Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.
Ikuti kisahnya~
Happy Reading ><
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 10: MISI HANTARAN & UJIAN MENTAL DI DEPAN PAK MALIK (NERO POV)
Pagi-pagi buta, pas gue masih gelut sama selimut karena udara desa yang dinginnya nggak ngotak, Oma udah gedor-gedor pintu kamar gue.
"Nero! Bangun! Mandi yang bersih, pake baju yang rapi. Antar ini ke rumah Pak Malik," perintah Oma mutlak, nggak bisa dinego.
Gue bangun dengan nyawa yang baru kumpul separuh. Di meja makan udah ada keranjang rotan cantik isinya kue-kue basah buatan Bi Devi sama buah-buahan. Gue nurut, mandi kilat, terus milih kemeja linen warna krem yang paling sopran yang gue bawa. Gue lepas anting gue sementara, tapi kalung tetap gue pake di balik baju.
Gue jalan ke rumah sebelah dengan langkah yang lebih berat daripada pas mau balapan liar. Ini lebih horor, Bro. Gue berdiri di depan pintu jati rumah Pak Malik, narik napas dalem, terus ngetuk.
"Assalamualaikum..." suara gue agak gemeter. First time gue ngomong salam begini dengan bener.
(Bener apanya dodol? Lu nggak pake 'Ain, seharusnya tuh "Assalamu'alaikum"!!)
Pintu kebuka, dan yang muncul bukan Ainun, tapi Pak Malik. Beliau pake sarung sama baju koko biru muda, wajahnya kelihatan seger abis subuhan.
"Eh, Mas Nero. Mari masuk, Mas," sambut beliau ramah banget.
Gue masuk ke ruang tamunya yang aromanya khas banget. Campuran kayu jati sama minyak wangi serimpi yang lembut. "Ini, Pak... Oma titip hantaran buat keluarga Pak Malik."
"Waduh, repot-repot sekali Bu Thalita ini. Makasih ya, Mas. Duduk dulu, Mas Nero, jangan buru-buru," Pak Malik nerima keranjang itu terus naruh di meja.
Gue duduk dengan posisi tegak, tangan gue taruh di lutut. Gue ngerasa kayak lagi di-interview buat jadi CEO perusahaan multinasional.
"Mas Nero gimana? Mulai betah di sini? Saya denger kemarin sore mampir ke masjid sama Ikdam ya?" tanya Pak Malik sambil senyum.
Gue kaget. Gila, update info di desa ini lebih cepet daripada notif Twitter. "Eh, iya Pak. Kebetulan ketemu Mas Ikdam, jadi diajak mampir bentar."
(Ketahuilah gosip/ghibah tetangga itu ajaib. Apalagi di desa).
"Bagus itu. Di sini kita emang harus sering silaturahmi," Pak Malik natap gue dengan pandangan yang dalem tapi nggak menghakimi. "Mas Nero kalau ada apa-apa, butuh bantuan atau sekadar mau ngobrol, jangan sungkan ke sini. Kita ini tetangga dekat."
Pas lagi asyik ngobrol, tiba-tiba Ainun muncul dari arah dapur bawa nampan isi dua gelas teh anget. Dia pake hijab warna krem yang senada sama kemeja gue. Coincidence? I don't think so.
Pas dia liat gue duduk di sana bareng bapaknya, dia hampir aja nyenggol pinggiran meja. Mukanya langsung nunduk lagi, tapi gue bisa liat ujung hidungnya yang mungil itu memerah.
"Ini... tehnya, Pak," suaranya lirih banget.
(Aww pasti lucu banget dehhhhhhhhh~)
Dia naruh gelas di depan gue. Pas dia naruh, jarak kita deket banget. Gue bisa nyium wangi sabun bayi sama aroma bedak tipis dari dia. Cute parah, sumpah. Gue pengen banget bilang "Hai," tapi gue inget pesen Ikdam dan Oma.
"Makasih, Ainun," kata gue pelan.
Dia nggak jawab pake kata-kata, cuma ngangguk pelan banget terus langsung fast-walk balik ke dapur.
Pak Malik ngelihatin interaksi singkat itu, terus beliau balik natap gue. "Ainun itu emang pemalu, Mas. Apalagi sama tamu laki-laki."
Gue cuma bisa nyengir kaku. "Iya, Pak. Saya ngerti."
"Mas Nero," suara Pak Malik tiba-tiba agak serius, "Saya seneng Mas mau main ke sini. Di desa ini, kita nggak liat siapa kamu di kota, tapi gimana kamu bersikap di sini. Selama Mas Nero punya niat baik, pintu rumah saya selalu terbuka."
Gue ngerasa ada pesan tersirat di omongan Pak Malik. Beliau kayak ngasih kode kalau beliau tahu 'perbedaan' kita, tapi beliau tetep menghargai gue sebagai manusia. Gue keluar dari rumah itu dengan perasaan yang makin kacau. Pak Malik terlalu baik, Ainun terlalu suci, dan gue... gue makin jatuh cinta tapi makin ngerasa nggak pantes.