Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 Malam Pertama di Kamar Bersebelahan
Hujan turun rintik-rintik mengetuk kaca jendela Paviliun Barat. Udara malam terasa jauh lebih
dingin dari biasanya, namun suhu di dalam dua kamar utama yang dibatasi satu pintu
penghubung itu seakan sedang mendidih oleh ketegangan yang tertahan.
Di dalam kamarnya, Kiara berdiri di depan cermin besar meja rias. Gaun pengantinnya yang
elegan sudah digantikan oleh piama sutra panjang berwarna *navy*. Ia baru saja menyelesaikan
rutinitas perawatan wajahnya, melakukan *double cleansing* dengan teliti untuk mengangkat
sisa *makeup* tebal dan debu setelah hari yang melelahkan. Jemarinya kini dengan lembut
menepukkan serum pencerah berbahan aktif murni ke permukaan kulit wajah dan lehernya,
sebuah formula rahasia yang membuat wajahnya selalu memancarkan *glowing* alami meski
tanpa riasan.
Di tengah keheningan, suara kenop pintu penghubung yang diputar terdengar memekakkan
telinga. Pintu itu terbuka pelan. Arkan berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja
putih dari balik jasnya tadi pagi, namun kini kancingnya terbuka hingga ke dada dan lengannya
digulung asal-asalan. Pria itu menatap punggung Kiara dari pantulan cermin.
"Rutinitas yang panjang untuk seseorang yang baru saja ketahuan memendam dendam
sepuluh tahun," sindir Arkan, langkahnya perlahan memasuki teritori Kiara tanpa permisi.
Kiara tidak menoleh. Ia menutup botol serumnya dengan tenang. "Tepatnya karena dendam
itu membutuhkan pikiran yang jernih dan penampilan yang tak terkalahkan, Tuan Narendra.
Saya tidak akan membiarkan stres menghancurkan *skin barrier* saya."
Arkan tersenyum miring, senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia berhenti tepat di
belakang kursi Kiara, menatap pantulan gadis itu. "Aku sudah membaca berkas lama ayahku,"
suara Arkan mendadak merendah, menyingkirkan nada sarkasmenya. "Dia memang
menggunakan data riset Profesor Sanjaya untuk meluncurkan produk pertama Narendra
Cosmetics. Ayahmu dikhianati. Aku mengakuinya."
Tangan Kiara yang sedang merapikan meja rias mendadak terhenti. Pengakuan langsung
dari mulut Arkan adalah hal terakhir yang ia sangka akan dengar malam ini. Ia memutar
tubuhnya, menatap lurus ke arah pria jangkung di hadapannya. "Lalu? Apakah CEO besar yang
congkak ini datang ke kamarku untuk meminta maaf dan menyerahkan perusahaannya secara
cuma-cuma?"
"Jangan bermimpi, Sabitha," desis Arkan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan,
mengurung Kiara dengan menumpukan kedua tangannya di lengan kursi gadis itu. Jarak wajah mereka hanya tersisa sekepalan tangan. Aroma serum Kiara yang segar bercampur dengan
wangi *musk* maskulin dari tubuh Arkan. "Dosa ayahku adalah miliknya, dan aku tidak akan
membiarkan imperium yang sudah kubangun susah payah ini hancur karena masa lalu.
Narendra Cosmetics adalah hidupku sekarang."
Kiara menatap sepasang mata elang yang menggelap itu tanpa rasa takut sedikit pun. "Kalau
begitu kita berada di medan perang, Arkan. Karena formula yang membuat sahammu meroket
saat ini adalah milik ayahku."
"Medan perang?" Arkan terkekeh rendah. Ibu jarinya tiba-tiba terangkat, mengusap pelan
sisa kelembapan serum di tulang pipi Kiara. Sentuhan itu sangat kontras dengan ancaman
dalam kata-katanya—terlalu lembut, terlalu intim. "Di medan perang, musuh tidak tidur di
bawah satu atap, Kiara. Musuh tidak terikat sumpah pernikahan di depan altar. Dan musuh...
tidak saling menatap seperti sedang kelaparan satu sama lain."
Napas Kiara tercekat. Sengatan listrik dari ibu jari Arkan di pipinya merambat cepat ke
seluruh aliran darahnya. Pria ini sangat tahu bagaimana memutar balikkan keadaan,
menggunakan pesona fisiknya untuk meruntuhkan pertahanan mental lawannya.
"Tarik kembali tanganmu, atau aku akan menganggap ini sebagai pelecehan," ancam
Kiara, meski suaranya terdengar sedikit goyah.
"Pelecehan? Kepada istri sahku sendiri?" Arkan justru mendekatkan wajahnya,
membiarkan hidung mereka nyaris bersentuhan. "Kita punya musuh yang sama malam ini,
Kiara. Baskoro Mahardika dari PT Mahardika Utama. Dia yang menyebarkan rumor palsu
untuk menghancurkanku, dan dia juga yang dulu menendang ayahmu dari asosiasi formulator
sebelum ayahku mengambil alih formulanya."
Kiara terdiam kaku. Matanya membulat sempurna. "B-bagaimana kamu tahu soal itu?"
"Kamu bukan satu-satunya yang bisa menyelidiki dokumen masa lalu," bisik Arkan. Ia
akhirnya menarik wajahnya menjauh, namun matanya tetap mengunci pandangan Kiara. "Mari
kita buat kesepakatan baru di atas kesepakatan kontrak ini. Kita hancurkan Mahardika
bersama-sama. Setelah dia berlutut... barulah kita selesaikan urusan dendam keluarga kita.
Berdua."
Tawaran itu sangat gila, namun luar biasa masuk akal. Kiara membutuhkan kekuatan
finansial dan koneksi Arkan untuk meruntuhkan Mahardika. Ia menelan ludah, menatap pria
yang kini menjadi sekutu terbesarnya sekaligus musuh utamanya.
"Baik. Gencatan senjata sementara," Kiara akhirnya mengangguk. "Sekarang, karena kita
sudah mencapai kesepakatan, bisakah Anda kembali ke kamar Anda, Tuan Arkan? Saya ingin
tidur." Bukannya pergi, Arkan justru berbalik dan berjalan santai menuju ranjang *king size* milik
Kiara. Tanpa rasa bersalah, pria itu merebahkan tubuh besarnya di atas kasur, menyandarkan
kepalanya di bantal dengan nyaman.
"Apa yang Anda lakukan?!" pekik Kiara tertahan, matanya membelalak tak percaya.
"Menjaga asetku, tentu saja," jawab Arkan santai sambil melonggarkan kerahnya. "Madam
Amalia menempatkan dua pelayan senior berjaga di ujung lorong paviliun malam ini. Kalau
mereka melihatku tidur terpisah di malam pertama pernikahan kita, mereka akan langsung
melapor dan tamatlah penyamaran ini."
Arkan menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelahnya, menatap Kiara dengan seringai
nakal yang membuat jantung gadis itu kembali berdegup brutal.
"Matikan lampunya, Istriku. Besok kita punya perang besar di dewan direksi."