Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabur
Rex kembali menutup pintu kamarnya dan membawa kantong makanan yang ia pesan, tak lupa mengunci pintu itu kembali dengan rapat. Ia berjalan kembali ke sofa kecil itu dan mulai membuka bungkusan makanan itu satu per satu.
Maple yang berada di sudut kamar, memeluk erat vas bunga di tangannya, menelan ludahnya saat pria itu membuka bungkusan yang ia ambil dari pelayan resepsionis tadi.
Aroma makanan yang mengunggah selera, aroma nasi goreng yang gurih dan ayam goreng yang renyah, langsung membuatnya ingin sekali makan. Perutnya yang sudah lapar sepanjang perjalanan, kini semakin bergejolak.
"Makanlah. Kau butuh tenaga untuk bisa membunuhku, sebelum aku membunuhmu," ucap Rex, suaranya datar namun mengandung ejekan. Ia sengaja mengucapkan kata-kata itu untuk memancing emosi wanita itu.
Ucapan pria itu sedikit membuat Maple merinding. Pria itu seakan mengingatkannya jika dirinya tak bisa lolos dari pria ini, bahwa ia hanyalah mangsa yang menunggu giliran.
Maple berjalan mendekati pria itu dengan langkah ragu, lalu dengan cepat mengambil bungkus makanan untuknya. Ia segera kembali ke posisinya di sudut kamar dan mulai memakan makanan itu dengan rakus, tanpa memperdulikan sopan santun. Setiap suapan terasa nikmat, menghilangkan rasa lapar yang sudah lama ia tahan.
Rex diam-diam memperhatikan wanita itu makan dengan sangat lahap, seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari. Tanpa ia sadari, bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis, hampir tak terlihat di wajahnya yang dingin dan tanpa ekspresi, melihat wanita itu. Ada perasaan aneh yang menghangatkannya, perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan.
*
*
Setelah menghabiskan makanannya, Maple merasa sedikit lega dan mulai bertenaga. Ia pun langsung meminum habis sebotol air mineral dingin yang ada di kamar tersebut, meneguknya dengan rakus hingga tetes terakhir. Tenggorokannya terasa kering dan lega setelah terbasahi air dingin.
"Siapa namamu?" Tanya Rex, suaranya datar namun sedikit lebih lembut dari sebelumnya. Ia sudah dari tadi menyelesaikan makanannya dan sedang menikmati sebatang rokok di tangannya, asapnya mengepul membentuk lingkaran di udara.
Maple memandangnya dengan tatapan tajam, penuh curiga dan kebencian, tanpa menjawab pertanyaan pria itu. Ia tidak ingin memberikan informasi apa pun padanya, ia tidak percaya padanya.
"Kau tak ingin menjawabnya?" Ucap Rex lagi, melihat wanita itu hanya diam membisu. Ia mengangkat sebelah alisnya, menantang wanita itu.
"Untuk apa aku menjawab pertanyaanmu, saat kau sendiri tak pernah menjawab pertanyaanku," ucap Maple, suaranya lantang dan penuh keberanian. Ia merasa tidak adil, mengapa hanya ia yang harus menjawab pertanyaan pria itu.
Rex tersenyum menyeringai, melihat wanita itu yang dengan berani melawannya, padahal saat ini posisinya sangat tidak menguntungkan baginya. Ia merasa tertarik dengan keberanian wanita itu, ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya.
Maple yang melihat senyuman itu, seketika terpesona sekaligus takut bersamaan. Ia tak tahu apa yang dipikirkan pria ini saat ini, senyuman itu bisa berarti apa saja.
Entah bagaimana nasibnya selanjutnya bersama dengan pria ini, ia harus mencari cara agar bisa kabur dan mencari pertolongan agar bisa bebas dari pria ini. Ia harus memanfaatkan setiap kesempatan yang ada, meskipun kecil.
*
*
*
Maple tertidur lelap setelah ia sarapan tadi pagi, kelelahan dan ketegangan membuatnya terlelap dengan cepat. Ia pun terbangun dengan terkejut, vas bunga keramik masih erat dalam pelukannya. Ia langsung melihat sekeliling, mencari keberadaan Rex, dan terlihat pria itu sedang tertidur juga di kasur dengan nyenyak, wajahnya tampak damai dalam tidurnya.
