Sepupu menghina, anggota klan memandang rendah, tiga tahun tanpa kemajuan. Lin Han tahu rasa pahit berada di dasar. Namun ia tidak pernah membenci jalan keabadian. Sebaliknya, ia justru semakin keras mengejarnya. Dunia Hunyuan perlahan membuka topengnya. Di balik kemuliaan keabadian tersimpan kenyataan bahwa para pendekar bisa berubah menjadi binatang, sekte suci bisa menjadi sarang ular. Lin Han pun menyadari bahwa satu satunya jalan untuk selamat adalah menjadi lebih kejam daripada mereka. Ia memutuskan untuk tidak lagi mencari pengakuan, melainkan kekuatan absolut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Dan Kekhawatiran
Lima menit kemudian.
Liu Mei membuka matanya. Hal pertama yang ia sadari adalah aroma yang luar biasa enak memenuhi kamarnya. Ia menoleh dan melihat nampan berisi makanan di atas meja. Matanya lalu mencari dan menemukan Lin Han yang duduk bermeditasi di bawah ranjangnya.
Liu Mei turun dari ranjang dan mendekati meja. Ia memandangi makanan itu. Sup bening dengan potongan daging yang terlihat empuk. Tumis sayuran yang masih berkilat oleh minyak wijen, ikan bakar dengan kulit yang garing kecoklatan, lalu nasi putih yang mengepul hangat.
Perutnya berbunyi. Dan ia lapar.
Liu Mei menoleh ke arah Lin Han, ingin membangunkannya. Tapi tangannya terhenti di udara. Ingatan tentang kejadian tadi pagi menyeruak. Suaminya memandikannya. Membersihkan seluruh tubuhnya, dan melihat semuanya. Wajah Liu Mei memanas.
"Kurang ajar." Bisiknya sangat pelan, hampir tidak terdengar. Tapi nada suaranya lembut, bukan marah.
Ia mengalihkan perhatiannya ke makanan.
"Siapa yang membawa ini? Apa pelayan yang mengantarkannya saat ia bermeditasi?"
Liu Mei membuang pertanyaan itu jauh jauh. Ia mengambil sumpit dan mencoba ikan bakar terlebih dahulu.
Begitu potongan ikan itu masuk ke mulutnya, rasanya meledak di lidah. Asin yang pas, manis samar dari bumbu, tekstur ikannya lembut di dalam, renyah di luar. Liu Mei membeku sejenak, matanya sedikit melebar.
"Siapa yang memasak ini? Kenapa rasanya begitu enak?" Ia memegang dagunya sendiri. "Tidak pernah ada pelayan yang masak seenak ini di Klan Liu."
Ia menatap Lin Han yang masih bermeditasi. Pikiran liar muncul di kepalanya. Tapi ia segera menggelengkan kepalanya kuat kuat.
Tidak mungkin.
Ia kembali ke makanannya. Kali ini ia tidak bisa menahan diri. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Liu Mei makan dengan sangat lahap. Tidak ada keanggunan seperti biasanya. Ia menyendok nasi dalam jumlah banyak, mencelupkan ikan ke dalam kuah sup, mengambil tumisan dalam porsi besar. Mulutnya penuh, pipinya menggembung. Tangannya bergerak cepat dari piring ke mulut, dari mulut ke piring.
Ia tidak sadar kalau dirinya sedang diawasi.
Ketika semua makanan sudah habis, bahkan sebutir nasi pun tidak tersisa, terdengar suara dari arah ranjang.
"Syukurlah kau menyukainya. Aku khawatir masakanku tidak cocok dengan lidahmu. Melihatmu begitu lahap... aku merasa masakan ku begitu dihargai."
Liu Mei terkejut, tubuhnya menegang. Matanya melebar dan wajahnya langsung memerah hingga ke telinga. Ia menoleh perlahan dan melihat Lin Han masih dalam posisi bersila, mata terpejam, tapi sudut bibirnya terangkat tipis.
"Kau... kau yang memasak ini semua?"
"Iya."
Liu Mei mengepalkan tangannya di atas meja.
"Kenapa kau membuat makanan sendiri? Pelayan banyak. Kau bisa memerintahkan mereka memasak untukmu."
Lin Han masih tidak membuka matanya.
"Itu untukku... jika untukmu, itu beda lagi."
Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dada Liu Mei terasa sesak. Bukan sesak yang menyakitkan, tapi sesak yang aneh.
Ia menunduk, menatap piring kosong di hadapannya, suaranya berubah menjadi sangat pelan.
"Terima kasih."
Lin Han hanya menghela napas. "Tidak perlu."
