NovelToon NovelToon
Legenda Naga Pemakan Langit

Legenda Naga Pemakan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.

Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.

Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.

Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gurun Tulang Abadi

Sensasi ditarik melalui celah ruang tidak seperti jatuh dari tempat tinggi. Rasanya seperti tubuhmu dilemparkan ke dalam batu gilingan raksasa yang dipenuhi ribuan bilah tak kasat mata, sementara ruang dan waktu merobek kewarasanmu dari segala arah.

Bagi manusia fana, melewati badai ruang tanpa perlindungan pusaka tingkat tinggi adalah kematian mutlak.

BRAAAK!

Sebuah dentuman keras memecah keheningan yang mati. Sesosok tubuh menghantam tanah dengan kecepatan luar biasa, menciptakan kawah sedalam dua tombak dan menerbangkan debu putih ke udara.

Debu putih itu perlahan turun, menutupi jubah abu-abu yang kini compang-camping berlumuran darah. Chu Chen terbaring di dasar kawah, napasnya terputus-putus. Seluruh tubuhnya terasa remuk. Zirah Tulang Naga Hitam di bawah kulitnya telah menyelamatkannya dari kehancuran total di dalam celah ruang, namun benturan pendaratan itu tetap membuat organ dalamnya terguncang hebat.

"Ukh..." Chu Chen memuntahkan seteguk darah kotor.

Ia memaksakan diri untuk bangkit, bersandar pada lututnya. Pandangannya yang awalnya kabur perlahan menjernih, dan pemandangan yang menyambutnya langsung membuat naluri naganya meremang.

Tidak ada langit biru. Tidak ada awan. Di atasnya terbentang angkasa berwarna hitam pekat, diterangi oleh sebuah bulan raksasa berwarna ungu yang kondisinya sangat mengenaskan—bulan itu retak terbelah menjadi tiga bagian besar, seolah pernah ditebas oleh pedang sebesar benua.

Di bawah cahaya bulan ungu yang redup itu, terhampar padang pasir yang tak berujung. Namun, saat Chu Chen meraup pasir di bawah tangannya, ia menyadari bahwa itu bukanlah pasir batu. Itu adalah serbuk tulang. Tulang belulang dari jutaan makhluk yang telah digiling oleh angin dan waktu selama jutaan tahun, mengubah seluruh daratan ini menjadi lautan kematian berwarna putih pucat.

"Pecahan Alam Atas... tempat macam apa ini sebenarnya?" gumam Chu Chen serak.

Telinganya yang tajam tiba-tiba menangkap suara batuk pelan dari jarak sekitar tiga puluh tombak.

Chu Chen menoleh. Di atas gundukan debu tulang, sesosok tubuh ramping tergeletak tak berdaya. Kerudung salju yang selama ini menutupi wajahnya telah robek entah ke mana, memperlihatkan wajah yang kecantikannya mampu meruntuhkan kerajaan fana. Kulitnya seputih pualam, hidungnya mancung, dan bibirnya yang pucat kini dinodai oleh darah segar.

Itu adalah Bai.

Ahli Alam Istana Jiwa itu berada dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Gaun putihnya koyak, dan auranya yang dulu sedingin es abadi dan mendominasi kini sangat lemah, bagaikan lilin yang tertiup angin badai. Ia menerima dua serangan telak sekaligus: pukulan balik dari hancurnya pertahanan batin oleh jiwa Kaisar Naga, dan hantaman badai ruang di dalam celah tanpa perlindungan fisik naga seperti Chu Chen.

Mata hitam Chu Chen perlahan berubah menjadi celah vertikal keemasan. Niat Membunuh yang pekat merayap keluar dari tubuhnya.

Di dunia kultivasi, kebaikan hati adalah racun yang paling cepat membunuhmu. Wanita ini mencoba menjadikannya bidak catur, menuntutnya menyerahkan pusaka, dan bahkan berniat menghapus jiwanya beberapa waktu yang lalu. Kini, dewi es itu jatuh ke tanah, lemah dan tak berdaya.

Dan bagi seekor naga... ahli Istana Jiwa yang terluka parah adalah hidangan paling mewah yang ditawarkan oleh surga.

Chu Chen mencabut pedang bajanya yang retak dari pinggangnya. Langkahnya pelan, tidak mengeluarkan suara di atas pasir tulang, bagaikan algojo yang menghampiri tiang pancung.

Mendengar suara langkah kaki yang mendekat, Bai membuka kelopak matanya dengan susah payah. Mata kristal esnya menatap Chu Chen yang berdiri menjulang di atasnya, menghalangi cahaya bulan ungu. Bilah pedang baja yang dingin itu kini menempel tepat di leher putihnya.

"Kau menungguku untuk menyerahkan Segel Pembelah Langit?" Chu Chen menyeringai kejam, mengangkat tangan kirinya yang kini memancarkan pusaran hitam tak kasat mata. "Atau kau ingin aku menghisap Istana Jiwamu hingga kering sekarang?"

