NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 3 - Jangan Menjadi Kelemahanku

Malam semakin larut saat Leon tiba di mansion keluarga de Arther.

Rumah besar itu tetap terlihat megah dan dingin seperti biasanya. Tidak ada kehangatan. Tidak ada rasa nyaman. Hanya kemewahan kosong dan kekuasaan.

Begitu memasuki ruang kerja ayahnya, Leon langsung melihat Arthur berdiri di dekat jendela sambil memegang segelas wine. "Kau datang."

Leon menutup pintu pelan. "Aku sudah melihat gudangnya."

Arthur tersenyum tipis. "Dan?"

"Mereka sedang memancing perang."

Arthur akhirnya menoleh, tatapan matanya tajam dan penuh tekanan. "Itulah kenapa keluarga membutuhkanmu."

Leon diam. Arthur berjalan mendekat perlahan.

"Kau punya kepala dingin. Kau berpikir lebih baik dibanding kakakmu."

"Aku tidak tertarik menjadi bagian dari ini."

Arthur tertawa kecil. "Kau masih mengatakan itu?"

Leon mengepalkan tangan pelan. "Aku ingin hidup normal."

Untuk pertama kalinya malam itu, ekspresi Arthur berubah dingin sepenuhnya.

"Normal, huh?" Nada suaranya terdengar merendahkan. "Kau lahir sebagai Leon Knight de Arther."

Arthur berhenti tepat di depan putranya. "Orang sepertimu tidak akan pernah punya kehidupan normal."

Kalimat itu menghantam Leon lebih keras dari yang seharusnya. Karena ia tahu, ayahnya benar.

Nama de Arther terlalu besar dan terlalu kotor.

Arthur memperhatikan putranya beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, "Kau mulai berubah sejak masuk sekolah itu."

Tatapan Leon langsung berubah tajam.

Arthur menyadarinya. "Lihat wajahmu."

Leon memalingkan pandangan. "Aku tidak berubah."

"Tidak." Arthur menyesap wine nya pelan. "Pasti ada seseorang yang membuat mu berubah."

Suasana ruangan mendadak terasa berat. Leon tahu persis siapa yang dimaksud ayahnya.

"Aku tidak punya urusan pribadi apa pun."

Arthur tersenyum tipis. "Kalau begitu bagus."

Tatapan matanya berubah lebih dingin. "Karena orang yang dekat dengan keluarga de Arther biasanya tidak akan berakhir baik."

Jantung Leon langsung menegang. Itu ancaman yang tersirat.

Namun cukup jelas, Leon merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan.

Takut. Bukan takut untuk dirinya sendiri, tetapi takut sesuatu terjadi pada orang yang dekat dengannya. Dan Leon membenci perasaan itu.

...----------------...

Keesokan paginya.

Suasana sekolah terasa jauh lebih ramai dari biasanya karena pertandingan basket antarkelas akan diadakan minggu depan.

Koridor dipenuhi murid-murid yang sibuk membicarakan latihan dan pertandingan.

Namun begitu Leon memasuki area sekolah, suasana langsung sedikit berubah. Tatapan orang-orang otomatis mengikuti langkahnya.

Beberapa murid bahkan langsung menyingkir memberi jalan. Leon sudah terbiasa. Ia berjalan menuju kelas tanpa peduli sekitar.

Sampai matanya menangkap sosok familiar di dekat jendela kelas.

Rachael.

Gadis itu sedang berbicara dengan Selina sambil tertawa kecil.

Cahaya pagi membuat wajahnya terlihat lebih hangat.

Dan anehnya hanya dengan melihatnya saja, kepala Leon yang semalam penuh tekanan perlahan terasa sedikit lebih tenang.

Rachael menyadari keberadaan Leon lalu tersenyum kecil. "Hei, Pagi."

Leon berhenti beberapa detik sebelum membalas pelan, "...Pagi."

Selina langsung terlihat canggung lalu buru-buru pergi meninggalkan mereka berdua.

