Di saat Alice selalu merasakan kekecewaan dari keluarga dan hubungan asmaranya, Carlos datang dalam hidup Alice untuk mengantikan rasa kecewanya menjadi kebahagiaan.. Namun di saat Alice sudah percaya dan memberanikan dirinya untuk berharap bisa bahagia di tengah kecewanya terhadap keluarganya, Carlos menghilang.. Carlos pergi tanpa meninggalkan jejak, seketika membuat Alice mempercayai jika di dunia ini tidak ada yang bisa membuatnya bahagia
Bab 21
Alice memandangi sepasang suami istri yang ada di depannya, ia sangat kecewa dengan istri managernya. Kenapa harus berkata seperti itu ke anak kecil, tidak ada anak yang pembawa sial. Jika ada orang tua yang meninggal saat melahirkan itu karena sudah takdir Tuhan bukan anaknya yang sial. Siapa pun tidak mau hal itu terjadi, tapi kalau Tuhan sudah berkehendak harus seperti itu. Gimana? Mau melawan takdir? Apa bisa melawan takdir?
“Saya tahu anda pasti masih merasa dirimu benar kan? Tidak ada anak yang pembawa sial, semua sudah kehendak Tuhan. Kalau Tuhan sudah berkehendak waktu anda cuma sampai hari ini, ya memang sudah waktunya anda pergi. Apa bisa anda lawan?” Tanya Alice ke istri sang Manager.
Deg
‘Bagaimana dia bisa tahu?’ Tanya sang istri manager dalam hatinya.
“Kan memang benar, anak - anak itu pembawa sial.. karena melahirkan mereka, mamanya jadi sial sampai meninggal.” Ucap istri manager itu dengan suara pelan.
“Seandainya jika keadaan ini berbalik.. anak anda yang di bilang anak pembawa sial karena membuat anda meninggal saat melahirkan dia, bagaimana?” Tanya Alice
“Enggak akan anak saya bukan anak pemabawa sial, itu sudah takdir saya yang harus meninggal saat mela–.” Ucap sang istri manager dengan cepat, tapi dia juga jadi sadar akan ucapannya.
Sang manager hanya menggelengkan kepalanya kecewa dengan tingkah istrinya. Alice tersenyum miring mendengar jawaban istri managernya.
Clap… clap.. clap…
“Menarik sekali ya.. kamu bisa berpikir itu takdir Tuhan, tapi kamu juga yang berpikir itu artinya si anak pembawa sial..” ucap Alice sambil menepuk tangannya dengan pelan.
Istri Rizal tidak berani menatap siapa pun yang ada di ruangan itu karena ia sadar akan kesalahan yang ia perbuat. Ia hanya menundukkan kepalanya.
“Kamu seorang ibu, tapi bisa berpikiran seperti itu dan kamu mendukung anak kamu untuk membully temannya hanya karena mereka tidak punya ibu. Ibu macam apa kamu ini?” Tanya Alice dengan nada tinggi
Alice benar - benar kecewa dengan apa yang di lakukan oleh istri dari managernya. Ia tidak menyangka istri dari managernya bisa berpikiran seperti itu sampai - sampai mendukung anaknya untuk membully temannya.
Istri Rizal sampai terperanjat saat mendengar suara Alice yang terdengar tinggi.
Memang Liam dan Lillian bukan lahir dari rahimnya, tapi entah mengapa saat Carlos meminta maaf ketika mereka bersih keras untuk memanggil Alice Mami.. membuat Alice merasakan sangat bahagia.
“Maafkan sifat istri saya nona, saya akan membimbingnya lebih baik lagi.” Ucap Rizal dengan kepalanya yang di tundukkan.
“Aku tidak ingin tahu bagaimana caranya.. jangan biarkan anak kalian dekat dengan anak saya, jika saya tahu ada kejadian seperti ini untuk yang kedua kalinya. Dengan terpaksa saya akan tindak tegas kalian.” Ucap Alice.
Alice menatap kakeknya, “maaf kek, nanti Alice akan ke rumah untuk menjelaskan semuanya.” Ucap Alice dengan tersenyum.
