Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Titik Nyala di Ruang Steril
Pintu kayu solid ruang rawat VVIP itu masih bergetar pelan di engselnya setelah didorong paksa dengan brutal. Suara benturannya bergema di dinding-dinding berpelapis wallpaper putih rumah sakit, membelah atmosfer intim yang baru saja terbangun antara Arjuna dan Kanaya menjadi serpihan-serpihan kaca yang berserakan.
Udara di dalam ruangan itu, yang beberapa detik lalu terasa hangat dan sarat akan gravitasi yang memabukkan, kini mendadak berubah menjadi medan gaya elektromagnetik yang siap meledak. Suara dengung mesin elektrokardiogram di samping ranjang Naya mengalami lonjakan tempo, memancarkan bunyi bip yang lebih cepat dan bernada tinggi, merekam dengan jujur kepanikan yang mendadak menyerang jantung gadis yang terbaring lemah di atas kasur medis tersebut.
Di ambang pintu, Bastian berdiri dengan napas yang memburu liar. Dada bidangnya naik turun dengan cepat di balik kemeja kerja lapangannya yang basah kuyup oleh keringat dan sisa air hujan Gianyar. Rambutnya berantakan, dan matanya yang biasanya memancarkan kehangatan seorang kakak kelas yang melindungi, kini berkilat penuh dengan amarah purba yang gelap. Sorot matanya mengunci sosok Arjuna Dirgantara yang membungkuk di atas ranjang Naya, sebelum akhirnya turun menatap wajah pucat Naya dan perban tebal yang menutupi bahu kanan gadis itu.
"Apa yang Anda lakukan padanya?!" bentak Bastian. Suaranya tidak hanya keras, tetapi bergetar oleh campuran antara teror dan kemarahan yang absolut. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan tanpa ragu, mengabaikan fakta bahwa ia sedang menginvasi teritori privat dari seorang pria yang memiliki kekuasaan untuk menghancurkan kariernya hanya dengan satu jentikan jari.
Arjuna Dirgantara tidak mundur selangkah pun. Sebaliknya, insting predatornya seketika mengambil alih seluruh sisa-sisa kerentanan yang tadi sempat ia tunjukkan pada Naya. Dalam waktu kurang dari satu detik, wajah Juna yang tadi memancarkan kepedihan dan keputusasaan yang telanjang, kini kembali membeku menjadi topeng pualam yang mematikan. Matanya menyipit, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol tajam.
Juna menegakkan punggungnya secara perlahan, sebuah gerakan yang dirancang khusus untuk memamerkan dominasi fisiknya. Ia melangkah menyamping, secara strategis memosisikan tubuhnya yang tinggi besar tepat di antara ranjang Naya dan Bastian, menciptakan sebuah barikade manusia yang tidak bisa ditembus. Kemeja putih Juna yang ternoda oleh darah Naya yang telah mengering kini terlihat seperti sebuah seragam perang yang mengerikan.
"Turunkan nada suaramu di ruangan ini, Bastian," desis Juna. Baritonnya terdengar sangat rendah, sangat tenang, namun mengandung frekuensi ancaman yang bisa membekukan darah siapa pun yang mendengarnya. "Ini adalah ruang rawat intensif, bukan bar murahan tempatmu bisa berteriak sesuka hati."
Bastian menghentikan langkahnya tepat dua meter di depan Juna. Ia menatap noda darah di kemeja Juna, lalu menatap wajah Juna dengan rasa jijik yang tidak ditutup-tutupi.
"Jangan mengatur saya, Brengsek!" umpat Bastian, membuang seluruh etika korporat yang selama ini menahannya. Tangannya mengepal kuat di sisi tubuhnya. "Saya bertanya, apa yang sudah Anda lakukan padanya?! Naya menghubungiku sore tadi, dia bilang dia sedang mengawasi fabrikasi pilar sesuai instruksi gila Anda. Dan sekarang aku mendapat kabar dari pekerja pabrik bahwa pilar itu meledak dan dia hampir mati tertimpa marmer! Ini semua karena Anda mengirimnya ke tempat terkutuk itu!"
