Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 23 : RAHASIA DI BALIK CAHAYA PARIS
Pagi di Jakarta yang biasanya dihiasi dengan kesibukan Anya menyiapkan sketsa taman, mendadak berubah menjadi mencekam. Di atas meja riasnya yang terbuat dari kayu jati putih, tergeletak sebuah amplop cokelat tanpa identitas pengirim. Di dalamnya terdapat sebuah flashdisk perak dan selembar foto lama yang tampak sedikit menguning di bagian tepinya.
Foto itu memperlihatkan Devan sedang memeluk Valerie di sebuah balkon apartemen bergaya klasik dengan latar belakang Menara Eiffel yang berkelap-kelip indah. Di sana, Devan tidak tampak dingin. Ia tampak... bahagia. Di balik foto itu tertulis tulisan tangan yang rapi: "Kenangan yang takkan pernah mati. Paris, Musim Dingin 2022. Aku masih menunggumu kembali ke rumah kita yang sebenarnya."
Jantung Anya seolah merosot ke lambung. Tahun 2022 adalah masa di mana Devan melakukan ekspansi besar-besaran Arkatama Shipping Lines ke Eropa. Saat itu, Devan beralasan bahwa ia harus bekerja siang dan malam untuk menegosiasikan jalur logistik baru di pelabuhan Marseille dan Rotterdam.
Dengan tangan gemetar, Anya memasukkan flashdisk itu ke laptopnya. Sebuah rekaman suara terputar secara otomatis.
"...Aku tahu ini sulit, Valerie. Tapi keberadaanku di sini bersamamu adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup di tengah tekanan Papa. Aku tidak peduli dengan perusahaan itu, aku hanya ingin bersamamu di Paris selamanya."
Suara itu... itu adalah suara bariton Devan yang khas. Suara yang biasanya memberikan Anya rasa aman, kini justru terasa seperti pisau yang mengiris-iris harga dirinya.
Anya menutup laptopnya dengan bunyi debuman yang keras. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah, membasahi pipinya yang memucat. Ia merasa seperti badut yang baru saja menyelesaikan pertunjukan komedi di atas panggung yang bernama pernikahan.
"Jadi selama ini aku hanya pelarian? Hanya alat untuk menenangkan Papa Arkatama sementara hatinya terkunci di Paris?" gumam Anya pedih.
Tepat saat itu, Devan masuk ke kamar. Ia baru saja selesai melakukan rutinitas olahraga paginya—berlari di atas treadmill selama satu jam. Keringat masih mengucur di lehernya yang kokoh, dan ia sedang menyampirkan handuk di bahunya.
"Anya? Kenapa kamu belum siap-siap? Kita kan ada janji sarapan dengan—" Kalimat Devan terhenti saat ia melihat foto di atas meja dan wajah Anya yang hancur.
"Apa ini, Devan?" tanya Anya, suaranya parau dan bergetar.
Devan melangkah mendekat, matanya membelalak melihat foto itu. "Anya, dengarkan aku dulu. Itu... itu masa lalu. Itu saat aku masih—"
"Masih apa?! Masih mencintainya sampai kamu ingin meninggalkan perusahaan demi dia?" potong Anya dengan nada tinggi. "Kenapa kamu tidak jujur dari awal? Kenapa kamu membiarkan aku jatuh cinta padamu jika kamu masih menyimpan 'rumah yang sebenarnya' di Paris?!"
Anya mulai bergerak kalap. Ia mengambil koper besarnya dari atas lemari dan mulai melempar baju-bajunya ke dalam dengan sembarangan. Emosinya yang biasanya terkontrol sebagai arsitek yang teliti, kini meledak menjadi kekacauan total.
"Aku pergi, Devan. Kontrak atau bukan, aku tidak sudi menjadi bayang-bayang wanita lain!"
Suasana haru dan tegang itu mendadak pecah karena suara gaduh dari tangga. Mama Sarah (Nyonya Sarah Arkatama) masuk ke kamar tanpa mengetuk, masih mengenakan daster sutra mewahnya dan memegang sebuah sapu lidi kecil yang biasa ia gunakan untuk membersihkan debu di rak pajangan.
"Aduh! Suara apa ini?! Kayak ada gempa bumi di lantai dua!" seru Mama Sarah.
Ia melihat Anya yang menangis dan Devan yang tampak pucat pasi. Begitu mata Mama Sarah menangkap foto Valerie di Menara Eiffel, wajahnya yang biasanya ceria langsung berubah menjadi sangar.
"DEVAN ARKATAMA! Kenapa foto ular kobra ini ada di kamar kalian?!" teriak Mama Sarah. Tanpa aba-aba, ia mengayunkan sapu lidinya ke arah lengan Devan.
Plak! Plak!
"Aduh! Ma! Sakit, Ma! Ampun!" Devan mencoba menghindar, berlari memutari ranjang pengantin mereka yang besar.
