Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.
Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.
Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.
Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.
Tapi mereka lupa satu hal.
Dia bukan korban.
Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.
Termasuk dirinya.
Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.
Kakaknya menginginkan kematiannya.
Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.
Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.
Dunia mengira Sabrina akan tunduk.
Mereka salah.
Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...
dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.
Membunuh… atau kehilangan anaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Aturan Makan Malam
Meja makan panjang dari kayu mahoni itu memisahkan Sabrina dan Adrian sejauh lima meter.
Cahaya temaram dari lampu gantung kristal memantul di atas piring porselen putih. Duduk tegak dengan postur sembilan puluh derajat adalah siksaan neraka bagi tubuh yang baru saja ditambal paksa. Dua puluh jahitan di perineumnya bergesekan kasar dengan bantalan kursi berbahan beludru tipis. Rasa perih terbakar merayap konstan dari pangkal paha menuju dasar tulang ekor. Keringat dingin merembes lambat membasahi pelipisnya.
Sabrina menolak bersandar. Ia mengunci otot perutnya, menahan bobot tubuhnya sendiri agar tidak membebani saraf panggul.
"Posturmu terlalu kaku." Adrian memotong daging wagyunya dengan gerakan presisi di seberang meja. Pisau peraknya berderit halus bergesekan dengan porselen.
Sabrina memotong daging di piringnya tanpa suara. Cairan merah kehitaman menetes dari potongan daging setengah matang itu. Warnanya sangat identik dengan genangan darah Haryo di lantai ubin gudang beberapa jam lalu. Perutnya bergejolak mual menolak bau amis tersebut.
"Aku sedang memastikan jahitanku tidak robek dan mengotori kursi mahalmu," balas Sabrina meratakan nada suaranya.
"Bagus. Kau mulai mengerti cara menghargai propertiku." Adrian menyesap anggur merahnya pelan. Matanya yang tajam tidak pernah beranjak dari sosok istrinya. "Kita perlu menetapkan batasan baru malam ini. Aturan keluarga Halim berlaku mutlak untukmu dan pewarisku. Jangan sampai keliaranmu di gunung tadi terbawa ke dalam rumahku."
Sabrina mengunyah potongan daging hambar itu paksa. Lidahnya mati rasa. Kepalanya berdenyut menahan lelah ekstrem. "Bicaralah."
Adrian meletakkan gelas kristalnya. Dentingan kaca membelah udara dingin ruang makan. "Satu. Akses pergerakanmu dibatasi mutlak. Kau tidak diizinkan membawa Sebastian keluar dari sayap barat tanpa pengawalan ketat dari orang-orangku. Kania sudah melaporkan insiden ancamanmu padanya ke dewan keluarga."
"Wanita itu berlari menangis padamu?" Sabrina menelan makanannya serampangan. "Sayang sekali. Aku baru memberinya satu jadwal kematian detail."
Adrian mengabaikan balasan itu. Jari telunjuknya mengetuk meja mahoni dua kali. "Dua. Saham Tanjung Group sedang anjlok malam ini berkat ulah konyolmu menghilang. Aku sedang menyusun skema akuisisi balasan. Jangan membuat keributan yang memancing aparat hukum masuk ke mansion ini. Jika Kania mati mendadak di kamarnya malam ini, investigasi koroner akan merusak harga saham gabungan kita secara masif."
Ruangan raksasa itu terasa semakin menyesakkan.
Sabrina menghentikan kunyahannya. Ia menoleh ke arah layar monitor bayi sebesar telapak tangan di sebelah gelas air putihnya.
Layar hitam putih itu menampilkan visual Sebastian yang sedang tidur lelap di dalam boks kayu sayap barat. Dada kecil anak itu naik turun teratur, menyedot udara bersih yang jauh dari intrik berdarah ini. Hawa panas memancar dari layar kecil tersebut, menembus dinginnya dinding es di rongga dada Sabrina. Sentuhan visual tak kasat mata dari bayinya itu mengendurkan sedikit otot bahunya yang tegang. Anaknya aman. Sebastian bernapas tenang. Pertahanan mentalnya kembali terisi penuh oleh satu pemandangan sunyi itu.
Adrian tidak menyukai jeda atensi tersebut.
"Tiga," lanjut pria tiran itu, memutus koneksi batin istrinya. "Kau akan menghadiri rapat dewan direksi minggu depan. Duduk di sebelahku. Tanda tangani surat kuasa pengalihan hak suaramu padaku di depan notaris publik seperti yang tertera di kontrak."
Sabrina menggeser layar monitor itu lebih dekat ke jangkauan tangannya. Ia menatap Adrian tajam. "Kau membawaku pulang membelah kabut murni hanya untuk stempel direksiku."
"Kau istriku. Status legal itu memberimu perlindungan dari incaran pembunuh bayaran lain." Adrian mencondongkan badannya ke depan, melipat tangannya di atas meja. "Sebagai gantinya, kau memberikan kontrol finansial absolut padaku. Simbiosis murni. Kau tidak punya kapasitas memimpin perusahaan bernilai triliunan rupiah dengan kondisi kestabilan mentalmu yang dipertanyakan."
Sabrina tertawa kering. Suara itu meluncur dingin membekukan sisa oksigen di sekitarnya. "Mental tidak stabil? Empat eksekutor bayaran mati berteriak di tanganku malam ini, Adrian. Tangan yang kau bilang tidak stabil ini menyayat leher mereka tanpa ragu sedikit pun."
"Itu insting liar mamalia terpojok." Adrian mencibir meremehkan. "Bertahan hidup di lorong gelap menggunakan paku berkarat sangat berbeda dengan bermain catur di meja direksi eksekutif. Di luar sana, gaun berdarahmu tidak laku. Kau butuh perlindungan militer dan finansialku."