Bai menelan ludah darahnya. Ia tidak menjerit ketakutan, ia juga tidak memohon ampun. Di ambang kematian, ketenangan seorang ahli tingkat tinggi tetap terlihat di matanya, meski diwarnai oleh keputusasaan.

"Lakukanlah," suara Bai terdengar sangat lemah dan serak. "Makanlah aku. Hisap seluruh kultivasiku. Kau mungkin akan menembus Alam Inti Emas dalam semalam."

Chu Chen mengerutkan kening. Nalurinya memperingatkan ada jebakan di balik kepasrahan itu. Tangan kanannya menekan bilah pedang sedikit lebih dalam, meneteskan setitik darah dari leher Bai. "Sebutkan satu alasan mengapa aku tidak boleh melakukannya."

"Karena kau tidak tahu di mana kita berada, Tikus Kecil," Bai menyunggingkan senyum pahit yang mengejek. "Ini bukan lagi pinggiran Wilayah Terbengkalai. Tempat ini adalah Gurun Tulang Abadi. Penjara terdalam dari Pecahan Alam Atas. Tempat pembuangan para dewa kuno."

Mata Bai menatap lurus ke dalam pupil naga Chu Chen. "Bunuh aku, dan kau tidak akan pernah menemukan jalan keluar. Kau akan berkeliaran di hamparan tulang ini, memangsa monster-monster busuk yang ada di sini, sampai kewarasanmu hancur dan kau sendiri menjadi bagian dari pasir tulang ini. Aku satu-satunya orang di Sekte Awan Suci yang menghafal peta kuno tempat ini."

Chu Chen terdiam. Ujung pedangnya tidak bergeser, begitu pula pusaran di tangan kirinya. Akal sehatnya yang dingin dan penuh perhitungan menimbang setiap kemungkinan.

Bohongkah wanita ini? Kemungkinan besar tidak. Hawa kematian di tempat ini sangat mutlak. Hamparan pasir tulang ini tidak memiliki patokan arah, mata angin, maupun jalan keluar yang terlihat. Jika ia membunuh Bai sekarang, ia mungkin mendapatkan kekuatan sesaat, tetapi kekuatan itu tidak berguna jika ia membusuk di penjara ruang dan waktu.

"Kultivasimu hancur," Chu Chen menurunkan tangannya perlahan. Niat Spiritualnya menyapu tubuh Bai tanpa perlawanan. "Kau memaksakan diri melindungi tubuhmu di celah ruang dengan mengorbankan fondasi Inti Emasmu. Saat ini, tubuhmu tidak lebih kuat dari Lapis Kedelapan Penempaan Raga. Bahkan seorang penjaga gerbang kota bisa membunuhmu."

Wajah Bai memucat mendengar penghinaan itu, harga dirinya sebagai ahli tingkat tinggi terkoyak. "Itu... hanya sementara. Jika aku bisa menemukan tanaman obat Yin di tempat ini, aku bisa memulihkan—"

"Tidak ada kata 'sementara' di depanku," potong Chu Chen dengan nada kejam.

Dengan gerakan secepat kilat, Chu Chen mengulurkan dua jarinya dan menusuk beberapa titik meridian utama di bahu dan perut Bai. Ia menyuntikkan jejak Api Teratai Merah yang dipadatkan ke dalam tubuh wanita itu, menyegel aliran Qi-nya sepenuhnya.

Bai mengerang kesakitan saat hawa panas yang menyengat menahan sisa-sisa energi di Dantiannya. "Apa... apa yang kau lakukan?!"

"Memastikan kau tidak menggigit tanganku saat kau sudah kenyang nanti," Chu Chen menarik pedangnya dan menyarungkannya kembali. "Mulai detik ini, kesepakatan sementara diberlakukan. Kau akan menjadi mataku dan petaku di neraka ini. Sebagai imbalannya, aku tidak akan memakanmu, dan aku akan melindungimu dari makhluk apa pun yang merayap di gurun ini."

Chu Chen berjongkok, wajahnya hanya berjarak satu jengkal dari wajah Bai yang menegang. "Tapi ingat ini baik-baik, Nona Bai. Kau bukan lagi Penatua atau pengatur siasat sekte di mataku. Di hamparan tulang ini, kedudukanmu telah berubah. Kau adalah tawananku."

Chu Chen bangkit berdiri, tidak memberikan waktu bagi Bai untuk mencerna rasa malu dari kedudukan barunya. Ia berbalik dan menatap lautan debu tulang yang tak berujung di bawah cahaya bulan yang terbelah.

"Sekarang," ucap Sang Naga Pemakan Langit, suaranya menggema membelah keheningan malam yang mati. "Beri tahu aku ke mana kita harus melangkah sebelum bau darahmu memancing para penjaga kuburan ini keluar."

1
Gege
garis garis diantara kata menunjukkan kinerja AI mengenerate kalimat.
Letsii
mantapp😍💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!