NovelToon NovelToon
Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Penulis Terjebak; Tolong, Karakter Gue Ngamuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Romansa Fantasi / Transmigrasi
Popularitas:972
Nilai: 5
Nama Author: Ananda Anggit

"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat

Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.

Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.

Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.

Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 3. jalanan penuh keanehan dan rahasia terbuka

Rombongan kami terus berjalan menembus hutan yang rasanya nggak ada ujungnya. Semakin jauh masuk, semakin aneh hal-hal yang kami lihat. Ada pohon yang buahnya berbentuk huruf abjad, ada burung yang bunyinya kayak nada musik, bahkan ada rumput yang kalau diinjak malah mengomel, “Aduh! Sakit tau! Jangan injak-injak dong!”

Setiap kali ada hal aneh lewat, Zarek pasti berhenti, menatap bingung, lalu berkata, “Ah, pasti ulah Dewa Penulis nih. Emang hobinya bikin hal nggak jelas.”

Sementara Leon? Dia cuma bisa jalan menunduk, wajahnya terasa panas banget kayak orang yang ketahuan mencuri singkong. Semua ini beneran ulahnya. Dulu pas menulis, dia cuma berpikir “biar kelihatan ajaib dikit”, eh ternyata dampaknya seberat ini. Dunia ini benar-benar kayak mimpi buruk yang jadi kenyataan.

Di sampingnya, Liora berjalan dengan tenang, tapi matanya tetap waspada mengamati sekeliling. Dia sesekali menatap Leon dengan pandangan yang bikin jantungnya berdebar. Tatapan itu kayak orang yang sedang mencari sesuatu yang hilang.

“Leon,” panggilnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh desiran angin.

“Iya, Nona?” jawab Leon agak gugup.

“Kamu yakin nggak ada apa-apa yang kamu sembunyikan?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. “Sejak kamu muncul tadi… rasanya dunia ini jadi agak beda dikit. Seolah ada sesuatu yang mengatur, atau memperbaiki hal-hal yang rusak. Kamu bilang cuma orang biasa, tapi cara berpikirmu, caramu tahu kelemahan makhluk aneh itu… itu bukan pengetahuan orang biasa, Leon.”

Jantung Leon rasanya mau melompat keluar. Dia curiga! Leon harus jawab apa? Kalau bilang jujur, tamat riwayatnya. Tapi kalau terus berbohong, lama-lama bakal makin ketahuan juga.

Leon menggaruk kepalanya yang tidak gatal, lalu tersenyum sehalus mungkin. “Hahaha… Nona ini bisa saja. aku emang cuma suka baca banyak buku di tempat asal aku. Di sana ada tulisan soal dunia fantasi, makhluk ajaib, segala macam. Jadi aku cuma nebak-nebak saja, untungnya aja jawabannya benar.”

Liora menatapnya lama sekali, seolah ingin menembus sampai ke dalam hatinya. Lalu akhirnya dia tersenyum tipis lagi. “Ya sudah deh. Semoga memang begitu. Rasanya… kamu punya aura yang aneh. Aura yang kayak… pencipta, tapi bercampur dengan aura orang yang sedang bingung mencari jalan pulang. Aneh ya, aku bisa merasakan hal seperti itu.”

Leon langsung kaku seketika. Dia bisa merasakan hal itu?! Astaga, dia lupa kalau di cerita ini Liora punya kemampuan membaca energi dan niat seseorang. Dia memang menuliskannya, tapi mengira itu cuma hiasan cerita saja. Ternyata benar-benar bekerja!

“Ah, mungkin itu cuma perasaanmu saja kali,” jawab Leon sambil memalingkan wajah, pura-pura melihat Zarek yang sedang asyik mengobrol dengan kumbang raksasa di pinggir jalan.

Belum sempat mereka melanjutkan obrolan, tiba-tiba tanah di bawah kaki bergetar lagi. Kali ini getarannya lebih kuat, lebih berat, dan suaranya terdengar seperti ribuan kereta kuda berjalan beriringan.

Semua orang langsung berhenti bergerak, tangannya segera memegang gagang senjata. Zarek langsung melangkah paling depan, dadanya dibusungkan lagi. “Tenang saja! Pasti ada musuh yang mau menyerang! Biar aku yang urus! aku kan ksatria terkuat, ingat!”

Dari balik bukit kecil di depan sana, muncul rombongan makhluk yang bikin mulut Leon sulit ditutup rapat.

Itu pasukan kurcaci. Tapi bukan kurcaci biasa. Tingginya hanya setinggi pinggang orang dewasa, tapi mereka memakai baju zirah berwarna-warni, membawa kapak yang ukurannya lebih besar dari tubuh mereka sendiri, dan yang paling bikin lucu sekaligus menakutkan… semuanya memakai kacamata tebal dan wajahnya terlihat sangat galak, kayak guru yang sedang sangat marah.

