Xiao Chen memiliki Tulang Patah Surga—kutukan yang membuatnya tidak mampu menyimpan Qi, dihina sebagai sampah Sekte Langit Pedang. Ketika dibuang ke jurang penuh mayat oleh tunangan yang menghianatinya, ia justru menemukan rahasia kuno: retakan di tulangnya adalah wadah kekuatan yang bahkan ditakuti para Dewa. Di dunia di mana Kaisar Langit telah mati dan Hukum Dao runtuh, Xiao Chen memulai jalan kultivasi terlarang yang akan mengguncang Tahta Surga. Ia tidak naik untuk berlutut pada takdir... ia naik untuk menghapus Langit itu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Perpisahan di Bawah Langit yang Sama
Zhao Ling'er masuk ke Aula Utama dengan langkah yang ia usahakan seteguh mungkin. Tapi begitu matanya bertemu dengan Xiao Chen, langkahnya terhenti.
Ia hampir tidak mengenalinya.
Pemuda yang berdiri di hadapannya bukanlah pelayan kurus dengan bahu membungkuk yang dulu ia tinggalkan. Xiao Chen kini berdiri tegak, mengenakan jubah hitam yang memeluk tubuhnya dengan wibawa aneh. Ada cahaya redup keemasan di balik kain tipis di dadanya—simbol retak yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dan matanya... matanya yang dulu selalu menunduk, kini menatap lurus ke arahnya. Tenang. Tanpa kebencian. Tanpa cinta. Hanya ketenangan yang entah kenapa lebih menyakitkan daripada amarah.
"Ling'er," suara Xiao Chen memecah keheningan.
Suara itu sama. Tapi ada sesuatu di dalamnya yang berbeda. Bukan lagi suara seseorang yang memohon untuk dicintai. Melainkan suara seseorang yang sudah tidak membutuhkan apa pun dari siapa pun.
Zhao Ling'er menelan ludah. "Xiao Chen... kau... kau terlihat berbeda."
"Aku memang berbeda."
Para tetua—Shen Wuji, Bai Minghe, Han Yue, dan Tetua Ma—saling pandang. Shen Wuji akhirnya bangkit dari kursinya.
"Kita tinggalkan mereka," katanya pelan. "Ini urusan mereka."
Bai Minghe ingin memprotes, tapi satu tatapan dari Shen Wuji membuatnya tutup mulut. Keempat tetua itu keluar dari Aula Utama melalui pintu samping, meninggalkan Xiao Chen dan Zhao Ling'er sendirian di bawah langit-langit tinggi yang dipenuhi lukisan para leluhur sekte.
Pintu besar di belakang mereka tertutup pelan.
Keheningan menggantung.
Xiao Chen memecahnya lebih dulu. "Aku tidak datang untuk memintamu kembali."
Zhao Ling'er tersentak. Kata-kata itu... bukan yang ia duga.
"Aku datang karena ada yang ingin kusampaikan," lanjut Xiao Chen. "Sesuatu yang tidak sempat kukatakan pagi itu, sebelum aku dilempar ke jurang."
Ia melangkah mendekat. Zhao Ling'er ingin mundur, tapi kakinya terpaku di lantai.
"Saat itu, saat kau memutuskan pertunangan kita di depan semua orang, aku bertanya 'mengapa'. Kau tidak menjawab. Kau hanya diam. Dan aku membawa pertanyaan itu ke dasar jurang."
Zhao Ling'er merasakan matanya memanas. "Aku... aku tidak tahu harus menjawab apa."
"Aku tahu." Xiao Chen berhenti dua langkah di hadapannya. "Di dasar jurang, saat aku hampir mati, aku memikirkan banyak hal. Tentang kita. Tentang kakekmu. Tentang kenapa kau melakukan itu." Ia menatap mata Zhao Ling'er. "Dan aku mengerti. Kau takut."
"Takut?" suara Zhao Ling'er bergetar.
"Kau takut terjebak dengan seseorang yang tidak bisa melindungimu. Kau takut posisimu di sekte goyah. Kau takut menjadi bahan tertawaan karena bertunangan dengan pelayan sampah." Xiao Chen mengucapkannya tanpa nada menuduh. Hanya seperti menyebutkan fakta. "Aku tidak menyalahkanmu, Ling'er. Dunia kultivasi itu kejam. Yang lemah tersingkir. Kau hanya melakukan apa yang menurutmu perlu untuk bertahan."
Air mata akhirnya jatuh dari mata Zhao Ling'er. "Tapi aku salah... aku salah, Xiao Chen. Aku seharusnya tidak melakukan itu. Aku seharusnya membelamu, bukan ikut menginjakmu. Kakek... Kakek berpesan padaku untuk menjagamu. Tapi aku mengkhianati wasiatnya."
Ia terisak. Tangannya terangkat, ingin menyentuh lengan Xiao Chen, tapi ragu-ragu.
Xiao Chen menatap tangan itu. Ia ingat, dulu, saat mereka masih anak-anak, Zhao Ling'er pernah memegang tangannya saat mereka tersesat di hutan belakang sekte. Gadis kecil itu bilang, "Jangan takut, Xiao Chen. Aku akan lindungi kau."
Itu sudah lama sekali.
"Ling'er," katanya pelan. "Aku sudah tidak membencimu."
Zhao Ling'er mendongak, matanya merah.
"Kebencian itu berat. Aku sudah membawa terlalu banyak beban di tulang-tulangku. Aku tidak perlu menambahnya dengan kebencian padamu." Xiao Chen menghela napas. "Tapi aku juga tidak bisa kembali seperti dulu. Xiao Chen yang mencintaimu... dia sudah mati di dasar jurang. Yang berdiri di hadapanmu sekarang adalah seseorang yang harus melangkah ke jalan yang berbeda."