Maple mengambil kesempatan ini untuk keluar dari kamar dan memberitahu situasi dirinya kepada resepsionis, berharap resepsionis itu akan membantunya melarikan diri. Ia merasa ini adalah satu-satunya kesempatan yang ia miliki.
Dengan perlahan ia membuka kunci kamar dan membuka pintu dengan pelan, tanpa suara sedikit pun agar pria itu tidak bangun. Jantungnya berdegup kencang, takut aksinya ketahuan.
Namun, saat ia keluar dari kamar tersebut dan hendak kabur dari pria itu, Maple melihat dua pria bertubuh besar, dengan wajah garang dan tato di sekujur tubuh, sedang berjalan di lorong kamar dan membuka paksa setiap kamar di motel tersebut. Mereka tampak mencari sesuatu atau seseorang.
Maple merasa ada yang tidak beres, firasat buruk menyelimutinya. Ia segera kembali masuk ke dalam kamar dan dengan cepat menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu, mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
*
Rex sudah terbangun sedari tadi saat wanita itu mencoba untuk kabur, instingnya yang tajam membuatnya selalu waspada.
Di pikiran Rex, ia sebenarnya membiarkan wanita itu untuk kabur darinya. Ia tak ingin wanita itu ikut terlibat dengan musuh yang akan ia hadapi saat ini, ia ingin melindunginya.
Namun, wanita itu kembali ke kamar lagi, dan membuat Rex bingung. Ia tidak mengerti mengapa wanita itu kembali, padahal ia memiliki kesempatan untuk bebas.
Keduanya bertatapan, Rex tahu ada yang tidak beres saat melihat wajah wanita itu tampak panik dan ketakutan.
Dengan segera ia bangkit dari ranjangnya lalu mendekati wanita itu. Ia merasakan bahaya yang mengintai, instingnya berteriak untuk bersiap.
"Ssst," ucap Rex, suaranya berbisik, menutup mulut wanita itu dengan tangannya agar tidak bersuara. Ia tidak ingin menarik perhatian musuh.
Di tangannya sudah siap pistol yang berisi peluru penuh, siap digunakan jika ada hal berbahaya yang memungkinkannya untuk menggunakan pistol tersebut. Ia tidak akan ragu untuk membela diri.
KREEEK... suara gagang pintu yang dipaksa dibuka dari luar, terdengar sangat jelas dan menakutkan.
Rex langsung menarik wanita itu dan berdiri di belakangnya, melindunginya dari bahaya yang akan datang.
BRAK... pintu terbuka dengan paksa, hancur berkeping-keping, dan perlahan-lahan muncul seorang pria bertubuh besar, dengan wajah bengis dan mata tajam menyala, sedang mengendap masuk ke dalam kamar mereka.
Rex langsung menghajar pria itu dengan pukulan keras sebelum pria itu menyadari keberadaannya. Pukulan itu mengenai rahang pria itu, membuatnya terhuyung ke belakang. Dan terjadi pertarungan sengit antara keduanya, baku hantam dan saling serang.
Maple mundur ketakutan, menghindari perkelahian kedua orang tersebut. Ia tidak tahu harus berbuat apa, ia hanya bisa bersembunyi di sudut kamar. Hingga satu pria bertubuh besar yang lain masuk, menambah ketegangan dalam pertarungan di kamar itu.
Dua pria besar melawan satu pria, dalam pertarungan yang sengit dan brutal. Namun Rex tampak lebih unggul, gerakannya lincah dan pukulannya akurat, walaupun sedikit kesulitan dengan musuh yang tubuhnya lebih besar darinya.
Hingga perkelahian pun semakin memanas, suara pukulan dan erangan kesakitan memenuhi ruangan. Maple mencari celah di saat perkelahian itu terjadi, mencari kesempatan untuk keluar dari kamar dan menyelamatkan dirinya.
Hingga ia berhasil keluar dari kamar tersebut, memanfaatkan kelengahan para pria yang sedang berkelahi, untuk mencari pertolongan. Ia berlari sekencang-kencangnya, meninggalkan Rex yang sedang berjuang sendirian.