Setelah melihat kakeknya menganggukkan kepalanya, “saya kasih anda kesempatan terakhir miss Ratna, lindungin murid yang menjadi korban bukan malah membiarkannya di seperti tadi.” Ucap Alice sarkas kepada guru yang ada di sana ketika istri dari Rizal ingin menampar Liam dan tidak melarangnya.
Miss Ratna hanya bisa menundukkan kepalanya.. “jangan karena dia itu kakak ipar anda, anda tidak bisa bersikap tegas.. ini lingkungan sekolah bukan rumah kalian.” Ucap Alice.
Deg
Istri Rizal, Miss Ratna dan Rizalnya sendiri terkejut mendengar apa yang di katakan Alice, bukan Alice tidak tahu.. Alice yang membuka jalan agar Ratna adiknya Rizal melamar di sekolah kakeknya. Tidak ada yang tahu soal itu, hanya Alice yang tahu.
Tanpa menunggu tanggapan dari mereka, Alice langsung keluar dari ruangan itu.. ia di sambut oleh Liam dan Lillian..
“Mmmaaammmiiiii!!!!!” Heboh Liam dan Lillian
Carlos sampai terpaku melihat Liam yang ikutan heboh, karena biasanya Liamlah yang paling kalem.. Alice terharu dengan si kembar yang baru bertemu dengannya 1 kali tapi bisa langsung memanggilnya mami..
Alice menyambut mereka dengan berjongkok sambil merentangkan kedua tangannya ke Liam dan Liliian.
Liam dan Lillian langsung masuk ke dalam pelukan Alice. Alice memeluk mereka dengan erat seakan mengatakan bahwa mereka sudah baik-baik saja..
Begitu Alice melepaskan pelukannya, ia langsung memeriksa tangan Liam yang di genggam kuat oleh istri Rizal. Alice melihat tangan Liam sangat Merah.. Lillian berdiri di samping Liam, ia juga menatap ke tangan Liam yang sangat merah.
“Apa ini sakit?” Tanya Alice mengelus pelan tangan Liam yang merah..
“Tadi mereka sangat jahat.. David dan maminya tidak terima kalau Lillian melapor ke miss Ratna, mami.” Ucap Lillian dengan semangat
Liam dan Alice langsung menatap ke arah Lillian dengan tatapan lega dan tersenyum kecil. Alice langsung mengelus kepala Lillian..
Interaksi mereka di lihat oleh Carlos, Carlos merasa senang dan sedih bersamaan melihat anak - anaknya sangat antusias bertemu dengan perempuan yang baru mereka temui dan langsung bisa di panggil mami. Ia merasa tidak enak dengan Alice yang harus di repotkan oleh anak kembarnya dan soal panggilan mami itu juga membuat Carlos merasa canggung.
Tapi di sisi lain, Carlos merasa tersentuh dengan kehadiran Alice yang memperlakukan anaknya dengan tulus dan penuh perhatian.
Alice merasa lega yang luar bisa karena Liam sudah tidak apa - apa dan Lillian sudah kembali ceria..
“Mau makan siang di mana nih kita hari ini?” Tanya Alice ke anak kembarnya.
Liam nampak berpikir, Lillian hanya diam saja mendengar apa yang di tanyakan Alice. Alice tersenyum melihat Lillian yang terlihat pasrah saja mau makan siang di mana, ia langsung mencubit pipi Lillian dengan pelan..
“Biasanya princess nih yang banyak maunya.. princessnya mami mau makan apa?” Tanya Alice
“Hhhmmm….. mau makan pasta yang kayak semalam, mami.. boleh?” Tanya Lillian sambil menatap Alice dengan ekspresinya yang mengemaskan..
Alice teringat ada Carlos tadi, ia langsung mencari keberadaan Carlos.. ketika bertemu dengan tatapan mata Carlos, Alice hanya tersenyum lalu kembali fokus pada si kembar yang sudah ingin makan siang bersama dengan Alice.
“Nah.. tanya dulu ke papa kalian ya..” jawab Alice
Membuat Liam dan Lillian langsung menghampiri papa merkea dan meminta izin.. mereka sangat senang karena papa mereka mengizinkan mereka ikut ke Restoran Alice untuk makan siang bertiga.. dan papanya mereka sudah berjanji akan menjemput mereka berdua di Restoran Alice.