Rachael terkekeh kecil melihat reaksinya. "Mereka takut sekali sama kamu."

Leon duduk di kursinya sambil mengeluarkan buku. "Itu lebih baik."

"Kenapa begitu?"

Leon terdiam sebentar. Karena semakin dekat seseorang dengannya— semakin besar kemungkinan orang itu terluka. Dan Leon tidak ingin Rachael ikut masuk ke dunia gelapnya.

Namun saat melihat gadis itu duduk tepat di sebelahnya, ia sadar satu hal: semuanya sudah terlambat. Rachael sudah terlalu dekat.

"Kamu kelihatan capek," ucap Rachael pelan.

Leon sedikit menoleh. "Aku baik-baik saja."

"Kamu bohong."

Leon terdiam. Rachael menatapnya beberapa detik sebelum mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah kotak susu kecil rasa cokelat.

"Apa ini?" tanya Leon bingung.

"Buat kamu."

Leon mengernyit samar. "Hah? Kenapa?"

"Soalnya kamu kelihatan nggak tidur semalaman, seperti kelelahan." Rachael mengatakannya dengan nada biasa saja.

Tetapi bagi Leon, perhatian kecil seperti itu terasa sangat asing. Sudah lama tidak ada yang benar-benar memperhatikan dirinya sebagai Leon.

Bukan sebagai putra mafia. Bukan sebagai pewaris keluarga. Hanya... dirinya sendiri.

"Hm... Kamu tidak suka susu?"

Leon menerima kotak susu itu perlahan. "Suka, Terima kasih."

Rachael tersenyum kecil.

Dan untuk beberapa detik, dunia Leon yang selalu terasa dingin mendadak terasa jauh lebih hangat.

Leon menatap kotak susu di tangannya cukup lama.

Hal sederhana, bahkan sangat sederhana. Namun entah kenapa terasa asing baginya.

Di keluarganya, perhatian biasanya datang dalam bentuk perintah, aturan, atau tuntutan. Tidak pernah benar-benar tulus.

Dan sekarang seorang gadis yang bahkan baru dikenalnya beberapa minggu justru bisa membuat dadanya terasa hangat hanya karena sekotak susu kecil.

Leon membenci hal ini. Karena semakin nyaman dirinya berada di dekat Rachael semakin besar kemungkinan gadis itu akan terluka akibat dirinya.

"Kamu nggak suka rasa cokelat?" tanya Rachael saat Leon terlalu lama diam.

Leon langsung tersadar. "Bukan begitu."

"Lalu kenapa?"

Leon membuka sedotan pelan sebelum menjawab singkat, "Aku cuma jarang diberi sesuatu seperti ini."

Rachael sedikit terdiam mendengar nada suaranya.

Nada itu terdengar tenang. Tetapi kosong dan entah kenapa membuat hatinya terasa tidak nyaman.

"Berarti sekarang sudah pernah, dong." jawab Rachael sambil tersenyum kecil.

Leon menatap gadis itu beberapa detik.

Sebelum akhirnya tanpa sadar, ia tersenyum tipis.

Sangat tipis, namun cukup membuat Rachael membeku beberapa saat.

Karena itu pertama kalinya ia melihat Leon benar-benar tersenyum. Dan senyum itu... sangat tampan.

Rachael buru-buru memalingkan wajah sambil pura-pura membuka buku.

Dalam hatinya, "Ganteng sih... Tapi jangan, aku tidak boleh menyukainya... Aku harus Profesional sebagai teman dan murid baru. Alasan ku pindah sekolah saja, karena pindah rumah... paling nanti juga pindah lagi."

Sementara Leon yang menyadari reaksinya langsung kembali memasang wajah datar. Tetapi sudut bibirnya masih sedikit terangkat.

Jam pelajaran pertama dimulai seperti biasa.

Namun suasana kelas mendadak ramai saat guru olahraga masuk membawa daftar kegiatan pertandingan basket sekolah.

