NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 - Terus Kembali Padamu

Malam di dapur mansion terasa terlalu sunyi setelah Arkana berkata rendah, “Kenapa sampai sekarang aku masih terus kembali padamu?” Kalimat itu menggantung tepat di antara jarak mereka yang nyaris tidak ada. Dan Kemuning benar-benar kehilangan kemampuan berpikirnya sesaat.

Dapur yang tadi terasa biasa saja mendadak menjadi terlalu sempit. Tubuh tinggi Arkana berdiri sangat dekat di depannya. Tatapan pria itu gelap, dalam, dan terlalu intens untuk ditahan. Sedangkan napas Kemuning langsung kacau tanpa ampun.

Kemuning tidak tahu harus menjawab apa. Ucapan Arkana terasa jauh lebih berbahaya dibanding sentuhan mana pun sebelumnya. Karena untuk pertama kalinya, gadis itu merasa Arkana benar-benar menginginkannya tetap tinggal. Bukan sekadar dikasihani.

Namun justru itu yang membuat Kemuning takut. Ia takut semua ini terlalu indah untuk bertahan lama. Takut suatu hari nanti semua perhatian Arkana akan hilang begitu saja. Dan dirinya akan kembali sendirian seperti dulu.

Arkana masih memegang dagu Kemuning perlahan. Ibu jari pria itu tanpa sadar mengusap pelan kulit pipinya yang hangat. Tatapan Arkana beberapa kali turun ke bibir Kemuning sebelum kembali menatap matanya. Membuat suasana berubah semakin panas dan berbahaya.

Jantung Kemuning berdetak sangat keras. Sampai ia takut Arkana bisa mendengarnya dari jarak sedekat ini. Jemarinya gemetar kecil di sisi tubuhnya. Dan untuk beberapa detik, Kemuning hampir lupa cara bernapas.

Tatapan Arkana perlahan semakin turun. Ke bibir Kemuning yang sedikit terbuka gugup. Sedangkan Kemuning refleks menahan napas saat pria itu mendekat nyaris tanpa sadar. Suasana terasa hampir seperti ciuman.

Namun tepat ketika ketegangan itu hampir meledak, suara langkah kaki kecil terdengar dari luar dapur. Kemuning langsung tersentak panik. Sedangkan Arkana perlahan menjauh sambil mengembuskan napas berat.

Agam muncul sambil mengucek mata kecilnya. Rambut anak itu berantakan karena baru bangun tidur. “Kakak lagi dimarahin Om Kana?” tanyanya polos. Dan suasana langsung berubah awkward sekaligus hangat.

Kemuning buru-buru menggeleng cepat. “Enggak... enggak dimarahin...” Wajahnya sudah merah sampai telinga karena malu luar biasa. Sedangkan Arkana terlihat hampir tersenyum kecil melihat kepanikannya.

Agam lalu berjalan menghampiri Kemuning sambil memeluk pinggang kakaknya manja. Anak itu masih setengah mengantuk. Dan tanpa sadar, pemandangan kecil itu membuat dada Arkana terasa aneh. Hangat dengan cara yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Arkana akhirnya mengambil gelas susu dari meja dapur. Pria itu memanaskan susu untuk Agam dengan gerakan tenang dan terbiasa. Kemuning memperhatikan diam-diam dari samping. Dan suasana mereka terasa seperti keluarga kecil tanpa sadar.

Kemuning masih belum terbiasa dengan semua teknologi di mansion itu. Saat mencoba memesan camilan online untuk Agam lewat tablet dapur, ia malah salah scan QR pembayaran berkali-kali sampai aplikasi berbunyi keras. Agam langsung tertawa melihat kepanikan kakaknya.

“Kenapa gambarnya enggak mau masuk?” Kemuning panik sambil memencet layar terlalu keras. Sedangkan Arkana berdiri di belakangnya sambil memperhatikan dalam diam. Dan pria itu akhirnya benar-benar tersenyum tipis untuk pertama kali malam itu.

