Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah Hati di Balik Jeruji Besi
Dinding beton sel isolasi di penjara militer San Vittore terasa jauh lebih dingin daripada salju Alpen. Bau apak, keringat, dan karat besi menyatu menjadi aroma keputusasaan yang mencekik. Di tengah ruangan sempit berukuran dua kali tiga meter itu, Aiden Volkov duduk di atas dipan keras tanpa alas. Ia tidak lagi mengenakan kemeja sutra atau jam tangan Patek Philippe seharga mansion. Ia mengenakan seragam oranye kusam yang kasar di kulit, dengan nomor tahanan 04-RY tercetak di dadanya.
Setelah duel maut di langit Milan, unit investigasi gabungan internasional melakukan penggerebekan besar-besaran. Bukti-bukti yang ditinggalkan Lorenzo ternyata adalah bom waktu yang dirancang untuk meledak jika Don Lorenzo tewas. Dokumen yang diamankan Aiden di pelabuhan ternyata telah disisipi virus digital yang mengirimkan seluruh riwayat transaksi gelap Volkov Corp ke markas Interpol tepat saat server itu dinyalakan kembali di Milan.
Aiden menyerah tanpa perlawanan. Bukan karena ia takut, tapi karena ia tahu, jika ia melawan, Ziva akan terseret ke dalam lubang hitam hukum internasional. Ia mengambil semua kesalahan, menandatangani pengakuan di bawah sumpah, dan memastikan Ziva tetap berstatus sebagai "korban penculikan yang tidak bersalah".
Gema langkah kaki di lorong panjang penjara memecah keheningan yang menyiksa. Aiden tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa yang datang. Suara plak-plok dari sandal jepit yang menghantam lantai pualam adalah melodi yang paling ia hafal di dunia ini.
Seorang penjaga bersenjata membuka pintu jeruji kecil di bagian tengah pintu baja. "Lima menit, Volkov. Hanya bicara, jangan menyentuh kaca."
Ziva berdiri di sana. Wajahnya pucat, matanya sembap, dan rambutnya yang biasanya dikuncir kuda kini berantakan. Ia menempelkan telapak tangannya ke kaca tebal yang memisahkan mereka. Di kakinya, sandal jepit Swallow hijau-putih yang sudah kusam tampak begitu kontras dengan kemegahan penjara militer yang dingin.
"Bang Don..." suara Ziva pecah. Ia terisak sebelum sempat menyelesaikan kata pertamanya.
Aiden mendekat ke kaca, namun tangannya tetap di samping tubuhnya. Ia harus terlihat kuat. Ia harus membuat Ziva membencinya agar gadis itu bisa pergi. "Kenapa kau ke sini, Ziva? Aku sudah bilang pada Marco untuk memesankan tiket pesawatmu kembali ke Jakarta. Besok pagi."
"Gue nggak mau balik! Gue nggak mau ninggalin lu di kandang singa begini sendirian!" Ziva memukul kaca itu dengan kepalan tangannya yang kecil. "Kenapa lu ngaku semuanya? Lu bilang itu rencana Lorenzo! Lu bilang lu dipaksa! Kenapa lu malah masuk ke sini, Bang?!"
Aiden menatap mata Ziva dengan tatapan yang sengaja ia buat sedingin es—tatapan naga yang tidak lagi memiliki perasaan. "Karena aku memang bersalah, Ziva. Kau hanyalah variabel kecil dalam rencanaku untuk menghancurkan Lorenzo. Sekarang Lorenzo sudah mati, aku tidak membutuhkanmu lagi. Aku menyerahkan diri agar aku bisa mengakhiri semua drama konyol ini."
Ziva terdiam. Air matanya berhenti mengalir, digantikan oleh sorot mata yang penuh luka. "Lu... lu bohong kan? Lu bilang gue kelemahan terindah lu. Lu bilang kita bakal makan seblak bareng kalau semua ini selesai."
"Itu hanya kata-kata yang kubisikkan agar kau tetap tenang saat aku menggunakanmu sebagai umpan," bohong Aiden. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti pisau yang mengiris jantungnya sendiri. "Lihatlah dirimu, Ziva. Kau hanya kurir dari Jakarta. Aku adalah raja mafia. Apa kau benar-benar berpikir seorang naga bisa hidup selamanya dengan bunga matahari yang rapuh?"
Ziva mundur satu langkah. Hatinya hancur berkeping-keping di balik jeruji besi itu. Rasa sakitnya jauh lebih hebat daripada saat ia dikejar pembunuh bayaran di Sisilia. Patah hati ini adalah jenis luka yang tidak bisa diobati dengan perban atau salep.
"Jadi... semua itu bohongan?" tanya Ziva dengan suara yang nyaris hilang.
"Ya. Semuanya. Termasuk janji tentang rumah tanpa senjata," Aiden berbalik, memunggungi Ziva. Ia tidak ingin Ziva melihat air mata yang mulai menggenang di mata abu-abunya. "Pergilah, Ziva. Kembali ke duniamu. Pakai sandal jepitmu, makan seblakmu, dan lupakan pria bernama Aiden Volkov."
Ziva menatap punggung Aiden yang lebar namun tampak sangat kesepian. Ia tidak marah. Justru di tengah hancurnya hatinya, ia menyadari sesuatu. Aiden sedang melindunginya lagi. Pria ini sedang melakukan aksi heroik terakhirnya: membunuh cinta Ziva agar Ziva bisa hidup dengan bebas tanpa bayang-bayang seorang kriminal.
"Bang Don," panggil Ziva.
Aiden tidak bergeming.