'Dia benar,' batin Juna, sebuah panah rasa bersalah yang beracun kembali menancap tepat di ulu hatinya, merobek sisa-sisa pertahanan logikanya. 'Aku yang mengirimnya ke sana. Aku yang hampir membunuhnya.'
Namun, Juna adalah seorang Dirgantara. Ia dididik untuk tidak pernah menunjukkan kelemahan saat diserang, terutama oleh pria yang secara terbuka menginginkan wanita miliknya. Ia tidak akan membiarkan Bastian melihat luka batinnya.
"Kecelakaan industri adalah variabel yang selalu ada dalam konstruksi skala masif. Tim medis sedang menanganinya dengan fasilitas terbaik yang bisa dibeli dengan uang," jawab Juna dengan kedinginan yang klinis, sebuah taktik untuk memprovokasi Bastian. "Yang menjadi pertanyaan saya adalah, apa hak Anda menerobos masuk ke ruang VVIP yang telah saya sewa secara eksklusif ini?"
Bastian tertawa, sebuah tawa getir yang sarat akan sarkasme. "Hak? Anda bicara soal hak? Saya adalah orang yang mengenalnya jauh sebelum dia masuk ke dalam perangkap kerajaan beracun Anda! Saya adalah temannya! Lalu Anda? Anda ini siapa bagi Naya, Pak Arjuna? Seorang atasan yang mengirim karyawannya ke ambang kematian? Atau seorang pria pengecut yang lari dari pesta pertunangannya sendiri hanya untuk bermain-main dengan perasaan stafnya di rumah sakit?!"
Kalimat terakhir Bastian menghantam ruangan itu seperti sebuah bom waktu yang meledak.
Di atas ranjang, Naya menahan napasnya. Rasa ngilu di bahunya seolah memudar, digantikan oleh rasa sakit yang jauh lebih dalam di dadanya. 'Bastian tahu. Seluruh dunia tahu bahwa Juna seharusnya berada di Jakarta malam ini bersama Aline.'
Mata Juna berkilat berbahaya. Ia melangkah maju satu tahap, menginvasi ruang personal Bastian. Udara di sekitar mereka mendadak terasa begitu padat hingga hampir tidak bisa dihirup.
"Apa yang saya lakukan di luar jam kantor, dan dengan siapa saya berada, bukan urusan vendor struktur seperti Anda," desis Juna, suaranya kini mengalirkan racun murni. "Saya tidak peduli seberapa banyak sejarah masa lalu yang Anda miliki dengan Kanaya di bangku kuliah. Saat ini, dia adalah Senior Designer dari proyek saya. Dia adalah tanggung jawab saya. Dan saya tidak mengizinkan siapa pun, termasuk Anda, untuk mengganggu masa pemulihannya. Keluar dari ruangan ini sekarang, sebelum saya memanggil pihak keamanan untuk menyeret Anda keluar dan membatalkan seluruh kontrak PT Delta Struktur detik ini juga."
Bastian tidak gentar. Ia justru mencondongkan wajahnya, menantang dominasi absolut sang CEO. "Batalkan saja kontraknya! Anda pikir saya peduli pada uang Anda saat nyawa Naya yang menjadi taruhannya?! Anda ini racun, Arjuna! Anda mengurungnya di Jakarta, Anda membuangnya ke Bali, lalu Anda datang ke sini bersimbah darah berlagak seperti pahlawan. Anda tidak sedang melindunginya! Anda sedang menghancurkannya secara perlahan karena Anda terlalu pengecut untuk melawan ayah Anda sendiri!"
Juna seketika mencengkeram kerah kemeja Bastian dengan kedua tangannya. Gerakan itu begitu cepat dan kasar hingga tubuh Bastian sedikit terangkat dari lantai. Rahang Juna mengeras hingga gigi-giginya bergemeretak, matanya yang hitam memancarkan niat membunuh yang sangat murni.
