"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perkara Bau Badan
Jam delapan malam, acara pernikahan Cya dan Rajendra akhirnya selesai.
Meski di lantai bawah masih ada beberapa tamu yang berbincang dengan kedua orang tua mereka, Cya sudah terlalu lelah. Tanpa banyak bicara, ia memutuskan untuk naik ke kamar.
Baru saja Cya hendak menutup pintu, tiba-tiba Rajendra menyelonong masuk. Rupanya laki-laki itu mengikuti dari belakang.
“Loh, Om ngapain masuk ke kamar saya?”
Tatapan Cya langsung menajam, jelas tidak suka dengan kehadiran Rajendra di ruang pribadinya.
Rajendra menatapnya santai. “Apa kamu lupa? Kita sudah menikah. Saya ini suami kamu. Otomatis kamar kamu juga jadi kamar saya, begitu juga sebaliknya.”
Tanpa menunggu respons, Rajendra berjalan ke arah kasur dan duduk di tepinya.
Cya mendengus kesal. “Ish, Om tidur di sofa aja!”
Ia menarik tangan Rajendra, berusaha menjauhkannya dari ranjang yang dihias bunga mawar berbentuk hati itu.
“Saya belum mau tidur, Cya,” ujar Rajendra tenang. “Saya cuma mau istirahat sebentar. Badan saya pegal semua.”
“Saya juga mau istirahat. Kalau Om mau istirahat, sana di sofa!”
“Awas ya kamu,” ancam Rajendra ringan sambil menyentil kening Cya. “Kalau nanti kamu nginep di kamar saya, saya suruh kamu tidur di lantai.”
“Ya ampun, belum sehari jadi suami, Om sudah KDRT.”
Cya berkata dramatis sambil memukuli perut Rajendra dengan guling. Tentu saja tidak berpengaruh apa-apa.
“Kamu yang KDRT,” balas Rajendra santai. “Kamu mukul saya pakai bantal.”
“Om duluan yang nyentil kening saya!”
“Terus maunya kening kamu diapain? Dicium?” godanya.
“Ish, amit-amit! Gak lah!” Cya langsung bergidik.
Rajendra terkekeh pelan. “Gak usah pura-pura. Tadi waktu foto kamu kelihatan menikmati kok.”
Wajah Cya langsung memerah. Ingatannya melayang pada sesi foto tadi—berapa kali Rajendra mencium pipinya.
Rajendra semakin geli melihat reaksinya. “Tuh kan, pipi kamu merah. Berarti senang, kan?”
“Ish!” Cya menggosok pipinya kasar. “Pipi saya sudah gak perawan lagi gara-gara Om!” keluhnya hampir menangis.
Rajendra terbelalak. “Ada-ada aja… Memangnya waktu kecil kamu gak pernah dicium orang?”
“Gak tau. Nanti saya tanya Mami.”
Rajendra menahan senyum. “Ya ampun, gemasnya…” batinnya.
“Om kenapa senyum-senyum?”
Ekspresi Cya berubah lagi—dari hampir menangis jadi curiga.
“Siapa yang senyum? Saya biasa aja tuh,” elak Rajendra sambil memalingkan wajah.
“Om lah! Di sini cuma ada kita berdua.”
“Kata siapa? Di sini bukan cuma kita berdua.”
Cya langsung menoleh ke kanan dan kiri. “Terus ada siapa lagi?”
Rajendra mendekat, lalu berbisik di dekat wajahnya, “Bayangan kita.”
Cya langsung memejamkan mata beberapa detik. Hembusan napas Rajendra yang beraroma mint membuatnya sedikit salah tingkah.
Refleks, ia memukul lengan Rajendra. “Dasar nyebelin!”
Rajendra menyeringai. “Ini belum seberapa. Nanti saya bisa lebih nyebelin lagi.”
Cya melipat tangan di dada. “Om pikir saya takut? Big no!”
“Kita lihat nanti.”
“Siap!”
Entah maksudnya apa, tapi Cya menerima tantangan itu tanpa pikir panjang.
