas, pengkhianatan keluarga, dan dunia yang berbahaya, Nyx harus memilih antara terus bersembunyi atau menyerahkan hatinya sepenuhnya kepada Knox.
Sebuah kisah tentang pencarian rumah, Untuk Rasa Sakit, dan penyembuhan luka.
.
Happy reading dear 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Apartemen Wilshire kembali hangat, namun kali ini aromanya bukan hanya pasta, melainkan perpaduan tajam antara minyak kayu putih, alkohol pembersih luka, dan ketegangan yang dibuat-buat. Knox duduk bertelanjang dada di atas sofa ruang tamu, meringis dramatis setiap kali kapas basah di tangan Nyx menyentuh luka robek di pelipisnya.
"Aww! Pelan-pelan, Sayang... Kau ini mengobatiku atau sedang mencoba mencabut nyawaku?" keluh Knox dengan nada manja yang dibuat-buat.
Nyx menekan kapas itu sedikit lebih keras, membuat Knox tersentak. "Diamlah, Riccardo. Tadi di markas kau tampak seperti singa jantan, sekarang kenapa kau berubah jadi kucing rumahan yang cengeng?"
"Singa juga butuh belaian, Nyx," sahut Knox sambil menyeringai, mencoba menarik pinggang Nyx agar lebih dekat, namun Nyx menepis tangannya dengan botol antiseptik.
Nyx menghela napas, menatap memar keunguan di rusuk Knox. Rasa bersalah dan kesal bercampur aduk. Sambil menempelkan plester, ia tiba-tiba teringat ucapan Zack di markas tadi tentang bagaimana Knox biasanya "sibuk" dengan wanita-wanita lain sebelum Nyx datang.
"Knox," panggil Nyx datar.
"Ya, cintaku?"
"Zack bilang kau punya standar tinggi. Katanya, kau jarang membawa wanita ke markas. Jadi..." Nyx menjeda kalimatnya, matanya menyipit menatap Knox. "Berapa banyak mantan yang pernah kau bawa ke asrama atau apartemen ini sebelum aku?"
Knox mendadak tersedak ludahnya sendiri. Ia mencoba tertawa hambar, namun rasa perih di rahangnya membuatnya meringis. "Kenapa tiba-tiba bahas sejarah purba, hm? Masa lalu itu seperti skripsi yang sudah diwisuda, tidak perlu dibahas lagi."
Nyx meletakkan kotak P3K di meja dengan bunyi brak yang cukup keras. Ia bersedekap, menatap Knox dengan tatapan mengintimidasi yang ia pelajari dari tahun-tahun menghadapi Brilian.
"Jawab saja. Aku penasaran, tipe wanita seperti apa yang bisa tahan dengan pria mesum sepertimu sebelum aku muncul?"
Knox menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Yah... kau tahu sendiri, kan? Aku ini tampan, pintar teknik, punya Lamborghini. Tentu saja ada beberapa yang... mampir."
"Beberapa?" Nyx mengangkat alisnya. "Satu lusin? Satu kompi?"
"Tidak sebanyak itu!" seru Knox panik. "Tapi serius, Nyx. Kebanyakan dari mereka hanya bertahan satu atau dua minggu. Mereka biasanya kabur setelah aku mulai bicara soal torsi mesin atau saat aku lupa membalas pesan karena sedang membongkar transmisi di bengkel."
Nyx menahan senyum. "Oh, jadi kau diputuskan karena terlalu mencintai besi tua?"
"Kurang lebih begitu," Knox mengangguk mantap, merasa aman. "Mereka ingin makan malam romantis di restoran berbintang, sementara aku lebih suka makan burger di pinggir jalan sambil memandangi knalpot. Kau satu-satunya yang tidak protes saat aku membawamu ke markas bau itu."
Nyx terdiam sejenak, lalu matanya kembali berkilat jenaka. "Lalu... siapa yang paling berkesan? Siapa yang pernah kau beri 'servis' lebih dari dua ronde seperti semalam?"
Wajah Knox memerah padam. Ia langsung meraih bantal sofa untuk menutupi wajahnya. "Nyx! Itu pertanyaan jebakan! Kalau aku jawab, aku mati. Kalau aku tidak jawab, aku mencurigakan!"
"Jawab saja, Knox. Aku tidak akan marah," ucap Nyx dengan nada yang paling tidak bisa dipercaya di dunia.
"Oke, oke!" Knox menurunkan bantalnya, wajahnya tampak sangat serius. "Jujur saja, tidak ada yang berkesan. Semuanya terasa... mekanis. Seperti rutinitas. Tapi denganmu..." Knox meraih tangan Nyx, menariknya hingga gadis itu terduduk di pangkuannya.
Nyx tersentak, mencoba memberontak namun pelukan Knox di pinggangnya sangat erat.
"Denganmu, semuanya berbeda," bisik Knox, suaranya berubah menjadi sangat lembut, mengabaikan luka-luka di wajahnya. "Kau adalah satu-satunya wanita yang membuatku merasa... kalau aku tidak memberi kabar sejam saja, duniaku akan meledak. Kau satu-satunya yang memukulku tapi aku malah ingin menciummu. Mantan-mantanku? Mereka hanya figuran. Kau adalah pemeran utamanya, Nyx."
Nyx menatap mata biru Knox yang kini tampak tulus, meski ada sedikit binar mesum yang mulai muncul kembali. "Kau pandai merayu, Tuan Teknik."
"Itu bukan rayuan, itu fakta lapangan," Knox menyeringai, hidungnya menggesek hidung Nyx. "Jadi, berhentilah cemburu pada hantu masa lalu. Mereka tidak punya pukulan maut sepertimu. Dan mereka pasti tidak punya 'goyangan tersembunyi' yang membuatku ketagihan."
"KNOX! DASAR MESUM!" Nyx berteriak, wajahnya merah padam. Ia mencoba berdiri, namun Knox justru menjatuhkan tubuh mereka berdua ke sofa dengan Nyx berada di atasnya.
"Aww! Rusukku, Sayang! Rusukku!" rintih Knox pura-pura kesakitan.
Nyx langsung panik. "Eh? Maaf! Aku tidak sengaja! Mana yang sakit?"
Begitu Nyx mendekatkan wajahnya dengan cemas, Knox langsung menyambar bibir Nyx dengan ciuman yang cepat dan nakal. Ia tertawa penuh kemenangan saat melihat ekspresi jengkel di wajah Nyx.
"Kau menipuku lagi!" gerutu Nyx, namun ia tidak beranjak dari dada Knox.
"Itu taktik gerilya," Knox tertawa renyah, melingkarkan lengannya di leher Nyx. "Sudah, jangan tanya soal mantan lagi. Lebih baik kita bahas masa depan. Bagaimana kalau malam ini kita coba 'posisi teknik' yang baru? Aku sudah menghitung sudut kemiringannya di otakku tadi malam saat di ring."
Nyx memutar bola matanya, namun hatinya terasa penuh. "Kau benar-benar tidak bisa sembuh dari penyakit mesum mu ya?"
"Hanya padamu, Nyx. Hanya padamu."
Di ruang tamu yang tenang itu, tawa mereka pecah bersamaan. Rasa cemburu Nyx menguap, digantikan oleh kehangatan yang nyata. Meskipun masa lalu Knox mungkin penuh warna, Nyx tahu bahwa di masa depan pria itu, hanya ada satu nama yang tertulis permanen: Nyx Morrigan. Atau mungkin, Nyx Riccardo.
gasss baca sampai habis.... 🤭😁😂