“ITU DIA! ITU DIA ORANGNYA!” teriak salah satu kurcaci itu dengan suara melengking tapi lantang.

“YAKIN ITU DIA?! YANG MENULIS PETA DUNIA TIDAK JELAS DAN BANYAK KEKURANGANNYA?!” sambung kurcaci lain.

“PASTI BANGET! BAWA ORANG YANG MENULIS ITU KE SINI! KAMI MAU MENGAJUKAN PROTES!”

Leon yang berdiri di belakang Zarek langsung terasa lemas, kakinya hampir tak mampu menopang badan. Pasukan Kurcaci Pengurus Peta Dunia! Ini juga ciptaannya! Dulu dia menuliskan kelompok ini cuma buat mengisi kekosongan cerita, tulisannya begini...“Ada kelompok kurcaci yang bertugas mengurus peta dan batas wilayah, mereka sangat galak kalau ada kesalahan tulisan.”

Dia kira itu cuma lewat begitu saja di cerita, eh ternyata mereka benar-benar ada, dan sekarang sedang mencari penulisnya!

Liora terlihat bingung. “Mereka mencari siapa? Siapa yang menulis dengan salah?”

Zarek mengerutkan kening, menatap rombongan kurcaci itu dengan heran. “Eh… bukannya mereka cari Dewa Penulis ya? Lagi-lagi ulah Dia deh. Pasti Dia salah tulis peta lagi, makanya mereka marah besar.”

Kurcaci yang paling tinggi memakai topi merah melangkah maju, menatap rombongan kami dengan pandangan tajam. “DENGAR SEMUA! KAMI ADALAH PASUKAN KURCACI PENGURUS PETA DAN WILAYAH! KAMI DATANG KARENA ADA YANG MENULIS DENGAN TIDAK JELAS! DI BAGIAN SELATAN, BATAS KERAJAAN DITULIS ‘SAMPAI SANA SAJA’ ITU ARTINYA APA?! ‘SAMPAI SANA SAJA’ ITU DI MANA TEPATNYA?! LALU DI BAGIAN BARAT DITULIS ‘ADA GUNUNG ATAU LAUT’ KAMI HARUS MEMBUAT GUNUNG ATAU LAUT?!”

Para prajurit Kerajaan Cahaya hanya bisa diam dan menggaruk kepala. Mereka sudah terbiasa mendengar keluhan seperti ini. Dunia ini memang kacau karena tulisan penulisnya yang tidak jelas.

“DAN YANG PALING PARAH!” teriak pemimpin kurcaci itu lagi, wajahnya memerah padam menahan amarah. “KENAPA DI PETA DITULIS ‘WILAYAH ANEH’, LALU DI BAWAHNYA ADA CATATAN KECIL ‘LUPA MAU DIISI APA’?! KAMI DISURUH MENGURUS WILAYAH YANG PENCIPTA SENDIRI LUPA ISINYA APA?! PEKERJAAN KAMI JADI SANGAT SULIT, TAU TIDAK SIH?!”

Leon yang berdiri di belakang langsung berkeringat dingin deras. Itu catatannya sendiri! Pas menulis di laptop, dia memang sering menambahkan catatan kecil di samping naskah, kayak “nanti ditulis lagi deh” atau “belum tahu mau diisi apa”. Ternyata catatan itu juga terbawa masuk ke dunia ini dan menjadi aturan yang nyata!

Liora melangkah maju selangkah, berbicara dengan nada sopan tapi tegas. “Tuan-tuan Kurcaci, kami mengerti kemarahan kalian. Tapi kami hanyalah penduduk dunia ini, kami juga korban dari ketidakjelasan itu. Kami sedang dalam perjalanan ke istana untuk menyusun rencana melawan Lord Valgus yang juga marah besar dengan keadaan ini. Tolong jangan halangi perjalanan kami.”

Kurcaci itu menatap Liora, lalu menoleh satu per satu ke setiap orang di rombongan kami. Matanya yang di balik kacamata tebal itu akhirnya berhenti tepat di wajah Leon.

Jantung Leon terasa berhenti berdetak sejenak.

Kurcaci itu menyipitkan matanya, menatap Leon dari ujung kepala sampai kaki, lalu berteriak ke arah teman-temannya, “WOI! LIHAT ORANG DI BELAKANG ITU! YANG PAKAI BAJU ANEH ITU! KOK ENERGINYA SAMA PERSIS DENGAN TULISAN YANG ADA DI PETA?! KOK KELAKUANNYA SEPERTI ORANG YANG BARU SAJA LUPA MENULIS SESUATU?!”

