NovelToon NovelToon
I'M An Imperfect Mom

I'M An Imperfect Mom

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:899
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

"Di kantor, Aruna adalah pemenang. Namun di rumah, ia adalah orang asing yang kehilangan tempat. Ketika mantan suaminya kembali membawa 'istri sempurna', hidup Aruna mulai retak.

Satu per satu barangnya hilang, ingatannya mulai dikhianati, dan putranya perlahan menjauh. Apakah Aruna memang ibu yang gagal, atau seseorang sedang merancang skenario untuk membuatnya gila?

Menjadi ibu itu berat. Menjadi ibu yang waras di tengah teror... itu mustahil."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: PENGEJARAN DI ATAS SAMUDRA

Bab 21: Pengejaran di Atas Samudra

Angin laut bertiup kencang, menebarkan bau garam yang tajam saat helikopter pribadi Aruna membelah langit malam yang pekat di atas Selat Malaka. Di bawah sana, ribuan lampu dari kapal-kapal kargo terlihat seperti kunang-kunang raksasa, namun mata Aruna hanya tertuju pada satu titik di radar: sebuah kapal pesiar mewah berkecepatan tinggi bernama The Obsidian.

"Bimo ada di sana," ucap Adrian melalui headset, suaranya bersaing dengan deru baling-baling helikopter. "Kapal itu terdaftar atas nama perusahaan cangkang di Panama. Mereka menuju perairan internasional. Kalau mereka sampai lewat batas dua belas mil laut, urusannya bakal makin rumit secara hukum."

Aruna menatap ke bawah melalui jendela kaca. Wajahnya yang terkena pantulan cahaya instrumen helikopter tampak keras. "Aku tidak butuh hukum internasional malam ini, Adrian. Aku butuh Bimo."

Di dalam kapal The Obsidian, Bimo Pratama sedang menuangkan wiski ke dalam gelas kristal dengan tangan yang sedikit gemetar. Di sampingnya, tiga pria berpakaian serba hitam dengan senjata otomatis berjaga di pintu lounge mewah tersebut. Bimo merasa sudah aman. Dengan bantuan koneksi gelap ayahnya Siska yang tersisa di luar negeri, dia yakin bisa memulai hidup baru di Amerika Selatan.

"Sialan kau, Aruna," gumam Bimo sambil menenggak minumannya. "Kau pikir kau sudah menang? Aku akan kembali dan meratakan segalanya."

Tiba-tiba, suara deru helikopter terdengar sangat dekat di atas dek kapal. Lampu sorot berkekuatan tinggi tiba-tiba menyinari ruangan lounge melalui jendela besar, membuat Bimo silau dan menjatuhkan gelasnya.

"Apa itu?! Periksa!" bentak Bimo pada pengawalnya.

Di atas dek, helikopter Aruna melakukan manuver berbahaya. Raka, sang mantan tentara bayaran, sudah bersiap dengan tali fast-rope.

"Aruna, kamu tetap di sini! Ini terlalu berbahaya!" teriak Adrian.

"Tidak! Dia harus melihat wajahku saat dia tertangkap!" Aruna sudah mengenakan harness. Tanpa ragu, ia mengikuti Raka meluncur turun ke dek kapal yang bergoyang hebat dihantam gelombang.

Begitu kakinya menyentuh dek, suara tembakan mulai menyalak. Raka bergerak dengan kecepatan luar biasa, melumpuhkan dua penjaga di dek belakang dengan tembakan balasan yang presisi. Aruna berlari menunduk, jantungnya berdegup kencang, namun amarahnya memberikan keberanian yang hampir gila.

Aruna menendang pintu lounge tepat saat Bimo hendak lari menuju pintu darurat.

"Mau lari ke mana lagi, Bimo?" suara Aruna menggema, dingin dan mematikan.

Bimo terpaku. Dia menatap Aruna yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian taktis hitam, rambut yang berantakan terkena angin laut, dan mata yang berkilat penuh dendam. Bimo tertawa histeris, tawa seorang pria yang sudah kehilangan segalanya.

"Kau... kau benar-benar tidak mau melepaskanku, ya?" Bimo menarik sebuah pistol kecil dari balik jasnya.

"Lepaskan senjatamu, Bimo! Kapal ini sudah dikepung!" Raka menodongkan senapan serbu ke arah Bimo.

"Jangan tembak!" Aruna mengangkat tangannya, memberi isyarat pada Raka. Ia melangkah maju, mendekati moncong pistol Bimo. "Kau ingin membunuhku lagi? Silakan. Tapi kali ini, lakukan sambil menatap mataku. Jangan lewat tangan orang lain, jangan lewat dokter gadungan di klinik."

Bimo gemetar. Air mata kemarahan mengalir di pipinya. "Kau menghancurkan segalanya, Aruna! Bisnisku, hartaku, Siska... kau membakarnya hidup-hidup!"

"Dia yang menyalakan apinya sendiri, Bimo. Sama seperti kau yang menyalakan api di dalam hidupku tiga tahun lalu," jawab Aruna tenang. "Sekarang, berikan aku satu alasan kenapa aku tidak boleh membiarkan Raka menekan pelatuknya?"

Bimo menatap ke luar jendela, melihat lampu-lampu kapal patroli polisi air yang mulai mendekat. Dia sadar, tidak ada pelarian lagi. Dia tidak punya martabat lagi untuk dipertahankan.

"Karena... karena kalau aku mati, kau tidak akan pernah tahu di mana aku menyimpan 'hadiah' terakhir untuk Kenzo," Bimo menyeringai jahat.

Aruna tersentak. "Apa maksudmu?! Apa yang kau lakukan pada anakku?!"

Bimo tidak menjawab. Dia justru mengarahkan pistolnya ke pelipisnya sendiri. "Selamat malam, Aruna. Selamat dihantui seumur hidup."

DOR!

Bersambung...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Bab 22: Rahasia di Balik Brankas Terlarang.

...Author Note:...

...Bimo bunuh diri?! Atau itu cuma trik? Dan apa maksud 'hadiah' terakhir buat Kenzo? Aruna nggak bisa tenang meskipun musuh utamanya sudah tumbang. ...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!