NovelToon NovelToon
Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Cinta dalam Diam, Rindu dalam Sentuh.

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Romantis
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: RosaSantika

Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.

Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.

Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

"Cari siapa? Lo pikir gue cari siapa, hah?!" ceplos Natasha dengan suara yang tinggi dan ketus, tidak mau kalah sedikitpun. suaranya melengking dengan keras. "Gue cari Elvano dong! Suami lo itu! Atau... jangan-jangan lo takut gue ngambil dia dari lo kan, makanya lo nanya gitu?! makanya panik ya?!"

Aira memegang erat ujung bajunya sendiri di balik kain, tangannya terlihat sedikit gemetar menahan emosi dan rasa takut yang bercampur menjadi satu. kuku jarinya seakan ingin menancap ke telapak tangannya sendiri karena menahan rasa sakit hati yang mulai muncul.

"Natasha, ini rumah kami. Kalau kamu mau ketemu mas Elvano, dia lagi di kantor belum pulang. Tolong bicara yang sopan, jangan teriak-teriak, ini bukan di pasar," jawab Aira pelan namun mencoba menegaskan suaranya, berusaha bersikap dewasa dan tenang meski hatinya gemetar.

"Sopan?! Hahaha!" Natasha tertawa makin keras dan makin mengejek, seakan mendengar hal paling lucu di dunia. "Lo ngajarin gue sopan santun?! Lo siapa sih sebenernya, hah?! Lo cuma cewek yang tiba-tiba muncul dan ngaku-ngaku jadi istri Elvano doang kan?! Gue sama Elvano itu jauh lebih lama kenal daripada lo! Kita lebih tau semuanya tentang satu sama lain! Lo gak ada apa-apanya dibanding gue! Lo gak setara sama kita!"

Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Natasha dengan sangat lancar, sangat pedas, dan sangat menyakitkan. Seolah-olah status pernikahan Aira dan Elvano itu tidak ada artinya sama sekali di matanya, seolah-olah Aira hanyalah orang asing yang tidak tahu malu yang masuk seenaknya.

"Aku tahu kita pernah ketemu sebelumnya Natasha..." jawab Aira pelan mencoba menenangkan keadaan, dan tidak mau memancing emosi yang lebih besar lagi. Ia menarik napas panjang berusaha mengontrol perasaannya. "Dan aku tahu kamu mantan pacarnya. Tapi sekarang tolong hargai situasi. Kami sudah menikah secara sah Natasha. Kami sudah halal. Jadi tolong hormati itu dan hormati rumah tangga kami."

Aira berusaha bersikap dengan tegas, berusaha bersikap seperti seorang nyonya rumah yang sebenarnya. Tapi sayangnya, kata-kata itu justru memicu amarah Natasha menjadi semakin besar dan meledak-ledak, bagaikan minyak yang disiramkan ke api yang sedang berkobar.

Mendengar kata "menikah sah" dan "halal" yang keluar dengan tegas dari mulut Aira, wajah Natasha seketika berubah merah menahan amarah yang sudah memuncak di ubun-ubunnya. matanya menyala penuh cemburu buta dan kebencian. Ia maju selangkah lagi mendekati pagar, jaraknya sekarang sangat dekat sekali dengan wajah Aira, hampir menempel pada jeruji besi. napasnya terlihat memburu karena emosi yang tak bisa ditahan lagi.

"Sah?! Ha! Sah di kertas doang maksudnya!" bentak Natasha keras sekali, suaranya melengking tinggi hingga mungkin terdengar sampai ke dalam rumah dan ke tetangga sekitar. "Hangan bego banget sih lo! Elvano nikahin lo itu cuma karena dia lagi butuh istri buat nutupin mata orang tua dia doang! Dia gak cinta sama lo! Ngerti lo?! Perasaan itu gak bisa dipaksa cuma gara-gara selembar kertas nikah doang! Di hati Elvano gak ada nama lo!"

Aira tertegun. Tubuhnya kaku bagaikan patung. Dadanya terasa perih sekali tertusuk kata-kata yang pedas itu. Rasanya seperti ditampar berkali-kali didepan umum oleh orang asing. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, menumpuk siap untuk tumpah, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk menahannya agar tidak meneteskan air matanya di depan wanita ini. Ia tidak mau menangis dan terlihat lemah di sini, tidak mau membiarkan wanita ini menang melihatnya bersedih.

"Enggak... Mas Elvano baik sama aku..." bantah Aira lemah, suaranya hampir tak terdengar. Ia berusaha membela suaminya, membela perasaannya, tapi rasanya perasaannya sendiri tidak yakin, getarannya terasa sangat jelas.

"Bohong! Itu karena dia orangnya baik! Fia kasihan sama lo yang hidupnya susah dan pas-pasan! Karena lo terlihat lemah dan butuh perlindungan, makanya dia gak tega!" Natasha menunjuk wajah Aira dengan jarinya yang panjang, runcing, dan bercat kuku merah menyala. Gerakannya kasar dan penuh dengan ancaman, jarinya hampir menyentuh hidung Aira. "Dengerin ya baik-baik ya Aira... karena kita pernah ketemu, gue kasih tau baik-baik. Gue ngomong ini demi kebaikan lo sendiri juga, biar lo gak malu lama-lama."