Hah?!

Semua mata mulai dari kurcaci, prajurit, Zarek, sampai Liora langsung menoleh dan menatap Leon serentak.

“Leon?” panggil Liora dengan nada curiga yang makin kuat. “Mereka bilang energinya sama dengan tulisan… Leon, kamu benar-benar orang biasa saja?”

Zarek melangkah sedikit mendekat, menatap Leon dengan wajah bingung. “Iya juga ya Leon… Tadi pas kamu menjelaskan cara mengalahkan kue, kamu seolah tahu segalanya. Bajumu aneh, cara bicaramu juga aneh, dan sekarang kurcaci ini bilang kamu mirip penulisnya… Jangan-jangan kamu…”

Leon sudah tidak bisa mengelak lagi. Kalau dia diam saja, kesannya makin terlihat bersalah. Otaknya berputar cepat mencari jalan keluar. Dia harus mengalihkan perhatian mereka ke hal lain. Dan dia tahu caranya… karena dia paham betul sifat dunia yang dia buat sendiri.

Tiba-tiba Leon menunjuk ke arah belakang pasukan kurcaci itu, berteriak sekeras mungkin sambil membuat wajah sangat kaget. “WOI! LIHAT KE BELAKANG KALIAN! ADA HAL YANG JAUH LEBIH PARAH DARI MASALAH PETA!”

Semua orang, termasuk para kurcaci, langsung menoleh ke belakang secara refleks.

“APAAN ITU?!” teriak pemimpin kurcaci itu.

“LIHAT SUNGAI DI BELAKANG KALIAN! AIRNYA SUDAH BERUBAH MENJADI PERMEN KARET CAIR! KALAU KALIAN DIAM SAJA DI SANA, NANTI KALIAN AKAN TERKUBUR DAN TIDAK BISA BERGERAK! ITU SEMUA AKIBAT DARI TULISAN YANG TIDAK JELAS ITU JUGA!” teriak Leon lagi ... ia mengarang, tapi hal itu benar-benar terjadi karena sifat dunia ini yang berubah-ubah sesuka hati.

Benar saja! Di belakang sana, sungai yang tadinya airnya bening jernih, sekarang warnanya berubah jadi merah muda, terasa sangat lengket, dan baunya manis sekali. Airnya benar-benar berubah menjadi permen karet cair yang terus meluas ke mana-mana.

Para kurcaci langsung panik bukan main. “ASTAGA! BENAR JUGA! INI BENCANA BARU! KITA HARUS SEGERA LAPORKAN INI KE PUSAT PENGURUSAN DUNIA! MAKASIH YA ORANG ANEH! KALAU KALIAN MAU LEWAT, TIDAK APA-APA! PERGI SAJA! KITA PUSING DULU MENGURUS PERMEN KARET INI!”

Tanpa bertanya lagi, pasukan kurcaci itu langsung lari berhamburan menghadapi sungai permen karet yang makin meluas.

Leon langsung menghela napas panjang, rasanya beban berat di pundak terangkat seketika. Hampir saja ketahuan! Hampir saja tamat riwayatnya di sini.

Begitu Leon menoleh ke depan, Liora sudah berdiri tepat di hadapannya. Jaraknya sangat dekat. Matanya menatap tajam, tapi ada senyum kecil yang tersembunyi di bibirnya.

“Leon…” bisiknya pelan. “Kamu memang orang biasa, tapi kamu tahu segalanya ya? Kamu tahu apa yang salah di dunia ini, kamu tahu bahaya apa yang akan datang, kamu tahu cara mengatasinya… Kamu kayak orang yang menulis buku panduan dunia ini, tapi lupa menyelesaikannya sampai selesai.”

Leon tersenyum kaku, keringat dingin mulai muncul lagi di dahinya. “Hahaha… aku kan sering baca banyak buku, Nona. Isinya sangat lengkap di tempat aku…”

Liora menatapnya lama sekali, lalu mundur selangkah. “Ya sudah deh. Aku tidak akan bertanya lagi untuk saat ini. Tapi ingat ya Leon… kalau ada apa-apa, atau kalau kamu menyimpan rahasia besar… aku percaya kamu orang yang baik. Karena kalau kamu berniat jahat, pasti kamu sudah membiarkan kami dimakan kue atau ditangkap kurcaci tadi.”

Leon menatap wajah Liora, hatinya terasa campur aduk sekali. Dia percaya padanya. Padahal dia sendiri adalah penulis ceroboh yang membuat hidup mereka jadi susah dan penuh bahaya. Rasanya ingin mengaku jujur saja, tapi rasa takut masih menahan bibirnya.

