NovelToon NovelToon
Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Glow Up Kontrak : Formula Rahasia Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Syawal Musa

Satu malam mengubah segalanya ketika CEO raksasa kosmetik terjebak iritasi
kulit akut yang mengancam kariernya, dan satu-satunya penyelamat adalah
formula rahasia dari seorang gadis yang dianggap remeh. Sebuah pernikahan
kontrak tanpa melibatkan perasaan dimulai, di mana serum dan ambisi menjadi
mata uang utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syawal Musa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 Malam Pertama di Kamar Bersebelahan

Hujan turun rintik-rintik mengetuk kaca jendela Paviliun Barat. Udara malam terasa jauh lebih

dingin dari biasanya, namun suhu di dalam dua kamar utama yang dibatasi satu pintu

penghubung itu seakan sedang mendidih oleh ketegangan yang tertahan.

Di dalam kamarnya, Kiara berdiri di depan cermin besar meja rias. Gaun pengantinnya yang

elegan sudah digantikan oleh piama sutra panjang berwarna *navy*. Ia baru saja menyelesaikan

rutinitas perawatan wajahnya, melakukan *double cleansing* dengan teliti untuk mengangkat

sisa *makeup* tebal dan debu setelah hari yang melelahkan. Jemarinya kini dengan lembut

menepukkan serum pencerah berbahan aktif murni ke permukaan kulit wajah dan lehernya,

sebuah formula rahasia yang membuat wajahnya selalu memancarkan *glowing* alami meski

tanpa riasan.

Di tengah keheningan, suara kenop pintu penghubung yang diputar terdengar memekakkan

telinga. Pintu itu terbuka pelan. Arkan berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kemeja

putih dari balik jasnya tadi pagi, namun kini kancingnya terbuka hingga ke dada dan lengannya

digulung asal-asalan. Pria itu menatap punggung Kiara dari pantulan cermin.

"Rutinitas yang panjang untuk seseorang yang baru saja ketahuan memendam dendam

sepuluh tahun," sindir Arkan, langkahnya perlahan memasuki teritori Kiara tanpa permisi.

Kiara tidak menoleh. Ia menutup botol serumnya dengan tenang. "Tepatnya karena dendam

itu membutuhkan pikiran yang jernih dan penampilan yang tak terkalahkan, Tuan Narendra.

Saya tidak akan membiarkan stres menghancurkan *skin barrier* saya."

Arkan tersenyum miring, senyuman yang tidak mencapai matanya. Ia berhenti tepat di

belakang kursi Kiara, menatap pantulan gadis itu. "Aku sudah membaca berkas lama ayahku,"

suara Arkan mendadak merendah, menyingkirkan nada sarkasmenya. "Dia memang

menggunakan data riset Profesor Sanjaya untuk meluncurkan produk pertama Narendra

Cosmetics. Ayahmu dikhianati. Aku mengakuinya."

Tangan Kiara yang sedang merapikan meja rias mendadak terhenti. Pengakuan langsung

dari mulut Arkan adalah hal terakhir yang ia sangka akan dengar malam ini. Ia memutar

tubuhnya, menatap lurus ke arah pria jangkung di hadapannya. "Lalu? Apakah CEO besar yang

congkak ini datang ke kamarku untuk meminta maaf dan menyerahkan perusahaannya secara

cuma-cuma?"

"Jangan bermimpi, Sabitha," desis Arkan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan,

mengurung Kiara dengan menumpukan kedua tangannya di lengan kursi gadis itu. Jarak wajah mereka hanya tersisa sekepalan tangan. Aroma serum Kiara yang segar bercampur dengan

wangi *musk* maskulin dari tubuh Arkan. "Dosa ayahku adalah miliknya, dan aku tidak akan

membiarkan imperium yang sudah kubangun susah payah ini hancur karena masa lalu.

Narendra Cosmetics adalah hidupku sekarang."