"Sebut nama ayahku sekali lagi, dan aku akan memastikan kau tidak akan pernah bisa bekerja di industri konstruksi mana pun di negara ini," ancam Juna, suaranya berubah menjadi geraman hewan buas yang siap merobek tenggorokan lawannya.
"Kak Bastian! Juna! Hentikan!"
Suara Naya yang serak, parau, dan bergetar hebat memecah ketegangan fisik yang hampir meledak itu. Naya memaksakan dirinya untuk setengah duduk, sebuah gerakan refleks yang mengabaikan rasa sakit luar biasa dari jahitan di bahunya. Ia meringis keras, wajahnya pucat pasi menahan perih, tangannya yang bebas dari selang infus mencengkeram erat seprai putih rumah sakit.
Mendengar rintihan Naya, Juna seketika melepaskan cengkeramannya dari kerah Bastian seolah-olah kain itu baru saja berubah menjadi lahar panas. Ia segera berbalik dan menghampiri sisi ranjang Naya, insting protektifnya mengalahkan segalanya.
"Jangan bergerak, Naya. Jahitanmu bisa robek," ucap Juna dengan nada yang mendadak berubah menjadi sangat panik dan lembut. Ia mengulurkan tangannya untuk menahan bahu Naya agar gadis itu kembali berbaring.
Namun, sebelum tangan Juna sempat menyentuhnya, Naya menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh aku," desis Naya. Matanya yang berkaca-kaca menatap Juna dengan campuran antara kemarahan, kekecewaan, dan keputusasaan yang begitu dalam.
Tangan Juna membeku di udara. Penolakan itu, rintihan kebencian di mata gadis itu, terasa lebih menyakitkan daripada tusukan pisau secara fisik. Ia menarik tangannya kembali secara perlahan, mundur satu langkah dengan bahu yang merosot, kembali menjadi seorang tiran yang kehilangan kerajaannya.
Naya mengalihkan pandangannya ke arah Bastian yang masih berdiri dengan napas terengah-engah.
"Kak Bastian," panggil Naya dengan suara yang dipaksakan untuk terdengar tenang. "Aku baik-baik saja. Kecelakaan itu... itu murni karena cacat material pada batunya. Bukan karena siapa pun." Naya berbohong untuk meredakan situasi, meskipun ia tahu Juna lah yang memaksakan jadwal yang gila itu. "Tolong, kembalilah ke mess-mu. Aku butuh istirahat."
Bastian menatap Naya dengan ketidakpercayaan. "Kau membelanya? Setelah apa yang dia lakukan padamu? Naya, berita tentangnya lari dari konferensi pers pertunangan dengan Aline sudah menjadi headline di mana-mana! Wartawan sedang mencarinya! Ayahnya sedang mencarinya! Jika kau terus berada di dekatnya, keluarganya akan menghancurkanmu!"
"Aku tahu!" teriak Naya, suaranya pecah, air mata akhirnya mengalir turun membasahi pipinya. Dada Naya naik turun dengan cepat. "Aku tahu semuanya, Kak! Karena itu... tolong, tinggalkan aku sendiri sekarang. Tinggalkan aku bersama CEO-ku. Ada hal profesional yang harus kami selesaikan. Tolong, Kak... kumohon."
Bastian melihat tatapan memohon di mata Naya. Ia melihat keputusasaan gadis itu. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat, menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa menarik Naya keluar dari labirin ini jika Naya sendiri yang memilih untuk tetap berada di dalamnya.
"Baik," ucap Bastian dengan suara bergetar. Ia menatap Juna dengan tatapan yang memancarkan peringatan terakhir. "Jika terjadi sesuatu lagi padanya, saya tidak peduli seberapa besar nama Dirgantara. Saya akan membuat Anda membayar semuanya."
Bastian memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan itu. Pintu tertutup dengan bunyi debum yang berat, meninggalkan Juna dan Naya dalam kesunyian yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya.