“Tenang saja, Nona,” jawab Leon dengan nada tulus. “aku akan bantu kalian sampai akhir. aku akan perbaiki semuanya, janji.”

Zarek yang sejak tadi diam saja tiba-tiba berteriak dengan suara lantang, “WOI! KOK KITA MELAMUN TERUS SIH! MATAHARI SUDAH MAU TENGGELAM! KITA HARUS SEGERA MENCARI TEMPAT BERHENTI! DAN KETAHUILAH… DI DEPAN SANA ADA DESA! AKU LIHAT ASAP DARI CEROBONG DAPUR!”

Kami semua langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Zarek. Benar sekali, di kejauhan terlihat atap-atap rumah dan asap tipis yang mengepul naik ke langit senja.

“Bagus sekali,” kata Liora sambil menghela napas lega. “Kita beristirahat di sana malam ini. Besok pagi kita lanjutkan perjalanan ke istana.”

Kami pun melangkah lagi menuju desa itu. Tapi di dalam hatinya, Leon sudah tahu pasti… desa itu juga tidak akan seperti desa biasa. Di dunia ini, tidak ada tempat yang benar-benar normal. Semuanya pasti ada saja ulah tulisannya yang asal-asalan.

Dan benar saja. Begitu sampai di pinggir desa, sebuah papan nama besar berdiri tegak di sana. Tulisan di papan itu tercetak jelas, dan Leon sampai ingin menepuk dahi sendiri saat membacanya.

DESA TENANG DAN DAMAI

Catatan Penulis: Penduduknya ramah, tapi… lupa mau memberi sifat apa, jadi terserah saja mereka mau berbuat apa.

Leon menatap Liora dan Zarek yang melangkah masuk dengan santai.

“Bersiaplah saja,” bisik Leon pelan pada dirinya sendiri. “Malam ini pasti bakal makin heboh lagi.”

Dan di balik bayang-bayang pohon besar di pinggir desa, sosok berjubah hitam itu kembali muncul. Itu Lord Valgus. Dia menatap ke arah Leon, matanya yang menyala merah makin terang memancarkan amarah. Bibirnya bergerak pelan, suaranya hanya bisa didengarnya sendiri seolah berbisik di dalam kepala Leon:

“Akhirnya… ketemu juga kamu, Penulis Kecerobohan. Tunggu saja… aku akan membuatmu merasakan bagaimana rasanya hidup di dunia yang berantakan seperti yang kamu buat untuk kami.”

Leon merasakan seluruh tubuhnya merinding ketakutan. Bahaya yang sesungguhnya sudah mengintip dari depan mata. Dan ini baru permulaan dari perjalanan yang makin gila dan penuh kejutan.

1
Sarah
Wah... rupanya dia masih memiliki seseorang di dunia asal. Ini pasti jadi akhir arc 1 nih. 😮
Sarah
Aku rasa... aku sepemikiran tentang, “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁
Sarah
Aku sering penasaran, apa dia gak punya siapa-siapa dan hidupnya hampa atau tersiksa banget yah di dunia modern sampai bisa gampang banget bilang iya untuk tinggal di sana tanpa pikir panjang.
Sarah
Udah mulai gak inget dunia modern kah?
Rafi Hafizh
bagus ceritanya 👍
Ananda Anggit
🤭🤭
Ananda Anggit
siap ka, terimakasih saran nya 😁🙏
Sarah
Ya kalau dateng... kalau gak ada yang dateng? Basi dong. /Sweat/
Sarah
Aku juga sudah menduganya. 😂
Sarah
Aduhhh, Leon dipuji mulu tiap bab sama heroine nya ini. 😁
Sarah
Ceritanya lucu banget. 😁
Sarah
Kalau nama awalannya harus huruf kapital yah, “Leon”
Sarah
Ketika catatan penulis yang biasa ada di dalam kurung di tengah-tengah cerita jalan... beneran masuk ke cerita. 😂
Sarah
Bagus, cuma... ini pov orang ketiga (narator) sama pov orang pertama (Leon alias MC) yang konsisten yah. Kalau mau ganti pov tandain dulu. Biar gak bikin bingung. Atau tandain kata kayak “Pikirnya”, “Batinnya”, “Ucapnya dalam hati” untuk nunjukkin apa yang ada di otak Leon.
Ananda Anggit: iya sekali lagi makasih ya kak 😁
total 3 replies
Ananda Anggit
😍💪💪
Rafi Hafizh
semangat author 😍
Ananda Anggit
🥳🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!