"Karena minggu depan ada pertandingan antarkelas, setiap kelas wajib mengirim perwakilan."

Keluhan langsung terdengar di mana-mana.

"Ahh capek..."

"Kenapa harus ikut sih..."

Guru olahraga mengabaikan protes itu sambil melihat daftar nama. "Untuk kelas XI-A, yang ikut latihan inti: Axel, Daniel, Rio—"

Beberapa nama terus dipanggil. Lalu guru itu berhenti sebentar. "Dan Leon."

Suasana kelas langsung berubah.

"Serius?"

"Dia ikut basket?"

Rachael sedikit menoleh penasaran ke arah Leon. Leon sendiri terlihat tidak terlalu peduli.

"Kau main basket?" tanya Rachael pelan.

"Sedikit."

Axel yang duduk tidak jauh dari mereka langsung tertawa. "Sedikit katanya."

Leon melirik tajam.

Axel tetap santai. "Dulu dia hampir bikin sekolah lama menang turnamen nasional."

Rachael terlihat kaget. "Serius?"

Leon menghela napas kecil. "Itu dulu."

Axel menyeringai. "Dia malas main lagi karena terlalu banyak orang teriak-teriak manggil namanya."

Rachael spontan tertawa kecil membayangkannya.

Leon menatap Axel datar. "Diam, kalau nggak mau mulut lu gua jahit."

"Galak banget."

Kelas kembali ramai oleh candaan dan obrolan pertandingan. Namun diam-diam, beberapa siswi mulai melirik Leon lebih sering. Apalagi setelah tahu kalau laki-laki dingin itu ternyata juga jago olahraga.

Sore harinya.

Lapangan basket sekolah dipenuhi suara pantulan bola dan teriakan murid-murid yang latihan.

Rachael duduk di bangku pinggir lapangan bersama Selina sambil melihat latihan kelas mereka.

"Jadi itu Leon?" gumam Rachael pelan.

Selena langsung mengangguk cepat. "Gila kan?"

Leon yang biasanya terlihat malas dan dingin sekarang bergerak cepat di lapangan dengan ekspresi fokus.

Kaos hitam latihan membuat auranya terlihat jauh berbeda dari saat di kelas. Lebih dewasa. Dan entah kenapa sangat menarik perhatian.

Beberapa siswi di pinggir lapangan bahkan terus membicarakannya.

"Tampan banget..."

"Pantesan banyak yang suka."

"Tapi serem."

Leon menerima operan bola dari Axel lalu langsung melakukan tembakan tiga angka dengan gerakan tenang. Masuk sempurna. Suasana lapangan langsung ramai.

Axel tertawa keras. "Akhirnya Yang Mulia mau serius juga!"

Leon hanya berjalan santai sambil mengusap rambutnya yang sedikit basah karena keringat. Lalu tanpa sengaja tatapannya bertemu dengan Rachael di pinggir lapangan. Leon berhenti beberapa detik.

Rachael yang sadar sedang diperhatikan langsung diam dan pura-pura tidak memperhatikan.

Leon akhirnya berjalan mendekat ke arah bangku mereka. Dan otomatis suasana sekitar langsung menjadi lebih sunyi. Semua orang memperhatikan.

Leon berhenti tepat di depan Rachael. "Kamu belum pulang?"

Rachael sedikit gugup karena semuanya memperhatikan. "Nunggu latihannya selesai."

"Kamu suka basket?" Leon terdiam sebentar sebelum mengambil botol minumnya.

“Aku suka basket.”

Leon sedikit mengangkat alis. “Serius?”

Rachael mengangguk kecil. “Dulu di sekolah lamaku aku ikut tim basket putri.”

Leon terlihat sedikit terkejut meski ekspresinya tetap tenang. “Kamu main posisi apa?”

“Point guard kadang shooting guard,” jawab Rachael santai. “Walau nggak hebat-hebat amat.”