Hanya ada suara mesin elektrokardiogram dan deru pendingin ruangan yang tersisa. Cahaya lampu tidur di sudut ruangan memantulkan bayangan panjang Juna di dinding, membuatnya terlihat seperti sosok raksasa yang kesepian.
Naya menjatuhkan kembali kepalanya ke atas bantal. Air matanya mengalir dalam diam. Seluruh tubuhnya terasa remuk, namun rasa sakit fisiknya sama sekali tidak sebanding dengan rasa sakit di dalam kepalanya.
'Dia berlari dari pesta pertunangannya. Dia menentang ayahnya secara terbuka di depan media. Sang Chairman pasti sedang murka besar saat ini. Dan siapa yang akan menjadi sasarannya? Aku. Keluargaku. Sertifikat rumah peninggalan ibuku,' batin Naya meronta dalam kepanikan yang membisu.
Juna masih berdiri di samping ranjang. Ia menatap Naya yang sedang menangis, namun ia tidak berani mengulurkan tangannya lagi. Ia merasa sangat kotor, sangat tidak pantas untuk menyentuh gadis yang baru saja ia hancurkan hidupnya.
"Apa yang telah Anda lakukan, Arjuna?" bisik Naya akhirnya, suaranya terdengar sangat lelah dan kosong. Ia bahkan tidak memalingkan wajahnya untuk menatap pria itu. "Anda meninggalkan pesta pertunangan Anda. Anda membiarkan media mencari Anda. Apakah Anda sadar bencana apa yang baru saja Anda undang ke dalam hidup saya?"
Juna menelan ludah yang terasa tajam seperti pecahan kaca. Ia berjalan perlahan dan kembali duduk di kursi di samping ranjang Naya. Ia mencondongkan tubuhnya, menumpukan sikunya di atas lutut, menatap profil samping wajah Naya dengan kepedihan yang menyayat hati.
"Aku tidak bisa berada di sana," jawab Juna dengan suara parau yang nyaris menghilang. "Saat Riko memberitahuku bahwa pilar itu meledak dan kau tidak sadarkan diri... seluruh duniaku berhenti, Naya. Aku tidak bisa mendengar suara siapa pun. Aku tidak bisa melihat wajah Aline atau wajah Ayahku. Yang ada di kepalaku hanyalah ketakutan bahwa aku mungkin tidak akan pernah melihat matamu terbuka lagi."
"Lalu bagaimana dengan sertifikat rumah ayah saya?!" Naya tiba-tiba menoleh, menatap Juna dengan mata yang menyala oleh amarah dan ketakutan yang absolut. "Anda sendiri yang bilang bahwa Anda menerima pertunangan itu untuk menyelamatkan keluarga saya dari ancaman Chairman! Anda bilang Anda harus menjadi anak yang patuh agar beliau tidak menghancurkan kami! Dan sekarang? Anda justru memberinya alasan paling sempurna untuk melenyapkan saya!"
Juna terdiam. Ia memejamkan matanya rapat-rapat saat kata-kata Naya menghantamnya telak. Kebenaran dari ucapan gadis itu tidak bisa disangkal.
"Aku tahu," ucap Juna setelah beberapa detik yang menyiksa. Ia membuka matanya, dan Naya bisa melihat ada sebuah kegelapan yang mengerikan di dalam sana—sebuah resolusi yang lahir dari keputusasaan. "Karena itu... aku sudah membuat keputusan selama perjalanan ke sini."
Naya mengerutkan keningnya, menahan napas. "Keputusan apa?"
"Aku sudah menghubungi notaris pribadiku di Jakarta," Juna menatap lurus ke dalam mata Naya, tidak ada sedikit pun kebohongan di sana. "Aku sedang dalam proses untuk melepaskan seluruh jabatan CEO-ku, dan aku akan mencairkan seluruh saham mayoritas pribadi yang kumiliki di Dirgantara Group. Aku akan menggunakan dana itu untuk membeli paksa seluruh hutang ayahmu dari perusahaan Ayahku, beserta bunganya selama sepuluh tahun terakhir."
