Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
Malam di asrama Universitas Los Angeles seharusnya menjadi waktu yang tenang bagi seorang mahasiswi baru untuk mengumpulkan energi demi hari pertamanya.
Namun, bagi Audrey Hepburn, ketenangan itu hanyalah fatamorgana.
Jarum jam di atas meja belajarnya menunjukkan pukul dua dini hari.
Audrey baru saja berhasil hanyut ke dalam mimpi tentang perpustakaan kampus yang megah ketika sebuah frekuensi suara rendah mulai menyusup ke dalam alam bawah sadarnya.
Awalnya, itu terdengar seperti suara angin yang bersiul di celah jendela, namun semakin lama, suaranya berubah menjadi ritme yang konstan dan berat.
Criet... criet...
Suara decitan ranjang dari arah tempat tidur Vivian di seberang ruangan mulai terdengar beraturan.
Audrey mengernyit dalam tidurnya, berusaha menarik selimut lebih tinggi hingga menutupi telinganya. Namun, dinding asrama yang tipis dan kesunyian malam membuat suara itu terdengar sangat nyata.
"Ahh... lagi... pelan-pelan, nanti dia terbangun..." suara Vivian terdengar parau, terengah-engah di antara napas yang memburu.
"Dia tidur seperti orang mati, Baby," sahut sebuah suara pria yang dalam, mengirimkan getaran aneh ke seluruh ruangan.
Audrey membuka matanya lebar-lebar. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa canggung yang luar biasa.
Sebagai gadis sembilan belas tahun yang hidup di era modern, ia tentu paham apa yang sedang terjadi. Vivian sedang bercinta. Hanya beberapa meter darinya, dipisahkan oleh rak buku tipis yang ia susun tadi sore.
Bagaimana mungkin mereka melakukan ini di sini? Gila, ucapnya dalam hati. Audrey tetap berbaring memunggungi mereka, tubuhnya kaku seperti patung. Ia tidak berani bergerak, takut jika sedikit saja ia bergeser, mereka akan tahu bahwa ia terjaga dan suasana akan menjadi sepuluh kali lebih aneh.
"Lebih cepat... ahh, itu nikmat sekali," rintih Vivian lagi, seolah-olah ia sudah melupakan keberadaan Audrey di kamar itu.
Suara sentakan kulit yang bertemu terdengar semakin intens. Audrey memejamkan mata sekuat tenaga, mencoba membayangkan rumus-rumus matematika atau kutipan hukum perdata untuk mengalihkan pikirannya. Namun, percakapan mereka berikutnya justru membuat telinganya semakin panas.
"Apa dia benar-benar gadis perawan?" suara pria itu bertanya di sela-sela aktivitasnya.
Nadanya penuh rasa ingin tahu, seolah-olah sedang membicarakan sebuah artefak langka.
"Ya... dia bahkan tidak minum alkohol tadi," jawab Vivian dengan napas yang masih terputus-putus. "Jangan pikirkan dia... fokus padaku sekarang."
Audrey merasa wajahnya terbakar. Ia merasa seperti objek eksperimen yang sedang dibicarakan di laboratorium.
Rasa malu dan kesal bercampur menjadi satu. Ingin rasanya ia bangun dan berteriak agar mereka mencari hotel, namun ia ingat kata-katanya pada ibunya tadi siang: 'Aku bisa menjaga diri dan mengatasi pergaulan pertemananku.'
Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha menulikan pendengarannya. Ini adalah bagian dari "kehidupan bebas" yang ia lihat di film-film tentang mahasiswa Los Angeles.
Ia harus membiasakan diri jika ingin bertahan hidup tanpa harus merepotkan ibunya dengan urusan pindah kamar. Perlahan, kelelahan fisik karena perjalanan dan ketegangan pesta tadi malam akhirnya mengalahkan kebisingan itu. Audrey pun jatuh tertidur dalam keadaan telinga tertutup bantal.
Sinar matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah gorden, menyinari debu-debu yang menari di udara. Audrey terbangun dengan kepala yang sedikit berat. Ia menoleh ke arah ranjang Vivian; tempat tidur itu sudah kosong, namun berantakan dengan seprai yang terlepas di sudut-sudutnya.
Tanpa membuang waktu, Audrey menyambar handuknya. Ia harus segera mandi agar tidak terlambat mengikuti orientasi mahasiswa baru.
Dengan langkah terburu-buru, ia membuka pintu kamar mandi kecil yang ada di dalam kamar mereka.
Langkah Audrey terhenti seketika. Matanya terbelalak menatap lantai keramik yang biasanya bersih.
Di sana, di dekat tempat sampah yang meluap, terdapat dua bekas pengaman—yang sudah terpakai. Isinya yang keruh tampak tumpah dan berserakan di atas ubin, kontras dengan kebersihan yang selalu Audrey jaga di rumahnya.
Ia terpaku selama beberapa detik. Ini adalah pemandangan yang benar-benar baru baginya. Ia tahu benda itu ada, ia tahu fungsinya, tapi melihat "sisa-sisa" dari aktivitas semalam secara langsung membuat perutnya sedikit mual.