Natasha menurunkan suaranya menjadi pelan, dingin, dan sangat mengancam. Tatapan matanya tajam sekali, seolah-olah bisa menembus masuk ke dalam jiwa Aira dan menghancurkan pertahanan diri yang sudah dibangun setinggi langit. Suaranya rendah namun penuh dengan penekanan yang mematikan.

"Lo gak lihat apa gimana gue sama dia dulu?! Kita itu sempurna! Kita itu cocok banget! Satu frekuensi! Sama-sama kaya, sama-sama cantik dan ganteng, sama-sama satu dunia! Semua orang iri sama kita! Semua orang bilang kita jodoh sejati yang bakal nikah dan bahagia selamanya! Lo pikir gampang buat ngegantiin posisi gue yang udah bertahun-tahun itu?!"

Natasha mendekatkan wajahnya lagi ke celah pagar besi itu, sangat dekat, hingga Aira bisa mencium aroma parfum mahal yang menyengat dari tubuh wanita itu. Natasha berbisik dengan nada penuh rasa sakit namun juga penuh kebencian dan rasa memiliki yang sangat dalam.

Dan dengan suara yang pelan tapi penuh penekanan yang sangat kuat, ia akhirnya mengucapkan kalimat kuncinya yang paling menyakitkan, kalimat yang akan selalu terpatri di ingatan Aira selamanya, kalimat yang akan menghantui mimpi buruknya:

"Mundur ya dari sana! Mundur dari hidup Elvano! Gue masih cinta banget sama dia! Dia itu cuma milik gue selamanya! Lo cuma penghalang doang! Lo cuma pelengkap yang kebetulan ada di saat dia butuh! Lo gak pantas buat dia! Lo gak level!"

bruk!

Rasanya seperti ada palu godam raksasa yang menghantam kepala dan dada Aira dengan sangat keras dan sangat kuat pada saat itu juga.

Dunia seakan berhenti berputar. Pendengaran Aira berdenging kencang. Pandangannya sedikit kabur. Kakinya terasa lemas seolah tulangnya hilang, hampir saja ia jatuh terduduk jika tidak berpegangan pada tiang pagar di sampingnya dengan cepat.

Kalimat itu... kalimat yang baru saja diucapkan Natasha, begitu menyakitkan, begitu tajam, dan begitu menghancurkan seluruh rasa percaya diri Aira yang baru saja ia bangun selama ini dengan susah payah.

"Guemasih cinta banget sama dia..."

Kata-kata itu terngiang-ngiang terus di kepala Aira, berputar tanpa henti seperti kaset rusak yang diputar ulang terus-menerus, menusuk-nusuk otak dan hatinya tanpa ampun.

"Na... Natasha..." suara Aira tercekat di tenggorokan, suaranya bergetar hebat menahan isak tangis yang mau meledak keluar. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tak bisa dibendung lagi, jatuh menetes membasahi pipinya yang putih dan mulus itu. Jatuh satu, dua, lalu menjadi deras tak terbendung. "Kamu... kamu jahat banget... Kenapa harus bilang gitu? Aku kan istrinya sekarang... Aku sah jadi istrinya... Allah yang nyatukan kami..."

"Istri apa yang Lo maksud, hah!" bentak Natasha lagi tidak mau kalah, suaranya semakin tinggi dan emosi, tidak peduli kalau ada orang yang mendengar. "Di hati Elvano, cuma ada nama Natasha Kirana! Lo pikir gampang gitu buat ngegantiin posisi gue yang udah bertahun-tahun?! Gue udah bagian dari hidup dia! Geue tau semuanya tentang dia! Mulai dari kebiasaan dia tidur, makanan kesukaan dia, cara dia marah, cara dia senyum, sampai sisi gelap dia yang cuma gue yang tau! Lo tau apa tentang dia hah?!"

Natasha tersenyum miring, senyum yang penuh kemenangan namun juga penuh kejahatan dan rasa sombong yang meluap-luap. Tatapannya tajam menatap Aira yang sudah mulai menangis, seakan ia sedang menikmati penderitaan gadis itu.

"Jadi mending lo sadar diri deh. mundur selangkah ke belakang. Pergi dari rumah mewah ini. Kembalilah ke kehidupan lo yang dulu yang sederhana, yang biasa aja, yang gak perlu pusing mikirin cara bersikap di kalangan orang kaya. Jangan sok jadi nyonya besar kalau lo emang gak pantas dan gak bisa bikin dia bahagia kayak gue dulu bisa bikin dia bahagia."

Air mata Aira mengalir semakin deras membasahi kedua pipinya yang tirus dan putih itu. Dadanya terasa sesak sekali, sangat sakit, sangat perih, rasanya seperti diremas-remas dengan kuat oleh tangan yang tak kasat mata. Rasa tidak percaya diri, rasa cemburu yang buta, rasa takut kehilangan, dan rasa sedih yang mendalam bercampur menjadi satu, menghancurkan hati gadis malang itu menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak bisa disatukan lagi.

