Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.
Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.
Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.
Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.
Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Angin malam Dubai yang hangat berhembus pelan, membawa aroma laut dan kemewahan yang tak terbatas. Di dalam penthouse, kedamaian seolah telah menjadi milik Anindya sepenuhnya.
Namun, ia lupa bahwa iblis dari masa lalu memiliki insting yang tajam untuk menghancurkan surga mana pun yang ia bangun.
Pagi itu, meja makan Anindya dipenuhi oleh aroma Manousheh hangat dan Umm Ali yang menggugah selera. Koki pribadi Zayed benar-benar menunjukkan keahliannya. Elang duduk dengan tegak, wajahnya belepotan krim cokelat artisan bertabur emas yang diberikan Zayed kemarin.
"Ibu, kalau nanti kita punya rumah sebesar ini di Indonesia, Elang mau Paman Zayed jadi koki kita saja!" seru Elang polos sembari mengunyah rotinya.
Anindya tertawa kecil, mengusap pipi putranya dengan tisu. "Hush, Sayang. Paman Zayed itu orang penting, dia tidak bisa hanya masak untukmu."
Zayed yang baru saja muncul dari ruang kerja, setelah menyelesaikan panggilan bisnis terkekeh mendengar pembicaraan itu. Ia melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang digulung hingga siku, membuatnya terlihat begitu membumi namun tetap berwibawa.
"Kenapa tidak?" sahut Zayed sembari duduk di kursi kosong sebelah Elang. "Asalkan Elang rajin belajar, Paman bisa mempertimbangkan untuk pensiun jadi pengusaha dan jadi koki pribadi Elang."
"Benar ya, Paman?" mata Elang berbinar.
"Janji pangeran adalah sumpah, Jagoan," balas Zayed sembari memberikan high-five pada Elang.
Anindya menatap interaksi itu dengan perasaan haru yang membuncah. Selama bertahun-tahun, Elang hanya mengenal ayah dari sosok Arlan yang kini telah tiada, dan kemudian sosok Kenzo yang hanya memberikan ketakutan.
Melihat Elang bisa tertawa lepas dengan pria lain adalah kebahagiaan yang tak ternilai.
"Zayed, kau terlalu memanjakannya," bisik Anindya saat Elang kembali sibuk dengan mainan robot untanya.
Zayed menatap Anindya, tatapannya melembut. "Aku tidak memanjakannya, Dian. Aku hanya sedang membayar waktu-waktu yang hilang darinya. Dan bagiku, melihat kalian berdua tenang adalah investasi terbaikku."
Humor ringan Zayed sesaat kemudian memecah suasana. "Lagi pula, cokelat emas itu juga bagus untuk kesehatan. Siapa tahu Elang nanti bisa lari secepat unta balap."
Anindya menggelengkan kepala sembari tersenyum. Zayed memiliki cara unik untuk mencairkan suasana yang paling tegang sekalipun.
~~
Di belahan kota yang lain, kemewahan Dubai terasa menyesakkan bagi Kenzo. Ia baru saja melakukan check-in di sebuah hotel bintang lima bersama Valerie.
Namun, pikiran Kenzo tidak ada pada wanita di sampingnya. Matanya terus bergerak liar, memindai setiap wajah wanita yang melintas di lobi hotel.
"Ken, ayolah! Kita sudah sampai di Dubai. Kenapa wajahmu kaku begitu? Ayo kita ke Dubai Mall, aku ingin belanja tas baru!" rengek Valerie sembari memeluk lengan Kenzo.
Kenzo memasang senyum palsunya yang mematikan. "Tentu, Lerie. Kita akan ke sana. Aku hanya sedikit lelah karena penerbangan tadi."
"Kalau begitu, ayo jalan sekarang! Aku dengar pemandangan air mancur malam ini sangat indah," ajak Valerie penuh semangat.
Kenzo mengangguk, namun dalam hatinya ia berdesis. "Berlarilah sesukamu, Anin. Dubai mungkin luas, tapi jejak jet pribadimu membawaku tepat ke jantung kota ini. Aku akan menemukanmu, meski harus membalikkan setiap butir pasir di gurun ini."
~~
Malam harinya, Anindya merasa sedikit jenuh berada di dalam penthouse. Ia ingin memberikan kenangan indah untuk Elang.
"Sarah, ayo kita ke Downtown. Aku ingin Elang melihat Dubai Fountain lebih dekat. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menghirup udara luar tanpa rasa takut," ucap Anindya sembari merapikan blazer emerald-nya.
"Tentu, Nyonya. Saya akan siapkan mobil," jawab Sarah.
Dubai malam itu sangat ramai. Ribuan turis memadati area sekitar Burj Khalifa. Elang tertawa kegirangan melihat pancuran air yang menari mengikuti irama musik. Anindya berdiri sedikit agak jauh dari kerumunan, menikmati angin malam yang menyentuh wajahnya.
"Ibu, lihat itu! Airnya tinggi sekali!" teriak Elang sembari menunjuk ke arah air mancur.