Mata Naya terbelalak lebar. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Anda... Anda mau melepaskan posisi Anda? Anda mau membuang seluruh kerajaan yang selama ini Anda bangun hanya untuk..."
"Hanya untukmu," potong Juna, suaranya begitu mantap dan tidak tergoyahkan. Ia mengulurkan tangannya, dan kali ini, ia tidak membiarkan Naya menepisnya. Ia menggenggam tangan kiri Naya yang terpasang selang infus dengan sangat lembut, menempelkannya ke pipinya sendiri. "Aku akan membakar seluruh kerajaanku sendiri jika itu adalah satu-satunya cara untuk membebaskanmu dari cengkeraman keluargaku."
Naya menggelengkan kepalanya pelan, air matanya kembali mengalir semakin deras. Ia merasa dunia sedang berputar dengan cara yang salah. Pria di depannya ini adalah CEO yang paling ambisius, pria yang rela menghancurkan mental orang lain demi kesempurnaan pualam sebuah hotel. Namun kini, pria ini rela membuang segalanya hanya untuk melunasinya.
"Anda gila, Arjuna," isak Naya, tangannya bergetar di dalam genggaman Juna. "Jika Anda melakukan itu, ayah Anda tidak akan tinggal diam. Beliau akan menghancurkan Anda. Beliau akan membuat Anda tidak punya apa-apa."
Juna tersenyum—sebuah senyuman yang sangat langka, sangat lelah, namun sangat tulus. Senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun sejak ia berusia sepuluh tahun.
"Aku sudah tidak punya apa-apa sejak ibuku meninggal, Kanaya," bisik Juna, mengusap punggung tangan Naya dengan ibu jarinya. "Seluruh kekayaan ini, posisi ini... semua ini hanyalah baju zirah yang kugunakan agar Ayahku tidak bisa menyakitiku lagi. Tapi aku salah. Baju zirah ini justru menyakiti orang-orang yang ada di sekitarku. Menyakitimu."
Juna mencondongkan tubuhnya ke depan, mendekatkan wajahnya hingga kening mereka hampir bersentuhan. Aroma darah dari kemejanya dan aroma antiseptik rumah sakit menjadi saksi bisu dari pengakuan yang paling menghancurkan ini.
"Biarkan dia mengambil hartaku. Biarkan dia mengambil gelarku," ucap Juna dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti doa. "Asalkan aku bisa memastikanku bahwa kau aman. Asalkan aku bisa bangun setiap pagi dengan mengetahui bahwa paru-parumu masih menghirup udara. Aku rela menjadi gelandangan paling miskin di Jakarta, asalkan aku tidak perlu lagi berpura-pura membencimu."
Naya memejamkan matanya. Pertahanan terakhir di dalam hatinya akhirnya runtuh sepenuhnya, rata dengan tanah, hancur menjadi debu yang sama dengan pualam di pabrik tadi sore. Ia tidak bisa lagi menyangkalnya. Ia tidak bisa lagi membenci pria ini.
'Dia menyerahkan seluruh dunianya untukku,' batin Naya menangis dalam keheningan yang menyiksa. 'Monster yang aku benci selama ini ternyata adalah seorang ksatria yang tubuhnya penuh luka karena mencoba melindungiku dari naga yang sebenarnya.'
Namun, realitas yang kejam segera menyelinap kembali ke dalam pikiran Naya. Jika Juna melakukan ini, jika Juna membuang gelarnya, Sang Chairman tidak akan berhenti pada pemiskinan. Pria tua itu akan memastikan Juna menderita seumur hidup, dan ia akan memastikan Naya menanggung rasa bersalah itu selamanya.
Naya membuka matanya. Ia menarik tangannya secara perlahan dari genggaman Juna. Matanya kini menatap Juna dengan sebuah resolusi yang sama gelapnya dengan resolusi milik pria itu.