Ziva melepas salah satu sandal jepit Swallow-nya. Ia meletakkannya di celah bawah pintu baja, mendorongnya masuk ke dalam sel Aiden. "Sandal ini... buat pengingat. Biar lu nggak lupa kalau naga gila kayak lu pernah diselamatin sama kurir seblak pake barang murah ini. Kalau suatu saat lu keluar dari sini dan lu masih mau jujur sama perasaan lu... cari gue di Jakarta."
Ziva berbalik dan lari sekencang mungkin menyusuri lorong penjara, meninggalkan suara tangis yang menggema di dinding beton.
Aiden berbalik perlahan saat suara langkah kaki Ziva menghilang. Ia melihat sandal jepit hijau-putih itu tergeletak di lantai selnya yang kotor. Ia mengambilnya, mendekapkannya ke dadanya, dan akhirnya air mata sang naga tumpah di balik jeruji besi yang dingin.
Bulan-bulan berlalu di San Vittore. Aiden menghabiskan waktunya dengan menatap tembok, menolak semua pengunjung, termasuk Marco. Ia menjadi tahanan yang paling pendiam namun paling ditakuti. Kekuasaannya di luar memang runtuh, tapi auranya di dalam penjara tetap tak tertembus.
Namun, setiap malam sebelum tidur, ia akan meletakkan sandal jepit Ziva di bawah bantalnya. Benda itu adalah satu-satunya koneksi terakhirnya dengan kehidupan, dengan tawa, dan dengan cinta yang ia buang demi keamanan pemiliknya.
Di Jakarta, Ziva mencoba memulai hidup baru. Ia bekerja kembali menjadi kurir, namun setiap kali ia melewati gerobak seblak, ia akan teringat pada pria yang selalu memprotes bau terasinya namun selalu memeluknya paling erat. Ia memakai sandal jepit pasangannya yang hanya sebelah—sebelahnya lagi ia ganti dengan sandal warna biru yang tidak senada. Orang-orang menganggapnya gila, tapi bagi Ziva, itu adalah simbol hati yang pincang karena separuhnya tertinggal di Milan.
Suatu hari, Marco berhasil menyelundupkan sebuah surat ke dalam sel Aiden melalui sipir yang ia suap.
"Tuan, Lorenzo memang mati, tapi faksi bawah tanah di Milan mulai bergejolak. Mereka mencari Nona Ziva di Jakarta. Aku telah mengirimkan unit pelindung tanpa sepengetahuannya, tapi aku butuh Anda di luar sini. Ada celah hukum dalam berkas Anda. Lorenzo ternyata memiliki bukti bahwa Anda bekerja sama dengan intelijen Rusia untuk menggulingkan kartel internasional—itu bisa membuat Anda dianggap sebagai aset negara, bukan kriminal."
Aiden membaca surat itu dengan mata yang kembali menyala. Jika nyawa Ziva masih terancam, maka mendekam di penjara bukan lagi tindakan melindungi; itu adalah tindakan pengecut.
Ia berdiri, menatap jeruji besi di jendelanya yang sempit. Ia mengambil sandal jepit Ziva, memakainya di kaki kanannya, sementara kaki kirinya tetap telanjang di atas lantai semen.
"Ziva... tunggu aku," bisik Aiden. "Aku sudah selesai berpura-pura menjadi monster. Kali ini, aku akan keluar sebagai naga yang akan membakar siapa pun yang berani mendekati bunga matahariku di Jakarta."
Patah hati di balik jeruji besi itu ternyata bukanlah akhir, melainkan titik balik. Aiden mulai menggunakan kecerdasannya untuk memetakan kelemahan sistem keamanan San Vittore. Ia tidak butuh senjata; ia hanya butuh motivasi. Dan motivasi itu kini sedang makan seblak dengan sandal yang tidak senada di sebuah gang sempit di Jakarta.
Malam itu, Aiden mulai mengukir rencana di dinding selnya. Bukan rencana untuk kembali menjadi raja mafia, tapi rencana untuk menjadi pria yang pantas bersanding dengan seorang kurir.
"Jeruji ini tidak bisa menahan naga yang sedang jatuh cinta," gumam Aiden sambil mengepalkan tangannya.
Di kejauhan, petir menyambar langit Milan, menandakan badai baru akan segera datang. Namun kali ini, badai itu tidak akan membawa kehancuran, melainkan kepulangan seorang pria yang telah belajar bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada takhta emas, melainkan pada sepasang sandal jepit yang ditinggalkan dengan penuh cinta.
Di sebuah gang di Jakarta Selatan, Ziva sedang duduk di atas motornya, menatap hujan yang turun deras. Ia melihat ke arah kakinya. Sandal hijau di kanan, sandal biru di kiri.
"Bang Don... lu lagi apa ya di sana? Udah makan belum? Jangan-jangan lu lagi berantem sama narapidana lain gara-gara rebutan jatah nasi," gumam Ziva sambil tersenyum sedih.
Tiba-tiba, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan gangnya. Seseorang turun dengan payung hitam besar. Ziva menegang, teringat pada anak buah Lorenzo. Namun, orang itu hanya meletakkan sebuah kotak kecil di jok motor Ziva lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Ziva membuka kotak itu. Di dalamnya ada sebuah martabak manis keju-cokelat yang masih hangat, dan sebuah catatan pendek dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal:
"Tunggu aku di depan gerobak seblak favoritmu. Naga ini sedang dalam perjalanan pulang. P.S. Jangan pakai sandal yang beda warna, memalukan."
Ziva menutup mulutnya, air mata kebahagiaan tumpah bercampur dengan air hujan. Patah hati itu mungkin pernah ada, tapi harapan baru saja mengetuk pintunya.