Rajendra kemudian menatapnya dari atas ke bawah. “Mending kamu mandi deh. Kamu udah bau asem.”
Mata Cya langsung membesar. Ia paling sensitif soal bau badan.
Dengan polos, ia mengangkat sedikit ketiaknya dan mengendusnya.
Rajendra langsung menggigit bibir, menahan tawa. “Tuh kan, bau.”
“Enggak kok!” bantah Cya.
“Bau, Cya. Saya sampai mau muntah… huek!” Rajendra pura-pura mual.
“Gak mungkin!”
Tanpa pikir panjang, Cya langsung berlari ke kamar mandi sambil mengangkat gaunnya agar tidak terinjak.
Begitu pintu tertutup—“Hahaha…” Tawa Rajendra akhirnya pecah.
Sudah lama ia tidak tertawa selepas ini.
Dan penyebabnya… hanya gadis polos yang baru beberapa jam menjadi istrinya.
Rajendra melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang melekat di tubuhnya, lalu duduk santai di tepi ranjang.
“Ternyata menikah sama Cya… nggak buruk juga,” gumamnya pelan.
Hari-harinya tiba-tiba terasa lebih hidup.
Lebih berisik.
Lebih… menantang.
Ia melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup.
Senyumnya kembali terukir. “Dan ini baru permulaan…”
***
“Aduh, siapa sih yang bikin baju ribet begini!”
Cya menggerutu sambil berusaha meraih resleting di punggung gaunnya.
Sudah lima menit ia berada di dalam kamar mandi, tapi gaun itu tak kunjung terlepas. Tangannya tidak cukup menjangkau bagian belakang dengan baik.
Cya menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya cemberut, tapi tetap cantik—makeup-nya masih sempurna, belum tersentuh air.
“Huh… masa iya gue harus minta tolong sama Om Rajendra? Nanti malah dibilang bau lagi…”
Ia menghela napas panjang.
Egonya terlalu tinggi untuk meminta bantuan.
Padahal, kalau saja ia mau sedikit mengalah, mungkin masalahnya sudah selesai dari tadi.
“Mami… Cya harus apa…”
Suara Cya melemah.
Tak lama kemudian, air matanya benar-benar jatuh.
Lima belas menit berlalu.
Di luar, Rajendra mulai merasa heran.
Tak ada tanda-tanda Cya akan keluar. Padahal, tubuhnya sendiri sudah terasa lengket dan gerah—ia juga ingin mandi dan berganti pakaian.
Akhirnya, Rajendra bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi. “Cya, kamu masih lama gak?”
Ia mengetuk pintu.
Tak ada jawaban.
“Kamu gak ketiduran di dalam, kan?”
Rajendra mulai khawatir. “Saya buka pintunya, ya!” serunya, memberi peringatan.
Perlahan, ia memutar knop pintu— Dan pintu itu langsung terbuka. Ternyata tidak dikunci.
Kebiasaan Cya yang sering lupa.
Rajendra langsung menemukan Cya berjongkok di samping bathtub, memeluk lututnya sambil terisak.
“Cya?” Rajendra buru-buru mendekat dan berjongkok di depannya. “Kamu kenapa?”
Cya menoleh dengan mata merah. “Om ngapain ke sini…? Saya kan bau…”
Rajendra mengernyit. “Kamu nangis kenapa?”
“Saya gak bisa buka resleting baju saya…”
Rajendra terdiam sejenak.
Lalu menghela napas pelan.
Hanya karena itu… gadis ini sampai menangis.
Ada rasa gemas yang tiba-tiba muncul.
“Hanya karena itu kamu nangis?”
“Kalau bukan karena itu, terus karena apa lagi?” balas Cya dengan suara parau.
Rajendra menggeleng kecil. “Sini, saya bantu.”
Cya langsung menggeser tubuhnya menjauh. “Jangan dekat-dekat!”
“Bukannya kamu mau lepasin gaun kamu?”