"Jangan lakukan itu," ucap Naya dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat dingin dan stabil.
Juna mengerutkan keningnya, kebingungan melintas di matanya. "Naya?"
"Saya bilang, jangan lakukan itu, Pak Arjuna," Naya mengulangi kalimatnya, kali ini menggunakan gelar formal, membangun kembali dinding kaca di antara mereka. "Jangan membuang perusahaan Anda untuk saya. Karena saya tidak sudi menanggung beban hutang budi sebesar itu seumur hidup saya."
"Ini bukan soal hutang budi!" Juna sedikit meninggikan suaranya, rasa panik mulai menguasainya. "Ini soal membebaskanmu!"
"Ini soal keegoisan Anda!" balas Naya tajam, mengabaikan rasa sakit di bahunya. Ia menatap lurus ke dalam mata Juna. "Anda pikir jika Anda membuang segalanya, Anda akan menjadi pahlawan? Tidak. Anda hanya akan menjadi pecundang yang menyerah pada keadaan. Dan ayah Anda akan menertawakan kehancuran Anda, sambil tetap mencari cara untuk menghancurkan hidup saya karena telah membuat putranya menjadi gila."
Juna terdiam mematung. Kata-kata Naya menghantamnya dengan kebenaran yang telanjang.
"Dengarkan saya, Arjuna Dirgantara," ucap Naya, napasnya memburu, namun suaranya sangat jelas. "Kembalilah ke Jakarta besok pagi. Temui media. Temui Aline. Temui ayah Anda. Katakan pada mereka bahwa kepergian Anda ke Bali adalah murni karena krisis struktural Grand Azure yang mengancam triliunan rupiah. Katakan bahwa Anda harus menyelidiki cacat pada marmer secara langsung."
"Aku tidak akan meninggalkanmu di sini sendirian dalam kondisi seperti ini!" bantah Juna dengan keras, menggelengkan kepalanya.
"Anda harus!" Naya membalas dengan tatapan yang mematikan. "Jika Anda benar-benar ingin melindungi saya, maka lindungi saya dengan kekuatan Anda sebagai CEO, bukan dengan kelemahan seorang mantan pewaris yang dibuang! Tetaplah berada di puncak rantai makanan. Tetaplah berkuasa. Dan gunakan kekuasaan itu untuk mengalahkan ayah Anda dari dalam sistem yang ia bangun sendiri."
Naya menelan ludah, menahan air mata yang kembali mengancam akan jatuh. "Bermainlah dengan aturan mereka, Arjuna. Sampai Anda memiliki kekuatan yang cukup absolut untuk mengubah aturan itu sendiri. Dan selama Anda melakukan itu..."
Naya menghentikan kalimatnya sejenak. Ia harus mengucapkan kalimat yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Kalimat yang akan mengiris hatinya sendiri, demi menyelamatkan pria yang ia cintai dari kehancuran total.
"...dan selama Anda melakukan itu, anggap saja saya tidak pernah ada," lanjut Naya dengan suara yang nyaris berbisik namun terdengar seperti vonis eksekusi. "Setelah proyek Grand Azure selesai dan plakat peresmian dipasang, saya akan mengundurkan diri. Saya akan menghilang dari hidup Anda. Dan kita akan kembali menjadi dua orang asing yang tidak pernah bertemu di ruang rapat itu."
Ruangan VVIP itu mendadak menjadi sedingin kamar mayat. Juna menatap Naya dengan mata yang membelalak lebar, wajahnya sepucat kertas. Ia merasa seolah-olah Naya baru saja menancapkan belati tajam ke dadanya dan memutarnya perlahan.
"Kau... kau mengusirku dari hidupmu?" tanya Juna, suaranya bergetar hebat.
"Saya sedang menyelamatkan kita berdua dari kehancuran yang sia-sia, Pak Arjuna," jawab Naya dingin, memalingkan wajahnya ke arah jendela yang menampilkan langit malam Bali yang kelam. "Sekarang, tolong tinggalkan ruangan ini. Saya benar-benar lelah."