Axel yang mendengar pembicaraan itu langsung menyela sambil tertawa kecil. “Wah, menarik nih. Akhirnya ada yang nyambung sama Leon.”

Rachael terlihat bingung. “Memangnya kenapa?”

Axel menunjuk Leon dengan dagunya. “Dia paling suka basket di antara semua olahraga, cuma dia males nunjukin nya.”

Leon melirik tajam. “Axel.”

“Oke, oke, aku diam.”

Rachael terkekeh pelan. “Pantas saja tadi kamu kelihatan beda waktu main.”

Leon menatapnya beberapa detik. “Beda gimana?”

Rachael berpikir sebentar sebelum menjawab jujur, “Lebih hidup gitu.”

Kalimat itu membuat Leon sedikit terdiam. Karena tidak banyak orang yang bisa melihat perubahan kecil dalam dirinya. Dan lagi-lagi... Rachael berhasil menyadarinya.

Leon masih menatap Rachael beberapa detik setelah gadis itu mengatakan bahwa dirinya terlihat “lebih hidup” saat bermain basket.

Kalimat sederhana. Tetapi cukup membuat sesuatu di dalam dirinya terasa aneh. Tidak banyak orang yang benar-benar memperhatikan dirinya sedetail itu.

Kebanyakan hanya melihat nama belakangnya de Arther. Nama yang membuat orang takut sebelum mengenalnya.

Namun Rachael berbeda. Gadis itu justru melihat sisi dirinya yang bahkan jarang ia tunjukkan pada orang lain.

Suasana di sekitar lapangan perlahan mulai sepi karena latihan sudah selesai. Langit sore berubah jingga keemasan, sementara angin berembus pelan membawa aroma hujan yang sepertinya akan turun lagi malam ini.

Axel yang berdiri di dekat mereka memperhatikan Leon sambil menyeringai kecil. “Gua baru sadar,” ucapnya santai, “kalian cocok juga.”

Leon langsung melirik tajam. “Mulut lu emang harus selalu bicara?”

Axel tertawa kecil. “Kalau nggak ada gua, hidup lu bakal terlalu membosankan.”

Entah kenapa suasana di sekitar Leon terasa jauh lebih ringan saat bersama mereka.

Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Salah satu anggota OSIS tiba-tiba berlari kecil mendekati lapangan sambil membawa beberapa lembar kertas.

“Untung kalian masih di sini!”

“Ada apa?” tanya Axel.

"Karena tim basket putri kurang anggota buat latihan sparing besok, beberapa siswi diminta ikut gabung sementara.”

Siswi itu membuka daftar nama di tangannya. “Dan salah satunya...” matanya berhenti pada Rachael. “Rachael Velencia.”

Rachael sedikit terkejut. “Aku?”

“Kata wali kelas kamu pernah ikut tim basket kan?”

Rachael mengangguk kecil. “Aku memang pernah ikut.”

“Nah bagus. Besok latihan gabungan jam empat sore ya.”

"Eh, tapi..."

Siswi OSIS itu segera pergi lagi setelah menyampaikan informasi.

Rachael menghela napas kecil. “Sudah lama aku nggak latihan serius.”

Axel langsung tersenyum lebar. “Wah, jadi makin menarik.”

Leon memasukkan botol minumnya ke tas. “Kamu masih sering main?”

“Kadang,” jawab Rachael. “Walau akhir-akhir ini jarang.”

Leon menatapnya beberapa detik sebelum berkata pelan, “Jangan terlalu meremehkan latihan besok.”

Rachael sedikit mengernyit. “Memangnya kenapa?”

“Kelas olahraga di sekolah ini cukup serius.”

Axel langsung menyela dramatis. “Terutama kalau Yang Mulia Leon ikut latihan.”

Leon mengabaikannya, namun Rachael justru tersenyum kecil. “Kalau begitu aku jadi penasaran.”

Leon merasakan perasaan aneh itu. Perasaan yang mulai membuat dunianya yang dingin perlahan berubah.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!