Sabrina menunduk menatap pisau daging di tangan kanannya. Gagang perak padat berukir lambang keluarga Halim. Berat logam itu pas mengisi telapak tangannya. Keseimbangan bilahnya terukur sempurna untuk satu lemparan rotasi jarak dekat. Jarak lima meter melintasi meja mahoni. Jika ia memaksakan lututnya berdiri detik ini juga dan melemparkan bilah ini, logam tajam itu akan menancap presisi di trakea arogan pria itu sebelum ia sempat menarik napas.
"Aku tidak butuh perlindunganmu." Sabrina mengetukkan ujung pisau ke piring pelan-pelan. Matanya mengunci iris mata sang taipan. "Aku hanya butuh ruang steril untuk membesarkan anakku."
"Kau sangat arogan untuk ukuran perempuan yang menumpang hidup di sangkarku."
"Dan kau sangat buta untuk ukuran pria yang mengaku sebagai penguasa tertinggi."
Bunyi decitan kursi bergeser keras menghancurkan ketenangan meja makan. Adrian bangkit berdiri. Ego patriarkinya mendidih menolak ditantang secara terbuka oleh istrinya sendiri. Langkah sepatu pantofelnya berdetak pelan memutari meja mahoni panjang tersebut.
Adrian mendekati area teritori Sabrina. Aura intimidasi merayap keluar dari setiap tarikan napas pria berjas itu. Ia berdiri menjulang tepat di belakang kursi istrinya. Kedua tangannya turun menekan sandaran kursi, mengurung pergerakan bahu Sabrina dalam satu sangkar fisik.
"Jangan pernah mengujiku, Sabrina." Suara bariton Adrian berdengung rendah, sangat dekat dengan telinga kiri Sabrina. "Aku bisa memisahkan pewarisku darimu detik ini juga. Kau akan kembali disekap ke fasilitas kejiwaan dengan baju pengekang, dan anak itu akan diasuh oleh barisan pengasuh profesional sampai ia dewasa. Pilih kalimatmu baik-baik malam ini."
Ancaman eksistensial. Adrianus Halim menggunakan senjata nuklirnya.
Rahim Sabrina bergejolak hebat menerima gertakan itu. Rasa nyeri di panggulnya serasa diguyur cairan asam mendidih. Insting ibunya meronta buas menuntut pelampiasan fisik. Ia ingin memutar badannya dan merobek biji mata pria di belakangnya ini menggunakan garpu di tangan kirinya.
Namun Maureen, sang jiwa pembunuh elit, segera menarik tuas rem darurat di otaknya.
Kalkulasi logistik. Membunuh Adrian sekarang berarti kehilangan tameng utama. Ia butuh fasilitas rumah sakit, obat-obatan, dan lapis baja mansion ini agar Sebastian bisa tumbuh kuat melewati fase kritis neonatus. Membunuh bos mafia di rumahnya sendiri tanpa akses rute pelarian adalah tindakan amatir paling memalukan.
Sabrina menurunkan dagunya. Ia menarik oksigen dalam-dalam, menelan amarahnya bulat-bulat menjadi racun yang akan ia muntahkan nanti.
"Aturanmu kuterima," ucap Sabrina pelan, memainkan intonasi penundukan semu.
Adrian tersenyum puas. Ia menepuk pelan bahu istrinya. "Bagus. Pilihan yang sangat rasional. Habiskan dagingmu. Lasmi akan mengantarmu kembali ke kamar bayi."
Pria itu menarik tangannya dari sandaran kursi. Berbalik arah, berjalan tenang kembali menuju ujung mejanya.
Celah itu terbuka.
Tangan kanan Sabrina bergerak membelah udara secepat patukan ular beludak. Ia sengaja menyenggol pinggiran serbet putih di pangkuannya hingga jatuh meluncur ke lantai marmer.
"Maaf," gumam Sabrina pendek. Ia menundukkan badannya ke bawah meja.
Rasa sakit luar biasa merobek kembali jahitan panggulnya saat otot perutnya tertekuk paksa. Darah kembali merembes basah. Ia mengunci rahangnya kuat-kuat menolak mengeluarkan suara. Tangan kirinya memungut serbet sutra tersebut. Tangan kanannya dengan efisiensi absolut menyelipkan pisau daging bergagang perak itu lurus ke dalam sela lengan panjang piama rumah sakitnya yang longgar.
Logam dingin menempel pas pada kulit lengannya yang dibalut perban. Senjata pertahanan darurat berhasil diekstraksi. Sangkar emas ini murni medan perang, dan ia menolak tidur tanpa senjata mematikan menempel di nadinya.
Sabrina kembali duduk tegak. Napasnya sedikit memburu akibat paksaan fisik barusan. Wajahnya kembali sedatar pahatan es. Tangannya merapikan serbet di pangkuan, hanya menyisakan garpu perak di atas piring porselen.
Adrian baru saja kembali duduk di kursinya. Mata elang sang taipan menyapu meja di depan Sabrina secara otomatis.
Piring putih bersih. Garpu perak. Serbet kusut.
Pisau daging lenyap.
Sudut bibir Adrian berkedut nyaris tidak terlihat. Taipan itu bukan orang bodoh. Ia sangat sadar senjata tajam itu telah berpindah tempat dalam hitungan detik.
Istrinya baru saja memanipulasi situasi dan mencuri senjata tajam tepat di depan hidungnya, murni menolak merasa tunduk dan aman di dalam rumahnya.
Pisau daging kecil itu menghilang ke balik lengan baju Sabrina. Adrian melihatnya, tapi memilih diam.