Kiara menatap sepasang mata elang yang menggelap itu tanpa rasa takut sedikit pun. "Kalau

begitu kita berada di medan perang, Arkan. Karena formula yang membuat sahammu meroket

saat ini adalah milik ayahku."

"Medan perang?" Arkan terkekeh rendah. Ibu jarinya tiba-tiba terangkat, mengusap pelan

sisa kelembapan serum di tulang pipi Kiara. Sentuhan itu sangat kontras dengan ancaman

dalam kata-katanya—terlalu lembut, terlalu intim. "Di medan perang, musuh tidak tidur di

bawah satu atap, Kiara. Musuh tidak terikat sumpah pernikahan di depan altar. Dan musuh...

tidak saling menatap seperti sedang kelaparan satu sama lain."

Napas Kiara tercekat. Sengatan listrik dari ibu jari Arkan di pipinya merambat cepat ke

seluruh aliran darahnya. Pria ini sangat tahu bagaimana memutar balikkan keadaan,

menggunakan pesona fisiknya untuk meruntuhkan pertahanan mental lawannya.

"Tarik kembali tanganmu, atau aku akan menganggap ini sebagai pelecehan," ancam

Kiara, meski suaranya terdengar sedikit goyah.

"Pelecehan? Kepada istri sahku sendiri?" Arkan justru mendekatkan wajahnya,

membiarkan hidung mereka nyaris bersentuhan. "Kita punya musuh yang sama malam ini,

Kiara. Baskoro Mahardika dari PT Mahardika Utama. Dia yang menyebarkan rumor palsu

untuk menghancurkanku, dan dia juga yang dulu menendang ayahmu dari asosiasi formulator

sebelum ayahku mengambil alih formulanya."

Kiara terdiam kaku. Matanya membulat sempurna. "B-bagaimana kamu tahu soal itu?"

"Kamu bukan satu-satunya yang bisa menyelidiki dokumen masa lalu," bisik Arkan. Ia

akhirnya menarik wajahnya menjauh, namun matanya tetap mengunci pandangan Kiara. "Mari

kita buat kesepakatan baru di atas kesepakatan kontrak ini. Kita hancurkan Mahardika

bersama-sama. Setelah dia berlutut... barulah kita selesaikan urusan dendam keluarga kita.

Berdua."

Tawaran itu sangat gila, namun luar biasa masuk akal. Kiara membutuhkan kekuatan

finansial dan koneksi Arkan untuk meruntuhkan Mahardika. Ia menelan ludah, menatap pria

yang kini menjadi sekutu terbesarnya sekaligus musuh utamanya.

"Baik. Gencatan senjata sementara," Kiara akhirnya mengangguk. "Sekarang, karena kita

sudah mencapai kesepakatan, bisakah Anda kembali ke kamar Anda, Tuan Arkan? Saya ingin

tidur." Bukannya pergi, Arkan justru berbalik dan berjalan santai menuju ranjang *king size* milik

Kiara. Tanpa rasa bersalah, pria itu merebahkan tubuh besarnya di atas kasur, menyandarkan

kepalanya di bantal dengan nyaman.

"Apa yang Anda lakukan?!" pekik Kiara tertahan, matanya membelalak tak percaya.

"Menjaga asetku, tentu saja," jawab Arkan santai sambil melonggarkan kerahnya. "Madam

Amalia menempatkan dua pelayan senior berjaga di ujung lorong paviliun malam ini. Kalau

mereka melihatku tidur terpisah di malam pertama pernikahan kita, mereka akan langsung

melapor dan tamatlah penyamaran ini."

Arkan menepuk sisi ranjang yang kosong di sebelahnya, menatap Kiara dengan seringai

nakal yang membuat jantung gadis itu kembali berdegup brutal.

"Matikan lampunya, Istriku. Besok kita punya perang besar di dewan direksi."

1
Syawal Musa
👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!