"Aku... aku bisa ikut denganmu." Kata-kata itu keluar sebelum Zhao Ling'er bisa menahannya. "Aku bisa meninggalkan sekte. Aku bisa—"
"Tidak." Xiao Chen menggeleng. "Jalanmu di sini. Bersama Wei Tianxing, bersama sekte ini. Itu pilihanmu, dan kau harus menjalaninya. Aku tidak akan membawamu ke dalam jalanku. Jalanku penuh dengan hal-hal yang bahkan aku sendiri belum siap menghadapinya."
Ia merogoh ke balik jubahnya, mengeluarkan sesuatu. Sebuah liontin giok kecil—berbentuk sepasang burung yang terbang berdampingan.
Zhao Ling'er tercekat. "Itu... liontin kakek. Dari mana kau—"
"Kakekmu memberikannya padaku sebelum dia meninggal. Dia bilang, kalau suatu hari kita berpisah, aku harus menyimpannya sebagai kenangan." Xiao Chen meletakkan liontin itu di telapak tangan Zhao Ling'er. "Tapi kenangan itu milikmu, bukan milikku. Aku tidak butuh liontin untuk mengingat kebaikan kakekmu. Simpanlah. Itu hakmu."
Zhao Ling'er menggenggam liontin itu erat-erat. Air matanya jatuh di atas giok hijau, sama seperti malam-malam sebelumnya saat ia menangis sendirian di balkon kamarnya.
"Xiao Chen... maafkan aku."
"Aku sudah memaafkanmu. Sejak aku memutuskan untuk datang ke sini." Xiao Chen mundur selangkah. "Hiduplah dengan baik, Ling'er. Jangan biarkan pengorbananmu sia-sia. Jadilah kultivator kuat seperti yang kau impikan. Tapi ingatlah... kekuatan tanpa hati hanyalah kehampaan. Kakekmu mengajarkan itu padaku. Sekarang aku menyampaikannya padamu."
Ia berbalik, melangkah menuju pintu.
"Xiao Chen!" panggil Zhao Ling'er. "Ke mana kau akan pergi?"
Xiao Chen berhenti, tidak menoleh. "Ke tempat di mana aku bisa menjadi cukup kuat untuk menghadapi apa yang akan datang. Surga mengawasi, Ling'er. Dan aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan dunia ini seperti mereka menghancurkan ras-ku."
"Ras-mu?"
"Aku adalah pewaris Ras Dewa Patah. Mungkin suatu hari nanti, kau akan mendengar ceritanya. Atau mungkin tidak. Tapi apa pun yang terjadi... ingatlah bahwa aku tidak pernah membencimu."
Pintu besar Aula Utama terbuka. Xiao Chen melangkah keluar, meninggalkan Zhao Ling'er yang berdiri sendirian di tengah aula, menggenggam liontin giok di dadanya, air mata mengalir tanpa suara.
Di luar, Hui bangkit dari tempatnya berbaring. Serigala hitam itu menatap Xiao Chen, lalu menoleh ke arah aula, seolah bisa merasakan kesedihan di dalamnya.
"Ayo, Hui," kata Xiao Chen. "Perjalanan kita masih panjang."
Mereka berjalan menyusuri halaman utama. Para murid yang berkumpul menyingkir, memberi jalan. Tidak ada yang berani bersuara. Bahkan Wei Tianxing, yang kini sudah berdiri di samping gerbang dengan pedangnya yang sudah diambil kembali, hanya menatap dengan mata kosong.
Di balkon Aula Timur, Shen Wuji memperhatikan kepergian Xiao Chen. Di sampingnya, Han Yue mengipas perlahan.
"Kau membiarkannya pergi," kata Han Yue.
"Ya."
"Padahal kau bisa membunuhnya saat dia di dalam."
Shen Wuji diam sejenak. "Dia tidak berbohong. Tentang Surga. Tentang Ras Dewa Patah. Jika kita membunuhnya, kita hanya akan menarik perhatian lebih cepat." Ia menatap langit yang mulai berawan. "Biarkan dia pergi. Biarkan dia menjadi masalah Surga. Bukan masalah kita."
Han Yue tidak menjawab. Ia hanya terus mengipas, menatap sosok berjubah hitam yang semakin mengecil di kejauhan.
---
Xiao Chen berjalan keluar dari gerbang Sekte Langit Pedang. Kali ini, ia tidak menoleh ke belakang.
Di langit di atas, awan-awan mulai berkumpul. Bukan awan hujan biasa. Awan ini lebih gelap, lebih berat, dan di dalamnya, ada kilatan cahaya yang bukan petir.
"Mereka mulai mengawasi," suara Yue Que di benaknya.
"Aku tahu."
"Perjalananmu baru saja dimulai, Xiao Chen. Dari sini, semuanya akan semakin sulit."
Xiao Chen menatap jalan panjang di hadapannya. Jalan yang akan membawanya keluar dari Benua Timur Liar, menuju tempat-tempat yang belum pernah ia lihat, menuju pertempuran-pertempuran yang belum pernah ia bayangkan.
"Aku tidak takut," katanya. "Aku sudah mati sekali. Kematian kedua tidak akan lebih buruk."
Hui melolong pelan, seolah setuju.
Dan di bawah langit yang mulai menggelap, Xiao Chen melangkah maju.
Menuju takdir yang bahkan Surga sendiri tidak bisa prediksi.