Anindya tersenyum, namun secara refleks matanya menyisir kerumunan. Kebiasaan waspada yang tertanam selama bertahun-tahun tidak bisa hilang begitu saja. Dan saat itulah, dunianya seolah berhenti berputar.
Sekitar sepuluh meter dari posisinya, di dekat pintu masuk mal, ia melihat sosok pria yang sangat ia hafal bentuk bahunya. Pria itu mengenakan kemeja linen berwarna biru muda, sedang berjalan santai sembari memegang tangan seorang wanita berambut pirang kecokelatan yang modis.
Kenzo.
Jantung Anindya berdegup sangat kencang hingga terasa menyakitkan. Napasnya tercekat. Bagaimana bisa? Kenzo seharusnya masih terjebak di Jakarta tanpa uang! Bagaimana dia bisa ada di sini, di pusat kota Dubai, bersama seorang wanita?
"Nyonya? Ada apa?" Sarah menyadari perubahan drastis pada wajah majikannya yang kini pucat pasi.
Anindya segera berbalik, memunggungi arah Kenzo berada. Ia langsung merengkuh Elang ke dalam pelukannya dengan gerakan protektif yang sangat kuat.
"Ibu? Kenapa?" Elang kebingungan karena pelukan ibunya yang tiba-tiba sangat erat.
"Jangan menoleh, Elang. Jangan suara," bisik Anindya bergetar. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
Mata Anindya menatap Sarah dengan sorot mata penuh ketakutan yang mendalam. "Sarah... dia di sini. Kenzo di sini. Di belakang kita, sepuluh meter."
Sarah tersentak, matanya membelalak kaget. Ia mencoba melirik tipis dan benar saja, sosok Kenzo sedang tertawa sembari menunjuk ke arah gedung, tak menyadari bahwa mangsa yang ia cari hanya berjarak beberapa langkah darinya.
"Sarah, cepat! Mobil! Kita harus pergi sekarang!" perintah Anindya dengan suara tertahan.
Anindya menggendong Elang, meski bocah itu sudah cukup berat, dan berjalan cepat setengah berlari menuju area parkir VIP.
Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menggunakan rambutnya yang terurai untuk menutupi profil wajahnya. Setiap langkah terasa seperti maraton kematian. Ia merasa seolah-olah mata Kenzo bisa menembus punggungnya kapan saja.
"Cepat, Sarah! Cepat!"
Mereka berhasil mencapai mobil limousine hitam yang sudah menunggu. Begitu pintu tertutup, Anindya langsung merosot ke lantai mobil, masih mendekap Elang. Tubuhnya gemetar hebat.
"Jalan! Sekarang!" seru Sarah pada sopir.
Mobil itu melaju cepat, meninggalkan keramaian Downtown. Anindya melihat keluar jendela yang gelap, memastikan tidak ada mobil yang membuntuti. Setelah merasa cukup jauh, ia baru melepaskan pelukannya pada Elang.
"Ibu... Ibu kenapa menangis?" tanya Elang sembari menghapus air mata di pipi Anindya dengan tangan mungilnya.
Anindya baru sadar air matanya telah tumpah. Haru, takut, dan benci bercampur menjadi satu. "Ibu tidak apa-apa, Sayang. Ibu hanya... kaget saja tadi."
Sesampainya di penthouse, Anindya langsung menghubungi Zayed. Suaranya masih bergetar saat Zayed mengangkat telepon.
"Zayed... dia... Dia ada di sini. Aku melihatnya di mal tadi," isak Anindya.
Di seberang sana, suara Zayed terdengar tenang namun mengandung nada dingin yang mematikan. "Aku tidak tahu maksudmu, Dian. Dia siapa yang kau maksud."
Anindya tertegun. "Kenzo! Pria yang aku ceritakan padamu."
Zayed menarik napas panjang. "Tenanglah! Mulai detik ini, dia tidak akan bisa melihat bayanganmu sekalipun. Aku akan memperketat perimeter. Dan Dian... jangan takut. Dia baru saja masuk ke sarang Singa. Besok, aku akan menunjukkan padanya bahwa Dubai bukan Jakarta."
Anindya menutup teleponnya. Ia menatap Elang yang sudah kembali tenang bermain di kamar. Ia kemudian membuka laptopnya, menatap folder 'Asuransi Masa Depan' dari Arlan.
"Kenzo... kau datang ke sini untuk menjemput mautmu sendiri," bisik Anindya tajam. "Jika Arlan memberiku senjata, dan Zayed memberiku perlindungan, maka aku sendiri yang akan menarik pelatuknya."
Malam itu, di bawah langit Dubai yang gemerlap, Anindya tidak lagi hanya menjadi pelarian. Ia mulai merancang serangan balik. Ia tahu, Kenzo sangat bergantung pada wanita yang bersamanya, Valerie. Dan di situlah letak kelemahan sang predator.
...----------------...
To Be Continue ....