“Bukan begitu cara pakainya.” Suara rendah Arkana terdengar dekat sekali di belakang telinga Kemuning. Pria itu menjangkau tablet melewati bahunya. Tubuh mereka otomatis menjadi sangat dekat.

Kemuning langsung menegang gugup. Aroma parfum Arkana bercampur aroma kopi memenuhi inderanya. Sedangkan tangan pria itu nyaris menyentuh jemarinya di layar tablet. Membuat jantung Kemuning kembali kehilangan ritme.

Belum selesai dengan kekacauan itu, Kemuning tanpa sengaja berbicara pada voice assistant dapur. Namun pelafalannya salah total. Dan seluruh lampu dapur tiba-tiba mati lalu menyala berkedip-kedip sendiri.

Agam tertawa sampai hampir tersedak susu. Sedangkan Kemuning langsung panik luar biasa.

“Astaga... aku rusakin lagi...” Ia hampir ingin menangis malu.

Namun Arkana justru terlihat menikmati semuanya. Pria itu mematikan sistem lampu sambil menggeleng kecil. Tatapannya beberapa detik tertahan terlalu lama pada Kemuning yang panik. Dan dada Arkana terasa semakin sulit menjaga jarak sekarang.

Ia mulai terlalu nyaman melihat Kemuning dan Agam di hidupnya. Terlalu terbiasa mendengar suara mereka memenuhi mansion yang dulu selalu sunyi. Bahkan tawa kecil Agam terdengar asing tetapi menenangkan baginya. Dan itu berbahaya.

Karena Arkana sadar kenyamanan seperti ini bisa menghancurkan pertahanannya sendiri. Ia tidak pernah membiarkan siapa pun masuk terlalu jauh ke hidupnya sebelumnya. Namun sekarang Kemuning dan Agam perlahan memenuhi ruang kosong itu. Tanpa izin.

Keesokan paginya, suasana mansion terasa jauh lebih hidup dibanding biasanya. Agam sudah berlari kecil mengejar Arkana sejak pagi. Anak itu bahkan masuk ke ruang kerja kecil pria tersebut sambil membawa mobil-mobilan. Membuat beberapa pelayan saling pandang tidak percaya.

“Om Kana kerja terus.” Agam mengeluh sambil memanjat pangkuan Arkana tanpa takut lagi.

Kemuning langsung panik melihat kelakuan adiknya. Namun Arkana justru membiarkan anak itu duduk nyaman di sana.

“Agam, jangan ganggu.” Kemuning buru-buru ingin menarik adiknya turun. Namun Arkana menahan tangan Kemuning pelan tanpa sadar. “Biarkan saja.”

Kalimat sederhana itu langsung membuat Kemuning diam gugup. Sedangkan Agam terlihat sangat senang. Anak kecil itu kini benar-benar nyaman dengan Arkana. Dan perubahan itu membuat seluruh mansion terasa berbeda.

Para pelayan mulai diam-diam membicarakan perubahan Arkana. Tuan muda yang biasanya dingin dan sulit didekati, sekarang membiarkan anak kecil bermain di ruang kerjanya sendiri. Sesuatu yang bahkan tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Ratih memperhatikan semuanya dari meja sarapan dengan dada semakin berat. Ia melihat cara Arkana menatap Kemuning tanpa sadar. Cara pria itu membiarkan Agam masuk ke dunianya perlahan. Dan suasana rumah yang berubah terlalu hangat sekarang.

Ratih mulai benar-benar takut. Karena jika dibiarkan lebih lama, Arkana akan memilih Kemuning dibanding keluarganya sendiri. Dan wanita itu tidak akan membiarkan semua itu terjadi. Tidak untuk gadis desa tanpa latar belakang seperti Kemuning.

Diam-diam Ratih menghubungi seseorang pagi itu. Seseorang yang diminta menyelidiki masa lalu keluarga Pradana lebih dalam. Karena Ratih yakin ada sesuatu yang belum diketahui tentang Kemuning. Dan ia akan menemukan celah untuk memisahkan mereka.