Kemudian ia kembali ke keheningan meditasinya. Napasnya teratur, tubuhnya diam seperti patung.
Liu Mei menatapnya sejenak. Pria ini.... pria yang dinikahinya tanpa cinta, pria yang hampir ia kira akan mati seperti suami suami sebelumnya. Pria yang memandikannya pagi tadi tanpa ekspresi, meskipun melihat seluruh bagian tubuhnya. Dan sekarang, pria ini memasak untuknya? Bukan karena disuruh, bukan pula karena kewajiban. Hanya karena... itu untuknya.
Deg! Deg! Deg!
Ia bangkit dan membereskan mangkuk serta piring kosong ke atas nampan. Ia membawanya keluar kamar dengan langkah pelan. Pipinya masih terasa hangat.
Sementara itu, di pusat Kota Baishi, di sebuah bangunan besar dengan pilar pilar batu yang menjulang, banyak orang berkumpul di dalam ruangan utama.
Dua penguasa kota hadir.
Penguasa Kota Baishi, seorang pria gemuk berusia lima puluhan dengan jubah sutra mewah.
Penguasa Kota Bilou, pria kurus dengan kumis tipis yang terus menerus menyeka keringat di dahinya.
Liu Bei dan Lin Feng juga hadir, duduk di kursi yang disediakan bersama beberapa petinggi kota lainnya.
Obrolan berlangsung dengan suasana tegang. Informasi yang beredar di antara mereka membuat udara semakin berat.
"Sesuai laporan informan kami," ucap seorang pria berjubah hitam yang berdiri di sudut ruangan, "retakan dimensi kali ini terjadi karena faktor yang disengaja. Tidak alami seperti dua puluh tahun yang lalu."
Ruangan menjadi gemuruh. Bisik bisik dan pertanyaan bermunculan.
"Siapa pelakunya?" tanya Liu Bei, suaranya tegas.
Pria berjubah hitam itu menggeleng. "Tidak dapat diketahui. Jejaknya terlalu samar."
Penguasa Kota Baishi menghela napas panjang. Tangannya yang gemuk bertumpu di atas meja.
"Retakan dimensi kali ini jauh lebih besar dari dua puluh tahun lalu. Karena itu, kita perlu bantuan dari Sekte Yanguo di Kota Donglin. Ini keputusan terbaik untuk mengantisipasi bencana yang akan datang."
Liu Bei mengepalkan tangannya di atas meja.
"Sekte Yanguo ini cukup tersohor. Ada rumor mengatakan mereka memiliki beberapa praktisi Core Formation. Karena itu... apa mereka mau membantu wilayah terpencil seperti Kota Baishi dan Bilou? Kita bukan kota besar. Kita tidak punya sumber daya yang bisa menarik minat mereka."
Penguasa Kota Bilou, yang sejak tadi hanya diam menyeka keringat, tiba tiba terkekeh. Suaranya sedikit bergetar, tapi ia berusaha terdengar percaya diri.
"Tenang saja, Patriark Liu. Aku dan Penguasa Kota Baishi akan bernegosiasi bersama mereka nanti. Urusan diplomasi serahkan pada kami."
Lin Feng yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara. Nada bicaranya datar tapi tajam.
"Penguasa, kuharap anda tidak menjanjikan hal yang tidak masuk akal. Karena itu akan merepotkan kita nanti. Sekte sebesar Yanguo tidak akan tergerak hanya dengan janji janji kosong. Mereka butuh sesuatu yang nyata. Dan jika anda menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kita penuhi, akibatnya bisa lebih buruk daripada serangan iblis itu sendiri."
Penguasa Kota Bilou terbatuk. Keringat di dahinya semakin banyak.
"Ah, Patriark Lin Feng, kau selalu saja pesimis. Percayakan saja pada kami. Kami sudah terbiasa berurusan dengan sekte sekte besar."
Lin Feng tidak menjawab. Ia hanya menatap penguasa itu dengan mata yang sulit dibaca. Liu Bei juga diam, tapi rahangnya mengeras.
Pertemuan berlanjut dengan perdebatan tentang logistik, jumlah kultivator yang bisa dikerahkan, titik titik pertahanan yang harus diperkuat, dan jadwal keberangkatan ke Kota Donglin. Tapi benih kekhawatiran yang ditanam Lin Feng sudah tertanam di kepala semua orang yang hadir.
Mereka semua tahu. Sekte Yanguo tidak akan membantu tanpa bayaran. Dan jika bayarannya terlalu mahal, Kota Baishi dan Bilou mungkin akan menyesal pernah meminta bantuan..