"Kamu... kamu beneran masih sayang sama dia?" tanya Aira pelan sekali, suaranya parau dan hampir tak terdengar di antara isak tangisnya yang tertahan. Ia menatap Natasha dengan mata yang berkaca-kaca penuh harap, berharap mungkin wanita ini akan berbohong atau akan mengurangi kata-katanya.

Tapi Natasha justru mendongak dengan sangat angkuh dan penuh keyakinan. Dagunya terangkat tinggi, matanya memancarkan api cinta yang membara.

"Seratus persen! Seribu persen! Gue cinta mati sama Elvano! Dan gue yakin banget, di lubuk hati yang paling dalam, dia juga masih cinta sama gue! Dia nikahin lo itu cuma karena terpaksa doang! Atau mungkin karena dia lagi butuh pelarian karena gue sempet ninggalin dia dulu! Lo pikir lo siapa?! Jangan bangga dulu sama status lo yang semu itu!"

"Gue kasih waktu buat lo mikir!" seru Natasha terakhir kali dengan nada tinggi dan penuh peringatan keras, tangannya menunjuk tepat ke arah wajah Aira. "pikirin baik-baik kata-kata gue! Jangan sampai gue datang lagi dengan cara yang lebih kasar dan bikin malu lo di depan semua orang! Mundur Aira! Itu saran terbaik dari gue! Mending mundur dengan terhormat daripada nanti diusir dengan tidak hormat!"

Setelah melontarkan semua kalimat peringatan yang menyakitkan dan mematikan itu, Natasha pun berbalik badan dengan gerakan yang sangat cepat dan penuh emosi. Ia tidak mau menoleh sedikitpun ke belakang, seakan memandang Aira saja sudah membuat matanya kotor dan sakit.

Dengan langkah kaki yang menghentak kuat karena amarah, Natasha kembali masuk ke dalam mobil sport merahnya yang mewah dan mahal itu. Pintu mobil ditutup dengan suara yang sangat keras dan menggelegar.

Suara mesin mobil dinyalakan dengan raungan yang sangat keras dan garang.

Brummmm!!! Brummmm!!!

Suara knalpot menderu kencang seakan meluapkan semua emosi dan amarah yang ada di dalam diri Natasha.

Dan dalam sekejap mata, mobil merah menyala itu melaju kencang sekali meninggalkan halaman rumah Praditya, meninggalkan debu dan asap knalpot yang mengepul tinggi, lalu hilang ditelan kelokan jalan dengan sangat cepat.

Meninggalkan Aira yang berdiri terpaku mematung sendirian di depan gerbang yang besar itu.

Sendirian dengan hati yang hancur lebur.

Sendirian dengan luka yang sangat dalam dan menganga lebar di dalam dadanya.

Setelah suara mesin mobil Natasha benar-benar hilang ditelan kejauhan, suasana di sekitar rumah kembali hening. Sunyi senyap.

Namun keheningan itu terasa begitu mencekam, begitu berat, dan begitu menyakitkan bagi Aira. Angin sore yang tadi terasa sejuk dan menenangkan, kini terasa begitu dingin menusuk sampai ke tulang sumsum.

Aira tidak kuat lagi menopang berat badannya sendiri. Kakinya terasa lemas sekali, seolah hilang seluruh kekuatannya karena hantaman kata-kata pedas tadi.

Dengan gerakan yang sangat pelan dan lemah, Aira perlahan menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Ia duduk bersila di lantai teras yang dingin dan keras itu. Ia memeluk kedua lututnya sendiri dengan erat, menyandarkan dahinya di atas lipatan tangan dan lututnya, lalu akhirnya...

Ia menangis tersedu-sedu dengan sangat pilu dan sangat hancur.

"Hikss... hikss... huuuuu... huuuuu..."

Suara tangisnya pecah memecah keheningan sore itu. Tangisnya bukan tangis biasa, tapi tangis seorang wanita yang hatinya baru saja dihancurkan berkeping-keping oleh kenyataan yang sangat pahit.

Air matanya jatuh tak henti-henti membasahi kain bajunya dan lantai keramik yang dingin itu. Bahu kecilnya terguncang hebat menahan beban rasa sakit yang luar biasa di dalam dadanya.

"Ya allah... ya allah... kenapa harus begini ya allah..." isak Aira pelan di antara tangisnya yang memilukan. Suaranya terdengar sangat putus asa. "Aira cuma mau bahagia... Aira cuma mau jadi istri yang baik buat Mas Elvano... Aira cuma mau menjalani rumah tangga dengan tenang. Kenapa harus ada orang yang datang dan nyakitin hati Aira segini parahnya ya allah..."

Kata-kata Natasha tadi terus berputar-putar di kepalanya tanpa henti, seperti kaset rusak yang diputar ulang terus menerus tanpa bisa dihentikan.

"Mundur ya... gue masih cinta banget sama dia..."

1
🍒⃞⃟🦅 Gami
mantap
Rosa Santika: makasih udah komen kk xixixi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!