Juna berdiri terpaku selama semenit penuh. Ia menatap profil samping wajah Naya yang keras kepala, menyadari bahwa gadis ini baru saja mengorbankan perasaannya sendiri untuk memaksa Juna kembali menjadi raja yang kuat. Gadis ini baru saja membangun dinding penyangkalan yang jauh lebih tebal dari dinding mana pun yang pernah Juna bangun.
Dengan langkah yang gontai dan hati yang hancur menjadi debu tak bersisa, Arjuna Dirgantara memutar tubuhnya. Ia berjalan keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Pintu tertutup perlahan di belakangnya, memisahkan mereka dalam dua dunia yang berbeda.
Di atas ranjangnya, Naya menggigit bibir bawahnya hingga berdarah, meredam suara isak tangisnya yang meledak begitu pria itu menghilang dari pandangannya. Ia telah membuat pilihan. Fase Forced Proximity di Bali ini akan menjadi kuburan bagi perasaan mereka, demi kelangsungan hidup mereka di dunia nyata yang tak berbelas kasihan.
[KILAS BALIK ]
Kamera bergerak pelan menyusuri sebuah koridor kampus arsitektur yang ramai oleh mahasiswa, tujuh tahun yang lalu. Suara canda tawa dan diskusi proyek terdengar menggema di sepanjang lorong yang dipenuhi oleh maket-maket bangunan.
Kanaya, yang saat itu merupakan mahasiswi baru tingkat satu, sedang berjalan dengan tergesa-gesa sambil membawa tumpukan besar karton duplex dan tabung gambar yang menutupi pandangannya.
Tiba-tiba, ia menabrak seseorang dengan cukup keras. Tabung gambarnya terjatuh, isinya berserakan di lantai.
"Aduh, maaf! Maafkan saya, saya tidak melihat jalan," ucap Naya panik, segera berjongkok untuk memunguti kertas-kertasnya yang berharga.
Orang yang ditabraknya ikut berjongkok, membantunya memunguti kertas tersebut. Saat Naya mendongak, ia melihat seorang mahasiswa senior dengan kemeja flanel biru dan senyum yang sangat hangat dan menenangkan.
"Tidak apa-apa. Kau bawa barang terlalu banyak untuk tubuh sekecil ini," ucap senior itu dengan ramah, menyerahkan gulungan kertas pada Naya. "Aku Bastian. Mahasiswa tingkat akhir."
"Naya," jawab Naya malu-malu, menerima kertasnya.
Bastian menatap sekilas ke arah kertas gambar yang terbuka. Itu adalah draf desain Naya tentang pencahayaan alami di dalam sebuah ruangan museum. Mata Bastian berbinar kagum.
"Garis vektor pencahayaanmu sangat luar biasa, Naya," puji Bastian tulus. "Kau punya bakat yang sangat langka. Bakat untuk membuat ruang yang mati menjadi terasa hangat dan hidup."
Bastian tersenyum, membantu Naya berdiri. "Jika kau butuh bantuan di studio, cari saja aku. Aku akan selalu siap membantu melindungi desain-desain jeniusmu dari kritikan dosen yang kolot."
Kamera melakukan close-up pada wajah Naya yang tersenyum cerah dan penuh harapan. Di detik itu, Bastian hadir sebagai sosok pelindung yang menjanjikan kehangatan, dukungan, dan kenyamanan—sebuah gambaran cinta yang normal dan sehat.
Lalu kamera secara perlahan melakukan transisi pudar (fade out), berganti dengan bayangan wajah Arjuna Dirgantara yang dipenuhi noda darah dan tatapan putus asa di rumah sakit Bali, menyoroti secara sinematik kontras yang mengerikan antara 'cinta yang menyelamatkan' dan 'cinta yang menghancurkan' di dalam paradoks kehidupan Kanaya Larasati.