"Kak Luis, tolong jangan ... ini menyakitkan!" titah Laura dengan wajah memerah. Bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kamu berani menegurku!" Wajah Luis nampak menyeramkan. "Kak Luis ... Maafkan aku ... " Ucapan Laura saat tiba-tiba Luis beralih menciumnya. "Ini adalah hukuman karena kamu berani menentang perintahku Laura Ana ... " Kedua bola mata Laura membelalak sempurna, saat Luis ingin ... Luis Lucian sangat membenci Laura Ana, ia menganggap jika Laura anak haram dari ayahnya yang membuat ibunya pergi. Padahal yang sebenarnya terjadi, saat Lucian berumur 15 tahun, ibunya pergi karena berselingkuh. Sementara Laura anak dari sahabat ayah Lucian yang kedua orang tuanya meninggal saat kecelakaan. Saat umur 16 tahun, Laura dibawa kerumah Lucian dan tinggal disana. Karena kelebihan yang diderita Laura, Lucian mengira Laura pernah hamil dan melahirkan. Dia terus menganggu dan mempermainkan perasaan Laura, walaupun bagi Luis, ia dan Laura saudara satu ayah. Luis akan membuat Laur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18.
Malam hari pun tiba, Laura duduk terdiam di balkon apartemen mewah yang diberikan Nigel, matanya menatap kosong ke hamparan langit malam yang bertabur bintang.
Air mata mengalir pelan dari sudut matanya, membasahi pipi yang pucat. Hatinya terasa hancur berkeping-keping saat mengingat sikap Luis yang dulu begitu ia cintai namun kini berubah menjadi sosok yang kejam dan tak berperikemanusiaan.
Berkali-kali Luis mencoba melecehkannya, bahkan ingin mengambil keperawanannya—hal yang paling tidak bisa Laura terima, mengingat ikatan darah dan kepercayaan yang pernah ada.
Rasa benci menggerogoti setiap sudut pikirannya.
Tubuhnya yang kurus terlihat letih; seharian ini ia hanya duduk terpaku di balkon, menolak untuk mandi atau makan.
Perutnya yang keroncongan hanya menjadi pengingat pahit akan kehancuran hidupnya.
Angin malam menyapu lembut rambutnya yang berantakan, seolah ikut merasakan kesendirian dan luka yang membekas dalam jiwa Laura.
Ia menundukkan kepala, mencoba menahan tangis yang ingin pecah kembali, tapi rasa sakit di hatinya terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Laura yang termenung lama sampai tidak menyadari kalau Nigel sudah berdiri disana.
Nigel duduk didepan Laura yang sedang memandangnya dengan tatapan kosong, laki-laki itu tanpa diminta mengusap air mata dari kedua pipi Laura.
Sontak saja, Laura terperanjat karena terkejut.
"Kak Nigel ... " Ucap Laura, ia teringat kalau sebelumnya pintu apartemennya sudah di kunci.
Tapi kenapa Nigel tiba-tiba bisa muncul didepannya.
Nigel pun menjukkan panggilan telepon dari ponsel miliknya, ia terlihat menelpon Laura tak kurang dari 50 kali.
"Laura, maaf tadi aku meminta bantuan pada penjaga apartemen untuk meminta kunci serep kamarmu. Karena kamu nggak angkat panggilan telepon, aku takut terjadi sesuatu makanya aku memaksa masuk."
Laura pun mengangguk. "Nggak papa kak Nigel, maaf sudah buat kamu khawatir," sahut Laura dengan nada lembut.
Nigel pun mengusap rambut Laura penuh kasih sayang.
"Aku sudah belikan makanan untuk mu, lebih baik dimakan dulu!"
Laura mengangguk, tapi wajahnya terlihat sedikit bingung.
Saat melihat Nigel datang dengan tangan kosong.
Nigel yang cerdas dan mengerti arti wajah Laura, lantas mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
Tak berselang lama pintu di ketuk, Laura sedikit tersentak saat melihat beberapa wanita berpakaian rapi dan membawa troli makanan.
Laura menatap Nigel penuh tanda tanya.
"Aku tahu, sekarang ini kamu sedang sedih. Jadinya aku memesan layanan hotel untuk melayani kita makan." Ujar Nigel.
Laura melongo, saat melihat betapa perhatiannya Nigel padanya.
Sontak saja, ia malah teringat pada Luis, yang selalu memperlakukan dirinya buruk, bahkan terus menyakiti hatinya.
Nigel menarik tubuh Laura, membuat gadis itu duduk terhuyung di kursi balkon apartemennya yang mewah, dikelilingi cahaya remang lampu kota yang berkilauan.
Deretan hidangan mewah tersusun rapi di atas meja kaca—caviar yang mengkilap, potongan salmon segar, roti artisan yang harum, dan segelas anggur merah pekat.
Namun, mulutnya tetap tertutup rapat, tak bergairah menyentuh makanan itu.
Ia meremas kepalanya, mencoba menahan gelombang sakit yang menjalari pikirannya.
Sekilas bayangan masa lalu—kilauan pesta-pesta glamor, suara tawa di ruang ballroom, kilatan perhiasan mahal—muncul dengan jelas, mengusik ketenangannya yang rapuh.
