NovelToon NovelToon
Di Balik Senyum Anak Pertama

Di Balik Senyum Anak Pertama

Status: tamat
Genre:Anak Genius / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nurhikmatul Jannah

"Menjadi anak pertama berarti harus siap menjadi benteng, harus siap mengalah, dan harus terlihat kuat meski hati rapuh.

Di mata semua orang, Zhira adalah anak yang beruntung. Tapi siapa sangka, di balik senyumnya yang tulus, tersimpan luka mendalam karena perlakuan dingin sang Ibu dan rasa tidak dianggap di rumah sendiri.

Ini adalah kisah perjuangan seorang anak sulung untuk membuktikan dirinya berharga, meski harus berjalan sendirian meniti jalan yang penuh duri."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurhikmatul Jannah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sosok Ibu Pengganti

POV Zhira

Sejak pertemuan itu, Bu Lestari menjadi pelanggan tetap yang selalu kunanti kedatangannya. Setiap kali dia datang, kami selalu sempat bertukar kata beberapa saat. Dia tidak pernah bertanya tentang keluarga atau masalah pribadi secara mendalam, tapi kehadirannya saja sudah membuat hatiku terasa hangat dan tenang.

Suatu hari, hujan turun sangat deras disertai angin kencang. Restoran sepi pengunjung. Bu Lestari datang dengan payung besar, pakaiannya tetap rapi dan wangi.

"Hujan deras sekali ya, Nak Zhira," sapanya sambil duduk di meja biasa.

"Iya, Bu. Bahaya kalau naik motor," jawabku sambil menyodorkan menu hangat. "Mau pesan yang biasa, Bu?"

"Iya nak. Tapi hari ini tolong buatkan juga satu porsi nasi goreng spesial, buat kamu. Ibu lihat dari tadi kamu cuma minum air putih terus," katanya lembut tapi tegas.

Aku terkejut. "Nggak usah repot-repot, Bu. Nanti kalau Bos tahu saya makan di jam kerja nanti dimarahi."

"Tenang saja, Ibu yang bicara sama Bosmu. Kamu itu manusia, bukan robot. Wajib makan yang kenyang," katanya sambil tersenyum.

Akhirnya aku duduk di meja sebelahnya, menikmati nasi goreng hangat yang sangat lezat itu. Rasanya luar biasa enak, bukan hanya karena bumbunya, tapi karena rasa diperhatikan yang menyertai makanan itu.

"Zhira..." panggil Bu Lestari pelan. "Ibu tahu kamu anak yang sangat kuat dan mandiri. Tapi Ibu mau tanya satu hal, boleh?"

Aku mengangguk, mulut masih penuh makanan.

"Kenapa wajahmu selalu terlihat takut dan penuh beban setiap kali bicara soal keluarga? Apa mereka tidak pernah mendukungmu?"

Pertanyaan itu membuat sendok di tanganku terhenti. Aku menelan ludah susah payah. Untuk pertama kalinya, aku menceritakan semuanya pada orang lain. Aku cerita tentang Ibu Zainal yang dingin, tentang perlakuan berbeda, tentang tuntutan uang yang tak habis-habis, dan tentang rasa tidak pernah dianggap sejak kecil.

Air mataku jatuh menetes ke atas piring. Aku menangis tanpa suara, melepaskan semua beban yang bertahun-tahun kusimpan sendirian.

Bu Lestari tidak menyela. Dia hanya mendengarkan dengan sabar, sesekali mengelus punggungku lembut.

"Sabar ya, Nak..." bisiknya saat aku selesai bicara. "Memang tidak mudah menjadi anak sulung, apalagi jika orang tua tidak pandai menyalurkan kasih sayang. Tapi ingat ini ya, Zhira... Perasaan kamu itu valid. Sakit itu wajar. Kecewa itu manusiawi."

"Tapi Bu... aku anak durhaka nggak kalau kadang aku merasa benci dan lelah?" tanyaku ragu.

"Enggak sama sekali, Nak. Kamu tetap berbakti, kan? Kamu tetap kirim uang, tetap hormat. Itu sudah lebih dari cukup. Hanya saja, kamu harus belajar untuk tidak membiarkan luka itu terus menggerogoti kamu. Kamu berhak bahagia, Zhira. Kamu berhak hidup untuk dirimu sendiri juga."