"Sorry, Audrey! Aku belum sempat membersihkan kamar mandi kita!" teriak Vivian dari arah luar.
Ceklek.
Audrey membuka pintu kamar mandi dengan kasar. Ia berdiri di sana dengan wajah yang tidak bisa didefinisikan antara geli dan jijik.
Vivian sedang duduk di depan meja riasnya, mencoba memulas eyeliner seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
"Kau benar-benar gila, Vivian," ucap Audrey, suaranya sedikit meninggi namun tetap ada nada bercanda di dalamnya. "Aku mendengar suaramu bercinta semalam. Benar-benar setiap detailnya."
Vivian berhenti memoles matanya dan menoleh, menyeringai lebar tanpa rasa malu sedikit pun. "Oh ya? Kuharap itu tidak merusak mimpi indahmu."
"Dan lihat itu!" Audrey menunjuk ke arah lantai kamar mandi dengan dagunya. "Benda itu... isinya berserakan. Itu benar-benar menodai mataku yang polos, Vi. Aku harus mencuci mataku dengan air suci setelah ini."
Vivian tertawa terbahak-bahak, suara tawanya yang serak memenuhi ruangan. Ia bangkit dan berjalan mendekati Audrey, lalu menepuk bahu gadis itu dengan santai.
"Dengar, anak polos," ucap Vivian sambil terkekeh. "Kau akan melupakan segala kejijikan itu saat kau mencoba bercinta dengan Sander nanti. Kau akan mengerti mengapa aku tidak peduli soal kebersihan lantai di jam dua pagi."
Audrey memutar bola matanya, melipat tangan di dada. "Sander tidak seperti itu. Kami punya batasan."
Vivian justru menatapnya dengan tatapan yang lebih dalam, seolah-olah ia sedang melihat Audrey dari sudut pandang yang berbeda. Ia menunjuk ke arah kamar mandi lagi.
"Lihat itu baik-baik, Audrey. Itu adalah cinta. Berantakan, cair, dan tidak teratur. Itulah hidup yang sebenarnya, bukan hanya angka-angka di buku pelajaranmu."
"Omong kosong," jawab Audrey malas, meski dalam hati ia sedikit terkejut dengan filosofi instan Vivian. "Itu bukan cinta, itu hanya hormon yang sedang mengamuk."
Vivian hanya tertawa lagi, kembali ke meja riasnya dengan santai. Audrey mendengus, namun anehnya, ia tidak merasa marah. Ia merasa ada ikatan aneh yang mulai terjalin di antara mereka.
Meski mereka seperti bumi dan langit, Audrey merasa Vivian adalah orang yang jujur. Ia lebih suka menghadapi kejujuran yang "kotor" seperti ini daripada kepura-puraan yang manis.
Sebenarnya, Audrey cukup terbiasa dengan lingkungan yang keras di pinggiran kotanya, namun ini pertama kalinya ia menjadi penonton baris terdepan dalam drama romansa liar orang lain.
Sambil menyalakan keran air dan mulai membersihkan lantai dengan sikat, Audrey bergumam dalam hati bahwa ia mungkin akan belajar jauh lebih banyak di asrama ini daripada di ruang kelas nanti.
Setelah membersihkan "cairan cinta" itu—yang menurutnya lebih mirip kekacauan biologis—Audrey segera mandi.
Air dingin yang mengguyur tubuhnya membantu menjernihkan pikirannya. Ia harus fokus. Hari ini adalah awal dari pembuktiannya.
Ibunya tidak ingin mendengar kata kegagalan, dan Audrey Hepburn tidak akan membiarkan decitan ranjang semalam mengganggu langkahnya menuju gelar sarjana hukum.
"Drey! Cepat sedikit! Kita bisa sarapan di kantin kalau kau tidak dandan selama satu jam!" teriak Vivian dari luar.
"Aku sedang mandi, bukan sedang bertapa!" sahut Audrey dari dalam.
Ia tersenyum sendiri. Di balik semua kegilaan Vivian, setidaknya ia punya teman yang akan memastikan ia tidak melewati hari pertamanya sendirian.
Los Angeles mungkin liar, tapi Audrey mulai merasa bahwa ia memiliki sedikit keberanian untuk menjalaninya.
Setelah selesai berpakaian rapi dengan kemeja putih bersih dan rok selutut yang sopan—sangat kontras dengan Vivian yang memakai tank top ketat dan jaket kulit—Audrey menyandang tasnya.
"Siap?" tanya Vivian sambil meraih kunci kamar.
"Siap," jawab Audrey mantap.
Mereka melangkah keluar dari kamar 302, meninggalkan sisa-sisa kegilaan semalam di belakang mereka, siap menghadapi dunia akademis yang menanti di depan mata.
Namun, di sudut pikirannya, Audrey masih teringat pada tatapan dingin Kensington Valerio di penthouse itu.
Sesuatu memberitahunya bahwa perkenalannya dengan dunia Vivian hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