Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 24 - MHB
Pagi itu, atmosfer di apartemen lantai 28 terasa seperti medan magnet yang beradu kutub. Kehangatan di atap gedung tua semalam menguap begitu saja, digantikan oleh kekakuan yang menyesakkan dada. Pemicunya sederhana, namun fatal bagi sebuah ego pria: sebuah notifikasi pesan yang muncul di layar ponsel Maya saat mereka sedang sarapan.
"Maya, data proyek yang kamu minta sudah aku kirim ke email pribadimu. Kita perlu bahas ini secara langsung nanti malam. Adrian."
Arka, yang saat itu sedang menuangkan sereal, tidak sengaja melihat nama itu. Adrian. Nama yang selalu berhasil memancing memori tentang pria angkuh yang pernah merendahkan Maya—dan merendahkan Arka juga.
Maya segera membalik ponselnya, namun ia tahu ia sudah terlambat. Ia bisa merasakan perubahan suhu di ruangan itu seketika. "Arka, ini soal proyek rebranding anak perusahaan Megantara. Adrian sekarang jadi konsultan di sana. Aku terpaksa berhubungan dengannya karena instruksi langsung dari Papa," jelas Maya cepat, suaranya sedikit bergetar.
Arka tidak menjawab. Ia perlahan meletakkan kotak sereal itu kembali ke meja. Tidak ada bantingan, tidak ada suara keras. Hanya suara denting sendok yang diletakkan di atas piring porselen dengan sangat hati-hati.
Maya menanti ledakan. Ia menanti Arka akan mengoceh, menyindir, atau setidaknya menunjukkan kemarahan yang biasa ditunjukkan anak muda. Namun, Arka justru melakukan sesuatu yang jauh lebih menyiksa: ia diam.
Arka berdiri, mengambil piringnya yang bahkan belum sempat ia makan, dan membawanya ke tempat cuci piring. Ia mencucinya dengan gerakan yang sangat mekanis, membilasnya hingga bersih, lalu mengelap tangannya. Seluruh gerakan itu dilakukan dalam kesunyian yang absolut.
"Arka, dengar dulu. Aku tidak punya pilihan. Kontrak itu sudah berjalan sebelum aku tahu Adrian terlibat," Maya berdiri, mencoba mendekati Arka.
Arka melewatinya begitu saja. Ia tidak menatap mata Maya. Ia berjalan menuju ruang tengah, mengambil tas ranselnya, dan mulai mengenakan jaket.
"Arka! Bicara sesuatu! Marah saja kalau kamu mau!" seru Maya, frustrasi karena merasa diabaikan.
Arka berhenti sejenak di depan pintu. Ia menoleh, namun pandangannya kosong, seolah-olah ia sedang menatap dinding di belakang Maya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menarik napas panjang, lalu membuka pintu dan keluar dengan suara klik yang pelan.
Sepanjang hari di kantor, Maya tidak bisa fokus. Rasa bersalah dan kecemasan menggerogoti pikirannya. Ia menyadari satu hal yang menakutkan: ia lebih suka Arka yang cerewet, Arka yang jahil, bahkan Arka yang menyebalkan, daripada Arka yang membisu seperti ini.
Diamnya Arka terasa seperti pengunduran diri secara emosional. Seolah-olah Arka baru saja menarik kembali semua perhatian dan kasih sayang yang selama ini ia berikan.
Sore harinya, Maya pulang lebih awal. Ia sengaja membeli bahan makanan untuk memasak makan malam—sebuah upaya perdamaian. Namun, saat Arka pulang, suasana tidak berubah.
Arka masuk ke apartemen, meletakkan kunci di meja, dan berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh ke arah meja makan yang sudah penuh dengan masakan favoritnya.
"Aku sudah masak, Arka. Ayo makan," ajak Maya dengan suara yang diusahakan tetap lembut.
Arka berhenti di depan pintu kamarnya. Ia tidak berbalik.