“Iya, tapi saya gak mau kalau Om yang bantu!”
“Terus kamu mau dibantu siapa?”
“Mami.”
Rajendra menghela napas panjang, lalu berdiri. “Tunggu di sini.”
Ia keluar begitu saja, membiarkan pintu kamar mandi tetap terbuka.
Cya hanya bisa menatap punggungnya dengan bingung.
Beberapa menit kemudian—langkah kaki kembali terdengar.
Dan benar saja Rajendra datang kembali.
Tidak sendirian.
Di belakangnya, Bu Diana ikut masuk dengan wajah sedikit panik.
“Cya? Kamu kenapa, Sayang?”
Cya langsung berdiri dengan wajah memerah—entah karena habis menangis atau karena malu.
“Mi…”
Rajendra bersedekap santai di dekat pintu, berusaha menahan senyum. “Saya sudah bilang, dia maunya dibantu Mami,” ujarnya ringan.
Cya langsung melotot ke arahnya.
Sementara itu, Bu Diana hanya menggeleng pelan sambil mendekati putrinya. “Ya ampun, cuma resleting doang sampai nangis…”
Rajendra akhirnya tidak bisa menahan senyumnya.
Gadis ini… benar-benar di luar dugaan.
“Cya, kan ada suami kamu, Nak. Kamu bisa minta tolong sama dia,” ucap Bu Diana. Meski begitu, tangannya tetap membantu menurunkan resleting gaun Cya.
Saat resleting itu perlahan turun, Rajendra buru-buru mengalihkan pandangan. Ia tak kuasa menatap punggung Cya—bayangan di butik tempo hari saja sudah cukup mengganggu pikirannya.
“Gak mau, Mi. Katanya aku bau,” protes Cya.
“Bau gimana?”
“Bau asem katanya, Mi.”
Rajendra langsung meringis dalam hati.
Ia tidak menyangka candaan sepele tadi akan dibawa sejauh ini.
Bu Diana kemudian mendekat, sedikit mencondongkan tubuhnya untuk mengendus.
Beberapa detik kemudian, ia tersenyum.
“Enggak bau kok. Kamu wangi.”
Rajendra akhirnya angkat bicara, sedikit canggung. “Sebenarnya… tadi saya cuma bercanda, Mi.” Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ya ampun, suami kamu cuma bercanda, Cya. Kamu jangan baperan,” ujar Bu Diana santai.
Cya langsung mengerucutkan bibirnya, memeluk bagian depan gaunnya yang hampir melorot.
“Tapi dia gak bilang kalau dia bercanda, Mi,” balasnya pelan, membela diri.
Bu Diana menghela napas. “Ya sudah. Mama tinggal, ya. Kamu mandi, terus istirahat.”
“Iya, Mi…”
“Jangan lupa urus suami kamu juga.”
Cya menjawab malas, “Iya, Mi…”
Setelah Bu Diana pergi, suasana mendadak hening.
Cya menoleh ke arah Rajendra yang masih berdiri di ambang pintu kamar mandi. “Om, kenapa masih di sini? Saya mau mandi.”
“Saya juga mau mandi.”
“Om mandinya nanti, setelah saya selesai. Jangan bilang Om mau ngajak saya mandi bareng!”
Rajendra tersenyum jahil. “Itu sepertinya ide yang bagus.”
“Enak aja!” Tanpa pikir panjang, Cya langsung menyalakan shower dan mengarahkannya ke Rajendra.
Byur!
Rajendra langsung terdiam dengan wajah kaget. Kemejanya seketika basah kuyup.
Ia benar-benar tidak menyangka.
Gadis ini… barbar juga ternyata.
“Keluar gak!” seru Cya kesal.
Rajendra mengangkat tangan menyerah. “Oke, oke. Saya keluar.”
Dengan langkah malas, ia keluar dari kamar mandi sambil menggeleng.
“Dasar bocah nakal…” gumamnya.
“Om tuh yang jahat!” teriak Cya dari dalam.