Kata-kata Bu Lestari seperti obat mujarab yang menenangkan jiwaku. Untuk pertama kalinya, ada orang yang membenarkan perasaanku, yang bilang kalau aku tidak salah merasa sakit.

 

Beberapa hari kemudian, ada kejadian yang membuatku harus benar-benar bersikap tegas.

Sore itu, aku baru saja pulang kuliah dan belum sempat istirahat, telepon dari rumah berdering lagi. Suara Ibu Zainal terdengar sangat marah.

"ZHIRA! KAMU ITU SADAR DIRI NGGK SIHA! KIRIMAN UANGNYA KURANG BANGET! BIMO ITU MAU SYUKURAN, KAMU PENGEN KITA DILIHT KECILAN DIMATA ORANG YA?!"

Aku memijat pelipis yang terasa berdenyut sakit. Kepalaku pusing karena kurang tidur dan banyak tugas.

Dulu, aku pasti akan langsung menangis dan meminta maaf berkali-kali. Tapi hari ini, setelah bicara dengan Bu Lestari, ada kekuatan baru di dalam diriku.

"Bu..." jawabku dengan suara tenang namun tegas. "Zhira sudah kirim sesuai kemampuan Zhira sekarang. Zhira juga butuh bayar kost, beli buku, dan makan. Zhira bukan mesin uang, Bu. Zhira juga manusia yang punya kebutuhan."

Suara di seberang telepon terdiam sejenak, seolah tidak percaya aku berani membantah.

"HAH? KAMU BERANI BANGET YA NGAJARIN IBU! ANAK KURANG AJAR! DASAR PEMBAWA SIAL! KAMU PIKIR KAMU HEBAT KARENA SUDAH DI KOTA BESAR?!" amukan itu meledak lagi, lebih keras dari sebelumnya.

Tapi kali ini, aku tidak gemetar. Aku tidak menangis.

"Zhira sayang Ibu dan keluarga, makanya Zhira bantu sebisanya. Tapi kalau Ibu terus menuntut lebih dari yang Zhira punya, Zhira tidak bisa berbuat apa-apa. Zhira juga mau lulus kuliah supaya nanti bisa bantu lebih banyak lagi. Tolong hargai usaha Zhira juga, Bu."

"PLAK!"

Suara bantingan telepon terdengar nyaring. Dia memutuskan sambungan.

Aku menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dadaku terasa lega, meski ada rasa perih yang menyertai. Aku baru saja melakukan hal yang paling berani dalam hidupku: membela diri sendiri.

"Terima kasih Tuhan... aku berhasil melewatinya," bisikku pada diri sendiri.

Aku tahu, badai di rumah belum selesai. Mungkin besok atau lusa akan ada serangan lagi. Tapi aku tidak takut lagi. Aku punya prinsip, aku punya batas, dan aku tahu apa yang pantas aku dapatkan.

Malam itu, aku tidur dengan perasaan yang jauh lebih tenang dari biasanya. Aku sedang berubah. Aku sedang tumbuh menjadi wanita yang kuat, bukan karena dipaksa keadaan, tapi karena aku memilih untuk menjadi kuat.

POV End

 

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Wah, Zhira makin berani dan dewasa ya! 💪😎 Gimana Bab 14-nya? Lanjut Bab 15 lagi nanti ya! Kita mau masuk tahun akhir kuliah nih! 📖✨

1
Mona
Bagus banget Thor, kalimat dan alurnya menarik dan membuat tertarik, keren 👍👍👍👍👍
Nurhikmatul Jannah
ya kak terimah kasih ya😍,iya kak nanti tak mampir
haniswity
ceritanya seruuu ,banyak banget plott twist nya suka banget ,walaupun pemula tapi cerita hebat banget 👋
Nurhikmatul Jannah: Terimah kasih sudah mampir
total 1 replies
haniswity
cerita nya bagus bangett,ngene banget banyak juga plot twist ny💪,semngat
Nurhikmatul Jannah: terimah kasih sudah mampir😍
total 1 replies
Nurhikmatul Jannah
bagus.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!