"Hanya sebatas pekerjaan, Arka. Sumpah. Aku bahkan tidak membalas pesannya jika tidak perlu," Maya mencoba menjelaskan lagi, langkahnya mendekat ke arah punggung Arka. "Aku tahu kamu merasa tidak dihargai, tapi tolong... jangan seperti ini."
Arka akhirnya berbalik. Wajahnya datar, namun matanya yang biasanya hangat kini tampak seperti es yang membeku.
"Pekerjaan," ucap Arka lirih. Itu adalah kata pertama yang ia ucapkan sejak pagi. "Selalu itu alasannya, kan? Karena pernikahan ini juga 'pekerjaan' buatmu, Maya."
"Bukan begitu—"
"Aku tidak marah soal Adrian," potong Arka dengan suara yang sangat tenang namun menusuk. "Aku hanya sadar kalau di matamu, aku masih tetap orang asing yang masuk ke hidupmu lewat jalur transaksi. Jadi, apa hakku untuk melarangmu berhubungan dengan siapa pun?"
"Arka, kamu suamiku!"
Arka tersenyum pahit. "Hanya di atas kertas, kan? Itu yang selalu kamu tekankan di awal. Sekarang, aku hanya ingin istirahat. Tolong jangan ganggu aku."
Arka masuk ke kamarnya dan menutup pintu. Suara kunci yang diputar dari dalam terdengar seperti vonis mati bagi Maya.
Maya berdiri mematung di depan pintu kamar Arka. Ia menyentuh kayu pintu itu dengan ujung jarinya. Gelang emas putih pemberian Arka semalam masih melingkar di pergelangan tangannya, berkilau di bawah lampu koridor, namun kini terasa sangat berat.
Ia baru menyadari bahwa diamnya Arka jauh lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. Arka tidak sedang menyerangnya; Arka sedang membangun benteng untuk melindungi dirinya sendiri dari rasa sakit hati. Dan Maya sadar, ia baru saja meruntuhkan kepercayaan yang baru saja mulai tumbuh subur di antara mereka.
Kenapa aku tidak menolak saja proyek itu? Kenapa aku membiarkan Adrian masuk lagi ke dalam radarku? tanya Maya pada dirinya sendiri.
Sepanjang malam, Maya tidak bisa tidur. Ia duduk di sofa, menatap pintu kamar Arka yang tetap tertutup rapat. Tidak ada suara ketikan laptop, tidak ada suara musik, tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam sana.
Maya menyadari bahwa ia telah terbiasa dengan kehadiran Arka. Ia menikmati bagaimana Arka mengganggunya saat sarapan, bagaimana Arka melindunginya di kantor, dan bagaimana Arka memperhatikannya di atap gedung tua itu. Tanpa suara Arka, apartemen ini terasa sangat luas, sangat dingin, dan sangat sepi.
Ia menyadari satu hal yang selama ini ia sangkal: Arka bukan lagi sekadar rahasia yang harus ia sembunyikan. Arka telah menjadi bagian dari jiwanya. Dan melihat Arka menarik diri darinya terasa lebih menyakitkan daripada kehilangan posisi manajerial di kantor.
Pukul tiga pagi, Maya menulis sebuah pesan di atas secarik kertas dan menyelipkannya di bawah pintu kamar Arka.
"Aku akan mengundurkan diri dari proyek itu besok pagi. Aku tidak peduli apa kata Papa. Aku tidak mau kehilangan suamiku hanya karena pria dari masa lalu yang tidak ada artinya. Maafkan aku, Arka. Tolong... jangan diam lagi."
Maya kembali ke kamarnya dengan perasaan hancur. Di balik pintunya, Arka sebenarnya sedang duduk bersandar di balik pintu yang sama. Ia mengambil kertas itu, membacanya di bawah cahaya lampu ponsel.
Arka menghela napas panjang. Ia menutup matanya, memegang kertas itu di dadanya. Ia tidak membenci Maya. Ia hanya sedang merasa kecil. Melihat betapa mudahnya Adrian menghubungi Maya membuatnya sadar bahwa ia masih memiliki jalan panjang untuk benar-benar menjadi satu-satunya pria yang diandalkan oleh istrinya.
Bersambung....
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