***
Cya baru saja selesai mandi, namun ia baru tersadar sesuatu. “Ya ampun… gue lupa bawa handuk!”
Ia menepuk keningnya sendiri.
Cya menatap pantulan tubuhnya di cermin, lalu menghela napas panjang. “Gue gak mungkin keluar dari sini dalam keadaan begini… nanti yang ada malah—”
Ia menggigit bibir bawahnya, menahan kalimatnya sendiri.
Panik mulai merayapi pikirannya. “Aduh… gue harus gimana?”
Di luar, suara Rajendra terdengar. “Cya, kamu sudah selesai belum? Saya juga mau mandi.”
“Iya, Om! Ini saya baru selesai!”
“Kalau sudah selesai, kenapa gak keluar?”
Cya terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab pelan,
“Saya… lupa bawa handuk, Om…”
“Dasar bocil ceroboh.”
“Namanya juga lupa! Lupa itu kan nggak sengaja!” balas Cya cepat.
“Handuk kamu di mana?”
“Di lemari, paling atas.”
Tak ada jawaban lagi.
Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki menjauh.
Rajendra langsung mengambil handuk milik Cya dari lemari.
Setelah itu, ia kembali ke depan kamar mandi dan mengetuk pintu.
“Ini handuknya.”
“Bentar…” Pintu terbuka sedikit. Hanya celah kecil.
Tangan Cya muncul dari balik pintu, mengambil handuk dengan cepat.
“Jangan lama-lama,” ujar Rajendra.
“Iya, Om.”
Rajendra menghela napas pelan.
Entah kenapa, panggilan “Om” itu mulai terasa mengganggu di telinganya. Ia belum menemukan cara agar gadis itu berhenti memanggilnya Om.
Di dalam kamar mandi—Cya menatap handuk yang kini melilit tubuhnya. “Aduh… kok pendek banget sih?”
Handuk itu hanya menutupi dari dada hingga sebagian paha.
Ia mendecak kesal. “Tapi yaudah… daripada gue keluar tanpa apa-apa.”
Setelah menarik napas panjang, Cya akhirnya memberanikan diri membuka pintu.
Ia mengintip pelan, memastikan keadaan aman.
Matanya langsung menangkap sosok Rajendra yang duduk di sofa, sibuk dengan ponselnya.
Cya berjalan pelan, mengendap-endap di belakangnya.
Namun sial—Rajendra tiba-tiba menoleh tepat saat Cya berada di belakangnya.
Cya langsung membeku.
Rajendra menatapnya dari atas sampai bawah.
Tanpa sadar, langkah Cya terhenti.
Rajendra berdiri, lalu mendekat perlahan. “Saya harap… kamu nggak keluar dari kamar mandi pakai handuk seperti itu lagi.”
“Memangnya kenapa, Om?”
Rajendra menatapnya dalam. “Saya ini laki-laki normal, Cya.”
Nada suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.
Cya mengernyit polos. “Kenapa emangnya?”
Rajendra menghela napas, berusaha menahan diri.
Namun kalimatnya tetap meluncur, “Saya juga punya batas. Tentu saya penasaran bagaimana rasanya berhubungan bada."
Cya masih menatapnya bingung. “Loh… bukannya Om duda?” celetuknya tanpa beban. “Harusnya sudah berpengalaman, kan?”
Rajendra langsung memejamkan mata sejenak.
Kepalanya terasa pening. “Sudahlah… saya capek ngomong sama kamu.”
Tanpa menunggu balasan, ia langsung mengambil handuk dan pakaian gantinya yang sudah disiapkan, lalu berjalan ke kamar mandi.
Sementara itu—Cya masih berdiri di tempatnya.
Mengernyit. “Emangnya gue salah ngomong, ya…?” gumamnya pelan.
Namun detik berikutnya, ia buru-buru berlari ke lemari.
Mencari pakaian.
Karena satu hal yang pasti—ia tidak ingin ketahuan lebih lama lagi dalam kondisi seperti itu.
apa Bela itu sebenarnya Aurel