Menjelang siang, Arkana harus pergi meeting penting di luar mansion. Pria itu berdiri di depan pintu utama sambil merapikan jam tangannya. Namun sebelum masuk mobil, tatapannya lebih dulu jatuh pada Kemuning. Yang berdiri memeluk Agam di dekat tangga.

“Jangan keluar mansion sendirian.” Nada suara Arkana terdengar rendah dan natural. Seolah menjaga Kemuning sudah menjadi kebiasaan baginya sekarang. Dan kalimat sederhana itu kembali membuat jantung Kemuning kacau.

Kemuning hanya bisa mengangguk pelan. Sedangkan Arkana beberapa detik terlalu lama menatap wajah gadis itu sebelum pergi. Dan setelah mobil pria itu menghilang dari halaman mansion, suasana mendadak terasa lebih sepi bagi Kemuning.

Tak lama kemudian, Ratih memanggil Kemuning ke ruang tengah pribadi. Ruangan itu dingin, elegan, dan terasa menekan. Kemuning langsung gugup begitu duduk di hadapan wanita tersebut. Apalagi tatapan Ratih terlihat terlalu tenang.

Ratih lalu meletakkan beberapa foto di meja perlahan. Kemuning refleks menunduk melihatnya.

Foto Arkana bersama Selvina. Di gala bisnis, acara keluarga, bahkan perjalanan luar negeri. Mereka terlihat sangat serasi. Selvina tersenyum elegan di samping Arkana yang tetap dingin dan tampan. Ada juga artikel media yang menyebut mereka pasangan ideal keluarga Mahendra.

Dan dada Kemuning langsung terasa sesak melihat semuanya.

“Dunia Arkana sudah ditentukan jauh sebelum kau datang.” Suara Ratih terdengar lembut tetapi menusuk perlahan. Kemuning langsung menggenggam rok gaunnya erat di bawah meja. Karena setiap kata wanita itu terasa seperti kenyataan yang tidak bisa dibantah.

“Keluarga Mahendra tidak akan menerima gadis tanpa latar belakang.” Ratih melanjutkan dengan tenang. “Media akan menghancurkanmu. Dan pada akhirnya, Arkana akan memilih keluarganya sendiri.”

Kalimat itu menghancurkan rasa percaya diri Kemuning sedikit demi sedikit. Ia mulai takut semua kebahagiaan yang dirasakannya di mansion memang hanya sementara. Takut dirinya benar-benar akan menjadi beban bagi Arkana suatu hari nanti. Dan pikiran itu terasa menyakitkan sekali.

Malam hari, Arkana pulang jauh lebih larut dari biasanya. Begitu memasuki mansion, pria itu langsung berhenti beberapa detik. Rumah terasa terlalu sunyi malam ini. Dan Arkana langsung merasa ada sesuatu yang berbeda.

Lampu ruang tengah masih menyala redup. Agam tertidur sendirian di sofa sambil memeluk boneka dinosaurus kecil. Namun Kemuning tidak terlihat di mana pun. Dan dada Arkana langsung terasa tidak nyaman.

Pria itu berjalan mendekat lalu membangunkan Agam perlahan. “Agam.” Anak kecil itu membuka mata setengah sadar sambil mengucek wajahnya. Masih mengantuk dan lemas.

“Kakak mana?” Suara Arkana terdengar lebih rendah dari biasanya. Agam menatap pria itu beberapa detik sebelum menjawab lirih, “Kakak nangis daritadi.”

Suasana langsung berubah dingin. Tatapan Arkana perlahan mengeras. Rahang pria itu menegang tanpa sadar. Dan untuk pertama kalinya malam itu, emosinya benar-benar terusik.

Arkana perlahan menoleh ke arah tangga mansion dengan tatapan gelap. Karena sekarang ia sadar satu hal yang sangat jelas. Ia mulai membenci siapa pun yang membuat Kemuning menangis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!