"Sakit? Hati menantu Mama lebih sakit, tahu!" Mama Sarah terus mengejar Devan seperti kucing mengejar tikus. "Kamu simpan barang haram ini? Kamu mau balik sama model cungkring yang ninggalin kamu demi karir itu, hah?!"
"Ma! Berhenti dulu! Anya, dengerin!" Devan akhirnya berlindung di balik lemari pakaian. "Rekaman dan foto itu... itu jebakan! Kejadian di Paris tahun 2022 itu tidak seperti itu!"
Anya menghentikan gerakannya memasukkan baju, menatap Devan dengan tatapan tajam. "Lalu apa? Suara itu jelas suaramu, Devan!"
"Itu adalah bagian dari naskah film pendek!" teriak Devan dengan wajah merah padam karena malu. "Tahun itu, Valerie memaksa aku membantunya ikut audisi film di Paris. Dia butuh lawan main untuk latihan dialog, dan aku—karena dulu aku terlalu bucin dan bodoh—setuju untuk membacakan naskah itu bersamanya. Dia diam-diam merekamnya!"
Hening sejenak. Mama Sarah menurunkan sapu lidinya. Anya mengerutkan kening. "Naskah film?"
"Iya! Judulnya 'Love in the City of Light'. Aku bahkan masih punya naskah aslinya di gudang kalau kamu mau lihat! Dan foto itu... itu diambil saat kami sedang menunggu giliran audisinya di kafe bawah apartemen temannya. Aku memeluknya karena dia sedang menangis ketakutan tidak lolos audisi. Demi Tuhan, Anya, setelah dia meninggalkanku tiga hari sebelum tunangan, aku sudah membuang semua tentang dia ke tempat sampah!"
Mama Sarah mendekati Devan dan menjitak kepalanya pelan. "Lagian kamu bego banget sih, Devan! Ngapain mau jadi lawan main akting? Muka kaku kayak papan penggilesan begini mana cocok jadi aktor!"
"Ya namanya juga dulu khilaf, Ma!" keluh Devan sambil mengusap lengannya yang merah-merah karena sabetan sapu Mama Sarah.
Anya terduduk di pinggir ranjang, merasa sedikit bodoh sekaligus lega yang luar biasa. Ia melihat Devan yang tampak sangat konyol dengan rambut berantakan dan bekas sabetan sapu lidi.
"Jadi... kamu tidak mencintainya lagi?" tanya Anya lirih.
Devan mendekat perlahan, berlutut di hadapan Anya, mengabaikan Mama Sarah yang masih berdiri di pojok sambil mengawasi. "Anya, setiap hari aku bekerja mengurus ribuan ton kargo di pelabuhan. Aku terbiasa menghitung risiko dan memastikan keamanan setiap barang yang dikirim. Tapi dalam hidupku, satu-satunya 'barang' berharga yang tidak ingin aku kirim ke mana pun adalah kamu. Kamu adalah pelabuhan terakhirku, bukan Paris."
Mama Sarah berdeham keras. "Ehem! Ya sudah, kalau sudah jelas, Mama mau turun dulu. Mau lanjut masak soto betawi buat Papa. Tapi inget ya Devan, kalau sampai ada foto mantan lain yang muncul, Mama nggak pakai sapu lidi lagi, tapi pakai sapu ijuk!"
Setelah Mama Sarah keluar, Devan menarik Anya ke dalam pelukannya. Rasa cemburu yang membakar tadi perlahan mendingin.
Devan pun bersiap berangkat ke kantor. Sebagai CEO Arkatama Shipping Lines, pekerjaannya menuntut ketelitian luar biasa. Ia harus memantau rute kapal kontainer yang melewati Samudera Hindia, memastikan jadwal bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok tepat waktu, hingga bernegosiasi dengan birokrasi bea cukai yang rumit. Pekerjaan yang penuh tekanan angka dan logika ini membuatnya sangat menghargai ketenangan yang diberikan Anya.
Sementara Anya, ia harus kembali ke studionya. Ia sedang merancang sebuah taman komunal untuk sebuah panti jompo. Ia harus memilih jenis rumput yang empuk agar tidak licin, pohon peneduh yang tidak memiliki akar perusak pondasi, hingga tata letak kursi taman yang memudahkan para lanskap berinteraksi. Tangannya yang tadinya gemetar karena cemburu, kini kembali lihai menggoreskan pensil di atas kertas kalkir.
Namun, di sebuah hotel mewah di Jakarta Pusat, Valerie sedang menatap layar ponselnya dengan amarah. "Sapu lidi? Mereka malah makin mesra? Oke... kalau cara halus tidak bisa, kita pakai cara yang paling kotor."
Valerie mengambil sebuah amplop lain yang berisi data rahasia tentang kerugian perusahaan Arkatama yang selama ini ditutupi Devan dari ayahnya. Ia tersenyum licik. "Mari kita lihat seberapa kuat cinta mereka saat kebangkrutan mengancam dinasti Arkatama."