Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Manunggaling Kawula Gusti
Setelah kekalahan memalukan dari sepuluh dayang kemarin, Faris tidak bisa tidur nyenyak. Ia duduk bersila di pendopo istana, menatap Keris Kyai Jalak Suro yang tergeletak di depannya. Rasa sombong sebagai penguasa terminal benar-benar luntur, digantikan rasa haus akan ilmu yang lebih dalam.
Nyai Gayatri Sekar Arum datang mendekat dengan langkah tanpa suara. Beliau membawa sebuah kendi tanah liat dan menuangkan airnya ke telapak tangan Faris. "Le, kalau sampeyan mau menguasai jagat, sampeyan harus menguasai diri sendiri dulu. Ilmu paling tinggi itu bukan memukul, tapi menyatu," ucap Nyai Gayatri lembut.
.
"Maksudnya bagaimana, Mbok? Apa saya harus belajar ilmu kebal lagi?" tanya Faris bingung.
Arjuna Hidayat yang muncul dari balik pilar menyahut, "Bukan kebal kulit, Dikmas, tapi kebal hati. Itulah inti dari Manunggaling Kawula Gusti. Menyatunya seorang hamba dengan kehendak Tuhannya. Kalau Allah sudah berkehendak, tidak ada satu pun senjata di dunia ini yang bisa menyentuh sampeyan."
Faris diminta memejamkan mata di tengah gerimis yang mulai turun di pelataran istana. Ia harus belajar merasakan setiap tetes air yang jatuh, bukan sebagai gangguan, melainkan sebagai bagian dari dirinya sendiri.
"Rasakan napas sampeyan, Le. Buang semua pikiran soal terminal, soal musuh, bahkan soal keris sampeyan. Kosongkan jiwa sampeyan supaya bisa diisi oleh cahaya-Nya," perintah Nyai Gayatri.
Di sudut lain, Brewok mencoba ikut-ikutan memejamkan mata. Tapi dasar Brewok, baru dua menit dia sudah gelisah. "Mas Jono, kok saya malah merasa lapar ya? Apa ini tandanya jiwa saya menyatu dengan gorengan?" bisik Brewok sambil memegang perutnya.
Jono menepuk pundak Brewok dengan keras. "Sampeyan itu bukan Manunggaling Kawula Gusti, tapi Manunggaling Kawula Sego! Diam dulu, jangan ganggu konsentrasi Mas Faris!"
Faris mulai merasakan sesuatu yang aneh. Tubuhnya terasa ringan, seolah-olah ia bukan lagi daging dan tulang, melainkan bagian dari angin dan hujan yang mengepung istana. Saat itulah, Nyai Gayatri memberi isyarat kepada salah satu dayang untuk menyerang Faris dengan selendang saktinya secara mendadak.
Wusss!
Tanpa membuka mata, tubuh Faris bergeser setipis rambut. Selendang itu hanya melewati tempat kosong. Faris bergerak bukan karena melihat, tapi karena jiwanya sudah "tahu" arah datangnya bahaya. Ia tidak lagi melawan arus, tapi menari bersama arus itu.
"Bagus, Le. Itulah rahasia kekuatan kakek-buyut sampeyan dulu di Majapahit. Mereka menang bukan karena haus darah, tapi karena sudah tenang dalam dekapan Yang Maha Kuasa," ucap Nyai Gayatri dengan senyum bangga.
Faris membuka matanya. Sorot matanya kini tidak lagi liar seperti preman, melainkan tenang dan dalam seperti samudera. Ia sadar, perjalanan menjadi ksatria sejati baru saja dimulai dari sujud dan kepasrahan ini.
Malam semakin larut di istana Majapahit, namun suasana di dalam masjid kuno itu justru semakin hangat. Arjuna Hidayat duduk bersila menghadap kiblat, sementara Faris duduk tepat di depannya dengan wajah serius. Tidak ada keris, tidak ada kepalan tangan, hanya ada untaian tasbih di tangan sang kakak.
"Dikmas Faris, Tarekat itu jalan. Jalan untuk sampai kepada-Nya dengan cara membersihkan hati dari kotoran dunia. Sampeyan tidak akan bisa menjadi Panglima yang adil kalau hati sampeyan masih penuh dendam terminal," ucap Arjuna Hidayat dengan suara rendah yang berwibawa.
Faris menunduk, ia teringat masa-masanya saat masih sering berkelahi hanya karena masalah sepele. "Lalu apa yang harus saya lakukan pertama kali, Kangmas? Saya ingin punya ketenangan seperti Sampeyan."
Arjuna Hidayat memberikan tasbih kayu cendana miliknya kepada Faris. "Mulailah dengan Dzikir Nafas. Sinkronkan detak jantung sampeyan dengan asma Allah. Biarkan setiap aliran darah sampeyan berdzikir, sehingga saat Sampeyan bergerak nanti, bukan nafsu yang menggerakkan tangan sampeyan, tapi ijin dari Gusti Allah."
Faris mulai mengikuti instruksi kakaknya. Ia menghirup napas dalam sambil menyebut nama Tuhan dalam hati. Awalnya terasa sulit karena pikirannya masih melayang ke mana-mana, namun perlahan ia merasakan keheningan yang luar biasa merayap di dadanya.
Di luar masjid, Brewok sedang mencoba meniru posisi duduk Faris di teras. Ia mencoba memejamkan mata sambil memegang tasbih dari biji salak yang ia temukan di dapur. "Mas Jono, kalau saya wiridan begini, kira-kira saya bisa jadi sakti dan disukai banyak wanita tidak?" tanya Brewok polos.
Jono yang sedang membersihkan sarungnya hanya melirik sekilas. "Tarekat itu buat membersihkan hati, Brewok! Bukan buat cari pelet! Kalau niat sampeyan masih cari wanita, yang datang nanti bukan karomah, tapi malah kuntilanak!"
Brewok langsung merinding dan merapatkan duduknya ke Jono. "Walah, Mas Jono ini nakut-nakuti saja. Saya kan cuma mau usaha lahir batin."
Kembali ke dalam masjid, cahaya lampu minyak tampak bergoyang lembut. Arjuna Hidayat meletakkan tangannya di atas pundak Faris. Seketika, Faris merasa ada energi dingin namun kuat yang mengalir masuk ke tubuhnya.
"Itulah Tarekat, Dikmas. Kekuatan yang tidak terlihat namun bisa meruntuhkan gunung kesombongan. Jaga lisan sampeyan, jaga pandangan sampeyan. Mulai detik ini, setiap langkah Faris Arjuna haruslah menjadi rahmat bagi sesama, bukan bencana," pesan Arjuna Hidayat dengan sangat dalam.
Faris mengangguk mantap. Air matanya menetes pelan. Ia merasa hidupnya yang dulu kelam kini mulai menemukan cahaya. Ia bukan lagi sekadar preman yang ditakuti karena ototnya, tapi ia sedang berproses menjadi ksatria yang disegani karena akhlak dan dzikirnya.
Nyai Gayatri mengamati kedua putranya dari kejauhan dengan senyum syukur. "Dua Arjuna sudah menyatu. Sidoarjo akan segera melihat keajaiban yang selama ini tersembunyi," bisiknya pelan.