Ingatan itu membuat dadanya sesak, seolah menahan sesuatu yang ingin ia lari darinya.
"Laura, kamu nggak apa-apa?" suara Nigel terdengar lembut dari balik pintu kaca, penuh kekhawatiran.
Laura menoleh, matanya memancarkan keletihan namun ia memaksakan senyum tipis. "Nggak papa, kak Nigel. Tadi kepalaku cuman gatal," jawabnya pelan, berusaha menutupi kegelisahan yang menggerogoti hatinya.
Nigel melangkah masuk membawa nampan kecil berisi bebarapa sisa makanan hangat dari layanan hotel.
Saat tadi ia melihat Laura memegangi kepalanya, Nigel bisa menduga, saat gadis itu melihat beberapa pegawai hotel itu. Beberapa potongan ingatan Laura kembali.
Mengingat gadis itu paling suka makanan dari hotel Aston. "Laura pasti merasa tidak familiar dengan seragam mereka."
Hotel Aston berasal dari luar negeri, untungnya di sini ada cabangnya.
"Aku tahu kamu malas makan, tapi aku ingin kamu kuat. Ini buat kamu," katanya dengan nada penuh perhatian seraya menyuapkan satu desert strawberry dengan rasa yang tidak terlalu manis dan sedikit asam, desert ini paling Laura sukai.
Tanpa sadar, Laura membuka mulutnya.
Matanya terpaku pada hidangan itu, seolah menghubungkan dirinya dengan masa lalu yang pernah ia jalani—hidup dalam kemewahan yang sekarang terasa seperti beban.
Perlahan, ia menghirup aroma makanan itu, aroma yang mengingatkannya pada kehidupan yang telah lama hilang, dan air mata kecil mulai menggenang di sudut matanya tanpa ia sadari.
"Kok malah nangis? Apakah semua makanan ini tidak enak?" Tanya Nigel, ekspresi wajahnya terlihat sedikit kecewa.
Ia menduga Laura menangis karena mengira selera gadis itu berubah setelah amnesia.
"Kak Nigel, makasih banyak ... " Celetuk Laura seraya memegang tangan Nigel.
Sontak saja Nigel menatap Laura yang sedang tersenyum tulus padanya, lalu tatapannya beralih ke arah tangannya yang sedang di pegang Laura.
Ia merasa hatinya tergelitik, bahkan terasa ada aliran listrik yang menyalurkan lewat tangannya.
Apalagi saat Laura mulai meremas tangannya dengan lembut, sontak saja jantung Nigel seakan berhenti berdetak seketika.
"Astaga Laura, bisa-bisa aku mati didepanmu karena henti jantung." (Cinta ini membunuhku)
***
Luis duduk terpaku di sofa yang dingin di samping ranjang rumah sakit.
Lampu ruang perawatan menyinari wajah Emma yang masih pucat, dengan perban di pelipis dan bibirnya yang sedikit pecah.
Suasana sunyi, hanya sesekali terdengar suara langkah pelan perawat yang berkeliling.
Teman-teman SMA Emma dan dirinya sudah pulang sejak lama, meninggalkan mereka dalam keheningan yang mencekam.
Johan berdiri di dekat pintu dengan mata yang sayu dan suara berat, "Luis, jaga dia baik-baik. Jangan sampai dia merasa sendiri."
Luis mengangguk tanpa suara, meskipun pikirannya berkelana jauh, terpaut pada Laura yang selalu membuatnya bingung antara benci dan rindu.
Rasa bosan mendera, tangannya secara otomatis meraih ponsel di saku.
Matanya membelalak ketika melihat notifikasi pesan masuk.
Foto Laura yang sedang memeluk pria lain muncul di layar, senyum manis di wajah Laura tampak begitu nyata.
Jantung Luis berdebar kencang, amarah dan sakit hati membakar dadanya.
Ia nyaris bangkit, ingin meninggalkan ruangan itu dan melampiaskan kekesalannya.
Namun tiba-tiba, suara lemah tapi tegas dari ranjang membuatnya terhenti. "Luis… jangan pergi." Mata Emma terbuka, menatapnya dengan penuh harap dan kepercayaan.
Tubuhnya yang ringkih menggenggam pergelangan tangan Luis seolah menambatkan harapan terakhir.
Luis menelan ludah, menahan gejolak dalam hatinya, dan kembali duduk, bertekad untuk tetap di sisi perempuan yang kini begitu membutuhkannya.
Bagaimana pun juga Emma habis kecelakaan. Ia tidak bisa meninggalkan Emma begitu saja.
Lalu Luis mengirimkan pesan pada sahabatnya, "minta alamat Laura berada?"
Tak berselang pesan dari sahabatnya masuk berisi peta google maps.
Luis bergumam dalam hatinya, "sepertinya kamu semakin liar. Aku akan buat perhitungan padamu!!"
Alis Emma mengerut, saya melihat Luis malah asik dengan ponselnya.
"Luis ... " Panggil Emma.
Luis mendongak, menatap Emma penuh tanda tanya.